
Sophie di sini.
Saat itu, aku sangat terkejut ketika dia menyembunyikanku di dalam selimut.
Saat dia memelukku, hatiku terus berdetak kencang dan tak dapat aku kendalikan.
Meskipun tubuhku merasa panas, anehnya di sini sungguh terasa hangat.
Dia memelukku dengan erat!
Awalnya hangat berubah menjadi panas.
Dari ujung kakiku, panas itu mulai naik hingga ujung rambutku.
Saat punggungku menyentuh tubuhnya, aku dapat merasakannya.
Detakkan yang sangat stabil.
Hal ini membuatku kesal karena bisa-bisanya dia sesantai itu saat menyembunyikan aku, apa dia terbiasa seperti ini dengan seorang gadis?
Eehh??
Eehhhh?!!!
Tidak!
Itu tidak mungkin!
Aku yakin dia tidak akan mungkin tertarik dengan hal yang seperti itu!
Kenapa?
Karena ....
Dia itu adalah saudara kandungku atau yang seharusnya aku panggil, Kakak.
Karena kesal, aku lupa diri dan membuatnya dalam masalah.
Padahal aku siap untuk menerima hukuman dari Kak Rena tapi, tadi dia sama sekali tidak marah.
Aku jadi kepikiran, apa dia tidak cemburu?
Meskipun dia cemburu, orang yang sepatutnya bersedih adalah aku.
Kenapa?
Karena aku dikira sebagai kekasih dari kakak kandungku sendiri, hal itu membuatku terlihat seperti seorang Brocon.
Tapi ... jika ada kesempatan, sekali saja.
Kali ini saja.
Aku ingin dia menjadi kekasihku, meskipun aku tahu kami tidak dapat menikah nantinya.
Impian ini, mungkin ... hanya dapat aku simpan dalam hati dan menguburnya hingga bagian terdalam.
Kakak, aku sangat senang bisa bertemu denganmu.
...
(Sophie POV)
Setelah pulang sekolah, aku mencoba untuk menunggu Kak Rena di depan gerbang.
Banyak murid yang berlalu lalang di sini, namun aku tidak melihatnya.
Seseorang menepuk pundakku dari samping.
"Sedang menunggu seseorang?"
Saat aku melihat sumber suara, ia adalah Seniorku.
Ren Gill dan temannya, Lee Jun.
"I-iya, aku sedang menunggu Kak Rena."
"Kalau tidak salah, Rena sudah pulang setelah menjenguk Ren."
"B-begitu ya, terima kasih infonya."
Saat aku ingin pergi, Senior Ren menghentikanku.
__ADS_1
"Tunggu."
Aku berbalik ke arahnya.
"Ada apa, Senior?"
"Bukankah kau ingin bergabung dengan kami?"
Bergabung? Mungkinkah?!!!
"Tentu! Apa kalian mau menerimaku?!"
Aku jadi lupa diri dan tidak dapat menyembunyikan perasaan senangku.
Senior Ren memegang tanganku lalu berkata, "Ikuti kami."
Aku hanya mengangguk dan mengikutinya.
D-dia menyentuh lenganku!!! Kakak ... ini kesempatan yang langka!!! Terima kasih Tuhan!!!
...
Kami masuk ke sebuah ruangan yang cukup kecil dan di sana, terdapat berbagai macam buku maupun berkas hasil scan dari lembaran yang cukup tua.
Sambil melihat sekeliling, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Kakak-tidak maksudku, Senior Ren.
"Apa ini ruangan khusus ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia?"
Tanpa pikir panjang, Senior Ren langsung menjawab pertanyaanku.
"Ya, ini adalah ruangan kami. Ekskul ini hanya beranggotakan 2 orang yaitu, aku dan Lee. Jadi, apa kau masih ingin bergabung?"
"Tentu saja!"
Tentu saja aku mau! Ini kesempatanku! Selain bisa dekat dengan Kakak, aku juga ingin menyampaikan sesuatu yang ingin dikatakan oleh Ibu kepada dunia. Ini seperti, menangkap dua ikan besar dalam sekali pancing.
Wajah mereka sangat terkejut tapi, ada sesuatu yang berbeda.
Meskipun terkejut, mereka tetap merasa bahagia atas keikutsertaanku.
Tapi, tiba-tiba suasana ruangan ini berubah drastis.
Senior Ren mulai duduk di atas bangku dan Senior Lee, dia mulai menggunakan pakaian aneh dengan kacamata hitam.
"Sophie, duduklah di bangku itu."
Spontan, aku langsung duduk sambil menjawab perintahnya.
"Ya!"
Tubuhku sangat tegang dan sulit rasanya untuk bernafas.
Senior Ren mulai menanyakan beberapa hal kepadaku.
"Apa kau tahu tujuan ekskul ini?"
Aku tidak boleh mengecewakan Kakak!
Aku menjawab sesejujurnya dan sesuai dengan apa yang kutahu.
"Mencari kebenaran tentang legenda para pahlawan yang ada di dunia."
"½ benar"
Eehh?!!
"Apa ada yang lain?"
Senior Lee menjawab pertanyaanku.
"Kami hanya mencari tahu apa yang diinginkan, kata dunia hanya untuk mendefinisikan bahwa pahlawan tersebut tidak harus dari lokal."
"Aku mengerti! Silahkan lanjutkan."
Senior Ren mengangguk dan melanjutkan tesnya.
"Apa kau adalah seorang keturunan asli dari seorang pahlawan?"
Kakak, kita adalah keturunan yang sama.
Sebenarnya aku ingin menjawab seperti itu tapi, tentu saja aku tidak boleh mengungkapkan hal itu kepada Kakak. Setidaknya, untuk sekarang aku akan sedikit berbohong.
__ADS_1
"Aku adalah keturunan asli dari Sir Lancelot du Lac, seorang ksatria meja bundar, dalam legenda Arthurian."
Jawabanku tidak sepenuhnya berbohong karena keturunan asli itu adalah Ibu kami saat ini, bukan aku.
Senior Lee mulai menyinggung sedikit sejarah kelam Sir Lancelot tepat di depanku.
"Houuu ... bukankah dia adalah seorang ksatria pengkhianat. Maksudku, dia berselingkuh dengan istri raja Arthur lalu kabur ke tempat asalnya dan berperang melawan sahabatnya sendiri yaitu, Raja Arthur."
Mendengar sindirannya, aku langsung menyangkalnya.
"Itu hanyalah tulisan dalam pandangan hidup beberapa orang. Yang sebenarnya terjadi adalah Sir Lancelot rela menerima tuduhan tersebut untuk melindungi sahabatnya dari keluarganya sendiri yaitu, keponakannya sendiri Mordred."
Setelah mendengar sanggahanku, Senior Ren memintaku untuk membuktikannya.
"Menarik, bagaimana caramu untuk membuktikannya?"
Aku tidak mengira saat yang dinantikan datang juga, akhirnya aku bisa memperlihatkan catatan sejarah ini kepada orang lain selain Ibu dan diriku sendiri.
Aku memperlihatkan sebuah kertas scan yang aku bawa sehari-hari sebagai pengingat untuk membuktikan ketidakbersalahan Sir Lancelot, nenek moyang Ibu yang saat ini merawatku.
Setelah melihat scan itu, mereka melakukan beberapa hal yang cukup sulit untuk dijelaskan.
Ini seperti memeriksa lalu mencari dokumen yang bersangkutan setelah selesai, baru mereka akan menentukan komentar masing-masing. Hal ini sudah biasa bagi para sejarawan, setidaknya mereka dapat menikmati masa-masa prosesnya. Saat mendapatkan hal yang berbeda dari yang lain, mereka akan sangat senang dan lupa diri.
Seperti mereka berdua.
Saat ini, mereka sedang berdiskusi sendiri dan melupakan aku yang ada di sini.
Menyebalkan! Tapi, aku akan bersabar karena bisa melihat senyuman di wajah Kakak.
Aku berdeham sekali agar mereka memperhatikanku.
"Bagaimana?"
"Isinya sangat mengesankan benarkan, Lee?"
Sambil tersenyum lebar, Senior Lee setuju dengan pendapat Senior Ren.
"Ya, aku baru tahu kalau dulunya dia rela berkorban demi sahabatnya. Tapi! Apa kau yakin ini asli?"
Gnununu!
Menyebalkan!
"Kalau kalian tidak percaya, kalian ... "
"... Kalian bisa berkunjung ke rumahku!"
Keluar!!! Kata-kata yang seharusnya aku tujukan kepada teman wanitaku, tapi saat ini sedang ku tujukan kepada mereka!
Aku harus tetap tenang sambil berharap agar Kakak menyetujui undanganku.
Sayangnya, dia menolak undanganku.
"Maaf, tapi aku menolaknya. Tidak sopan bagi kami untuk mengunjungi rumah seseorang yang baru saja dikenal, apalagi itu adalah rumah seorang gadis."
Bohong! Kakak pasti tidak ingin bertemu dengan Kak Rena!
Senior Lee juga ikut setuju dengan pernyataan Senior Ren.
"Itu benar, lain kali saja ya."
Tidak, tidak. Aku tidak mengajakmu, serius! Aku cuma mau Kakak datang sendiri dan menemaniku.
Kalau sudah begini yah ... apa boleh buat.
"Ya, aku mengerti."
Aku mencoba tetap tegar meskipun cukup sakit rasanya mendengar penolakan dari seseorang yang kau sayangi.
...
Setelah merasa cukup dengan tes tersebut, Senior Ren memberikanku sebuah lembar formulir.
"Ambillah, tolong minta orang tuamu untuk menandatanganinya."
Aku mengambilnya lalu pamit untuk pulang.
"Um, terima kasih untuk hari ini."
Mereka hanya mengangguk lalu mengantarku hingga gerbang depan. Di sana, Ibu sudah menungguku sedari tadi. Senior Ren meminta maaf atas keterlambatanku karena kegiatan pendaftaran ekskul dan Ibu memakluminya, tidak lupa juga Ibu berterima kasih kepada mereka berdua.
__ADS_1