
Di UKS.
Kepalaku terasa sangat sakit dan ketika aku membuka mata, penglihatanku sedikit terganggu dan wajah Lee yang menjengkelkan muncul secara tiba-tiba.
"Yo! Bagaimana kabarmu?"
"Ketika kau muncul, kepalaku bertambah sakit."
Lee langsung memanggil perawat.
"Perawat!"
Aku terkejut karena dia terlalu berlebihan dalam menanggapi sindiranku.
"I-idiot kau tidak perlu melakukan itu!"
"T-tapi tadi kau bilang ... "
"Itu hanya sindiranku untukmu."
"Ah ... begitu ya, ahaha ... ahahaha .... "
Tiba-tiba dia memukul perutku sambil berkata, "Idiot!"
Ugh!
"I-itu sangat menyakitkan."
Lee mengalihkan pandangannya sambil berkata, "Hmph! Padahal itu adalah pukulan terlemahku."
Karena tidak ingin memperpanjang pembicaraan yang tidak ada gunanya, aku menanyakan apa yang terjadi.
"Ya, terserah. Lalu, apa yang terjadi setelah aku pingsan?"
Lee mengalihkan pandangannya pada lengan kananku.
"Apa lengan kananmu mati rasa?"
Mendengar ucapannya, aku mencoba menggerakkan lengan kananku.
Berat!
T-tunggu, ini bukanlah berat yang seharusnya aku rasakan saat pertama kali bangun. Ini seperti ... berat kepala seseorang, akupun mencoba memastikannya dengan melihat sendiri siapa yang ada di sana.
Rambut pirang dengan wajah yang lucu saat tertidur.
"Sejak kapan dia di sini?"
"Dari awal hingga saat ini, dia selalu menjagamu."
"Begitu ya."
Mendengar jawabanku, Lee terlihat cukup kecewa.
"Ren, tidakkah kau pikir kalau orang yang bernama Ren Gill itu terlalu dingin?"
"Apa maksudmu?"
"Setidaknya ucapkanlah terima kasih dan perlakukan dia dengan baik, apalagi saat sedang tidur manis seperti ini."
Lee tersenyum nakal sambil membuat sebuah gerakan yang cukup aneh.
Tiba-tiba suara seorang gadis muncul dari sisi kananku, itu adalah suara Sophie yang mungkin sedang mengigau.
"Berisik."
"Tidurmu nyenyak?"
Aku mengelus kepalanya dengan halus menggunakan tangan kiriku.
Perlahan Sophie membuka matanya dan terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
"S-senior, ba-barusan itu apa?"
Dia segera berdiri dan mencoba untuk menenangkan diri.
"Aku hanya membalas kebaikanmu, jangan terlalu dipikirkan."
"T-tapi ... "
Aku segera menyelanya.
"Siapa yang menghajarku?"
Sophie terlihat sangat gugup dan mengalihkan pandangannya dariku.
Di sisi lain, Lee menjawab pertanyaanku dengan santai.
"Rena Enkira, murid baru dan juga kakak dari Sophie Grimsthorpe."
Aku memastikannya kepada Sophie.
"Apa itu benar?"
"I-itu benar."
Aku mendesah dalam lalu berkata, "Yasudahlah, mungkin dia sudah salah paham terhadapku saat itu."
Sambil merelakan apa yang sudah terjadi, aku kembali berbaring ke tempat tidur.
Mendengar jawabanku, Sophie cukup terkejut lalu mencoba untuk memastikannya.
"Apa itu benar tidak apa?"
"Ya, lagipula itu adalah salahku karena membuatmu sampai menangis."
Dengan ringan aku menghapus semua keraguannya.
"Terima kasih, Senior!"
"Tidak perlu berterima kasih kepadaku. Karena aku sudah sadar, apa yang ingin kau lakukan selanjutnya?"
__ADS_1
"A-aku ... "
Lee menyela dan meminta Sophie untuk menjelaskan hubungannya dengan Rena.
"Bisakah kau menjelaskan hubungan kalian? Maksudku, jika Rena tidak mengatakan kalau kau adalah adiknya mungkin aku tidak akan pernah tahu tentang hal itu."
Lee menatapku lalu berkata, "Bagaimana menurutmu, Ren?"
Karena ini berhubungan dengan privasi orang lain, aku tidak ingin membahasnya.
"Lee ingat batasanmu, jangan terlalu ingin tahu tentang privasi orang lain."
Aku mengingatkan Lee agar tidak berlebihan.
Namun, Sophie setuju untuk membicarakan hubungan di antara mereka kepada kami.
"Tidak apa, aku akan menjelaskannya kepada kalian."
"... Semua ini bermula semenjak ayahku meninggal dan akhirnya Ibu menikah dengan ayah dari kakakku, Rena."
Aku akan mencoba untuk meringkasnya.
Sophie adalah anak bawaan dari mantan suami ibunya, setelah ayah Sophie mati ibunyapun menikah dengan ayah Rena. Tidak seperti Rena, Sophie selalu mendapatkan perhatian khusus dari semua orang. Hal itu tidak membuat Rena membencinya, bahkan bisa dibilang Rena juga sangat menyayangi adiknya.
Akupun mulai berkomentar atas cerita Sophie.
"Artinya, kakakmu itu adalah Siscon?"
"T-tidak, tidak mungkin."
Lee mulai berubah menjadi mode busuknya dan mencampuri pembicaraan.
"Tidak! Itu bisa saja terjadi, hehehe .... "
Sebelum Lee masuk lebih dalam, aku memintanya untuk meninggalkan tempat ini.
"Lee bisakah kau membelikanku beberapa makanan?"
Lee segera menjawab dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Tentu! Seperti biasa?"
"Ya, terima kasih."
Sambil berlari ke luar ia berkata, "Noooo prooobleeemmm myy fureennn!!!"
Suaranya semakin hilang, layaknya ditelan bumi.
Akhirnya tempat ini mulai terasa damai.
"Maaf membuatmu menceritakan sesuatu yang sangat pribadi."
Aku menundukkan sedikit kepalaku sebagai permohonan maaf.
"T-tidak apa, itu hanyalah masa lalu bagiku."
Sophie terlihat cukup penasaran dengan hubungan kami.
Aku harap dia tidak salah paham dan menganggapku sebagai saingan cinta, begitulah hubungan kami.
"Aku baru saja bertemu dengannya pagi ini, bisa dibilang hanya teman sekelas."
"B-begitu ya, apa Senior punya pacar?"
Aku langsung menjawabnya tanpa penundaan.
"Tidak."
"Eh? Kenapa?"
"Aku tidak memerlukannya juga, aku punya sesuatu yang lebih penting untuk diurus daripada hal yang berbau masa muda seperti itu."
Sophie mengangguk beberapa kali lalu berkata, "Aku mendengar ada sebuah kegiatan ekskul yang berhubungan dengan legenda pahlawan dunia, apa Senior tahu dimana tempat untuk mendaftar ke ekskul itu?"
"Kalau itu, kau bisa mendaftar padaku."
Mendengar jawabanku, Sophie menjadi bingung.
"Kenapa?"
"Karena aku adalah ketuanya."
Dengan cepat, Sophie naik di atasku dan memintaku untuk menerimanya sebagai anggota.
"Tolong terima aku sebagai anggotamu!"
P-permisi, Nona Sophie? Aku tahu kau ingin bergabung, tapi tolong kondisikan sikapmu. Jika ada orang lain yang me-
Pintu UKS terbuka.
Di balik pintu itu, ada seorang gadis yang tidak ingin aku temui untuk saat ini.
Dia adalah Rena Engel of Hell, oh shieettt!
Saat ia berjalan kesini, aku bergegas menyembunyikan Sophie di dalam selimut.
" ...!!!... "
Aku mengecilkan suaraku lalu berkata, "Jika kau diam, kau akan menyelamatkan nyawa seseorang yang sedang terancam."
Tanganku yang menutupi mulutnya gemetaran tak karuan.
Sophie melepaskan tanganku dari mulutnya lalu berkata, "Aku mengerti."
Syukurlah kau mengerti.
Akupun berpura-pura kebingungan.
Tanpa basa basi, Rena menanyakan keadaanku.
__ADS_1
"Kau sudah baikan?"
"Lumayan, kenapa kau kemari?"
Mendengar pertanyaanku, wajah Rena terlihat cukup bermasalah.
"A-aku ... "
Aku segera menyelanya.
"Kau ingin meminta maaf? Sudahlah, lupakan yang tadi. Aku sudah memaafkanmu, jadi pergilah karena aku ingin istirahat."
Rena terlihat curiga kepadaku.
Semoga saja dia tidak curiga pada bagian bawahku!
"B-benarkah?"
"Ya, aku ingin istirahat jadi jangan menggangguku."
Pergilah!!!
"Sebagai permintaan maafku, aku akan menjagamu. Jadi, beristirahatlah dengan tenang."
Beristirahat dengan tenang? Apa kau ingin aku mati? Haaahh!!! Aku ini sedang menyembunyikan adikmu, kau tahu?!!! Cepatlah keluar karena di sini ....
Dari dalam, Sophie berbisik kepadaku.
"Apa masih lama?"
Karena tidak bisa menjawab, satu-satunya yang bisa aku lakukan hanyalah memberikan sebuah kode dengan memeluknya lebih erat.
Maaf! Kau boleh memukulku, tapi nanti setelah nyawaku terselamatkan!
Karena tidak ada tanda-tanda pergerakkan dari Sophie, aku melanjutkan untuk membujuk Rena pergi.
"Tidak perlu, aku ingin sendiri."
"Bukankah kebijakan sekolah mewajibkan ada satu orang siswa untuk menjaga yang sedang sakit?"
Sial! Kenapa di saat begini dia mengetahui hal itu?! Siapa ... siapa Bajingan yang sudah memberitahunya?!!!
Tenang, aku harus tenang.
Aku menjawab penjelasannya dengan berbagai macam alasan.
"Jadi begini, Nona Rena yang sangat baik bak Bidadari Surga. Sebenarnya itu tidak berlaku saat situasinya seperti ini, apalagi aku sudah sadar dan hanya perlu beristirahat dengan tenang."
Sekaligus menghindari kematian.
Rena menyangkal seluruh penjelasanku.
"Tidak, aku tidak akan percaya."
"Cobalah mengerti situasiku."
"Kaulah yang seharusnya mencoba untuk mengerti bagaimana situasiku saat ini!"
Tidak, tidak, tidak. Kaulah yang harus mengerti! Serius! Kau ingin membunuh adikmu? Kalau iya, cepat katakan! Aku akan mencekiknya saat ini juga, sialan!
"Lee akan menjagaku saat ia datang nanti, jadi kau tidak perlu repot."
Mendengar nama Lee, Rena terlihat gelisah.
"Benarkah?"
"Y-ya ... "
Dari dalam, Sophie yang sudah tidak tahan mulai keluar dari selimut.
"Maaf, aku sudah tidak tahan lagi!"
Seragamnya terlihat sangat basah dan aku bisa melihat, dalamannya!
Aku segera menutup mata dan menyiapkan seluruh mentalku.
"Baiklah, kau boleh memukulku."
Berbeda dengan apa yang mungkin akan dilakukan Si Kakak Siscon itu, Rena menanggapi hal ini dengan tenang.
"Jadi, begitu ya. Maaf sudah mengganggu kalian, aku permisi."
Dengan tenang Rena keluar dari ruang UKS.
Merasa aneh dengan ini, aku mulai membacakan sebuah lantunan.
"Manusia pada dasarnya hidup tak bahagia, aku saat ini merasakan hal yang sama. Saat ini, mungkin aku sudah mati. Jadi, ... "
!!!
Sophie memelukku lalu berkata, "Senior, aku ..."
Aku segera menyelanya.
"Maaf, aku membuatmu seperti ini. Sebaiknya kau mengganti pakaianmu dulu."
Setelah mendengar ucapanku, wajah Sophie memerah dan ia segera menutup bagian tubuhnya dengan kedua lengannya.
Sebelum pergi, Sophie mendekatkan mulutnya ke telingaku.
"Senior, kau harus bertanggung jawab."
Setelah itu ia berlari keluar.
Aku tidak tahu apa yang harus dipertanggungjawabkan, setidaknya kali ini aku lolos dari kematian.
Sekarang aku harus berpikir, bagaimana menjelaskan hal ini kepadanya.
Aku tidak ingin menjadi saingan cinta untuk seorang Siscon karena hal itu, sangat mengerikan.
__ADS_1