
Grukkk! Grukk!
"Suara perutku lebih mengerikan dibandingkan dengan singa yang mengaum."
Tentu saja itu hanyalah sebuah sarkastik yang keluar dari mulut busuk ini.
Setelah keluar dari lokasi kejadian perkara— maksudku kamp pelatihan tentara, kedua kaki tidak berguna ini menyeretku entah kemana tanpa tujuan selama 3 jam jika aku memperkirakannya, semenjak terik panas di siang hari mengubah langit menjadi oren.
Matahari sudah mulai agak condong ke barat, menandakan bahwa ini sudah sore hari dan sialnya aku masih belum ditemukan.
Aku sudah berjalan sambil melihat ke sisi istana namun tetap saja semua rute jalan tidak bisa masuk ke kepalaku.
"Beberapa kali aku sering tersesat dan biasanya Jun yang menemukanku."
Entah apa yang merasuki, aku tiba-tiba merindukan sosok orang yang tidak ingin aku dengar suara berisiknya. Bukannya aku membencinya, hanya saja dia terlalu berisik!
Setelah berjalan beberapa meter, akhirnya kedua kaki terkutuk ini akhirnya berhenti dan mulutku mulai menjalankan peran otomatisnya.
"Daripada bersembunyi di balik pilar, kenapa kau tidak berlutut di hadapan Yang Mulia ini?!" Mataku langsung mengarah ke bayangan yang sedikit terlihat namun agak tidak jelas apakah itu pria atau wanita karena rambut putih—
Putih? Mungkinkah?!
"Ahahaha, itu kesalahan saya, mohon maaf Yang Mulia," pria itu membungkuk dengan tangannya yang masih memegang tongkat dengan tegak.
"Hmph! Kamu selalu saja seperti tikus, apa kamu ingin ku basmi seperti hama itu karena kurang penghormatan?"
Mendengar ucapanku pria itu sedikit bergidik dan tersenyum masam tanpa daya, "Te-tentu saja tidak, Yang Mulia! Kebetulan aku baru saja lewat!" dia buru-buru melambaikan tangannya, walaupun jelas itu bohong karena keringat di wajahnya sudah seperti air mancur.
Aku hanya mendesah dan tanpa peringatan, tubuhku langsung menyerang pria itu.
Pukulan pertama dengan rendah mencoba ke ulu hatinya!
Pak!
Pria itu hanya meng-chop bagian tengah lenganku, hingga pukulan yang lurus berubah empat puluh lima derajat belok.
Saat pukulan sudah melewati wajahnya, aku mengubah penekanan dari pukulan ke siku dan menyerang bagian wajah.
Woosh!
Pria itu segera mundur beberapa langkah, walaupun hanya menyikut angin, tekanan dari gerakanku benar-benar kuat hingga rambut kami bergoyang.
"Tikus selalu gesit," komentar mulut terkutuk ku.
"Ahahaha, Anda terlalu memuji, Yang Mulia."
Pria itu berjalan ke sampingku sambil menggaruk punggung kepalanya.
Aku hanya diam tanpa membalas karena orang ini sudah memiliki kedekatan yang tidak perlu dijelaskan lagi dengan karakter ini.
Dengan pertemuan ini, aku yakin bahwa setiap karma selalu ada pada setiap kehidupanku.
Entah apa yang nenek moyangku lakukan, cukup mengejutkan bahwa semenjak zaman dahulu kami selalu terhubung.
Ya, pria itu adalah Lee Jun— lebih tepatnya, nenek moyangnya.
Tanpa menunda waktu, aku langsung memerintahkan dia membimbingku ke ruang makan istana karena perut ini benar-benar mengaum seperti singa yang sudah tidak makan selama beberapa hari!
"Pimpin jalan ke ruang makan, aku lapar."
"Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia."
Pria itu memimpin jalan dan aku mengikuti, tentu saja aku tidak akan kehilangan pemandu jalan lagi kali ini, itu juga salah dia aku jadi kehilangan Shigurt!
......................
__ADS_1
Setelah mengisi perut, aku segera kembali ke kamarku.
Bagaimana dengan tikus itu? Setelah kami tiba di depan ruang makan istana, dia langsung beralasan dan kabur seperti kali pertama kami bertemu.
"Ah, ini bagaimana caranya agar aku bisa pulang. Movie 3D ini benar-benar keren, tapi tidak ada yang lebih keren daripada berkumpul bersama orang terdekat."
!!!
"A-aku bisa berbicara dengan normal?!"
Ini adalah suatu berkah!
Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya tindakan otomatis dari fungsi karakter ini akan terpicu ketika suatu skenario berjalan.
Dalam artian, aku bisa bertindak sendiri di saat skenarionya belum terjadi.
Merasa puas dengan pemikiran itu, aku menganggukkan kepala beberapa kali dan senyum nakal mulai terasa di mulutku.
Tentu saja, aku yakin daripada mengikuti alur yang ada kenapa tidak sekalian saja skenarionya dipercepat, toh fungsi otomatis akan berjalan dan aku tinggal santai menikmatinya.
Siapapun lawannya, dalam sejarah epos, karakter ini cuma kecurian dari seekor ular dan di bawah langit—
"Aku tidak tertandingi! AHAHAHAHAHAHA!!!"
Sial, aku tidak bisa menahan perasaan gembira dan gatal ini.
...----------------...
Di luar kamar raja.
"Aku tidak tertandingi! AHAHAHAHAHAHA!!!"
....
...
Merlin yang sering mengendap di seluruh lingkungan kerajaan tidak sengaja mendengarkan ucapan raja yang agak eksentrik itu.
Menggelengkan kepala beberapa kali, dia mulai berjalan ke arah lain.
Jika dilihat dari sudut pandang lain, Merlin sebenarnya tidak dapat dilihat oleh penduduk setempat karena pada dasarnya, kehadiran dari sosok ini hanyalah sebatas sihir komunikasi tiga arah antara dirinya dan dua orang lainnya.
Sihir merupakan hal yang tabu dari berbagai ras maupun negara, tentu saja termasuk Uruk. Tapi raja saat ini tidak mempedulikan detil tersebut dan selalu menerima komunikasi dari Merlin tanpa ragu, berkat itu juga koneksi di antara mereka menjadi lebih kuat dan membuat kehadiran sosok sihir ini lebih nyata.
Beberapa bulan yang lalu, Merlin mengingat kembali percakapan mereka saat Raja itu mendapat sebuah gambaran masa depan.
"Beberapa hari atau bulan atau tahun yang akan datang, aku mendapat gambaran bahwa adanya gerhana bulan di saat itu juga ada jiwa atau suatu sifat berubah ke bentuk yang lain." Raja duduk di singgasananya pada malam itu sambil menuliskan kejadian yang ia prediksi.
Merlin yang serba ingin tahu tidak luput dari rasa penasaran dan bertanya, "Apakah itu adalah masa depanmu, Yang Mulia?"
Raja hanya mengangguk tanpa menjawab.
Anggukan itu saja sudah membenarkan tebakan Merlin dan saat dia mulai memikirkan sesuatu, suara yang dalam itu memecah keheningan.
"Jangan melakukan hal aneh dan terus awasi dia, jika dia pintar maka seharusnya ada suatu kejadian besar akan terjadi nanti."
"Apakah itu akan menjadi sesuatu yang me-na-rik?" Merlin sudah tersenyum dan air liurnya akan menetes di mana-mana, karena orang ini sangat mencintai sesuatu yang sangat menarik.
"Bisa saja atau sebaliknya, sebuah bencana akan tiba." Raja selalu dingin setelah bangun dari meditasinya karena dia tak bisa lepas dari kekhawatiran yang akan membahayakan rakyatnya.
Merlin mengacungkan jempolnya seolah berkata 'Kamu yang terbaik!'
Dan saat mengenang itu lagi, sebuah suara dalam membuat dia kembali ke kenyataan saat ini dari kamar tahta.
"Masuk."
__ADS_1
Merlin berjalan menembus pintu dan segera mengambil posisi penghormatan di depan kamar tidur.
"Salam, Yang Mulia."
"Hm." Raja saat ini hanya membalas dengan ekspresi dingin seperti biasa namun agak sedikit berbeda.
Perbedaan sekecil apapun sudah membuat Merlin merasa gatal ingin tahu kejadian menarik apa yang akan terjadi nanti namun dia harus bersikap patuh. Dia yakin kejutan bukanlah sebuah kejutan jika orang lain sudah mengetahuinya, itu juga tidak akan lagi menjadi menarik jadi dia tetap bungkam.
Tatapan dingin Raja yang menusuk itu selalu tertuju padanya tanpa pengalihan, andai saja tatapan tajam itu adalah pedang sudah jelas dia akan tertusuk ribuan pisau saat ini.
Merlin bergidik sedikit pada salah tangannya yang tersembunyi oleh jubahnya yang besar, keringat dingin sudah membasahi punggungnya sejak suara dingin itu memanggil.
Walaupun ini hanyalah avatar sihir, sudah jelas dia merasakan sensasi nyata dari kesadaran avatar sihir secara langsung!
Suara dingin itu kembali keluar dari mulut Raja.
"Aku bukan rajamu, jadi kamu tidak perlu tunduk seperti itu."
"Eh?!" Merlin tidak bisa menyembunyikan wajah aslinya dan tanpa sadar menatap langsung ke arah Raja.
"Jika aku rajamu, kenapa kamu mengendap-endap dan bisa menembus ruangan pribadiku seperti ini adalah taman bermain?" Senyum sarkas mulai terlihat di wajah Raja.
Merlin yang tidak ingin mengikuti situasi masih ingin bungkam.
"Ahahaha, apa maksud Anda, Yang Mulia? Bukankah Anda adalah rajanya dan saya hanyalah pelayan?"
"Konyol! Tidak ada orang idiot yang akan masuk ke dalam ruang pribadi Raja walaupun ada suaraku menyuruhmu masuk!!!" bentak Raja.
Bahu Merlin sudah bergoyang dan jelas perubahan itu tidak luput dari mata Raja, tapi dia segera mendesah dan suasana dingin di ruangan pribadi Raja sudah hilang.
"Haaah ... jika itu bukan kamu, mungkin aku akan memotong mereka jadi delapan bagian lalu membuangnya ke salah satu gunung untuk dimakan binatang buas."
"Hiik! Ja-jangan menakutiku seperti itu, Yang Mulia!!!" Merlin langsung jatuh ke tanah.
Buk!
"Anda adalah seorang Raja yang Maha Bijak! Keagungan melebihi matahari, Yang Mulia!" Dia bersujud beberapa kali sambil mengucapkan beberapa kata manis.
Tanpa mempedulikan sanjungan yang tidak perlu Raja itu kembali melanjutkan.
"Besok aku akan berburu raksasa itu, kamu harus menemani dan juga persiapkan senjataku."
Saat dia ingin menjawab kehendak Raja, suara dingin itu kembali melanjutkan.
"Setelah itu, kamu bisa pergi."
Merlin tanpa daya pergi dari ruangan tersebut dengan senyuman kecut.
Sepertinya dia telah bertemu nenek moyang yang cukup galak dibandingkan dengan yang asli.
Mungkin dia tidak dapat tidur malam ini karena harus mencuri senjata dari gudang senjata milik temannya sendiri, tentu saja setelah itu dia harus mengukir berbagai macam rune untuk memperkuat senjata tersebut.
"Aku kira singa kecil, tapi singa besar yang galak adalah kejutan untukku."
Bayangan Merlin segera menghilang.
Di saat bayangan itu menghilang, di kamar pribadi terdengar suara kembali.
"Ah, ternyata memang benar fungsi otomatis ini tidak akan terpicu saat di luar skenario."
Raja yang ada di dalam ruangannya mendapati diri bersyukur karena suatu alasan, dia juga sudah mengeluarkan semua yang ia ketahui agar bisa langsung masuk ke skenario yang menarik.
Benar, skenario itu adalah dimana seorang raja melawan seekor raksasa di hutan.
Pertarungan itu tercatat di dalam epos dan merupakan bagian penting dalam penggambaran betapa gagahnya karakter raja tersebut.
__ADS_1
Dia sudah tidak sabar menunggu besok, sementara Merlin mengutuk dalam diam sambil mengukir tulisan rune pada senjata yang akan digunakan raja.