Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 24 Pertama Kali Pulang Bersama


__ADS_3

Saat jam sekolah selesai.


Aku mengajak seseorang yang sebenarnya sangat berbahaya untuk pulang bersama di depan gerbang sekolah.


"Hei, ingin pulang bersama?"


Mendengar ajakanku, Rena langsung menolaknya.


"Maaf, aku menolak. Lagipula, kenapa kau tiba-tiba mengajakku pulang bersama?"


Cih, gadis ini memang sulit untuk diajak berkompromi. Setidaknya, cobalah untuk mengikuti hingga pertengahan alur! Tolong jangan mempersulit semuanya, serius!


Aku mencari beberapa alasan kenapa harus mengajaknya.


Jika aku bilang, "Mendadak aku ingin pulang bersamamu!" pasti dia akan mendaratkan sebuah pukulan mematikan padaku. Setidaknya buat ini terlihat ada keperluan kepadanya. Terakhir, jangan biarkan dia tahu kenapa aku mengajaknya.


"S-sebenarnya, ada yang ingin aku diskusikan."


"Kenapa tidak kau diskusikan saat di kelas?"


Aku segera menjawab ucapannya.


"Ini lebih penting!"


Ya, ini sangat penting hingga aku rela mempertaruhkan nyawaku!


Rena menatapku dengan curiga.


"Jangan bilang, kau ingin mengetahui alamat rumahku dengan kedok diskusi."


Hahh?!!! Darimana datangnya kepercayaan dirimu itu??? Siapa juga yang ingin mengetahui alamatmu!


Aku mendesah lalu berkata, "Tidak, aku serius! Saat ini ada yang perlu aku diskusikan bersamamu."


Meskipun aku bertambah serius, Rena masih meragukan ajakan pulang bersama dariku.


"Tetap saja ini aneh. Seharus-"


Aku segera menyelanya.


"Kumohon! Kali ini saja!"


Kali ini saja! Nyawaku sedang terancam!


Melihat tingkahku yang cukup konyol, dia mendesah dalam lalu menerima ajakan dariku.


"Baiklah, kali ini saja."


Setelah mengatakan itu, dia berjalan tanpa mempedulikanku.


Aku masih terdiam di tempat.


Rena berbalik kearahku dan berkata, "Apalagi yang kau tunggu? Bukankah kita akan pulang bersama?"


"Ah! Maaf, aku segera kesana."


Akupun berjalan mengikutinya.


Jika tidak karena panggilan maut itu, jujur saja aku tidak ingin pulang bersama dengannya.


...


Kembali ke waktu saat sebelum Ren mengajak Rena pulang bersama.


Ponselku berdering.


Itu adalah panggilan dari Claudi.


Aku segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Ada keperluan apa sampai memanggilku?"


"Aku sudah melihat lembar jawaban akhir kertas konselingmu."


"Lalu?"


Entah kenapa, aku mendengar Claudi mendesah. Dari suaranya, sepertinya dia cukup kelelahan. Merasa khawatir, aku langsung menanyakan keadaannya.


"Apa kau sakit?"


Mendengar pertanyaanku, dia terkejut.


"E-eehh??!!!"


"... T-tidak, hanya saja aku sedang kepikiran banyak hal."


Aku memberikan beberapa saran kepadanya.


"Jangan terlalu memaksakan diri. Jika kau lelah dengan pekerjaanmu, tinggal berhenti saja. Ngomong-ngomong, saran itu aku berikan gratis hanya untukmu."


"Mana mungkin aku akan berhenti dari pekerjaan, Idiot!"


"... Asal kau tahu saja! Ini semua karena jawaban konyolmu itu! Semua ini salahmu!"


"... Jadi ... bertanggung jawablah." Dia mengecilkan suaranya.


Terdengar manis tapi, aku tidak akan tertipu pada jebakan kucing garong seperti ini.


Aku segera menolak.


"Tidak, aku tidak mau bertanggung jawab."


Claudi menjawab ucapanku dengan suara yang kecil.


"Aku ingin kau berusaha sedikit untuk berhenti egois, tidak bisa?"


Egois? Aku? Yah, memang wajar diusia ini sifat egois akan mendominasi emosiku. Tapi, cukup kejam rasanya saat ada orang yang mengatakan hal itu langsung kepadamu.


"Bag- ... aku ingin melihatmu pulang bersama seseorang."


"Hah? Apa kau sedang menghukumku?"


"T-tidak, bukan begitu. Aku sedang serius, tahu!"


Aku langsung setuju tanpa protes tapi-


"Baiklah."


"Kau hanya boleh pulang bersama dengan seorang gadis. Dilarang keras mengajak pria untuk pulang bersama!"


Hah?!!! Siksaan apa lagi ini, Ya Lord?!!!


Aku merasa keberatan dengan perintahnya.


"T-tunggu, kenapa aku harus mengajak seorang gadis pulang bersama?!"


"Tidak mau? Jangan salahkan aku jika kau mendapatkan pelajaran tambahan pada bimbingan konselingmu."


"B-baiklah, aku mengerti! Cukup mengajak satu orang saja, kan?!"


"Ya, hanya satu."


Aku segera mengakhiri panggilan dengan perasaan campur aduk antara bingung dan kesal. Aku kesal karena perintah yang aneh itu. Tapi, di sisi lain aku juga dalam keadaan bingung untuk memenuhi perintah tersebut.


Saat aku memikirkan jalan keluarnya, aku melihat Rena di depan gerbang sekolah. Meskipun aku tahu ini akan membahayakan nyawaku, aku memberanikan diri menghampirinya. Bahkan saat berjalan, aku masih merasakan sensasi seperti saat bermain "Dead or Death" sendirian di tengah malam.


...


Di jalan.

__ADS_1


Apa-apaan dengan situasi canggung ini?!!! Padahal, awalnya kami tidak seperti ini. Tidak, tidak, saat itu dia yang pertama kali menyapaku dan aku juga bersikap tidak tahu menahu kepadanya.


Rena menatapku lalu berkata, "Apa yang ingin kau diskusikan?"


Kalimat itu terus berdengung di kepalaku.


Sial! Sekarang, alasanku menjadi senjata makan tuan! Mau bagaimana lagi, hanya itu yang dapat aku pikirkan tadi.


Aku mulai mencari-cari suatu topik sebagai bahan diskusi.


"Menurutmu, kenapa jam penerbangan pesawat sering terjadi delay selain karena faktor cuaca?"


Apa yang aku bicarakannn?!!! Bunuh aku, aku ingin mati saja!!! Serius!


Meskipun terdengar konyol, dia tetap menjawabnya.


"Saat itu, aku pernah mendengar sesuatu yang cukup menarik. Mungkin, cerita pengalamanku ini akan menjawab apa yang ada di benakmu."


Tidak, tidak, tidak, kau salah! Aku tidak memikirkan apapun saat ini.


Diapun mulai menceritakan pengalamannya.


"Saat itu, aku sedang menjadi penumpang di sebuah taxi."


"... Tiba-tiba si supir menerima sebuah panggilan lalu ia segera menjawabnya."


"... Dari cara bicaranya, si pemanggil kesal dan melontarkan berbagai macam keluhan kepadanya."


"Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?"


Aku menggelengkan kepalaku.


Tentu saja aku tidak tahu! Bahkan, aku juga tidak ingin mengetahuinya!


Rena melanjutkan ceritanya.


"Saat itu, si supir menjawab semua keluhannya persis dengan yang ingin kau diskusikan. Seperti, jam penerbangan saja sering delay dan hal itu juga berlaku kepadanya."


"... Setelah itu kejadian yang lucu dan diluar dugaan terjadi tepat di depanku."


Tiba-tiba Rena berteriak seperti menirukan cara bicara si pemanggil yang ada di ceritanya.


"Tentu saja! Karena aku adalah pilotnya!!!"


Dia berdeham sekali lalu berkata, "Begitulah yang diucapkan oleh si pemanggil."


Pffttt!


Aku tidak bisa menahan tawa karena cerita konyol itu.


Tidak lama kemudian, dia berhenti di depan sebuah rumah yang besar.


"Ah! Sampai di sini dulu."


"Eh? Kenapa?"


"Disini rumahku."


Rena menunjuk kearah rumah yang ada di depan kami.


Aku melihat rumahnya yang begitu besar dan sekarang, aku menyadari sesuatu.


Ternyata, dia adalah tetanggaku!!!


...


Kondisi :


Claudi yang menunggu ajakan dari Ren masih belum pulang hingga larut malam, akhirnya memutuskan untuk pulang dengan tangan hampa.

__ADS_1


-Selesai.


__ADS_2