
2 jam sebelum pertemuan Claudi & Marco, Lee sempat membuat kesepakatan bersama dengan Marco.
Setelah melihat kondisi Ren, aku memutuskan untuk mencari orang itu tanpa sepengetahuannya.
Pergi tanpa petunjuk bukanlah gayaku, jadi aku mengeluarkan sebuah ponsel yang merupakan server utama dari alat penyadap yang dipasang olehku pada berbagai tempat. Mencari dengan keterangan waktu beberapa menit yang lalu, aku menemukan suara yang cocok dengan deskripsi singkat yang diceritakan oleh Ren. Setelah menemukan lokasi dan waktu yang tepat, aku membuka rekaman CCTV yang didapat dari alat penyadapku.
Pria dengan rambut berwarna mint dan tinggi tapi tak berotot, ya. Tipe orang seperti ini, pastinya akan mempersulitku untuk menyerangnya. Bukan hanya gesit, dia memiliki jangkauan yang luas karena tinggi badannya.
Ren juga bilang, sebelumnya pria itu memperlihatkan satu tendangan dari seni bela diri judo. Awalnya aku tidak yakin karena itu adalah penilaian dari seorang amatiran dalam bidang seni bela diri. Tapi, semuanya berubah saat aku melihat sendiri gerakannya.
Ren cukup hebat masih bisa mempertahankan poker facenya saat ditekan oleh pria itu. Bahkan, dia masih berpura-pura tegar meskipun pria itu menghinanya. Wajar saja jika Ren memintaku agar tidak berurusan dengannya.
Pria itu cukup berbahaya.
Saat aku masih berpikir sambil berjalan, seseorang menepuk pundakku dari belakang.
Orang itu memintaku pergi ke tempat dimana ia bertemu dengan Ren.
"Lee Jun, pergi ke tempat dimana aku bertemu dengan Ren Gill sekarang."
Setelah mengatakan itu, dia hilang dalam kerumunan siswa lain.
Cukup aneh. Dimana ia bisa tahu tentang kemampuan alat penyadapku? Apa dia sudah menyadari bahwa ada alat penyadap khusus di sekitar mereka saat itu?
Hanya memikirkannya saja tidak akan bisa menjawab pertanyaan yang ada, jadi aku memutuskan untuk mengikuti permintaan pria itu.
...
Di lokasi pertemuan Ren dengan seorang pria misterius.
Selama berjalan kesini aku sudah memanaskan otot-otot tubuhku, jika dia menyerang setidaknya aku bisa menahan beberapa gerakan dari pria itu.
Dari dalam bayangan sebuah gedung, seorang pria yang sesuai dengan cerita Ren muncul.
Aku menyapanya dengan santai.
"Apa kau seorang ninja?"
Sedikit terganggu, dia masih mempertahankan senyuman palsu itu.
"Kasar sekali, apa kepala keluarga Jun tidak mengajarkan sopan santun kepadamu?"
"Untuk apa aku harus sopan kepada orang yang tidak dikenal, apalagi yang berbahaya sepertimu."
Mendengar ucapanku, dia terlihat berpikir sejenak lalu kembali berbicara.
"Hmmm ... berbahaya, ya. Biar kutebak, apa kau sudah melihat tendanganku?"
Aku langsung menjawab pertanyaan pria itu.
"Ya, ada masalah?"
"Tidak, tidak ada masalah apapun. Seperti yang diharapkan dari anggota keluarga Jun, kau memang ahli dibidang alat penyadap, huh."
Pria ini bukanlah sembarang orang, bahkan dia sudah lebih baik dalam mengetahui informasi tentang latar belakang diriku.
Aku mencoba untuk mengkonfirmasikan niatnya.
"Apa yang kau inginkan?"
"Coup d'etat, apa kau mengerti?"
"Tidak."
Pria itu mendesah lalu berkata, "Singkatnya, aku ingin menggulingkan musuh kalian."
Menggulingkan? Musuh kami? Tidak, aku tidak bisa mempercayai semua kata-kata dari mulutnya.
Aku mulai mencari informasi dengan cara bertukar kata.
"Kenapa kau ingin melakukan hal tersebut?"
"Karena dia tidak pantas berada di posisi tersebut."
"Apa untungnya bagiku jika aku membantu?"
"Aku akan menjanjikan 3 hal kepadamu."
Aku menolak penawaran yang terlalu murah tersebut dan masih ingin mencari tahu banyak tentang pria itu.
__ADS_1
"Ditolak, harganya tidak sesuai dengan apa yang aku dapatkan sekarang. Bukankah tidak sopan kau belum menjelaskan semua rencanamu sebelum membuat penawaran denganku?"
Dia tertawa lepas lalu berkata, "Untuk kaliber anak SMA, kalian terlalu mengerikan dibandingkan saat aku sekolah dulu."
Aku segera menjawab ucapannya.
"Kuanggap itu sebagai pujian. Jadi, bagaimana?"
"Aku kan menjelaskan semuanya kepadamu, tapi kita perlu melakukan perjanjian di atas kertas."
"Sesuai dengan keinginanku."
Dengan ini, tahap negosiasi dan mencari informasi sukses.
Pria itu mengeluarkan dua buah kertas dan pulpen dari sakunya, kamipun membuat sebuah kertas perjanjian yang nantinya akan ditandatangani oleh masing-masing pihak.
Sekarang masalah utamanya, apa yang harus disepakati dengan pria ini?
Dia memiliki kemampuan seni bela diri yang tinggi. Selain itu, dia adalah orang yang dapat dengan mudah mencari informasi targetnya. Dari pertukaran kata tadi, aku dapat memastikan bahwa semua ini sudah sesuai dengan rencana pria itu.
Berani menjanjikan 3 hal padaku. Ingin melakukan sebuah kudeta terhadap Tetua. Orang ini-
apa dia adalah salah satu Tetua?
Aku mulai mendapatkan beberapa ide.
Pertama, dia harus menjelaskan apa yang ia ketahui dan rencanakan.
Kedua, aku meminta 3 hal secara terbuka dan 1 permintaan secara rahasia yang artinya hanya diketahui oleh kami berdua.
Ketiga, surat perjanjian ini akan berlaku setelah ditandatangani.
Kenapa aku tidak takut dengan tanda tangan palsu? Tentu saja karena aku sudah memasang alat perekam sebagai bukti nyata. Pria itu juga tidak mungkin melakukan hal yang akan merusak perjanjian kami karena dia sangat mengenal latar belakangku, dalam artian apapun yang dia perbuat di sekitarku pasti akan ada bukti rekamannya. Sebaliknya, penyadap apapun yang ada di sekeliling kami selain milikku tidak akan pernah berfungsi selama berada di jangkauan yang sudah ditentukan.
Bisa dibilang tidak ada saling jebak menjebak diantara kami.
Stalemate.
...
Setelah perjanjian dibaca dengan teliti dan akhirnya ditandatangani oleh kedua pihak, kami mulai bertukar informasi.
Pertama, pria itu akan menjelaskan semua tentangnya dan seluruh informasi yang ia ketahui.
"... Adikku adalah pembina ekskul sekaligus wali kelasmu, Claudi Sarasvati Atradika. Dia selama ini melindungi temanmu dengan berbagai macam cara tanpa perlu menggunakan identitas Tetua dan akhirnya, suatu saat dia tidak akan bisa lagi melindungi temanmu dari ayah kami jika hal imi berlangsung terlalu lama."
"... Setelah kami berhasil menggulingkannya, aku akan membiarkan adikku menjadi Tetua seorang diri."
Aku menanyakan apa tujuan dari Marco.
"Apa tujuanmu yang sebenarnya?"
"Apa penjelasanku kurang cukup?"
"Sejak awal, kau hanya membicarakan tentang menggulingkan kekuasaan ayahmu. Lalu, kau menceritakan berbagai macam perjuangan kalian. Tapi! Kau tidak mengatakan apapun tentang ... apa yang kau harapkan dari semua ini."
Aku berpura-pura tidak tertarik dengan kenyataan bahwa, Claudi adalah Tetua dan Ren sudah lama menjadi targetnya.
Alasannya cukup mudah. Jika aku menunjukkan rasa keingintahuan lebih terhadap kedua topik tersebut, dia hanya akan berbicara tentang hal itu lalu mengelabuiku. Apabila hal itu terjadi, akhirnya aku tidak tahu apa tujuan Marco yang sebenarnya dan juga, aku akan dirugikan dalam situasi tersebut.
Dia tertawa kecil lalu menjawab kecurigaanku, "Aku hanya ingin yang terbaik untuk adikku."
Tanpa sadar mulutku berbicara sendiri.
"Apa kau seorang Siscon?"
Dia bergegas menyangkal pertanyaanku.
"Tidak, tentu saja aku bukan seorang Siscon. Bukankah sudah wajar bagi seorang kakak untuk memperhatikan adiknya? Apalagi untuk seorang dewi seperti My Beautiful Angel, Claudi."
Jika kau tidak mengatakan kalimat terakhir itu, mungkin aku akan percaya.
Aku mencoba untuk mengujinya.
"Kemarin aku dengar Claudi pergi ke rumah Ren, apa kau ingin tahu kelanjutannya?"
Dia langsung menjawab tanpa penundaan.
"Tentu! Tentu saja aku harus mengetahuinya! Apa mereka melakukan sesuatu yang diluar batas antara guru dan murid? Jika benar, saat ini juga aku akan memecahkan kepala anak itu!"
__ADS_1
Sudah kuduga, orang ini benar-benar Siscon kronis.
Aku memperlihatkan sebuah foto di ponselku lalu menjelaskan apa saja yang aku tahu kepadanya. Saat aku menjelaskan keadaan saat itu, dia terlihat sangat tidak senang seperti cacing kepanasan. Terkadang, dia juga bertingkah aneh dan terlihat sangat menjijikan.
Penyakit Siscon memang yang terburuk, begitulah pikirku.
Dan sekarang, saatnya memastikan sesuatu dari hasil penyelidikan yang aku lakukan.
"Bisakah kau memberitahukan nama Tetua-tidak maksudku ayahmu?"
Tanpa basa basi, dia langsung menjawab permintaanku.
"Baron Atradika."
Setelah mendengar jawabannya, aku menyudahi sesi pertukaran informasi tentang dirinya.
Saat giliranku, aku menjelaskan seluruh rencana Ren. Meskipun seluruh detil rencana sudah aku sebutkan, dia tidak akan dengan mudah mengerti rincian tersebut karena itu adalah kode rahasia buatan Ren berdasarkan penyusunan berbagai kalimat. Aku juga tidak memberikan informasi yang bersifat sangat privasi kepada Marco dalam pertukaran kami.
Setelah pertukaran selesai, dia bertanya padaku.
"Apa kau tidak keberatan karena sudah menjual temanmu?"
"Menjual? Sebaliknya, aku sudah membantunya dari belakang."
Diapun mengkritikku.
"Kau memang yang paling mengerikan."
Tanpa menjawab kritikannya, aku langsung mengajukan 3 permintaan umum dan 1 permintaan rahasiaku.
"Untuk permintaan umum, pertama aku ingin kau menjamin keselamatan seluruh anggota ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia. Kedua, aku ingin kau membantu Ren kapanpun itu dalam menjalankan rencananya. Ketiga, kau harus bisa memastikan penggulingan kekuasaan ayahmu."
Dia bertanya tentang permintaanku.
"Kenapa aku harus membantu Ren kapanpun rencananya dijalankan?"
"Karena hanya dia yang dapat menambah persentase keberhasilanmu."
"Aku mengerti."
Setelah itu, aku mengajukan permintaan rahasia yang terakhir.
"Aku ingin kau menghancurkan keluarga Atradika."
Dia langsung menanyakan motifku.
"Kenapa?"
"Jika kau tidak menghancurkan sesuatu hingga akarnya, kejadian yang sama akan terulang lagi."
"Bagaimana caranya?"
"Hilangkan pengaruh nama keluarga Atradika dari muka bumi ini."
Setelah mengatakan itu, aku memberikan kertas yang bertuliskan "People Power seluruh dunia" dengan tinta yang tebal.
Membaca kalimat tersebut, dia sangat terkejut. Wajar saja, karena sebelumnya aku hanya menjelaskan "People Power" tapi tidak dengan cakupannya.
Meskipun mendapatkan penolakan, aku tidak akan memaksanya. Tapi, hal yang diluar dugaan terjadi saat ini. Dia menerimanya tanpa pikir panjang.
"Aku mengerti, akan kupastikan pengaruh nama keluarga Atradika menghilang."
Aku meminta sebuah jaminan kepadanya.
"Bagaimana dengan jaminan dari pihakmu? Maksudku, bukankah itu nama keluargamu? Sudah pasti kau akan dirugikan, bukan?"
Namun, Marco menyangkal seluruh ucapanku.
"Tidak, sejak lama nama Atradika hanyalah sebuah ancaman. Atradika bukan lagi sebuah nama keluarga bahkan saat ini, kami hanya menggunakan Atradika ketika memperkenalkan nama asli kepada orang lain."
Aku mengejeknya sedikit untuk meringankan suasana.
"Heeh~ ternyata keluargamu cukup bermasalah, ya."
"Ya, begitulah~"
Menjawab dengan ringan tapi beban pikiran yang ia bawa pasti sangat berat, begitulah yang aku lihat dari dirinya yang cukup urak-urakan itu.
Merasa keperluan masing-masing pihak sudah terpenuhi, kamipun berpisah.
__ADS_1
Sebenatar lagi akan datang hari kehancuran bagimu, Baron Atradika.
Aku tidak sabar menantikannya.