
Pukul 03:00 malam, aku bangun dari tidurku.
Seharusnya, jam segini aku ataupun manusia di seluruh dunia yang memiliki wilayah waktu sama dengan pulau ini masih dalam keadaan tidur nyenyak tapi-
"Haahhh ... apa yang dia lakukan di sampingku?"
Claudi tertidur pulas di sampingku layaknya seorang anak kecil. Meskipun lucu, tidak seharusnya dia ada di sebelahku. Dasar, dikasih nyaman malah minta susah.
Akupun mulai mengeluh sendiri sambil mengangkat Claudi lalu memindahkannya ke atas kasur.
"Manusia neolitikum sekarang ada-ada saja kelakuannya."
Eh.
Kalau dia saat itu tidur di sampingku-
"Apa dia melecehkanku saat sedang tidur???"
Aku mencoba untuk menolak gagasan konyol yang baru saja aku katakan.
"... Tidak, tidak. Tidak mungkin-"
Aku bergegas menggeledah tubuhku dari atas hingga bawah.
"Sepertinya masih aman."
Setelah yakin, aku memutuskan untuk pergi tidur kembali. Namun, dering ponsel milik Claudi membatalkan niatku. Aku bergegas mengambil ponselnya lalu memeriksa apa yang ia terima.
Sebelum membuka, aku meminta maaf kepadanya.
"Maaf, tapi aku sedikit penasaran."
Ada sebuah pesan dari nomor yang tak dikenal.
[* : Aku menawan ayah dan juga kakakmu, cek this out lampiran pesanku ini eahhh!(ง ˙ω˙)ว]
Aku melihat sebuah foto dua orang pria dengan wajah tertutup karung sedang diikat pada sebuah tiang di dalam ruangan sebuah pabrik kosong. Saat aku melihat lampiran selanjutnya, terdapat sebuah simbol barcode yang mungkin itu adalah petunjuk alamatnya. Selain aneh, pesan ini mengandung kata-kata dan tindakan yang cukup berlebihan.
Ya, prank itu ada batasnya juga sialan!
Tanpa sadar tanganku membalas pesan tersebut.
__ADS_1
[Claudi : Prankmu cukup lucu, sesekali gunakan juga kakek minta pulsa lain kali]
Kirim!
"Ah! Aku lupa kalau ini bukan milikku."
Saat aku ingin menghapus pesan yang aku kirim, nomor yang tak dikenal tadi melakukan panggilan ke ponsel Claudi.
Angkat atau tidak?
Karena tidak ingin Claudi bangun, aku mengangkatnya.
"Samlekom, apa kakek ingin minta pulsa atau semacamnya?"
Karena salamku yang agak ngawur, dia membalasnya dengan menaikkan suaranya.
"Siapa yang kau panggil kakek-kakek, hahh???!!!"
"... Lupakan, cepatlah datang kemari jika kau ingin menyelamatkan nyawa mereka."
Merasa dibodohi hingga tulang sumsum, aku membalasnya dengan cara biasa yang dulu diajarkan Lee kepadaku.
"Maaf, sepertinya Anda salah nomor. Aku sedang sibuk mengurus novel BL jadi, tolong hentikan leluconmu."
"... Kau mencoba membodohiku hahhh???!!!"
Tidak, tidak. Bukannya situasi kita terbalik? Atau apa harus kubilang bahwa kau itu tukang prank yang cukup bodoh?
Mengabaikan jawabannya, aku memutuskan untuk menutup panggilannya secara sepihak.
Tidak lama kemudian, sebuah pesan muncul.
[* : Dari suara tadi, aku tahu kalau itu adalah kau. Benar kan, Ren Gill? Jika kau tidak menyelamatkan mereka, mungkin saja teman-temanmu yang akan kuciduk setelah membunuh kedua orang ini(ง ˙ω˙)ว]
Merasa kesal, aku membalas pesannya dengan berpura-pura tidak tahu menahu dengan apa yang ia maksud.
[Claudi : Apa maksudnya? Siapa Ren Gill? Mantan kekasih yang ingin kau prank?]
Tidak lama, muncul lagi balasan darinya.
[* : AKU INI PRIAAAA!!!! SEBELUM KESABARANKU HABIS, LEBIH BAIK KAU PERGI KEMARI!]
__ADS_1
"Apa-apaan itu? Capslock jebol? Kekanak-kanakan sekali."
Hanya ada rasa hina bagi orang itu.
Muncul lagi balasan yang membuatku benar-benar terkejut.
[* : Rena Enkira dan adiknya Sophie Grimsthorpe, tercyduk eahh!(ง ˙ω˙)ว]
Seperti tadi, dia melampirkan sebuah foto dan kode barcode sebuah alamat.
Kali ini, dia benar-benar serius.
Aku segera membalas pesannya.
[Claudi : Aku akan pergi, jangan sentuh mereka sedikitpun!]
Setelah itu, aku menitipkan sebuah note di ponsel Claudi.
Sebelum pergi kesana, aku memanggil nomor ponsel Lee.
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya dia mengangkat panggilanku.
"Ada apa, Ren?"
"Lee aku butuh bantuanmu."
"Jelaskan situasinya dalam sepuluh kata"
"Modar sana, sue luh!"
Setelah mengatakan itu, aku menjelaskan situasinya kepada Lee dalam sepuluh kata. Dia memintaku untuk menunggu jemputan darinya. Setelah itu, aku menutup panggilan secara sepihak.
"Apapun itu, lelucon mereka terlalu mengerikan."
Aku segera mempersiapkan apa yang dibutuhkan, seperti sebuah kancing baju yang merupakan alat penyadap buatan keluarga Lee. Sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam masalah ini tapi, kali ini aku seakan dipaksa untuk terlibat hingga melibatkan tetanggaku. Karena khawatir jika target mereka adalah keluargaku, mau tidak mau aku harus langsung berkonfrontasi dengan mereka.
Dari semua gerakannya, aku yakin dia pasti ada hubungannya dengan Dalang itu. Ini adalah tangkapan yang cukup besar. Jika aku bisa menangkap mereka, rencana kami selama ini masih bisa disimpan untuk nanti.
Aku sedikit tersenyum dalam ketakutan. Aku takut kehilangan maupun merasakan sakit. Tapi, aku juga merasa senang karena urusanku cukup dipermudah dengan sekali gerakan.
"Kalian obral gratis, sudah pasti akan kuborong"
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Lee sampai di depan rumahku.