
Ren, disini.
Apa kalian tahu hal yang paling diimpikan penulis cerita?
Jawabannya adalah memiliki waktu tidur lebih dari 12 jam.
Tidak lupa juga, aku akan mengingatkan hal ini sekali lagi kepada kalian.
Cerita ini tidak mempedulikan apa yang terjadi di dunia kalian— para pembaca maupun penulis cerita ini sendiri—, jadi buanglah rasa etikamu saat membaca ini.
❇❇❇
Setelah tidur beberapa jam, kepalaku masih terasa pusing.
"Silahkan diminum dulu, Tuan."
"Ya, terima kasih."
Pelayan wanita yang tadi malam memberikanku secangkir teh dan aku menerimanya sambil berterima kasih.
Meskipun tidak bercermin, aku yakin kalau mataku sangat tak sedap dipandang.
Yah, mau bagaimana lagi karena waktu tidur yang aku punya hanya 4 jam! 4 jam lhoo! Serius, ini sangat MEREPOTKAN SEKALI!
Setelah selesai menyeruput teh hingga sisa ¼ cangkir, aku meletakkannya di atas meja.
"Apa Anda ingin mandi dulu?"
"Tidak, aku akan langsung pulang."
"Kalau begitu, tolong ambil ini."
Wanita itu menyerahkan sebuah kantung plastik berisikan bahan-bahan makanan dengan kualitas tinggi, sebelum menerimanya aku harus jual mahal terlebih dahulu.
"Apa ini tidak apa?"
"Ya, Tuan Darius sudah memerintahkanku untuk menyerahkan ini sebelum Anda pulang."
"Ah, kalau begitu sekali lagi terima kasih dan sampaikan salamku kepada Rena."
Aku mengambilnya lalu berpamitan dan pulang ke rumah.
❇
Sesampainya di rumah, aku melihat seorang pria yang sudah terkapar setengah mati.
"Pagi-pagi begini, apa sih yang dia lakukan." Aku bergumam sambil mendatangi pria itu.
Ah, jadi karena kami tidak ada di rumah, dia tidak bisa makan malam.
"Hey, Ayah bangunlah!"
Aku menggoyangkan tubuhnya beberapa kali.
"Errhmmm ... Ren huh, ada apa?"
"Saatnya makan."
Aku menunjukkan kantung plastik yang tadi.
Dia langsung duduk dengan tegap dan menatapku seakan sudah tertolong dari musibah kelaparan.
Ah, sebenarnya dia adalah saudara jauh ibuku a.k.a penjaga rumah kami.
Karena dia merawatku seperti anaknya sendiri, terkadang aku memanggilnya dengan sebutan Ayah sejak kecil dulu.
Hingga saat ini dia tak pernah berubah, selalu mengurung diri di dalam rumah— Hikki-NEET— dan tidak bekerja.
Meskipun begitu, dia memiliki penghasilan tersendiri pada rekening pribadinya.
Terkadang aku pikir itu adalah hasil dari memelihara seekor Tuyul di dalam kamarnya, tapi saat aku selidiki tidak ada yang aneh dalam ruangan si penjaga rumah kami ini.
"Jadi, pagi ini kita masak apa?"
Dia tampak sangat bersemangat.
"Terserah, kalau bisa kau saja yang masak, aku masih lelah."
"Wokehh! Asalkan bisa makan, nothing is heavy for meh~"
Sambil mengatakan itu, dia berjalan ke arah dapur dan aku masih duduk diam di ruang tamu.
"Ugh, kalau saat ini aku tidur ... mungkin tidak akan efektif."
Aku meletakkan kepala di atas tanganku sambil menahan rasa kantuk yang berlebihan ini.
Ada pepatah yang mengatakan kalau baru terbit fajar, kau tidak boleh tidur terlebih dahulu.
Sebenarnya itu benar, karena hanya orang pemalas yang tidur di pagi hari, termasuk aku.
Andai saja besok bukanlah minggu kedua pelajaran resmi berlangsung, sudah dari tadi aku akan tertidur dengan sangat pulas.
Pada dasarnya, ujian khusus di SMA Atradika selalu dilaksanakan secara dadakan. Bahkan dari setahun pengalamanku, aku tidak bisa menebak apa saja yang akan menjadi bahan ujian tersebut dan hanya dapat mempersiapkan diri sebisa mungkin agar tidak menjadi beban di kelas. Kebanyakan dari ujian khusus biasanya menuntut kesempurnaan pada dirimu sendiri yang artinya, semua murid harus menggunakan akal maupun fisik mereka untuk mendapatkan hasil yang baik.
Kenapa aku bilang hasil yang baik dan bukannya nilai? Karena nilai hanyalah angka, hasil usahamu pada ujian lah yang akan menentukan segalanya.
Aroma yang sangat menggoda nafsu makanku mulai menyebar ke seluruh ruang tamu.
"Seperti biasa, dia selalu tidak pernah menahan diri jika memasak."
Ya, pria itu akan selalu memasak makanan yang sangat enak tidak peduli apapun bahannya.
Sayangnya, jujur saja aku sering memberikan gelar "Perjaka Opurtunis" kepadanya. Dikarenakan ia bisa dengan sangat efektif memanfaatkan kesempatan baik, dia bisa bersantai kapanpun yang ia mau. Menyebalkan, bahkan seluruh manusia di dunia juga aku yakin ingin seperti itu!
Saat aku merasa bosan, ponselku berdering tanda ada panggilan masuk.
Panggilan itu berasal dari—
"Lee huh, apa yang dia butuhkan pagi-pagi ini."
Aku mengangkat panggilan itu dan berkata, "Ada apa? Jika ini berhubungan dengan hobimu, aku tidak bisa membantu sekarang."
"H-hey, apa kau sudah lupa bagaimana situasi kita sekarang?" Suara Lee terdengar cukup bermasalah.
"Apanya?"
"Bukankah ini sudah seminggu sejak waktu pelajaran resmi dimulai?"
Ah, jadi dia juga memikirkan hal yang sama denganku ya.
"Ya, lalu?"
"Bagaimana dengan laporan yang akan kita buat nanti?"
Sial! Aku lupa kalau harus membuat sebuah laporan! Padahal dalam minggu ini aku cuma masuk beberapa hari saja, bahkan tidak dapat menghadiri beberapa pelajaran yang aku minati!
T-tapi aku tidak boleh memperlihatkan ini kepada Lee! Iblis itu akan menyeretku ke Neraka apabila ia tahu aku tidak punya rencana apapun tentang laporan kami.
"Bagaimana kalau menambahkan bagian PMD saja?"
"Kau ingin meramal masa depan huh?" Lee mencoba untuk menggodaku dengan suara nakalnya.
Maaf saja, aku tidak akan terpengaruh!
"Lebih baik dan mudah diterima oleh pihak sekolah, bukan?"
"Hmm ... PMD ada untuk melatih para siswa dalam bidang memperkirakan suatu kemungkinan, jika kau menambahkan konsep itu, berarti ujian khusus mendatang ada kemungkinan akan sedikit rumit."
"Rumit?"
"Ya, bisa saja akan mencakup kemampuan manajemen maupun ahli taktik."
"Kedengarannya cukup bagus." Aku menjawabnya dengan sedikit nada percaya diri.
Di sisi lain, aku juga merasa sedikit bersalah karena ingin menghindari omelan dari Lee jika dia tahu yang sebenarnya.
Selang jeda sesaat, Lee melanjutkan pembicaraan kami.
"Haaah ... bagaimana kalau kita diskusikan saja siang ini?"
"S-siang ini?" Aku mengulanginya seakan tsk percaya dengan apa yang barusan ia katakan.
"Ya, ada masalah?"
"Se-sebenarnya hari ini aku sudah cukup kelelahan dikarenakan banyak hal, kalau bisa sore hari saja."
"Sore ... baiklah, 4 sore?"
"Setuju."
"Sip, nanti aku akan menjemputmu langsung ke rumah."
"T-tunggu, apa kita akan pergi keluar?"
"Yups, kenapa?"
"Kalau bisa aku ingin mendiskusikannya di rumahku saja, jika kau tidak keberatan."
"Eh? Apa kau yakin? Padahal aku ingin mengajakmu pergi ke restoran keluarga yang baru buka, lho~"
Restoran keluarga yang baru buka, kah ....
Daripada kesana dan menghabiskan uang, lebih baik aku tetap di rumah karena kami memiliki seorang chef yang bahkan memiliki kemampuan memasak yang langka.
"Maaf, tapi aku tidak tertarik dengan yang begituan." Aku menjawab ajakan Lee dengan apa adanya.
Mendesah sekali, Lee bergumam, "Sayang sekali~"
Aku langsung bertanya.
"Hey, apa kau mengatakan sesuatu?!"
"T-tidak, tidak ada! Kalau begitu, sampai jumpa nanti sore!"
Setelah itu, Lee langsung menutup panggilananya sepihak.
Aku meletakkan ponselku ke meja dan berkata, "Hal aneh apa lagi yang akan dia rencanakan?"
Jujur saja, aku sudah cukup lelah mengikuti berbagai macam permainan aneh yang dia bawa.
"Ren, makanannya sudah siap!"
Kalimat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, akupun bergegas menuju ke dapur.
❇
Saat makan.
"Belakangan ini kau sering pulang dengan babak belur, ada sesuatu yang terjadi?"
Dengan santainya ia bertanya tanpa mempedulikan situasi kami saat ini.
Benar-benar orang yang gagal membaca suasana, itulah dia, Vlad Si Penjaga Rumah.
"Y-yeah, banyak hal yang sudah terjadi ... dan nasibku cukup beruntung karena bisa pulang dengan selamat."
Aku menjawab pertanyaan yang diajukan Vlad dengan jawaban apa adanya.
Mendengar jawabanku, dia menatapku seakan mencari sesuatu.
Tanpa mempedulikan tatapannya, aku terus melanjutkan kegiatan makanku.
"Ren, apa kau sudah menghilangkan kesuci-fwaahhh!"
"Brrssttttt!"
Mendengar ucapan Vlad yang tidak senonoh, aku tidak sengaja menyemburkan air yang ku minum kepadanya.
"B-bercanda itu ada batasnya juga, kau tahu?!"
"Ahaha ... maaf, aku kan cuma penasaran karena kau sering membawa banyak gadis ke dalam rumah ini." Vlad yang mengusap wajahnya yang basah masih bisa bercanda dengan santainya.
"Kalau untuk itu, aku benar-benar tidak bisa menyangkalnya."
Vlad perlahan berdiri dan berjalan ke arahku sambil berkata, "Kampret, jangan bilang kau berubah jadi orang yang menikmati masa mudanya?!"
Eh? Nih orang ngomong apa dah?!!!
"V-Vlad, mari kita bicarakan ini baik-baik." Aku mencoba untuk membujuknya sambil perlahan berdiri dan melangkah sedikit demi sedikit ke belakang.
"Bicarakan baik-baik??? Apa kau tahu betapa sialannya orang-orang seperti itu di mataku?!!!"
Ah, gawat dia mulai gila ....
Bahkan saat ini, aku benar-benar tidak tahu apa yang dia bicarakan.
Merasa pijakanku sudah bagus, aku segera berlari menuju kamar.
"Maaf, Vlad! Sisanya tolong urus ya!"
"Kembali kau kesini!!!!"
Meskipun sudah sampai di dalam kamar, teriakan Vlad masih terdengar.
Agar dia tidak bisa menangkapku, aku mengunci pintu dan segera lompat ke atas kasur.
"Ahhh ... Akhirnya, aku bisa istirahat."
Tanpa pikir panjang, Ren menutup matanya.
Begitulah seharusnya, namun ada makhluk asing tiba-tiba muncul di hadapanku.
"Hey, aku bawa majalah dewasa untukmu lho~"
Makhluk itu tersenyum bahagia seakan berada di Surga.
Tidak, tenang saja karena ....
"Akan ku kirim kau ke Neraka, SIALAANNNN!"
"Ugggffhhh!"
Aku menendang perut makhluk itu dengan sangat keras hingga ia terpental ke dinding kamar.
Meskipun begitu, saat aku menatap apa yang dia bawa—
"Jangan sembarangan bawa majalah dewasa ke kamarku, Brengsek." Aku mengarahkan tatapan dingin kepadanya.
"Ahahaha ... bukankah pria suka seperti ini?"
"Ya, ya, ya ... kau tahu, gara-gara ini aku sering dicap PK oleh ibuku?"
"Huh? Bukankah membawa perempuan ke dalam rumahmu juga sudah termasuk P—Khaaaakk!!"
Tanpa mempedulikan apa yang ia katakan, aku langsung menyiksa makhluk itu tanpa ampun berkali-kali.
"A-ku bu-kan ... PENJAHAT KELA—mmffhhh!!!"
Sebelum aku selesai teriak, ada seseorang yang menutup mulut hingga mengunci tubuhku dari belakang.
Sialnya, kunciannya terlalu kuat!
"Kalian berdua berisik."
Suara itu, sepertinya aku kenal siapa dia ....
"Ahahaha ... maaf sudah merepotkanmu, Claudi."
"Mffww?!"
Makhluk tadi— Lee Jun— bangkit dari posisinya sambil tertawa dan menyebutkan nama yang tak ku kira bisa melakukan ini.
"Jadi, kenapa harus begini?"
"Seperti yang kau lihat barusan, kalau waktu istirahatnya diganggu, Ren akan mengamuk tanpa mendengarkan alasannya."
"Mfffww mffww!"
Sial, aku tidak bisa bicara kalau mulutku ditutup begini!
Entah kenapa, tangan yang menutup di mulutku akhirnya lepas juga.
"Haaah ... ini terlalu kejam." Aku hanya bisa protes sambil lesu karena sudah tidak ada tenaga untuk marah.
"M-maaf." Claudi yang masih mengunci tubuhku meminta maaf seakan menyesal.
"Kau tidak perlu minta maaf karena aku yang salah di sini." Lee langsung menyangkal ucapan Claudi karena dia tahu salahnya.
"Bisakah kau melepaskanku sekarang?"
Tanpa basa-basi, aku meminta Claudi untuk melepaskan kunciannya.
"Y-ya." Claudi melepaskanku dan duduk di atas kasur.
Sementara itu, Lee masih berdiri tegak sambil meregangkan tubuhnya.
Sebagai pemilik kamar yang merasa terganggu, aku duduk di tengah ruangan dengan perasaan kesal yang mungkin sudah bisa mencairkan Kutub Utara.
"Jadi, kenapa kalian datang kemari?"
"Bukannya sudah ku bilang? Sekarang pukul 4 sore lho~" Lee memperlihatkan jam tangannya ke arahku.
"Tidak, kau pasti bohong."
"Tidak Ren, Lee berkata jujur." Claudi mengcover pernyataan Lee.
Tidak tidak, bagaimana bisa sekarang pukul 4 sore?
Sedangkan aku saja baru bangun dan makan pagi, apalagi tadi Lee bilang "nanti siang" pada panggilan sebelumnya.
__ADS_1
Aku tahu kalau jam tangan iyu bisa diatur kapan saja, tapi untuk apa juga dia bilang kalau sekarang masuk waktu sore?
Lee berjalan ke jendela kamar sambil berkata, "Tiba-tiba langitnya semakin gelap, suhu udara juga turun dan yang lebih penting lagi .... " Lee masih mengangkat jam tangannya.
"Seluruh jam di dunia bergerak maju seakan error karena dipengaruhi gelombang magnet, padahal tidak ada yang aneh sama sekali." Claudi melanjutkan.
"Hei, ini bukan waktunya untuk bermain role di cerita imajinasi Sci-Fi kalian." Aku langsung memperingatkan mereka untuk berhenti bercanda.
"Hm? Aku serius lho~"
"Mana ada orang yang menyelinap ke kamar sambil membawa majalah dewasa bisa serius."
Serius, dia masih memegang majalah dewasa dengan santainya!
"A-ah! Ini cuma cover, kau belum melihat dalamnya kan?"
Lee membuka majalah tersebut dan yang benar saja ....
"Isinya juga sama, Kampret!" Aku mengambil majalah itu dari tangan Lee dan melemparnya ke bawah kasur.
Claudi yang melihat kejadian ini bingung dan berkata, "Bukankah itu harus dibuang ke tempat sampah?"
" "Huh? Kenapa harus dibuang?" "
Aku dan Lee secara bersamaan menjawabnya.
"Bukankah Ren tidak menginginkannya?"
"Tidak-tidak, saat ini dia cuma sedang tidak mood untuk melihatnya, benarkan?"
"Ya, bisa dibilang begitu." Aku langsung menjawab pertanyaan Lee.
"Kenapa?" Wajah Claudi menjadi kaku.
" "Laki-laki normal pasti tidak akan menolaknya." "
Kami menjawabnya secara langsung tanpa jeda.
"Serius?"
Kami hanya mengangguk sebagai jawaban.
Claudi terdiam dan menempatkan tangan ke dahinya seperti merasa pusing yang sangat berat.
"Kau sakit?" Hanya formalitas, bukan karena aku khawatir.
"Tidak, bisa kita lanjutkan yang tadi saja?" Claudi langsung mengubah topik pembicaraan kami.
"Terserah, bagaimana denganmu Ren?" Seperti biasa, Lee langsung ngikut.
"Ya, silahkan." Aku setuju dengan usulan Claudi agar bisa cepat tidur.
Claudi mengambil ponselnya dan memanggil seseorang.
Tak lama, suara pria terdengar dari ponsel Claudi.
"Apa Ren ada di sana?" Pria itu lagsung menanyakan keberadaanku.
"Ya." Claudi menjawabnya dengan suara yang dingin.
"Ren, sebelum dunia ini berakhir kau harus menikah dengan Claud—"
Tiba-tiba panggilannya terputus-tidak, lebih tepatnya Claudi memutuskannya sepihak.
Wajahnya memerah sambil menatap ke bawah.
Khawatir, aku mencoba untuk memastikan keadaannya.
"Kau baik-baik saja?"
"Si bodoh itu .... " Claudi bergumam sendiri dan tidak mempedulikan sekelilingnya.
Suasana di ruangan ini menjadi canggung dan Lee yang daritadi diam, tubuhnya bergetar hebat sambil menutup mulut.
Sudah dipastikan, kalau dia menemukan sesuatu yang lucu dan berusaha menahan tawanya.
Aku hargai itu, setidaknya Lee sudah berusaha untuk tidak memperburuk suasana.
❇
Setelah beberapa menit, akhirnya suasana canggungnya menghilang.
"Maaf, aku mau ke kamar kecil dulu karena sudah kebanyakan menahannya."
Lee yang sudah berusaha keras untuk menahan tawanya pamit ke kamar kecil.
"Dia tidak berubah, huh." Aku bergumam dengan suara kecil.
"Ya, dia tidak pernah berubah ya." Claudi melanjutkannya seakan-akan dia mengerti apa yang aku maksud.
Claudi yang awalnya di atas kasur, berjalan ke depanku dan duduk.
"Setahun yang lalu juga dia seperti itu kalau terlalu lama menahan tawa." Claudi tersenyum nostalgia.
Setahun yang lalu kah ....
Aku tidak bisa mengingatnya sedikitpun.
Tidak hanya itu, kejadian seminggu yang lalu pun sudah mulai hilang dari ingatanku.
Aku tahu kalau manusia bisa memiliki ingatan yang buruk, tapi di usia seperti ini ... ini sangat aneh, aneh sekali.
"Apa Ren mengingatnya?" Claudi menatapku.
"Tidak, aku tidak mengingatnya sama sekali."
"Sudah ku duga jawaban Ren akan seperti itu."
Aku menjawab pertanyaan Claudi dengan jujur karena mustahil bagiku untuk berbohong kepada mereka, aku yakin mereka akan mudahnya tahu kalau itu kebohongan.
Kebanyakan orang ingin melupakan sesuatu yang tidak mereka perlukan, namun jujur saja aku adalah tipe yang sebaliknya.
Melupakan banyak hal itu sangat menakutkan, kau tidak bisa mengingat orang-orang yang berharga bagimu, saat melihat mereka kau tidak akan pernah tahu apa yang dirasakan saat sebelumnya— saat-saat bersama mereka ketika kau mengingatnya— dan yang lebih penting lagi, aku tidak memiliki satupun kenangan yang bisa digunakan untuk memulihkan ingatanku.
Ada saat dimana aku melupakan semuanya, Lee bersusah payah membawakan beberapa barang kenangan untukku dan aku ....
"Maaf, aku hanyalah barang yang rusak dan sangat kesulitan untuk mengingat teman-temannya." Aku menunduk sambil merasakan rasa bersalah di pundakku.
"Tidak perlu merasa bersalah, Ren sudah berjuang hingga sejauh ini, jadi kami juga akan berusaha keras agar suatu hari nanti .... " Claudi mengepalkan kedua lenagnnya dengan sangat kuat.
"Kalau saat itu tiba, kuharap kalian adalah orang-orang pertama yang aku lihat nantinya."
"Y-ya, kami akan berusaha keras untuk itu."
"H-hey, berhenti mengatakan itu secara berulang kali! Kau seperti kaset yang rusak!" Aku mencoba untuk menjahilinya.
"U-um, Ren ada benarnya juga. Sebenarnya, ada hal lain yang ingin aku biacarakan di saat hanya ada kita berdua."
Wajah Claudi berubah serius.
"Hm?"
"Sebenarnya, a-aku-"
"Heellloooo everybody~ I'am here!!!"
Sebelum Claudi menyelesaikan ucapannya, Lee datang secara tiba-tiba dengan cara yang konyol.
"Claudi tadi it-"
Claudi menempatkan jari telunjuknya ke bibirku dan berkata, "Nanti, aku pasti akan mengatakan semuanya."
Mengerti dengan maksud Claudi, aku hanya mengangguk.
"Kalian sedang main rahasiaan denganku?" Lee yang tidak diperhatikan menjadi semakin menyebalkan.
"Ya, ya, selamat datang kembali."
"Selamat datang kembali, Lee."
Kami menyambutnya agar dia tidak bertingkah lagi.
Sambil tersenyum puas, Lee berjalan lalu duduk di sampingku dan berkata, "Gitu dong, jangan abaikan aku."
Beginilah kehidupanku, meskipun tak memiliki kenangan, setidaknya mereka ada di dekatku, itu sudah lebih dari cukup.
❇
"Lanjut yang tadi?" Lee melihat kami bergantian seakan-akan mengkonfirmasi.
"Silahkan."
"Ya, silahkan."
Aku dan Claudi mempersilahkan Lee untuk melanjutkan topik utama pembicaraan kami saat ini.
Mendapat persetujuan dari semua peserta yang hadir, Lee pun berubah jadi mode seriusnya.
"M-maaf .... "
"Tidak perlu, saat aku pergi tadi, pelayanku sudah mengirimkan beberapa informasi penting."
Lee mengambil ponselnya.
Beberapa saat telah berlangsung semenjak ia mengoperasikan ponselnya, milik kami— aku dan Claudi— bergetar.
"Baca kumpulan artikel yang aku kirim." Lee langsung menginstruksikannya tanpa ragu.
Kamipun nembaca seluruh artikel tersebut dan yang benar saja, semua itu fenomena yang aneh.
Rotasi bumi menjadi lebih cepat sesaat.
Medan magnet membuat alat elektronik mengalami "Malfunction".
"Dan yang terakhir, ini cukup gila," ucap Lee yang masih mengoperasikan ponselnya.
" "Sistem tata surya telah berubah?" "
Aku dan Claudi bereaksi pada waktu yang sama.
"Ya, sebenarnya itu cuma artikel yang entah darimana asalnya diambil oleh pelayanku sebagai referensi, namun dari kejadian ini kita dapat berasumsi bahwa ada yang tidak beres dengan pulau ini bukan sistem tata suryanya."
"Maksudmu ada seseorang yang mencoba untuk mengubah waktu pulau ini, begitu?" Aku langsung bertanya kepada Lee.
"Ya, meskipun belum tentu benar adanya, bukankah semua ini menjadi sangat jelas? Maksudku, coba kalian baca artikel yang paling bawah dan periksa jam dunia pada ponsel masing-masing."
Mengikuti saran Lee, aku melihat artikel terakhir yang ia maksud.
Pulau Asterisk menghilang dari tempatnya.
Tidak salah lagi, ini bukan karena sistem tata surya yang berubah, tapi karena kami yang bergerak.
"Ini aneh."
Claudi menyampaikan pendapatnya yang cukup wajar bagi semua orang.
"Tidak akan terasa aneh kalau semuanya menyangkut Pulau Asterisk."
Ucapan Lee yang tanpa pandang bulu langsung menyapu bersih keraguan kami.
Pulau Asterisk ada di dunia ini saja merupakan salah satu keajaiban dunia, terlebih lagi aku yakin mereka masih memiliki banyak rahasia yang belum dunia ketahui.
Tapi, ada satu hal yang menggangguku.
"Kenapa bergeraknya baru sekarang?"
"Itulah yang harus kita diskusikan sekarang, benarkan Lee?" Claudi menatap Lee yang masih mengoperasikan ponselnya.
"Ya, bisa dibilang begitu, namun secara pribadi aku tidak peduli karena seharusnya tujuan kita kemari bukan untuk itu."
"Jangan bilang kalian merencanakan sesuatu yang aneh." Aku langsung menaikkan kesiagaan sebagai antisipasi.
"Bukan aneh, ini adalah sesuatu yang bukan kewajiban kita, tapi malah dilimpahkan oleh seseorang kepada kita berdua." Lee protes kesal.
"Uwwaaaa ... tolong jangan bilang seperti itu! Itu sama seperti mengatakan kalau aku ini gak gunaaa!!!"
Mendengar ucapan Lee, Claudi tiba-tiba jadi histeris.
"S-sudahlah, tenangkan dirimu." Aku meminta Claudi menenangkan diri agar waktu kami tidak terbuang.
"Cih." Lee mendecakkan lidahnya sambil menatap ke arah lain.
"Ada apa?"
"Tidak ada, mari kita lanjutkan dan kesampingkan perasaan." Lee semakin dingin dan tegas.
Uwwah, entah kenapa ini jauh berbeda dari Lee yang biasanya.
Dia terlihat seperti seseorang yang bisa diandalkan, namun setelah mengingat kelakuan bodohnya selama ini aku tidak bisa merasakan atmosfer serius.
❇
"Apa kalian sudah melihat jam dunia seperti yang aku bilang?" tanya Lee.
Kami hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ya, seperti yang kau bilang, jam dunia tidak berubah sama sekali."
Sementara aku menjawabnya, Claudi masih diam yang berarti ia setuju dengan jawaban tadi.
"Ada beberapa poin yang membuat kita jadi kebingungan seperti ini.
Pertama, kita baru tahu jika pulau ini dapat bergerak.
Kedua, kita tidak tahu alasan kenapa pulau ini bergerak.
Ketiga, yang terburuknya adalah kita tidak tahu siapa yang menggerakkan pulau ini."
Seperti yang dikatakan Lee, Pulau Asterisk tidak mungkin bergerak sendiri, pasti ada seseorang yang mengendalikannya entah darimana pun itu.
Karena tidak tahu apa saja yang pernah terjadi di pulau ini, aku mencoba untuk memastikan sesuatu kepada mereka.
"Selama kalian berada di Pulau Asterisk, apa pernah terjadi hal aneh seperti ini?"
"Tidak ada, bahkan saat mencari beberapa informasi, aku cuma tahu tentang betapa majunya teknologi di Pulau Asterisk dibandingkan dengan negara lain yang ada di dunia."
"Seperti yang dikatakan Lee, meskipun hanya mengambil dari sudut pandangku sebagai masyarakat, tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya."
"Berarti sudah dipastikan bahwa ini berhubungan dengan sesuatu yang baru saja terjadi."
Aku langsung mengemukakan kesimpulan yang aku dapat berdasarkan penjelasan mereka.
Mendengar pernyataanku, Lee menyuarakan asumsinya.
"Jangan-jangan ini berhubung dengan rencana licik mereka."
"Mereka?" Claudi masih tidak mengerti.
"Ya, mereka, keluarga Han."
"Tidak mungkin, apa mereka sudah gila?" Claudi mulai khawatir dan mengeluarkan pertanyaan yang bertolak belakang terhadap wajahnya yang cantik.
"Mereka sudah lama gila, seperti yang baru saja pernah kami temui, bukankah begitu, Ren?" Lee menatapku seakan meminta konfirmasi.
"Ya, Lee benar. Aku tidak tahu apa yang mereka harapkan, tapi seluruh kejadian yang berhubungan dengan pulau ini, pasti ada kaitannya terhadap mereka."
Meskipun tidak tahu bagaimana pulau sistem Pulau Asterisk, setelah kejadi waktu itu, hanya ini yang bisa aku simpulkan.
Tidak mungkin ada orang bodoh yang mencoba untuk membajak sistem operasi pulau karena tingkat keamanan yang sangat tinggi, yah meskipun belum banyak orang tahu kalau pulau yang disebut masih berkembang ini adalah tempat berteknologi sangat canggih di dunia.
Saat aku masih berpikir, Claudi menanyakan sesuatu yang cukup untuk membuatku kembali ke dunia.
"Lalu, bagaimana dengan lokasi kita saat ini?"
"Lokasi kita saat ini ... entahlah, kita masih berjalan dan tak terasa sudah malam, padahal baru beberapa puluh menit kita bicara."
" "!!!" "
Mendengar pernyataan Lee, kami terkejut dan tak daoat bicara.
Aku mengikuti titik pandang dari mata Lee yang mengarah ke jendela kamar dan ternyata, benar adanya waktu kami cepat berlalu dan ....
"Bagaimana dengan waktu wilayah pulau?" Ekspresi Claudi berubah cemas.
"I-ini!!!" Lee yang melihat ponselnya sangat terkejut.
"Ada apa?!" Aku menatap ke arah Lee.
Lee menatap balik dengan ekspresi kaku diwajahnya sambil berkata, "Waktu kita tidak bergerak."
" "Apaa?!!!" "
"Ini diluar nalar manusia, maksudku tidak mungkin kecepatan pulau ini sama dengan rotasi bumi, ini juga mengingatkanku dengan sesuatu di saat memandang ke arah awan." Lee yang masih bersikap tenang, membawa beberapa cerita kenak-kanakan saat mengakhiri ucapannya.
"Apa maksudmu tentang mengajar awan yang bergerak?"
"Tepat sekali, tapi saat kau menggunakan mobil dan bergerak lurus, apa menurutmu kau sudah searah dengan arah awan tersebut?"
"Tentu saja tidak karena kita perlu mengikuti jalur yang tersedia."
Adegan tanya jawab antara Claud dan Lee benar-benar cukup menghibur, tapi bukan saatnya bagiku untuk merasa terhibur dan cuma menonton saja.
Namun, saat ini aku memilih diam sambil mengambil beberapa informasi berguna dari apa yang mereka ucapkan dan menyimpulkan semuanya menjadi satu.
Itulah kenapa aku lebih memilih diam terlebih dahulu dan mendengarkan ingatan mereka.
Tanya jawab masih terus berlanjut diantara mereka berdua.
"Seperti yang Claudi bilang, tidak mungkin untuk bisa searah dengan awan meskipun kita sudah menggunakan mobil berkecepatan tinggi lalu ... bagaimana pergerakan Pulau Asterisk mempertahankan malam yang konstan ini?" Meskipun cuma mereka berdua saja yang berdebat, Lee tetap berbicara secara menyeluruh.
__ADS_1
"Bukankah bumi itu bulat? Jadi, rotasinya juga sama kan?"
"Ya, aku tahu kalau buminitu bulat, tapi coba pikirkan lagi, bagaimana bisa pergerakan pulau bisa sesempurna ini hingga malamnya terasa konstan?"
Merasa tidak tahan lagi, akhirnya aku ikut berbicara.
"Artinya, Lee mengatakan kalau tidak mungkin pulau ini bisa mengikuti arah rotasi satu titik di bumi secara sempurna."
"Hmm ... aku mengerti." Ekspresi Claudi kembali berubah jadi biasanya.
"Lebih jelas, tidak mungkin pulau ini bergerak lurus tanpa menghindari apapun yang ada di depan kecuali-"
"Kita tidak berada di daratan maupun laut, begitukah?" Aku segera menyela ucapan Lee.
"Yups!" Lee setuju dengan pendapatku sambil tepuk tangan beberapa kali.
"Meskipun berada di atas, bukankah masih ada bangunan tinggi dan beberapa pegunungan?"
"Memang ada, namun yang kita bicarakan ini adalah pulau yang bergerak karena dikendalikan, bukankah sudah pasti arahnya akan diperhitungkan agar bisa bergerak lurus tanpa menabrak apapun?"
"Tidak mungkin."
"Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini, mungkin cuma 1% dari banyak arah yang bisa dipilih, tapi hanya karena persentasenya begitu bukan berarti bahwa 1% itu tidak disebut berhasil, bukan?"
"Y-ya, ucapanmu ada benarnya." Bahu Claudi merosot seakan ia sudah cukup kelelahan berpikir tentang masalah ini.
Jangan remehkan 1% itulah yang ingin dikatakan Lee.
Persentase 99,9% keberhasilanpun, masih bisa membawa kegagalan pada 0,1% nya, sama saja seperti yang terjadi sekarang.
Tak ada kata lain selain mengejutkan, itulah yang aku rasakan sekarang.
Teknologi modern yang tersembunyi hingga pulau mengambang di udara, seberapa banyak lagi yang sebenarnya masih disembunyikan oleh mereka?
Apa yang ingin mereka capai hingga sejauh ini?
Siapa, dimana hingga kapan semua ini bermula?
Tak ada yang tahu. Misteri yang datang silih berganti, tak ada petunjuk yang jelas dan akhirnya, petunjuk itu sendiri yang datang kemari. Terdengar dipermudah, namun jujur saja tak ada yang mudah dan semuanya menjadi bercabang hingga aku kesulitan untuk menyimpulkan seluruh pecahan.
❇
Tak peduli seberapa lama kami berdiskusi, malam yang gelap ini takkan pernah berakhir apabila pulau masih bergerak.
Saat ini, semua orang yang ada di kamarku sedsng merasa bingung dan tak tahu harus bagaimana lagi. Secara pribadi, aku tidak keberatan dengan apa yang terjadi sekarang, namun ada beberapa hal yang sedikit mengganggu. Seperti waktu yang tak pernah berjalan, orang-orang aneh ini juga tidak akan meninggalkan kamarku untuk sementara waktu.
Aku menatap mereka datar.
"Eee ... sampai kapan kalian berada di sini?"
"Sampai pagi!"
"Sampai masalah ini terpecahkan."
Berbeda dengan jawaban bodoh dari Lee, jawaban yang Claudi katakan memiliki bobot yang sangat berat dan mengganggu. Mereka akan di sini terus jika masalah yang sekarang masih tidak ada petunjuk, tidak ada yang bisa diperbuat selain tetap bersama dan saling menjaga satu sama lain. Intinya sih begitu, tapi aku merasakan hawa bahaya dari kedua orang itu.
Aku menghembuskan nafas lelah lalu berkata, "Apa tidak ada pemberitahuan dari petinggi pulau?"
"Tidak ada sama sekali, sialnya semua jaringan TV menghilang diakibatkan pergerakan pulau," ucap Lee kesal.
"Seperti yang dikatakan Lee, tidak ada informasi yang lebih lanjut tentang kejadian ini, aku cukup khawatir dengan nasib penduduk pulau ini," ucap Claudi khawatir.
"Bagaimana dengan saluran telekomunikasi?" tanyaku sambil berharap sesuatu yang baik masih dapat terjadi.
"Sayang sekali, kita hanya bisa terhubung dengan orang yang ada di dalam pulau pada jarak tertentu," jawab Lee.
Hmmm ... berarti, segala sesuatu asalkan di dalam pulau masih berfungsi dengan baik. Ah, bahkan listrik di sini juga masih lancar, aman dan jaya. Dengan ini, dapat dikonfirmasi bahwa pergerakan ini hanya akan memutuskan hubungan dengan orang yang ada di luar pulau.
Karena mulai dari titik ini akan menjadi pembahasan yang sedikit bahaya, aku memberikan sedikit kode pada Lee untuk mengikutiku dan mencari alasan yang tepat agar Claudi tidak curiga terhadap kami.
Mengerti dengan maksudku, Lee memulai aksinya.
"Ah, ngomong-ngomong perutku terasa lapar, bagaimana kalau kita makan dulu?" Lee tersenyum sambil menggaruk bagian belakang kepalanya beberapa kali.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan, aku segera mengadakan usulan yang pas agar Claudi tidak dapat ikut campur.
"Y-yeah, bagaimana kalau kita memasak di dapur?"
"Ya, kau benar Ren!"
"Apa aku boleh ikut?" tanya Claudi sambil tersenyum.
" "Tidak!" "
Kami langsung menjawabnya serempak.
"Eh, kenapa?" Claudi jadi bingung.
"Errmm ... b-begini-"
Dengan cepat, Lee segera menyelaku.
"Ren punya resep baru, jadi dia harap ini akan menjadi sebuah kejutan untukmu, benarkan?"
"Apa begitu?" Claudi menatapku.
"Y-yeah, jadi kau bisa menunggu di sini?"
Claudi terdiam sebentar lalu berkata, "Baiklah, tapi jangan lama karena aku takut sendirian."
"Oke, sekarang ... " Lee segera menyeretku sambil berkata, "Kami pergi ke dapur dulu~"
"A-aku bisa jalan sendiri," kataku yang merasa cukup terganggu.
"Ahaha ... jangan banyak komplain dan nikmati saja," ucap Lee yang terdengar senang.
Menikmati apanya?
Maksudmu, ikuti saja kan? Benarkaaannn???
Haaah ... aku sama sekali tidak bisa mengerti dengan apa yang dia pikirkan.
❇
Di dapur.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Lee serius.
Ternyata dia juga paham dan berubah menjadi mode serius, huh.
Tanpa berlama-lama, aku langsung menuju inti topik.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Melakukan serangan?" Lee langsung menjawab tanpa jeda.
"Berarti pikiran kita sama, huh."
"Lalu, kenapa kau tidak ingin membicarakan ini di depan Claudi?"
Seperti yang diharapkan dari seorang Lee Jun, dia tidak akan pernah mengabaikan hal sekecil itu dan langsung merasa curiga.
"Ini menyangkut keselamatannya, tidak salah kan jika aku ingin dia terhindar dari bahaya?"
"Jadi itu kenapa kau ingin menghindari topik ini dari wanita itu tapi, bukankah kau terlalu memi—!!!"
Aku meraih kerah baju Lee dan berkata— "Aku tidak ingin ada korban setelah semua yang terjadi, aku juga tidak ingin dia tahu kalau kau sudah pernah membunuh orang lain, setidaknya jangan menanggung beban itu sendiri. Jika perlu, aku akan memohon sambil bersujud kepadamu agar kau mau berjanji untuk tidak seperti itu lagi." —dengan nada yang serius tanpa mempedulikan jarak diantara kami.
Mendengar ucapanku, Lee terdiam sebentar. Suasana di dapur berubah seutuhnya. Di sini hanya ada suasana yang sepi bukan karena ketegangan, melainkan adanya kekhawatiran seseorang terhadap temannya yang sangat berharga.
"Baiklah, aku mengerti."
Mendengar persetujuan Lee aku melepaskannya dan mengambil jarak.
"Apa kau sudah tahu tentang semua ini?"
"Kebetulan, informasi yang kita butuhkan sudah sampai." Lee mengangkat ponselnya.
"Langsung sampaikan saja."
Setelah menekan beberapa kali pada layar ponsel, Lee menyerahkannya kepadaku.
Semua laporan yang berbentuk teks dan disematkan beberapa gambar terlihat sangat detil, seperti yang diharapkan dari keluarga Jun.
Dari informasi yang ada, ada beberapa petunjuk tentang kejadian ini.
Pada dasarnya, kami sedang terbang melalui lintasan lurus dengan kecepatan rotasi bumi. Kendali pulau masih belum diketahui, namun ada beberapa petunjuk yang diberikan oleh pekerja keluarga Jun. Terakhir, pergerakan ini tidak memiliki dampak negatif kepada seluruh penghuni pulau.
Yah, jika tidak ada dampak buruk yang masih belum terlihat, kami tidak bisa menyerang tanpa sebab yang jelas.
Umumnya pergerakan kami sama seperti mengikuti aturan hukum yang ada, ikuti prosedur lalu bergerak.
Jika tidak, sama saja kami akan dicap sebagai teroris.
Haaah ... cukup menyebalkan apabila kami tidak memiliki alasan yang tepat.
Aku mengembalikan ponselnya sambil berkata, "Apa tidak ada yang bisa kita lakukan?"
"Tidak ada karena mereka masih belum merugikan orang lain, tapi aku tahu kalau kau ingin mencegah daripada memperbaiki, namun kita tidak memiliki alasan yang jelas." Lee terlihat sudah menyerah.
"Kalau begitu, kita tidak perlu mempermasalahkannya, begitu?"
"Yups, setidaknya untuk saat ini."
"Karena masalah utama sudah selesai, sekarang tinggal .... "
Aku menatap wilayah dapur dan Lee mengikuti titik pandangku.
Setelah beberapa saat, akhirnya Lee mengerti apa yang ku maksud.
Lee membuka kulkas dan mengambil beberapa makanan sambil berkata, "Ah, itu tenang saja, aku sudah meminta seseorang membuatkan makanan."
Seseorang?
Vlad?
"Bagaimana kau bisa menyogoknya?"
"Mudah~ kami melakukan beberapa transaksi beberapa waktu lalu."
Oh ... ternyata mereka sudah bergerak di belakangku dari dulu, huh.
"Yasudahlah."
Kamipun membawa makanan itu dan kembali ke kamarku.
❇
Di kamar.
Kami meletakkan makanan tadi ke tengah ruangan.
Aroma yang begitu sedap mulai berkeliling, nafsu makanku yang sudah hilangpun akhirnya kembali lagi.
Aku memandangi makanan itu terus.
Menyadari ada sesuatu yang aneh, Lee berbisik ke telingaku.
"Ingatlah, ini untuk Claudi bukan kau."
"Uuu ... b-baiklah."
"Eh? Kalian tidak ikut memakannya?" Claudi yang sudah makan duluan jadi bingung karena kami tidak ikut makan.
"Bukankah sudah ku bilang dari awal kalau ini dibuatkan Ren hanya untukmu?"
"Eh?"
Lee menyikutku dari samping.
"A-ah, ya! Ini hanya untukmu, jangan pedulikan kami, makan saja." Aku langsung mempersilahkannya karena desakan Lee.
Setelah mendengar itu, nafsu makan Claudi menjadi lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
Tak lama setelah ia selesai makan, Claudi tertidur pulas di tempat.
Melihat ini, aku menatap ke arah Lee.
Dia hanya tersenyum tanpa berkata apa-apa.
"Apa yang kau masukan ke makanan itu?"
"Bubuk tidur, hanya itu saja."
"Kau!" Tanpa pikir panjang, aku menaikkan suaraku.
"Tenanglah, dia cuma tertidur dan pembicaraan kita yang sebenarnya akan dimulai sekarang." Tanpa mempedulikan situasinya, Lee menjadi serius.
Aku mengangkat tubuh Claudi yang tertidur sambil berkata, "Kenapa kau tidak mengatakan ini dari awal?"
"Dia menguping, itulah hukuman untuknya."
"Apa kau yakin?"
"Seribu persen! Dia menguping seperempat pembicaraan kita lalu segera pergi setelah aku melihatnya." Lee mengangkat kedua tangannya seakan bilang kalau itu bukan salahnya.
Jadi, tadi dia menguping huh ....
Sangat disayangkan, cantik-cantik kok suka nguping?
Mengesampingkan itu, berarti masih ada yang harus kami lakukan mulai saat ini.
Aku memastikan waktu pada ponselku dan yang benar saja, itu masih sama yaitu pukul enam sore. Sesekali aku menatap ke luar jendela kamar, langit malam masih tetap sama seperti tadi. Tak ada perubahan dan kami masih bergerak dengan kecepatan maupun arah yang sama.
Setelah meletakkan Claudi yang tertidur pulas, aku kembali duduk lalu berkata, "Ini yang sebenarnya, bukan?"
"Ya, sekarang kita bisa berbicara tanpa harus khawatir ada yang tahu."
"Jadi, apa rencanamu?"
"Kita akan pergi ke pusat kontrol pulau karena bawahanku sudah menemukan lokasinya, seluruh persiapan sudah ditangani dan sisanya ... terserah padamu."
"Aku?"
"Ya, kau ingin ikut atau tidak, itu sih terserah karena hal ini lebih berbahaya dari yang kemarin." Lee mengalihkan pandangannya ke arah jendela kamar.
"Tentu saja aku ikut."
"Eh?"
"Ah?"
"Ih?"
"Berhenti menyebutkan huruf-hutuf vokal dan langsung saja ke rencananya!!!" Kesal, aku langsung memarahi Lee.
Sedikit terkejut, Lee terdiam sebentar dan tertawa kecil.
"Fufufu ... kalau boleh tahu, kenapa kau sangat tertarik kesana?" tanya Lee sambil menyipitkan matanya.
"Aku ingin tahu asal usulku."
"Meskipun setelah beberapa hari kau akan lupa?"
Ugh, dia benar. Aku memiliki ingatan yang buruk, terlebih lagi tidak mungkin untuk mencatatnya di sebuah kertas seakan itu adalah "buku harian" milikku yang berharga. Maksudku, melakukan itu agak sedikit aneh bagi seorang pria dan juga, aku sedikit kesulitan untuk percaya dengan kenangan apapun yang ditinggalkan oleh diriku sendiri.
Hingga saat ini, cuma kalung itu saja yang selalu bersamaku, hanya itu ....
Bahkan ketika aku kehilangan identitas diriku yang sebenarnya, aku selalu membaca buku harian itu karena benda tersebut adalah petunjuk— meskipun aku tidak tahu siapa yang pernah mengatakan ini kepadaku— tentang siapa diriku.
Aku menjawab pertanyaan Lee tanpa ragu.
"Setidaknya, aku pernah tahu, itu sudah cukup kan?"
"Aku mengerti, tunggu apa lagi? Ayo kita pergi keluar?"
Lee bangkit dari posisinya dan berjalan keluar.
Dari belakang, aku mengikutinya tanpa mengatakan apapun.
Dari sini, kami akan menjelajah tempat yang tak diketahui oleh banyak orang. Tidak ada petunjuk maupun informasi tentang jebakan atau bukan, setidaknya kami harus pergi kesana. Demi mengetahui seluruh kebenaran yang ada dan juga, demi keegoisanku.
"Lee."
"Hm?" Lee berbalik sedikit.
"Terima kasih karena selalu mengabulkan keegoisanku."
"Apa yang kau katakan? Jika keegoisanmu selalu membawa kita ke situasi yang menguntungkan, tidak ada salahnya bagiku untuk mengikuti semua." Lee tersenyum lebar seakan tak ada yang membebaninya.
Aku hanya mengangguk sambil merasa sedikit senang di dalam hati.
Ya, aku memiliki seorang Partner yang hebat.
Begitulah pikirku.
Hey Tuhan, apa kau mendengarku?
Jika kau mendengar suara hatiku, bisakah kau mengabulkan sesuatu yang sangat kecil bagimu?
Jika bisa, aku ingin kau berhenti untuk menghapus ingatanku, Brengsek.
❇
Dengan Leo Natta disini!
Ugghh ... dikarenakan naskah yang sebelumnya hilang, saya harus menyusun ulang dan membuat yang baru.
Seperti biasa, update tidak menentu dan arc selanjutnya hmmm ... "Penyerangan Ruang Kendali Utama Pulau Asterisk" ya begitulah~
__ADS_1
Dengan ini, Arc "Akhir Pekan Ren Gill" selesai.