Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 16 Kebijakan Baru Dari Pihak Sekolah


__ADS_3

Hari ketiga minggu pertama.


Hari ini ada satu jam bimbingan dari wali kelas sebelum kami bebas. Seluruh siswa tampak tidak peduli dengan hal tersebut, maksudku siapapun yang akan menjadi wali kelas kami itu bukanlah masalah besar. Padahal, seharusnya mereka sadar dengan pentingnya peran seorang wali kelas.


Lee berbisik kepadaku.


“Ren, apa wali kelas kita kali ini adalah seorang wanita?”


“Aku harap akan menjadi seperti itu.”


Mendengar jawabanku, Lee tidak lagi melanjut pembicaraan kami.


Di balik pintu kelas, seorang wanita yang cantik muncul di depan kami.


D-dia!


Wanita itu menuliskan nama lalu memperkenal dirinya kepada kami.


“Perkenalkan, namaku Claudi Sarasvati. Aku adalah wali kelas kalian dan mohon bantuannya, terutama untuk siswa yang bernama Ren Gill.”


Setelah memperkenalkan dirinya, wanita itu-Claudi? Hahhh?!!! Serius?! Tidak mungkin wanita urak-urakan itu menjadi wali kelasku!


Tatapan dingin seluruh lelaki di kelas mulai tertuju ke arahku. Mereka seperti mengirimkan beberapa pesan telepati kepadaku seperti, “Hei, dimana kau menyembunyikan wanita cantik ini?” disertai hawa membunuh yang kuat.


Tidak, tidak! Kalian salah paham! Serius, ini tidak ada hubungannya denganku!


Melihat wajahku yang bermasalah, Claudi tersenyum licik sambil berjalan ke mejaku.


“Bukankah kemarin di rumahmu, kau bersujud di hadapanku?”


H-hentikan! Tidaaakkkk!!!!


Aku ingin berteriak tapi, tidak ada gunanya. Seluruh jalur pelarian juga sudah ditutup oleh para jomblo, sepertinya aku sudah masuk ke dalam lubang buaya. Merasa puas, Claudipun menghentikan bercandaannya.


“Hanya bercanda!”


Setelah dia bilang seperti itu, wajah seluruh pria yang ada di kelas mulai menjadi lega.


Dikira berakhir, ternyata Claudi masih melanjutkan bercandaannya.


“Tapi, jika itu terjadi aku pasti akan menerimanya.”

__ADS_1


Sebelum yang lain mulai kembali dalam situasi tegang, Rena meminta Claudi untuk melaksanakan kewajibannya.


“Bu Claudi! Daripada buang-buang waktu, bukankah lebih baik untuk melanjutkan bimbingan.”


Merasa malu karena sudah ditegur oleh muridnya sendiri, Claudipun melanjutkan bimbingannya.


“Baiklah, mari kita lanjutkan jam bimbingannya.”


Claudi mulai melanjutkan penjelasan tentang apa yang akan kami hadapi selama tahun terakhir ini.


“Pertama-tama seperti yang kalian ketahui, sekolah ini memiliki nilai KKM 50 dan selalu mengadakan ujian khusus secara mendadak. Aku ingatkan kepada kalian, jangan pernah sekalipun meremehkan yang namanya ujian. Penilaian tetap sama, nilai ujian diambil dari seluruh aspek bukan hanya tertulis tapi juga sikap, cara kalian menyelesaikan ujiannya maupun laporan yang akan kalian tulis nantinya.”


Seperti yang dijelaskan Claudi, ujian sekolah memiliki beberapa kriteria. Dari ujian umum dan khusus, kami sering menerima ujian khusus secara dadakan entah siap atau tidaknya rintangan itu harus dilalui. Dia juga mengingatkan kami untuk tidak meremehkan ujian karena tahun lalu, seorang murid ketahuan menghina beberapa ujian yang diselenggarakan pihak sekolah dan akhirnya ia dikeluarkan dengan alasan kesopanan.


Untuk penilaian, pihak sekolah memiliki 4 aspek. Aspek-aspek itu akan dinilai oleh guru yang mengawasi berlangsungnya ujian melalui sebuah CCTV yang terpasang di berbagai sudut tempat ujian berlangsung. Sikap, nilai tertulis, cara penyelesaian dan juga laporan akan menentukan total nilai yang akan didapatkan oleh siswa dan tentu saja harus melewati angka 50 untuk mendapatkan kata lulus.


Bagi siswa yang tidak lulus ujian, mereka akan ditemani yang namanya DO (Drop Out). Sekali kau ditendang keluar dari sekolah ini, maka kau akan dianggap sampah oleh seluruh dunia. Bukan hanya itu, tidak akan ada lagi temat Pendidikan yang mau menampung mantan murid tersebut apabila dia pernah diDO dari SMA Atradika.


Claudi melanjutkan penjelasannya.


“Kali ini, ada sedikit perubahan dalam peraturan belajar.”


Mendengar itu, seluruh siswa kelas 12A terkejut dan memberikan reaksi yang berlebihan secara bersamaan.


Tanpa mempedulikan keterkekejutan siswanya, Claudi melanjutkan rincian perubahan tersebut.


“Semua orang diwajibkan mengikuti seluruh mata pelajaran. Setiap jam pelajaran berlangsung, seluruh gerak gerik siswa akan terekam di CCTV kelas yang memiliki letak tersembunyi.”


Mendengar peraturan baru itu, semua orang menjadi lesu seperti mayat hidup.


Tentu saja mereka akan lesu karena semua pergerakkan mereka akan dipantau hingga jam pelajaran berakhir terlebih lagi, aku menjadi sedikit curiga dengan kebijakan baru ini. Apa mereka mulai menanggapi kejadiaan kemarin? Maksudku, mereka ingin membatasi pergerakan kami agar Netra diharuskan bertindak di depan publik. Sama saja mereka meminta kami untuk bunuh diri, lebih tepatnya mengungkapkan siapa saja yang akan disalahkan atas terlapornya kesalahan para siswa selama ini.


Gerakan itu memang sangat cerdik, sebagai seorang pemikir aku mengakui strateginya. Tapi, ada beberapa hal yang akan menguntungkan kami. Jika kami membajak saluran CCTV itu, ada kemungkinan untuk mendapatkan bukti wajah Dalang yang ingin menekan berbagai pihak.


Pada akhirnya, taktik dari orang itu hanya akan menjadi pedang bermata dua baginya.


Sebelum Claudi melanjutkan bimbingan, ia menunggu apa ada siswa ingin bertanya.


Satu siswa mengangkat tangannya, dia adalah Rena.


Claudi mempersilahkannya.

__ADS_1


“Silahkan.”


Rena mulai mempertanyakan kebijakan tersebut.


“Bukankah hal itu termasuk sebuah pelecehan?”


Di saat begini, dia masih memikirkan hal itu. Rena, kau memang luar biasa. Bahkan, kau sudah membuat Claudi tercengang dengan keluahanmu yang konyol itu.


Sebelum menjawab keluhan Rena, Claudi memintanya untuk menjelaskan lebih lanjut tentang apa yang ia maksud dengan “Pelecehan” itu sendiri.


“Bisakah kau menjelaskan baagian mana yang dianggap pelecehan.”


Rena berdiri dari tempat duduknya lalu dengan percaya diri, dia mulai menjelaskan pendapat pribadinya.


“Pertama, merekam seluruh kegiatan siswa menurutku masih wajar. Tapi, aku mempermasalahkan letak yang baru saja Anda sebut dengan ‘segala arah’. Sebagai seorang wanita, bukankah sudah wajar kau merasa dilecehkan saat dilihat dari segala arah?”


Saat menjelaskan, dia juga seakan-akan mengajak yang lain untuk ikut protes. Hasilnya, beberapa siswa wanita mulai mengikutinya. Berbagai macam protes berekorpun mulai bertebaran di dalam kelas.


“Itu benar, tolong pikirkan lagi tentang hak seorang wanita!”


“Ya, pihak sekolah seharusnya mempertimbangkan lebih lanjut tentang kenyamanan siswa dalam menuntut ilmu!”


“Setuju, kita harus memberikan sedikit keluhan karena aku juga merasa terganggu dengan hal tersebut.”


Mendengar komentar yang datang silih berganti, Claudi menepuk kedua tangannya.


Seluruh perhatian mulai tertuju padanya.


Dia mulai berbicara lagi.


“Sebenarnya aku juga kurang setuju dengan hal ini, beberapa guru dari kelas lain juga sudah mengirimkan berbagai surat protes kepada pihak sekolah. Lalu, apa kalian tahu hal yang menimpa mereka setelah memberanikan diri untuk mengirimkan surat itu kepada pihak sekolah?”


Mendengar itu, seluruh orang menjadi pucat. Tanpa perlu dijelaskan, sudah pasti jawabannya hanya ada satu. Mereka dikeluarkan dan tidak akan bisa lagi dianggap berguna bagi siapapun, tanpa peduli gelar apa saja yang sudah mereka dapatkan sebelumnya.


Semua itu langsung hangus hanya karena satu gelar yaitu, kalangan masyarakat buangan sekolah Atradika. Gelar kejam itu akan terus menghantui mereka hingga akhir hayat. Terlebih lagi, tidak ada yang dapat kau lakukan untuk menghapus gelar tersebut meskipun sudah menjadi mayat.


Bel berbunyi, pertanda jam bimbingan wali kelas sudah selesai.


Claudipun menutup jam bimbingannya sebelum sempat menjelaskan apa yang terjadi kepada guru-guru tersebut.


Mulai saat ini, sepertinya masa-masa sekolah kami akan dipenuhi dengan kekacauan jika tidak ada tindakan lebih lanjut.

__ADS_1


 


 


__ADS_2