
...- 35 -...
Klakkkk
Gerbang kediaman phoenix terbuka tatkala memperlihat kan Serangga yang sedang keluar dengan penampilan yang sangat rapi.
Kedua pipi cabi itu memerah saat menghitung koin koin emas di tangan nya. Dia tersenyum begitu gembira lalu melangkah menuju arah lurus yang berhubungan langsung pada pasar kota.
"Untung saja tidak ada kak Rijin dan kakak datar, kalau mereka ada disini kemungkinan besar mereka tidak akan memperboleh kan diri ku keluar dan bermain."Gumam nya begitu menggemaskan.
Disaat dia ingin melangkah begitu jauh dari kediaman Phoenix, dia dikejutkan dengan kerumunan para wanita berseragam pelayan berlarian tidak tentu arah. Mereka terlihat panik sambil berlari menuju tempat kediaman majikan mereka.
"Dekrit kerajaan.." Teriak mereka sedari tadi dengan sangat panik.
Serangga hanya bisa melihat dan bertanya pada diri sendiri, dia terlihat bingung sambil menggaruk kulit kepala yang tidak mengalami gatal sedikit pun.
Setelah dikejut kan dengan para pelayan, kini tak lama timbul masing masing kereta kuda kediaman keluar dan dengan cepat menuju perjalanan. Satu persatu keluar, dan bahkan ada yang tidak berdandan dahulu karena dekrit kaisar yang begitu mendesak.
Serangga memiring kan kepala nya melihat satu-persatu kereta kuda yang melewati diri nya.
"Ada apa ini, apakah hari raya sudah tiba?" Gumam nya kebingungan.
"Sudah lah, lebih baik aku pergi bermain dari pada mengurusi urusan yang tidak penting bagi ku." Celoteh nya lalu pergi begitu saja, dengan tampang yang begitu tengil.
...- sementara itu, di pertengahan kota -...
Para prajurit, dan jendral yang masih selamat sedang berjalan begitu hening dan sangat lesu. Di depan nya, dipimpin oleh Eng dengan membawa sebuah nampan dengan penutup satin emas bewarna merah, dengan sebuah gundukan bulat di dalam nya.
Hawa yang dikeluarkan sungguh sangat pekat dengan di iringi petir-petir yang menyambar.
Kini keturunan ke 32 naga biru telah musnah menyisakan nama yang tak lama akan memudar dan dilupakan.
Angin yang begitu dingin bertiup begitu kencang, menerpa orang-orang yang sedang berdiri disamping bangunan guna untuk menghormati kepergian raja yang telah memimpin mereka selama 39 tahun lama nya.
Walau pun mereka menunduk dan berdiri begitu tegap, namun tak jarang dijumpai orang-orang yang tersenyum begitu senang seakan mereka baru saja mendapat kan kartu lotre sebanyak 100 tael emas.
"Raja sudah tiada, dan kita masih memiliki konflik dengan kekaisaran KUANTONG. Apakah kemungkinan besar nya, pangeran Bo eng akan memimpin kekaisaran ANMING?" Bisik prajurit pada prajurit lain nya.
__ADS_1
"Entah lah." Singkat satu nya bermaksut tidak mau menjawab lebih jauh lagi.
Mereka terus berjalan menelusuri jalan kota , menuju ke istana kekaisran ANMING.
Eng terus memimpin, dengan jalan yang sedikit berat membawa potongan kepala di tangan nya. Apalagi, kepala itu adalah milik sang ayah.
"Maaf kan kakak adik, mereka sudah mengetahui nya. Kakak harap, tidak ada lagi rasa dendam yang kau miliki dihati mu. Jangan salah kan diri ku, karena aku menginginkan diri mu bahagia." Gumam Eng parau dengan tatapan yang begitu kosong dan sendu.
"Tapi, apakah mereka akan menjemput adik ku pulang kesana?" Hati nya kembali delema, dia sulit memutuskan sesuatu yang akan dia lakukan untuk berbicara kepada Xianlie.
Entah reaksi apa yang akan diberikan oleh nya, setelah rencana yang telah dia susun sejak awal kini dirusak begitu saja oleh sang kakak.
Rencana yang sudah dipikir kan selama bejam-jam dan berbulan-bulan itu pun telah gagal dan semua nya sudah terbongkar.
Dia sedang tertawa begitu bahagia di desa bunian, sedang kan rasa duka di kota sudah menantikan diri nya. Kekhawatiran yang melanda hati Eng kian membesar dan membesar, dia terus meratapi langit yang sudah menghitam mengikuti langkah kaki nya.
"Semua nya sudah tiba... semoga saja, adik tidak marah pada ku." Ucap nya begitu naif dan terus berpikir jika Xianlie tidak akan marah dan menerima semua nya.
...- desa bunian -...
"HASYUHHH." Xianlie bersin berulang-ulang kali.
Xianlie mengerut kan kening nya lalu bergeleng-geleng sangat cepat. Dia meraih tangan Rijin dan menatap Rijin dengan teduh, perasaan pertama yang dia rasa iyalah, rasa tidak ingin pulang dan terus ingin menetap pada satu tempat. Hati nya selalu saja menolak jika diotak nya selalu teringat kata pulang, pulang dan pulang.
"Entah lah Rijin, aku tidak ingin pulang secepat ini. Kaki ku sangat berat ingin melangkah."
"Bukan hanya kaki ku, tapi hati ku pun seolah menolak. Ada apa ini." Bisik hati Xianlie, bertanya-tanya akan sesuatu yang membingung kan.
"Mungkin saja, itu hanya perasaan mu karena mengalami flu berat ini. Lebih baik pulang dan beristirahat. Udara didesa ini seperti nya tidak cocok dengan mu, karena kau sangat sensitif pada debut. Ayolah, kita pulang sekarang." Desak Rijin.
Xianlie menurun kan pandangan nya, dan sebisa mungkin diri nya untuk mengiyakan ajakan Rijin. Dia mengangguk dan tersenyum kecil, "Baiklah, ayo." Ucap nya agak pelan.
"Seperti itu lebih baik, kau ini seperti anak kecil saja."
"Hey, aku ini memang anak kecil. Umur ku saja baru 14 tahun."
"14? bukan.. umur mu sudah naik ke 15 tahun. Nona, kau buta tahun ya?."
__ADS_1
"Benarkah? ah, tapi kan 15 tahun masih terbilang anak-anak."
"Kata siapa?"
"Kata diri ku! 15 tahun itu masih usia remaja."
"Cih, 15 tahun itu sudah legal menikah loh. Apakah nona tidak ingin menikah?."
"Yang benar saja, siapa yang membuat keputusan bodoh itu!"
"Entah lah."
Mereka mengobrol sambil berjalan menuju arah jalan pulang. Tak jarang cekikikan mereka terdengar begitu nyaring dan menggema.
Mereka meninggal kan desa bunian dengan keadaan yang sudah hancur lebur tanpa sisa. Desa itu benar-benar sudah dihancurkan oleh Xianlie karena mengingat akan mengalami pembangunan secara besar-besaran.
Terlihat para pria sedang bergumpul merundingkan sesuatu. Kini mereka terlihat lebih akur dan bisa bekerja sama.
"Kita bangun perumahan sementara di tepi tempat itu. sambil menunggu hari esok tiba, kita akan berbelanja keperluan pembangunan."
"Hey, tapi kita tidak memiliki akses masuk."
"Tenang saja, tuan itu sudah memberi akses pada ku. Kita pasti bisa masuk kedalam kota untuk membeli beberapa keperluan."
"Heh! diam-diam kau melakukan negoisasi pada tuan!"
"Diamlah, lagi pula dia memanggil sendiri."
"Benar, kita harus segera pergi ke kota dan melakukan tugas kita sebagai telinga Tuan."
"Ya, bersiap lah. Sebentar lagi, kita akan membuah perumahan sementara."
"Hey, aku tidak menyadari. kita jauh lebih akur sekarang."
"Hahahah benar."
"Hahahahaha."
__ADS_1
...BAGIAN 25 TELAH SELESAI, SEE YOU AGAIN ...