
Beberapa jam setelah kegiatan ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia selesai.
Ponselku bergetar.
Aku mengambilnya dari kantong celana lalu melihat beberapa pemberitahuan yang tidak biasa.
Ada dua pesan dari pengirim yang berbeda dan salah satunya adalah kakakku, Marco Atradika.
Aku mengabaikan pesan yang satunya dan langsung membuka pesan dari Marco.
Isinya adalah-
[Marco : Aku sudah bertemu dengan siswa yang bernama Ren Gill, dia lolos kualifikasiku. Suruh dia berhenti sekolah dan segera melamarmu, aku akan langsung merestui hubungan kalian berdua]
Sontak aku berteriak.
"Haahhh???!!!"
__ADS_1
Aku membalas pesannya.
[Claudi : Apa yang kau bicarakan? Aku sedang tidak ingin bercanda, jadi tolong serius! 凸ಠ益ಠ)凸]
Tidak lama kemudian, dia membalas pesanku.
[Marco : Aku serius. Cepat! Suruh dia berhenti sekolah dan melamarmu! Jika tidak, aku sendiri yang akan mengeluarkannya (ノ゙・з・)ノ゙]
Aku mendesah dengan sangat dalam. Apa yang dipikirkan si psikopat itu? Dan juga-
Aku segera membalas pesannya lagi.
Marco hanya mebalas pesanku dengan sangat singkat.
[Marco : Temui aku di sebuah restoran yang menyajikan berbagai macam makanan manis, sekarang!]
Cih, orang itu ... dia sama sekali tidak berubah. Dia hanyalah seorang kakak yang bodoh dan tidak bisa mengerti apa yang diinginkan adiknya dengan kata lain, seorang Siscon yang menjijikan. Terlepas dari semua itu, dia adalah salah satu Tetua sama sepertiku.
__ADS_1
Sambil berjalan ke tempat yang dimaksud, aku mulai mengingat kembali informasi keluarga maupun diriku sendiri.
Namaku, Claudi Sarasvati Atradika. Aku adalah anak kedua dari Tetua pertama, Derulo Bart Atradika. Kebebasanku saat ini bukanlah karena nama keluarga Atradika melainkan, aku sudah berjuang keras untuk mencapai tingkat mereka dengan kekuatanku sendiri.
Setelah lulus dari SMA Atradika, aku langsung merebut kursi Tetua ketiga yang saat itu masih kosong karena tidak ada yang memenuhi syarat kualifikasi untuk menduduki jabatan tersebut. Saat tingkatku setara dengan Ayah, dia mencoba berbagai cara untuk menjatuhkan hingga membunuhku. Sayangnya aku selalu lolos dari rencananya karena kakakku, Marco sebagai Tetua kedua melindungi titik butaku saat itu.
Ada beberapa hal yang akhirnya sudah aku ketahui tentang ayahku, dia adalah pria bajingan yang sangat menginginkan kehancuran pendidikan seluruh negara. Mengetahui hal itu, aku bersusah payah untuk selalu menggagalkan rencana busuknya hingga sekarang. Dan setahun yang lalu aku tidak perlu melakukannya lagi karena dia, Ren Gill memiliki potensi untuk menggulingkan kekuasaan tirani milik Ayah.
Apa aku terlalu berlebihan menilainya?
Tidak, tidak sama sekali.
Dia terlahir dengan pemikiran yang cerdas namun, sayangnya Ren memiliki kemampuan mengingat yang sangat buruk. Entah sadar atau tidak, dia sudah melawan ayahku selama setahun dan saat ini proses perlawanannya berada di titik puncak dimana salah satu diantara mereka harus meninggalkan posisinya. Di sisi lain, aku menggunakan seluruh kemampuanku hanya untuk melindungi dia.
Dia adalah anak yang baik, tapi seringkali tanpa sadar selalu menggagalkan rencana ayahku. Aku tidak tahu kenapa Marco berkata demikian, tapi ucapannya tadi bukanlah sebuah guyonan. Jika Marco mengatakan dia sedang serius, begitulah adanya.
"Haaahhh ... hanya ada satu kemungkinan. Dia ingin menggunakan Ren dengan menjadikan aku sebagai tawanannya, sebenarnya aku senang jika anak itu mau .... "
__ADS_1
Tidak! Apa yang aku pikirkan?!!! D-dia hanyalah seorang murid dan aku adalah gurunya! Hubungan kami tidak akan pernah bisa menjadi lebih ja- ... lupakan.