
Dengan Claudi Sarasvati di sini!
Pada chapter sebelumnya, sempat disinggung siapa sebenarnya Dalang di balik rumor tentang OSIS adalah salah satu dari Tetua.
Dari katanya saja, aku yakin kalian mengerti seberapa besar tingkat pengaruhnya.
Kali ini aku akan mendatakan tingkat pengaruh berdasarkan pangkat di SMA Atradika kepada kalian, ingat terus informasi ini hingga akhir cerita!
1. Tetua.
2. Pimpinan.
3. Yayasan.
4. Kepala Sekolah.
5. Staff dan Netra.
6. Guru dan murid.
Kenapa organisasi Netra memiliki hak di atas para guru? Karena mereka mempertaruhkan nyawa untuk melindungi sekolah bagaimanapun caranya.
Sekian penjelasan dariku dan jika kalian melihat seorang lelaki tampan, tolong perkenalkan dia kepadaku!
...
Sebagai seorang guru, aku ingin dia berhenti untuk menyembunyikan rasa sakitnya di depan semua orang. Tapi sebagai seorang wanita, aku bisa memaklumi hal itu karena dia tidak ingin merepotkan orang lain. Padahal aku sendiri pernah menangis di pelukannya-tidak! Lupakan! Kami hanyalah guru dan murid, tidak kurang maupun lebih!
Belakangan ini di kalangan para guru, dia sedikit menarik perhatian mereka. Butuh tenaga ekstra bagiku untuk menyembunyikan kelemahannya karena jika para guru mengetahuinya, dia akan kesusahan nantinya. Setidaknya untuk saat ini aku masih bisa melindungi dia dengan segenap kekuasaanku, tapi aku jadi tidak bisa berinteraksi lebih banyak padanya apalagi dengan ekskul yang sedang aku bina.
Sedikit merasa bersalah, itulah yang aku rasakan saat ini. Tapi, dalam pekerjaan aku tidak boleh menjadi lemah hanya karena perasaanku. Apalagi saat ini dia masih membutuhkan pertolonganku dan tentu saja, aku akan memberikan seluruh usahaku untuk hal itu.
Saat aku mendengar dia akan menggunakan gerakan "People Power" di seluruh dunia, aku sempat berpikir tentang kepercayaan dirinya.
Dimana dia meletakkan kartu trufnya?
Siapa yang ia sembunyikan di balik kepercayaan dirinya?
Semua pecahan misteri ini, hanya dia yang bisa menjawabnya. Bahkan jika para Tetua mendengar rencana ini, mereka pasti akan menertawainya dan menganggap semua itu hanyalah sebuah omong kosong belaka. Memang semua itu hanya omong kosong belaka tapi hal itu tidak akan berlaku kepada dia, Ren Gill.
Aku menatap wajahnya yang sedang pingsan sambil bertanya-tanya.
"Haahhh ... sebenarnya apa yang ada di pikiranmu itu?"
"... Apa kau tahu, aku tidak pandai dalam membaca pikiranmu. Aku hanya akan mengerti saat semua sudah selesai tapi, saat ini ... semuanya masih berlangsung dan kau juga tidak pernah mengatakan sepatah katapun padaku."
Apa yang akan terjadi selanjutnya?
Apa kau ingin melakukan sesuatu seperti seorang teroris?
__ADS_1
Aku harap kau tidak melakukan hal yang berbahaya seperti itu.
...
Tidak lama kemudian, dari jauh Lee menghampiri kami.
"Maaf, aku terlambat."
Lee terlihat sangat kelelahan.
Merasa khawatir, aku menanyakan keadaannya.
"Kau cukup kelelahan, apa terjadi sesuatu?"
"Tidak, tidak ada. Hanya saja, tadi sedang ada perdebatan yang cukup membuatku kelelahan."
"Begitukah? Ternyata Lee juga bisa merasakan kewalahan ya."
Lee tertawa kecil lalu menyangkalnya.
"Anda terlalu berlebihan."
"Tidak, tidak salah lagi ini melibatkan seseorang yang bisa menyaingimu kan?"
Lee masih menyangkal.
"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja, Ren memintaku untuk mengalihkan perhatiannya."
Gotcha!
Aku tersenyum lalu berkata, "Fufufu ... bisakah kau jelaskan lebih lanjut?"
Merasa sudah masuk ke dalam jebakanku, Lee hanya bisa pasrah dan menjelaskan apa yang terjadi dari hari pertama hingga saat ini kepadaku.
...
Setelah beberapa puluh menit, Lee mengakhiri ceritanya.
"... Begitulah yang saya ketahui."
Aku mencoba mengkonfirmasi kembali tentang mereka yang membuatku sedikit tertarik kepada Lee.
__ADS_1
"Rena Enkira dan Sophie Grimsthorpe ... apa mereka terpilih menjadi anggota Netra?"
Lee hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Apa Ren menyukai salah satu diantara mereka?"
Lee langsung menjawab pertanyaanku.
"Tidak mungkin, itu mustahil."
Ya, dia benar. Terlalu mustahil bagi Ren untuk merasakan emosi itu, bahkan saat beberapa kali merayu-maksudku mengetesnya, ia bahkan tidak gugup saat berada di dekatku. Jadi, dapat disimpulkan bahwa anak itu masih belum tertarik terhadap hal romantis seperti itu.
Pandangan Lee menjadi bingung saat melihat Ren yang terkapar di pangkuanku.
"Ah, bisakah kau mengantarkan dia kerumahnya? Aku sedang sibuk."
Lee menolak perintahku.
"Maaf, bertanggung jawablah sesuai dengan sumpah jabatanmu sebagai seorang guru."
Cih! Aku lupa kalau dia berada di atasku. Begitu juga dengan Ren karena mereka adalah anggota Netra. Karena tidak ingin terjadi kesalah pahaman diantara kami, aku pamit kepada Lee untuk mengantar Ren ke rumahnya.
...
(Lee POV)
Saat aku baru saja sampai di tempat pertemuan, aku melihat Ren yang berada di atas pangkuan pembina kami.
D-dia terkapar!
Aku yakin, pasti saat ini Ren sedang bermimpi buruk.
Melihat wajahku yang kebingungan-tidak sebenarnya aku sedang ketakutan, wanita itu bertanya kepadaku.
Aku hanya bisa menjawab seadanya dan tidak ingin memperpanjang durasi pertemuan ini karena dari situasinya, dia pasti sudah mendapatkan informasi yang ia inginkan.
Terima kasih untuk pengorbananmu, Ren.
...
Kondisi :
Pada dasarnya Lee sudah salah paham dengan penyebab pingsannya Ren. Dia mengira bahwa Ren sudah mencicipi masakan / racun yang dibuat oleh pembina mereka, Claudi Sarasvati. Akhirnya, dia hanya bisa memastikan keadaan dan segera mengakhiri pertemuan rahasia tersebut. Lee menolak permintaan dari Claudi karena ia sudah salah paham, dia tidak ingin dituduh menjadi pemberi racun kepada sahabatnya sendiri.
__ADS_1