
...- 34 -...
Sementara, di desa bunian Xianlie dan Rijin sedang menertibkan para pria yang sangat pembangkang itu. Xianlie terlihat sedang memegang sebuah kertas ditangan nya.
Dia terlihat serius sampai tak sadar jika dia hanya diam tanpa bicara sedikit pun. Sedang kan Rijin dia sedari tadi sedang mengomel dan memarahi para pria pembangkang.
Xianlie hanya diam sambil terus mendengarkan ocehan Rijin yang begitu menggemaskan. Sesekali Xianlie melirik ke arah Rijin dan mulai timbul senyum nakal di wajah nya.
"Kau terlihat seperti ibu kepala desa." Cetus Xianlie angkat bicara.
Rijin menoleh lalu tersenyum begitu manis. "Mereka harus di beri pelajaran, jika tidak mereka akan terus menjadi pembangkang seperti ini." Seru nya tersenyum memiring.
Xianlie membuka lebar mata nya, dia menutup mulut menggunakan jari-jari yang dibuat melengkit. "Oh astaga, kakak Rijin kita sangat menyeram kan." Ucap Xianlie.
"Heh kau baru tahu rupanya." Jawab Rijin tersenyum congkak, lalu mereka tertawa secara bersamaan
para penduduk yang sedang dihukum,"dimana aku, siapa aku, apakah kita tidak terlihat? ah yatuhan tubuh kita transparan."
Pandangan Xianlie kembali terarah pada 15 pria di depan nya itu. Pandangan yang tadi nya teduh kini berubah menjadi dingin haus akan darah, dia maju enam langkah mendekat kedepan lalu melempar kertas itu pada ke lima belas pria di depan nya.
"Ambil itu dan amati.. aku tidak ingin ada satu pun yang berani tidak melihat kertas tersebut." Tegas Xianlie begitu gagah dengan tangan dilipat kebelakang. Sungguh terlihat seperti pria sejati.
Mereka semua berebutan untuk melihat, sampai salah satu diantara nya menjadi berseteru dan berebutan siapa yang dulu melihat kertas tersebut. Xianlie mengerat kan gigi nya dan menggenggam erat kepalan tangan.
"Bisakah kalian membudayakan gaya antri yang baik... dasar menyebal kan." Teriak Xianlie begitu kesal.
Mereka semua menoleh lalu berbaris dengan cepat seolah jika mereka tidak berbaris maka mereka akan berbuat dosa.
Satu pria yang botak tadi memiliki kesempatan untuk melihat pertama, dia mengamati kertas itu dengan begitu teliti sambil mengangguk-angguk tanda mengerti.
Xianlie mengangkat satu alis nya lalu tersenyum memiring. "Bagus, kau sudah paham secepat ini." Puji nya.
"Hem, sebenarnya aku tidak bisa membaca."
JLEB
Batu besar seakan menimpa kepala Xianlie, dan sebuah pedang akan menacap kejantung nya.
"Lalu mengapa kau mengangguk-angguk seperti orang bodoh tadi? Aku pikir kau mengerti." Kesal Xianlie merampas kertas itu kembali.
Rijin senyam-senyum melihat drama didepan nya, dia juga tidak menyangka jika mereka tidak bisa membaca.
__ADS_1
"Apakah kalian semua tidak tahu membaca?." Tanya Xianlie.
"Tidak." Jawab mereka serempak lalu bersikap bodoh.
Xianlie menghela nafas, lalu dia menyimpan kembali kertas itu pada saku baju nya. "pada inti nya saja, aku ingin kalian semua menjadi salah satu kubu ku, atau bisa dibilang kalian semua akan ku angkat menjadi telinga kiri dan kanan ku." Ucap Xianlie terdengar begitu serius
Semua nya kaget lalu saling berbisik,
"Apa kalian tidak mendengarkan ku." Ucap Xianlie pelan namun tajam.
"Tid-tidak.. ah maksut kami, kami sedang mendengarkan tuan." Jawab mereka cepat.
"Lalu, apakah kalian setuju." Tanya Xianlie lagi,
Mereka masih berpikir begitu keras sambil melihat satu sama lain. Xianlie hanya bisa diam sambil menunggu jawaban dari mereka.
"Tapi, apakah warga desa kami akan menjadi makmur setelah kami menyetujui permintaan mu ini." Tanya salah satu nya begitu berani. Semua nya menoleh pada si pembicara dan mempelototi nya.
"Hey kau ingin kita semua mati ya."
"Dasar miskin."
"Kau bosan hidup."
"Apa salah ku, hiks."
Xianlie tersenyum kecil, pandangan datar itu tertuju pada arah yang berbicara. "Tentu saja, karena seseorang yang sudah berada di kubu ku pasti akan hidup dengan nyaman." Ucap Xianlie penuh racun.
"Ini bukan sebuah janji, tapi hal yang akan aku lakukan. Jika kalian setuju bergabung, maka desa lusuh, kecil, bau, dan banyak tikus ini akan berubah mewah dalam sekejab."
GLEK
JLEB
Perkataan ini sungguh menusuk, walau pun begitu buruk tapi tidak sepantas nya blak-blakan mengatakan hal yang begitu mengerikan. Mau marah tapi mereka sadar jika itu adalah fakta yang tidak bisa di tepis.
"Baik lah, aku setuju."
"Ya, aku setuju. Tuan terlihat begitu meyakin kan."
"Baik lah, setidak nya aku tidak pengangguran lagi."
__ADS_1
" Tuhan, penganut mu ini setidak nya bukan seorang pengangguran lagi. Walau bekerja sebagai seorang penguping tapi ini terlihat keren."
"Aku bukan lagi seorang pengangguran."
Mereka semua bersuka cita karena pekerjaan baru yang mereka dapat kan. Rijin sedang melihat pada mereka dan menanti kelanjutan dari perkataan Xianlie.
"Tapi... jika ada yang berani berkhianat pada ku, maka dia harus siap untuk merenggut ajal nya." Ucap Xianlie kembali mengingat kan dan mewanti-wanti jika diri nya tidak suka penghianatan.
Mereka semua menelan ludah masing-masing, lalu mengangkat tiga jari ke udara.
"Kami sebagai telinga tuan yang begitu terhormat, tidak akan berkhianat dan bermain belakang sehingga membuat tuan terhormat berhenti memberikan muka pada kami." Ucap mereka serempak. sialan, itu terdengar begitu meyakin kan, nada bicara mereka terdengar begitu tulus.
Timbul senyuman di wajah Xianlie dan Rijin. Mereka saling pandang seolah saling bertukar pikiran satu sama lain.
"Apakah kau siap?"
"Iya tuan, apapun itu akan aku lakukan asal kan bersama dengan mu."
Percakapan mereka terdengar sangat jelas ditelinga kelima belas pria tersebut. Mereka tersenyum dan memerah karena melihat keharmonisan dan kemanisan suatu hubungan di depan mata mereka.
"Kyaaaaa, ini sangat manis."
"Wah apakah aku bisa menyebut nya sebagai kakak ipar?"
"Ya ampun jiwa bujangan ku meronta-ronta, mengapa aku masih lajang sampai saat ini."
"Sungguh pasangan yang deberkati dewi cinta."
"Aku akan mempraktek kan itu pada istri ku, siapa tahu dia akan lebih banyak memberi ku kasih sayang."
Mereka berbisik dan sibuk dengan urusan masing-masing. Xianlie hanya mengamati sambil mengurut pelipis mata nya. Seperti nya dia sedang pusing dan membutuh kan waktu beristirahat.
...- Di pasar kota ANMING -...
Begitu heboh kabar suatu yang mengejut kan, semua kabar ini menyebar sangat cepat seperti terbawa oleh angin yang bertiupan.
Tidak hanya seluruh kekaisaran ANMING, akan tetapi seluruh kekaisaran terkejut mendengar kabar jika raja dari kekaisaran yang begitu besar telah meninggal di tangan seorang jendral besar dari kemaisaran KUANTONG.
Di istana, Bo eng dan Dianne sedang berada di ruangan yang sama yang terlihat seperti ruangan pribadi.
Wajah Bo eng terlihat tidak sedang berduka tapi melain kan begitu senang dan sangat mengembang. Begitu juga Dianne, dia tersenyum begitu puas karena suatu akhir yang dia ingin kan, akhir nya terwujud.
__ADS_1
"Ini sudah waktu nya putra ku yang hebat ini menginjak tahta kerajaan yang seharus nya kau dapat kan sejak dulu." Ucap nya sinis.
...BAGIAN 34 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN ...