Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 34 Konfrontasi Ren & Felix - 3


__ADS_3

Saat di dalam gedung pabrik.


"Belok kanan, di sana ada tangga."


Aku mengikuti instruksi tersebut, mendengar ada langkah kaki yang mendekat membuatku diam.


"Sebentar, kami akan mengurusnya."


Aku hanya diam.


Tidak lama setelah itu, orang yang mendekat jatuh dengan sendirinya.


Mengerikan! Penembak jitu ternyata berisikan orang-orang yang sangat haus akan darah. Tapi, nyatanya pria tadi hanya pingsan karena yang ditembakkan adalah peluru bius.


"Kemanan sudah dikonfirmasi, naiklah menggunakan tangga itu ke lantai dua."


Akupun segera mengikuti instruksi yang diberikan, setelah naik ke lantai dua rasa ngeri mulai menghantuiku.


Di sini sangat berdebu, apalagi-


Tiba-tiba ada seseorang yang muncul jauh di depanku. Pria itu menyeret dua orang pria dan dua buah sandera. Bukan hanya itu, dia juga tidak membawa senjata apapun kalau dilihat dari bagian luar.


Dia mulai menyapaku dengan santai.


"Selamat datang di arena bermainku, Ren Gill."


"Hmh! Kau kira aku datang kesini untuk bermain?!"


"Tidak, tidak. Itu hanya ungkapan saja, jangan dipikirkan."


"Tidak, tidak, tidak. Tentu saja aku kepikiran."


Bukannya melanjutkan pembicaraan, dia masih menyangkal.


"Tidak, tidak, tidak, tidak. Kau terlalu berlebihan, sudah kubilang-argghh! Lanjut saja ke permasalahan kita."


Dia melempar dua orang pria ke depannya.


"Mereka adalah orang yang berhubungan dengan masalah SMA Atradika yang sedang kau selidiki, sebenarnya aku juga terhubung sih tapi tidak banyak."


Wajah pria itu tersenyum sambil menunjuk ke arag yang dua lagi.


"Dan itu-"


Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, aku menyela.


"Hanya mannequin, bukan?"


Senyum pria itu bertambah lebar terus menerus, hingga aku merasa jijik dengan wajahnya yang menyebalkan itu.


Diapun bertanya kepadaku.


"Kenapa kau bisa mengetahuinya?"


Sebenarnya aku ragu ingin memberitahunya. Maksudku begini, sesuatu yang sulit diucapkan meskipun orang itu tidak ada. Tapi, mau bagaimana lagi aku kan anak yang jujur dan baik jadi harus bilang.


Aku mengatakan alasan yang sebenarnya kenapa bisa diketahui dengan mudah.


"Dada!"


Aku berteriak dengan keras.


"Huh?"


Pria itu memiringkan sedikit kepalanya.


Maaf Rena, tapi bidang datarmu menyelamatkanku. Nanti akan ku traktir kalau ada uang. Tenang saja, lagipula kita adalah tetangga empat langkah dari rumahku.


"Jika kau ingin menipuku ... " Aku menunjuk kearah mannequin Rena dan berkata, "Kau harus menghancurkan dada mannequin itu terlebih dahulu hingga terlihat rata!"


Maaf! Aku benar-benar minta maaf! Kau boleh memukul-tidak, tidak, maksudku ... aku akan mentraktirmu jadi jangan pukul aku, serius!


Pria itu kehabisan kata dengan ucapanku.


Aku melanjutkan penjelasanku.


"Bukankah kau terlalu baik? Membiarkanku mendapatkan tangkapan besar dan memudahkan semua ini."


Dia segera menyangkal ucapanku.


"Tidak, karena aku ingin bermain mode death match. Bukankah lebih menarik membuat mereka jadi taruhan? Sekarang pihak kita punya tujuan yang sama terhadap kedua objek itu."


Mode death match, huh? Sebesar apa kecintaanmu terhadap mode itu? Tolong jangan membawa-bawa urusan gamemu ke dunia nyata, sialan!


Sebelum melanjutkan urusan kami, aku menanyakan identitasnya.


"Siapa kau?"


"Aku?"


Pria itu menunjuk kearah dirinya sendiri.


"Ya, siapa lagi selain kau."


"Aku adalah kepala keluarga Han saat ini."


"Keluarga Han?"


Sesuatu yang tidak menyenangkan keluar dari mulut pria itu.


"Keluarga ayahmu."


Keluarga ayahku? Jujur saja, setelah orang tuaku berpisah 10 tahun yang lalu aku tidak pernah berpikir untuk mencari tahu tentang Ayah. Jika benar dia adalah keluarga ayahku, orang ini pasti tahu alasan orang tuaku berpisah. Misteri itu terus menerus berteriak di dalam kepalaku untuk menemukan jawabannya.


Aku memberanikan diri bertanya kepada pria itu.

__ADS_1


"Apa kau tahu kenapa orang tuaku berpisah?"


"Apa si jalang itu belum menjelaskannya padamu?"


Tanpa pikir panjang, aku langsung menyerangnya dengan cepat.


Sambil menghindari seranganku, dia dengan santainya masih bicara.


"Si jalang itu, maksudku ibumu."


Aku menguatkan pukulan pada tangan kanan lalu mengarahkannya tepat ke wajah pria itu. Namun, dia berhasil mencengkram pukulanku dengan mudah. Pria itu mulai mengejekku dengan wajahnya yang menjengkelkan.


"Hanya segini? Aku kira kau akan sekuat si pencuri itu, maksudku ayahmu yang sudah lama mati."


"Kau!"


Aku mengarahkan lututku pada bagian perutnya, tapi dia menendang kakiku yang satunya agar aku jatuh.


Saat aku terjatuh, dia mengambil beberapa langkah ke belakang.


Aku menanyakan kepadanya tentang si pencuri yang ia maksud.


"Kenapa kau memanggil ayahku sebagai pencuri?"


Dia langsung menjawab pertanyaanku.


"Karena dia adalah pencuri."


Cih, orang ini benar-benar tidak memiliki celah. Jika aku menyerangnya, dia akan memberikan kalimat aneh untuk menghina orang tuaku. Saat aku bertanya, dia hanya akan menjawab dengan omong kosong belaka.


Aku memikirkan kembali cara yang tepat agar bisa mendapatkan informasi darinya. Jika dia membenci orang tuaku, aku perlu menambahkan minyak dalam api itu. Semakin dia marah, tanpa sadar dia pasti akan mengatakan semuanya.


Aku mencoba membuatnya marah.


"Aku tidak yakin kalau Ayah mencuri sesuatu darimu."


Wajah pria itu mulai mengerut.


"Apa maksudmu?"


"Aku tahu kalau kau itu cuma membual. Maksudku, apa juga yang bisa dicuri dari orang sepertimu? Uang? Jabatan? Atau mungkin ... istri?!!!"


Aku membuat wajahku menjadi terlihat sangat menyebalkan.


Uang, benda yang sangat dibutuhkan dan semua orang akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Jabatan, merupakan tangga menuju istana uang. Untuk bagian istri, aku hanya asal tebak karena dia membenci ibuku.


Pria itu hanya diam tanpa bergerak.


"... Apa benar seorang istri?!!! Jangan bilang ... Ibu sudah MENOLAKMU?!!!"


Aku tertawa terbahak-bahak karena ini sangat lucu.


"K-kau ... " Dia menghampiriku dengan kecepatan yang lebih dari sebelumnya sambil berkata, "Tutup mulutmu, bajingan kecil!!!"


Dia mendaratkan berbagai jenis gerakan seni bela diri kepadaku. Aku mencoba untuk bertahan sambil melihat gerakan tersebut dan memahaminya sedikit demi sedikit. Meskipun begitu, pria itu terus menerus menyerang dengan sekuat tenaga.


Sambil melancarkan serangannya, pria itu mengatakan banyak hal yang sangat bertolak belakang dengan sifat awalnya.


"Kau tahu, ayahmu itu sudah mencuri Lina dariku! Gara-gara dia ... " Pria itu mengarahkan pukulannya ke bagian jantungku sambil berkata, "Lina menolakku!!!"


Aku menahan tinju darinya dengan sekuat tenaga. Yang benar saja, tinju itu menembus pertahananku lalu mengenai pelindung yang aku pinjam dari keluarga Jun. Menerima pukulannya, aku terpental beberapa langkah dari tempat asal.


Ugh!


Aku masih melanjutkan untuk terus menambah kemarahannya.


"Bukankah itu berarti, Ibu merasa kau memang tidak pantas untuknya?"


Aku terus berusaha tersenyum meskipun dadaku masih terasa sangat sakit.


Pria itu mulai berjalan kearahku dengan perlahan. Aku mempersiapkan diri untuk menerima serangannya. Saat di dekatku, dia mengatakan sebuah kebenaran dari hubungan keluarga kami.


"Namaku, Felix Han. Aku adalah adik dari ayahmu, juga kami bukanlah saudara sekandung. Meskipun dari ayah yang sama, kakakku selalu memberikan semua pujian kepadaku."


"Gahh!!!"


Pria itu menendangku satu kali dengan keras lalu melanjutkan ceritanya.


"Apa kau tahu seberapa menderitanya aku karena kebaikan ayahmu itu??? Tidak, bukan? Tentu saja kau tidak akan mengerti dengan apa yang aku rasakan saat itu."


Jadi, dia merasa tersakiti karena semua kebaikan yang ayahku berikan. Bukan hanya itu, dia juga sudah ditolak oleh Ibu. Dendam lama yang disimpan hingga saat ini, benar-benar tidak bisa dipadamkan kecuali dengan kematian.


Aku mulai bertanya.


"Apa kau yang membuat orang tuaku berpisah."


Dengan ringan, dia segera menjawab pertanyaanku.


"Ya, bahkan aku juga sudah membunuh semua keluarga Han. Setelah semua, hanya kau yang tersisa."


"Jadi, kau juga yang membunuh ayahku?"


Aku menguatkan kepalan tanganku.


Dia tersenyum lebar lalu berkata, "Tentu saja orang itu adalah aku! Memangnya siapa lagi yang lebih pantas untuk membunuh ayahmu?!!!"


Tanpa bicara lagi, aku langsung menerjangnya. Kami bertukar pukulan beberapa kali. Tapi, kali ini akan berbeda!


Menyadari hal itu, dia mulai meraba-raba kemungkinan yang terjadi.


"Kenapa semua pukulanku berhasil kau hindari?!!!"


Pria itu sangat terkejut.


"Masih ada lagi!"

__ADS_1


Aku menirukan semua serangan yang selama ini dia lakukan dengan arah yang berbeda dan juga, dengan posisi penguatan yang lebih baik dari gerakan miliknya.


Selama beradu pukulan, aku menanyakan sesuatu kepadanya.


"Bagaimana rasanya menerima teknikmu sendiri?"


Pria itu tidak menjawab karena kewalahan dengan seranganku.


Saat titik butanya terlihat, aku langsung mendaratkan pukulan ke titik tersebut.


Titik itu-


"Wajahmu terbuka lebar!"


Aku memukulnya tepat di wajah.


Karena menggunakan seluruh tenagaku ditambah dengan penguatan baju tempur yang dipinjamkan Lee, pria itu terhempas dengan sangat keras hingga mencapai dinding ruangan. Mulutnya menyemburkan darah dalam jumlah yang banyak. Meskipun begitu, dia tetap berusaha untuk berdiri sambil tersenyum.


Karena seluruh staminaku sudah terpakai, sekarang aku hanya bisa berlutut sambil berharap bantuan akan tiba. Jika dia menyerangku, tamatlah sudah riwayat pria tampan ini. Tapi, sayangnya dia memutuskan untuk mundur.


"Ini adalah kemenanganmu ... " dia menekan sebuah tombol dan terjadi ledakan di atas bangunan. Dari atas, turun sebuah tangga yang terhubung dengan helikopter. Dia menaiki tangga itu sambil berkata, "Musuhmu bukan hanya diriku, banyak orang yang harus kau lawan jika ingin menemukan semua kebenaran tentang orang tuamu."


"Jangan lari! -ugh!"


Ketika aku ingin mengejarnya, tubuhku sudah diluar batas dan tidak bisa digerakkan. Dari belakang, seseorang menepuk pundakku. Orang itu adalah Lee yang terlihat baik-baik saja tanpa ada luka sedikitpun.


Lee mengambil sebuah alat komunikasi yang berbentuk radio sambil memberikan perintah kepada para pelayannya.


"Periksa jalur lalu lintas udara hingga ketinggian helikopter tersebut!"


Setelah menyuarakan perintah tersebut, laporan mulai berdatangan dari para pelayannya.


"Lapor! Pada saat ini tidak ada pesawat yang akan melintas."


"Lapor! Ketinggian helikopter akan mencapai tingkat yang dibutuhkan dalam 5 detik."


Mendengar laporan tersebut, Lee tersenyum sambil memegang sebuah tombol.


Karena terkejut aku langsung memberikan komentarku.


"Jangan bilang, itu!"


"Ya, sudah kubilang kan kalau kita tidak maju tanpa persiapan yang matang."


Aku tersenyum lalu berkata, "Lakukan sesukamu."


Hitungan mundur sudah mencapai batasnya.


Lee menekan tombol tersebut lalu di atas langit terjadi sebuah ledakan yang cukup besar. Gelombang ledakan itu terasa hingga tempatku. Namun, tidak ada yang tersisa dari ledakan itu selain gelombang kejut tadi.


Lee merasa lega.


"Ah, leganya!"


Dia benar-benar mengerikan!


Aku mulai memastikan sesuatu kepadanya.


"Sejauh mana yang sudah kau ketahui?"


Lee menatapku seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri.


"Hanya sampai dia adalah seorang paman yang ingin membunuh keponakan-!!!"


Aku memukul wajah Lee dengan sangat keras menggunakan tenaga yang tersisa. Lee menerima semuanya tanpa meningkatkan pertahanan maupun menahan pukulanku. Dia tersungkur kebawah tapi tidak terpental.


Aku berbaring lalu berkata, "Tolong jangan menyembunyikan sesuatu lagi dariku."


Lee hanya diam dan tidak menjawab apapun.


Kesadaranku perlahan menghilang.


Sesuai dugaanku, dalang utama dari semua ini masih ada dan bukan hanya satu orang saja.


Misteri ini masih berlanjut. Hingga semua ini beres, mungkin aku harus lebih berusaha le-bih ... ke-ras ... la-gi.


...


(Felix POV)


Detik-detik sebelum helikopternya meledak.


Aku melihat banyak C4 versi keluarga Jun sudah terpasang di berbagai titik tersembunyi. Anak itu ternyata tidak senaif seperti yang aku pikirkan, malahan dia sudah merencanakan sesuatu di belakangku. Kali ini, dia benar-benar mengelabui semua orang.


"Kau benar-benar pembohong."


Bersamaan dengan itu, suara alat C4 terdengar dan ledakanpun akhirnya terjadi.


Setidaknya, aku sudah menyampaikan seluruh amarahku. Aku juga sudah bertemu dengan salah satu keponakanku yang lucu. Rasa syukur ini, benar-benar menghilangkan beban yang sudah aku tanggung selama hidupku.


Ren, banyak musuh yang sudah menantimu. Sebagai salah satunya, aku sudah melakukan peranku. Sebagai pamanmu dan juga orang kedua yang tersisa dari anggota keluarga Han, aku sudah menyampaikan semua yang kutahu hingga saat ini.


Jaga Lina untuk ayah maupun diriku dari musuh kita yang sebenarnya. Jangan biarkan amarah membuatmu kehilangan jalan sepertiku. Terakhir, aku sangat senang karena bisa berduel dan merasakan sensasi yang sama saat melawan Kakak.


Sisanya, aku serahkan kepadamu.


❇❇❇


Pesan Author.


Dengan ini, "Arc Keluarga Han" beserta pengenalan latar belakang Ren Gill selesai.


Masih ada lagi misteri di balik latar belakang Ren. Tidak lupa juga, Ren sudah tahu bahwa musuh yang sebenarnya masih belum menampakkan diri. Sisanya, Lee hmmm ... sebenarnya, apa yang Felix maksud dengan pembohong? Entahlah.


Nantikan terus update chapter terbarunya, ya!

__ADS_1


- Leo Natta


__ADS_2