Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 13 Pertemuan Rahasia Dengan Claudi Sarasvati


__ADS_3

Sesampainya di gedung, aku melihat seorang wanita dengan jas lab yang kotor.


Menyadari kehadiranku, dia menyapaku.


"Oh! Ren, ya! Kemarilah, aku punya kabar baik untukmu!"


Sambil berjalan ke arahnya, aku memikirkan apa yang ia maksud dengan kabar baik.


Itu bukanlah suatu kabar yang baik! Pasti dia sedang merencanakan sesuatu! Jujur saja, aku memiliki trauma masa lalu dengan wanita ini.


Ya, dia. Dia adalah seorang guru bimbingan konseling sekaligus pembina ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia, memiliki banyak kegilaan dalam kepalanya. Dia adalah Claudi Sarasvati, lulusan terbaik SMA Atradika 2 tahun yang lalu dan langsung menjadi guru tetap di sini.


Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu.


"Jadi, apa kabar baiknya?"


"Mayat saat itu ... "


Aku merasa mual di perutku lalu memuntahkan apapun itu ke arahnya.


Gawat!


"A-anu ... a-aa-a-aku tidak sengaja."


Aku melangkah mundur secara perlahan.


Wanita itu masih diam di tempatnya.


Tidak lama, dia mulai berbicara.


"Bau ini ... "


Dia menatap tajam ke arahku.


"... Kau tidak makan siang, kan?"


Itu dia! Aku senang jika ada orang yang mau mentraktirku, tapi kalau dia ... SKIP!!! SKIP!!!


"T-tidak, tidak. Aku sudah makan siang sesuai dengan saranmu, Bu Claudi!"


Tubuhnya gemetar sambil mengucapkan beberapa kalimat aneh.


"Jangan panggil .... "


"... Jangan panggil aku bu Claudi!!!"


Dia menerjangku dengan wajah yang sangat mengerikan. Keluar! Si Iblis Claudi mulai keluar!!! Seseorang, siapapun, helppp meehhhh!!!


Dia menjatuhkanku lalu mengunci setiap pergerakan sendi tubuhku.


Gawat! Seseorang tolong aku!!! Jika tidak, saat ini juga aku akan menjadi korban pelecehan! Serius!

__ADS_1


Aku mencoba untuk membujuknya.


"M-maafkan aku, C-cc-claudi!!!"


Mendengar permintaan maafku, dia melepaskan kunciannya.


Sebagai permintaan maaf, dengan sepenuh rasa jijik aku menawarkan baju olah raga yang ada di lokerku, tapi aku sangat bahagia karena dia menolaknya.


Dia meminta waktu sebentar untuk ganti baju di salah satu ruangan.


Sebelum meninggalkanku sendiri, dia mencoba menggodaku untuk mengintipnya.


"Kau boleh mengintip, asalkan tidak ketahuan."


Maaf aku tidak sudi! Bahkan saat ada pilihan antara hal itu dan mati, dengan senang hati aku akan memilih mati.


Aku hanya diam sambil menyimpan berbagai macam sumpah serapah kepadanya.


Meskipun begitu, Claudi Sarasvati adalah guru yang sangat baik. Memiliki paras yang cantik, tapi sayang sifatnya selalu diluar nalar orang normal. Dia tidak akan peduli dengan apapun yang tidak menyenangkan baginya dan sebaliknya, dia akan sangat perhatian terhadap sesuatu yang membuatnya sangat tertarik.


Berkat Claudi jugalah, kami dapat mendirikan ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia.


Tidak lama kemudian, dia keluar dengan penampilan yang cukup rapi.


Dengan senyum nakal, dia mendekatkan tubuhnya padaku.


"Bagaimana dengan penampilanku?"


Dia tersenyum lalu berkata, "Dasar Gilgolo profesional."


Gilgolo, dari namaku ditambah dengan kata "Gigolo" karena itu juga aku sering menulis kata Gilgolo dibandingkan Gigolo.


Aku menjawab sindirannya seakan-akan itu adalah pujian bagiku.


"Begitulah diriku."


Kembali ke masalah utama, aku segera menanyakan kabar baik tadi.


"Jadi, apa maksudmu dengan kabar baik tadi? Tentang mayat orang yang mengikutiku?"


Perutku masih merasa mual, tapi aku menahannya agar kejadian yang sama tidak terulang lagi.


Dengan santai, Claudi menjawab pertanyaanku.


"Ya, pada mayat itu tidak ada jejak yang dapat mengarahkan penyelidikan polisi kepadamu."


"... Dan saat aku memeriksa gumpalan daging yang meledak itu, ada sesuatu yang lebih menarik."


Claudi berbisik di telingaku.


"Darahnya kering dan tidak meninggalkan sisa cairan apapun."

__ADS_1


Ugh! Hal itu membuatku sedikit merasa pusing. Claudi membantuku berdiri karena ia tahu bahwa, aku kesulitan mempertahankan kesadaranku saat berbicara tentang hal seperti itu. Inilah kenapa, aku lebih suka melakukan sesuatu dibandingkan hanya berbicara saja.


Merasa khawatir, Claudi menanyakan kondisiku.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya, hanya sedikit pusing. Apa masih ada kabar lain?"


"Ada, ini adalah yang terburuk."


"... Sepertinya musuh kali ini, merupakan salah satu dari 3 Tetua. Aku tidak ingin kalian terlalu masuk ke dalam hal yang berbahaya seperti, tolong pikirkanlah keselamatanmu sebelum terlambat."


Salah satu 3 Tetua, ya. Bisa dibilang mereka adalah 3 orang yang memiliki derajat paling tinggi di sekolah dan cakupan kekuasaannya ... mencapai level dunia. Jika salah satu diantara mereka mengincarku, tamatlah riwayat hidupku.


Aku bertanya kepada Claudi untuk rencana yang akan datang.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"


Claudi hanya menutup matanya dan dengan nada yang dingin ia menjawab pertanyaanku.


"Tidak ada, sejak awal kita sudah tidak dapat berbuat apa-apa."


Aku segera menyangkal jawabannya.


"Tidak, masih ada jalan."


"Apa itu?"


"Aku ingin menggerakkan "People Power" dari seluruh dunia untuk menekannya."


Mendengar jawabanku, Claudi tertawa dengan keras seperti orang gila.


Sekali lagi, Claudi mencoba memastikan tekadku.


"Apa kau yakin?"


"Ya, hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini."


"Kalau begitu, aku akan melindungimu dari balik bayangan seperti biasa. Juga, kau ingin makan?"


Kau ingin makan?


Kau ingin makan??


Kau ingin makan???


Kata-kata itu terus menggema di kepalaku.


Pandanganku mulai kabur dan akhirnya, aku pingsan di tempat.


Ini lebih baik, daripada harus merasakan masakan Claudi yang akan membangkitkan trauma masa laluku terhadapnya.

__ADS_1


__ADS_2