
...- 31 -...
"Cih, dengan pergi kemari aku memiliki alasan untuk tidak berhadapan langsung dengan Qian'gu itu!! Jika aku nekat berhadapan dengan nya, maka dia pasti dengan mudah akan mengetahui jika aku adalah adik nya. Jika aku nekat berhadapan dengan nya, maka semua rencana ku akan sia-sia. Aku tidak bisa membunuh nya, walau bagaimana pun dia adalah satu-satu saudara yang baik pada ku. Aku menyayangi nya." Bisik hati Xianlie begitu delema.
Sementara itu, Rijin sedang melihat kearah para penduduk yang sedang berkelahi memperebuti se ekor tikus sawah berukuran besar. Dia menutup mulut nya begitu terkejut. "Apakah mereka hendak ingin memakan tikus itu? oh asataga, walau pun dulu ditempat pengasing memiliki banyak tikus, kami tidak akan mungkin memakan nya. Aku rasa penduduk di desa ini sudah mengalami krisis ekonomi." Bisik hati Rijin memurus dada.
"Nona," Panggil Rijin
"Ya, ada apa? kau memerlukan sesuatu." Jawab Xianlie cepat, takut jika Rijin mengalami kesusahan.
Rijin bergeleng cepat sambil melambai kan tangan, dia melihat kesekitar lalu mulai berbicara.
"Ini kah alasan mendesak sehingga nona tidak ingin berperang?." Tanya Rijin tidak yakin.
"Ya, lalu apa masalah nya."
"Ini terlihat seperti bukan alasan yang mendesak."
"Hey ayolah, aku, aku hanya tidak ingin berperang saja. Maka dari itu, aku menyerah kan nya pada kakak."Elak Xianlie menggaruk tengkuk nya.
Rijin hanya diam dengan perasaan tidak yakin. Dia melihat Xianlie begitu menyelidik, sambil memanyunkan bibir nya
"Hey-hey... jangan melihat ku seperti itu!" Protes Xianlie.
"Shuttt." Seru Rijin menutup mulut Xianlie menggunakan telunjuk nya. Xianlie diam begitu menurut.
"Lihat lah kesana! Mereka sedang memperebut kan se ekor tikus sawah. Mungkin saja mereka akan menjadikan tikus itu sebagai santapan. Apakah nona tidak memiliki niatan untuk menolong mereka." Ucap Rijin lalu menanyai apakah Xianlie mau berbaik hati memberi sedikit rejeki pada mereka atau tidak.
"Cih, kau pikir aku ini seorang dermawan." Bisik hati Xianlie
"Tidak bisa, cincin ruang ku tertinggal. Aku tidak bisa memberi pada mereka." Ucap Xianlie.
Rijin kembali melihat pada kumpulan itu, lalu raut wajah nya berubah tatkala teringat pada sesuatu. Dia dengan cepat mengambil sesuatu pada saku rok milik nya.
Dia mengambil sebuah cincin, lalu dia sodor kan cincin itu pada Xianlie. "Ini adalah cincin ruang yang nona beri pada ku. Aku baru memakai nya 6000 keping, aku harap ini akan membantu kita." Ucap nya.
Xianlie mengambil cincin itu dengan sedikit enggan. "Ak-aku akan mengembalikan nya setelah kita pulang nanti." Ucap Xianlie malu dan berpaling ke arah lain.
__ADS_1
"Malu sekali harus mengambil barang yang sudah diberikan pada Rijin. Tenang saja Rijin aku akan mengembalikan 100 kali lipat pada mu." Bisik hati Xianlie
Mereka berjalan maju menuju kesana. Keadaan semakin memanas karena satu persatu dari mereka tidak henti memperebut kan tikus tersebut. Banyak adegan berdarah yang seharus nya tidak dilakukan hanya demi se ekor tikus yang tidak aman di makan.
Mau bagaimana lagi, mereka adalah para budak buangan yang berasatu membangun desa kecil ini. Tidak ada pekerjaan, tidak memiliki keahlian dalam bidang apapun, dan bahkan tidak memiliki akses untuk bekerja di kota besar karena status mereka adalah seorang budak buangan.
Alasan Xianlie kemari hanya penasaran pada desa yang sedang di gunjing oleh penduduk kota. Terdengar sedikit ambigu, jika mengingat hal ini tidak ada hubungan nya dengan rencana balas dendam. Tapi Xianlie hanya merasa jika dia harus melihat secara langsung, seperti apa desa budak yang di katakan orang-orang.
"Hey brengsek!! Serah kan itu pada ku! Kau sudah mendapat kan nya minggu lalu jadi jangan berebut lagi!."
"Sialan, kau! Aku tidak perduli...apa hubungan nya dengan mu!."
"Serahkan dasar miskin."
"Kau sama miskin nya."
Kedubrakkk
Prankkkk
"Hey berhentilah berkelahi, berhentilah." Pinta Rijin begitu pelan.
"Nona, bagaimana ini?." Tanya nya lagi mendapati jika perkataan nya tidak didengar oleh para penduduk.
Xianlie menghela nafas lalu menekan pinggang. Pandangan nya begitu datar memandangi hal yang begitu membosan kan.
"SIAPA PUN YANG BERHENTI DARI PERTENGKARAN INI, MAKA DIA AKAN MENDAPAT 500 KEPING KOIN EMAS." Teriak Xianlie begitu lantang dan menekan.
Semua mata tertuju pada nya, dan tanpa berlama-lama mereka berhenti setelah melihat penampilan yang begitu modis dari Xianlie dan Rijin. Mata mereka berbinar dan kemudian melempar tikus yang diperebutkan tadi ke sembarangan arah.
"Ah tuan bangsawan dan nona bangasawan, sebuah kehormatan kalian berdua mengunjungi desa kami yang kecil ini." Ucap salah satu pria begitu menjilat.
"Ayo-ayo duduk lah di kursi kami yang begitu lusuh ini. Senang sekali nona dan tuan bisa berkunjung." Sahut yang lain nya, mendorong paksa tubuh Xianlie dan Rijin ke kearah kursi lusuh yang berdekatan dengan bekas kandang ayam.
Xianlie dan Rijin terlihat begitu tidak nyaman dengan perlakuan mereka. Bahkan, Xianlie enggan duduk di kursi tersebut. Lain hal nya dengan Rijin, dia dengan senang hati duduk di kursi itu dengan wajah yang begitu polos dan mempesona.
"Rijin jangan.... "
__ADS_1
"Kyaaaaaaaaaaaa... apa yang kalian lakukan."
Mereka mengikat Rijin di kursi itu menggunakan tali tambang. Sementara Xianlie, sedang diregang oleh dua pria lain nya.
Heh mereka mau cari mati.
"Apa ini?" Tanya Xianlie begitu datar.
"Hah ayolah tuan. Jika kau mampu memberi 500 koin, pasti kau memiliki lebih bukan? Serah kan semua uang mu maka kami akan melepas kan kekasih mu ini!" Desak nya pada Xianlie.
"Hey kau ini seorang perompak ya? Tuan ku sudah berbaik hati ingin memberi kalian bantuan tapi begini kah balasan kalian?" Pekik Rijin tidak terima
"Nona jangat terlalu naif... uang memang bukan lah segala nya tapi segala nya butuh uang." Ujar seorang pria kurus kering dengan tompel di kening nya.
"Cepat serah kan semua harta mu!!." Teriak nya lagi begitu mendesak.
"Hey pria... lepaskan aku! Atau tidak kau akan menyesal melakukan hal ini!!" Tegur Xianlie begitu tajam.
Mata nya memicing tatakala salah satu pria hendak ingin menyentuh dagu Rijin.
Kedubarkkk
"Uhuk-uhuk... "
Semua mata para penduduk melotot melihat salah satu dari mereka terpental begitu jauh hanya dengan satu tendangan dari Xianlie. Prilaku Xianlie begitu dingin seolah tidak mau ada permainan lagi yang berlanjut.
"Lepas kan dia!." Tiga kata ini mampu membuat mereka terdesak dan ketakutan. Mereka dengan cepat melepas ikatan tangan Rijin.
"Nona.....menyingkir lah kalian yang begitu berbahaya." Teriak Rijin ketakutan dan berlindung di balik Xianlie bak seorang istri yang menuntut perlindungan pada sang suami.
Xianlie memegang pergelangan tangan Rijin lalu menuntun nya untuk berjalan agak menjauh dari para penduduk.
Semua penduduk desa menunduk tidak berani menarik pandangan.
"Semua pria tiarap, dan para wanita masuk kedalam rumah kalian! Secepat nya.... " Perintah Xianlie terdengar begitu lantang tanpa mau menerima penolakan.
...BAGIAN 23 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN. ...
__ADS_1