Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 40 Panggilan Pertama Dari Wulan


__ADS_3


Dengan, Ren Gill disini. Beberapa hari yang lalu kami menerima sejumlah komplain masalah panjang/pendeknya cerita tiap chapter dari beberapa karakter. Aku juga sudah menyampaikan ini kepada Author melalui mimpinya, tapi dia tidak peduli.


"Hah? Pendek? Mau panjang kali lebar? Tolong ketik naskahnya buat saya, nanti dengan senang hati kok per chapternya minimal 7 ribu kata."


Setelah mengatakan itu, dia kentut dan keluar dari dunia mimpi sebelum aku memukul kepalanya dengan gergaji mesin.


Yah ... seperti yang kalian lihat, Author cerita ini mengetik dengan HP yang sering mengalami lag. Jadi, harap dimaklumi dan beri dia sedikit keringanan. Sekian, ikuti terus ceritaku biar kalian menjadi tambah cantik dan tampan layaknya kakek Sugiono beserta para cucunya.


Salam hangat, calon Gigolo profesional, Ren Gilgolo.


❇❇❇


Pagi ini, mataku sangat mengantuk. Gara-gara hari yang menyiksa batin kemarin, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Apalagi setelah menerima jurus pamungkas Ibu yang diturunkan oleh malaikat Zabaniyah, pantatku masih terasa sakit dan aku tidak bisa duduk dengan normal.


Aku berpikir ingin membuat ini menjadi kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur, namun Ibu punya kekuatan yang lebih besar dalam menepis tuntutanku. Selain menjadi saksi bisu karena kebejatan akibat efek samping obat laknat itu, dia juga sudah melihat secara jelas peristiwa "Terpelesetnya kapal Van der Saar" pada daratan yang rata. Kalau aku bertindak gegabah dan meminta bantuan hukum perlindungan anak, maka Ibu akan menggunakan semua itu agar aku bungkam.


Cih, mungkin sejak lahir aku sudah ditakdirkan selalu kalah dari Ibu. Meskipun di rumah Ibu memiliki derajat tingkat atas, bukan berarti dia bisa melakukan kejahatan ini padaku semaunya. Aku harus membalasnya nanti, apapun itu-ah sudahlah lupakan.


Saat aku memikirkan beberapa rencana untuk balas dendam terhadap Ibu, ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Saat aku memeriksanya, si pemanggil adalah nomor yang tak dikenal. Merasa depresi, aku mengangkatnya sambil bicara sembarangan.


"Halo, dengan Tuan Gilgolo disini. Ada yang bisa kubantu? Atau kau ingin diantarkan ke seorang Mucikari agar dapat bergabung di tempat prostitusi?"


"Tidak, mungkin aku salah nomor. Maaf karena sudah mengganggumu, Tuan."


Setelah menjawab, si pemanggil menutup telponnya sepihak. Tidak masalah sih karena dengan ini, aku tidak perlu berhubungan dengan sesuatu yang merepotkan. Paling tidak, biarkan hari ini aku bersantai dengan tenang dan damai sejahtera.


Dari suaranya, si pemanggil tadi adalah seorang gadis. Aku tidak yakin karena di zaman neolitikum yang canggih ini, sudah pasti kau dapat mengubah suaramu melalui apapun itu. Cukup menyedihkan rasanya hidup di dunia yang penuh dengan kepalsuan seperti, wajah palsu, suara palsu terutama dada palsu.


Selang beberapa saat, panggilan muncul lagi. Si pemanggil adalah nomor yang sama dengan tadi. Merasa kasihan, aku akan mengangkatnya dengan bahasa yang sopan.


"Halo, deng-"


Gadis itu segera menyela salamku.


"H-halo, ini aku Wulan. Sa-saat aa-aku mencoba memeriksanya k-kkk-kembali-"


"Ya, ini dengan Ren Gill."


Terlalu lama!


Aku segera menyelanya. Setelah mendengar ucapanku, dia bernafas dengan sangat lega sampai-sampai terdengar pada saat panggilan berlangsung. Penasaran, aku menanyakan bagaimana dia bisa mendapatkan nomor ponselku.


"Ngomong-ngomong, bolehkah aku tahu dimana kau menemukan nomor ponselku?"


"Aku memintanya dari pembina ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia, bu Claudi Sara-"


"Ya, aku mengerti. Jadi, ada perihal apa yang ingin kau bicarakan?"


Meskipun kasar dan sangat tidak sopan, aku selalu menyela ucapan Wulan karena terlalu lama. Setidaknya dia belajar cara menyingkat beberapa kalimat sebelum bicara dengan orang lain tapi di lain sisi, cara bicaranya memang sangat cocok sebagai Ketua OSIS. Jadi, aku mengurungkan niat untuk komplain dan kembali fokus ke topik utama.


"Sebenarnya, ini tentang peringatanku yang kemarin."


Aku masih diam sambil menunggu dia melanjutkan.


"... Apa Ren terluka karena dia?"


Pertanyaan yang begitu menohok keluar dari mulutnya. Ini sedikit rumit karena aku masih tidak tahu siapa yang Wulan maksud. Lebih baik aku hanya menjawab seadanya saja, begitulah keputusanku sejak awal pembahasan.

__ADS_1


"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud tapi, aku terluka karena ada seseorang yang sangat usil mencoba bermain prank denganku."


"Berarti dia masih menepati janji, ya ... " Wulan berdeham sekali lalu melanjutkan, "Dia akan datang menyerang dari segala arah, Ren harus berpikir sesuatu tentang ini. Maaf, aku hanya bisa memberitahumu segini karena keselamatan semua orang taruhannya."


"Tentu, informasi ini sangat berguna. Terima kasih banyak, Wulan."


Setelah mendengar ucapanku, di sisi Wulan terdengar suara aneh. Karena tidak ingin dianggap tukang penasaran, aku mengabaikannya. Masih tersambung, Wulan melanjutkan pembicaraan diantara kami.


"Ren tahu tentang kisah kedekatan antara Zhao Yun dan Liu Bei dari Tiga Negara?"


"Ya, sedikit."


"Akhir tahun 208 saat kekalahan Cao Cao, carilah jawabannya dari petunjuk itu. Kalau itu Ren, aku yakin petunjuk ini sudah sangat cukup."


Dia hanya memberikan sebuah petunjuk yang sangat samar dan menutup panggilannya sebelum aku dapat menjawab. Bisa dibilang, ini sangat penting dan rahasia. Jika sesuatu yang buruk akan terjadi lagi, sebaiknya aku bergegas menyapu bersih hal itu sebelum menjadi masalah yang sangat besar seperti kemarin.


"Zhao Yun dan Liu Bei beserta isi cerita Tiga Negara, kah .... "


Aku memiliki memori yang sangat buruk karena itu, mencatat petunjuk dan mencari pecahan misteri melalui internet adalah hal yang harus dilakukan. Hanya sedikit yang aku ketahui melalui beberapa sumber dan juga, berbagai macam peristiwa dalam perang tersebut merupakan diluar batas ingatanku. Jadi, aku harus mencari tahu lagi dari awal.


Zhao Yun, dengan panggilan kehormatan Zilong adalah salah satu dari "Lima Jenderal Harimau" dari negara Shu Han. Selain handal dalam pertarungan, dia juga cerdas dalam mengatur taktik pertempuran. Dalam hubungannya bersama dengan Liu Bei, bisa dibilang mereka adalah sahabat yang sangat dekat.


Liu bei, dengan panggilan kehormatan Xuande adalah pendiri negara Shu Han. Dia juga merupakan keturunan dari Liu Sheng, Raja Jing yang merupakan anak dari Kaisar Jing Han. Kepercayaannya pada Zhao Yun tidak pernah tergoyahkan dan sebaliknya, begitu juga dengan Zhao Yun.


Jika ingin membahas tentang negara Shu Han, negara itu didirikan pada tahun 221 tepatnya zaman Tiga Negara menurut warga Tiongkok. Pendiri negara Shu Han tidak lain adalah Liu Bei. Akhir dari zaman Shu Han juga cukup tragis dikarenakan anaknya Liu Bei (Liu Chan) bukanlah pemimpin yang cakap dan setelah 40 tahun memimpin, dia menyerah tanpa syarat kepada negara Cao Wei.


Jujur saja, mungkin kebanyakan orang akan menyalahkan Liu Chan atas berakhirnya Dinasti Han. Tapi, aku berbeda karena mengerti dengan pemikirannya. Jika kau tidak bisa, jangan dipaksakan dan cukup menyerah daripada suatu saat nanti orang lain akan menderita karenamu.


Poin utamanya adalah peristiwa akhir tahun 208 dimana pasukan Cao Cao kalah telak dalam perang Chibi. Aku tidak menemukan sesuatu selain peristiwa terpisahnya anak beserta istri Liu Bei dari rombongan dan akhirnya, mereka diselamatkan oleh Zhao Yun lalu kepercayaan Liu Bei kepadanya semakin meningkat. Selain itu, ada juga pengepungan pasukan Cao Cao di kota Jiangling lalu berakhir dengan Zhao Fan menyerah dan kemenangan berada dipihak Liu Bei.


"Hmmm ... panjang lebar, namun tidak ada yang relevan dengan keadaan kami saat ini."


Anggap saja peristiwa ini terjadi sebelum tahun 212, tepatnya invasi provinsi Yi. Jadi, dari akhir tahun 208 hingga 211 ya. Banyak peristiwa yang terjadi dalam 3 tahun tersebut.


"Tidak, tidak. Masih ada yang lain, dibandingkan melihat waktu kronologis ... "


"... Ah! Itu dia!"


Aku teringat satu nama yang sangat menarik perhatian. Itu adalah nama pejabat pemerintah yang terakhir kali menyerah dalam mempertahankan kota Jiangling, Zhao Fan. Mengingat Zhao Yun dan Zhao Fan berasal dari marga yang sama, ada satu peristiwa paling berkesan diantara mereka. Zhao Yun berhasil menggagalkan tipu muslihat Zhao Fan dalam perjodohannya bersama Ny. Fan dengan menolak saran tersebut.


"Satu marga, perjodohan dengan alasan mendekatkan hubungan keluarga semarga lalu dilanjutkan dengan pengkhianatan beralih ke kubu Cao Cao lalu mati dibunuh oleh Zhao Yun. Kau sudah melakukan yang terbaik, Zhao Fan."


Tidak baik membenci sebuah karakter hanya dari sikap licik mereka karena pada zaman itu, sudah semestinya kau harus memiliki berbagai macam tipu muslihat. Aku merasa bersimpati kepada wanita yang ditolak, namun keputusan yang dibuat oleh Zhao Yun memang tepat pada saat itu. Sisanya, tinggal menyusun petunjuk yang sudah aku dapatkan.


"Hubungkan semua fakta dengan keadaan Wulan yang sekarang."


Mulai mengira-ngira, beberapa hal memang relatif sama. Namun, tidak baik jika aku menyimpulkan semuanya berdasarkan cerita. Maksudku, bisa saja hanya menggambarkan situasi tapi tidak untuk arti sebenarnya dari kesimpulan tersebut.


Memiliki adik, Aaron-apalah itu yang ingin membuatku menghajarnya karena nama yang panjang. Dia adalah seorang gadis dan hanya bisa pasrah dengan keadaan, begitulah kenyataan dunia gelap yang masih ada hingga zaman ini. Terakhir, aku masih meragukan nama marga mereka.


"Apa yang disembunyikan Aaron atau mungkin keluarga mereka terhadap semua orang?"


Aku mulai bertanya-tanya makna dari semua itu, namun tidak ada jawaban yang kunjung datang. Sama saja seperti jalan buntu, buang-buang waktu untuk memikirkannya sekarang. Meskipun sangat penting demi keselamatanku, tidak ada gunanya selalu mencari jawaban hanya dengan berpikir.


"Sebaiknya aku mencari inspirasi dengan menggoda Ibu."


Aku memutuskan untuk pergi ke ruang tamu, juga dikenal sebagai tempat sakral di rumah ini. Kenapa demikian? Karena aku selalu bisa menemukan banyak inspirasi di ruangan tersebut. Bukan hanya itu, di ruangan itu terdapat penunggu yang sangat mengerikan.


"Kebetulan, Ibu ada yang ingin aku tanyakan padamu."

__ADS_1


Ya, dia adalah ibuku. Penunggu yang mengerikan dan tak kenal ampun saat marah. Bahkan, dia tega menyakiti anaknya sendiri.


"Tidak biasanya Ren ingin bertanya kepada Ibu. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Jika aku memiliki seorang adik-"


Wajah Ibu terlihat sangat kaget dan mulai pucat.


"Ada apa Ibu?"


"Tidak, tidak ada. Silahkan lanjutkan pertanyaanmu."


Meskipun dengan kondisi seperti itu, Ibu masih berusaha menjawab pertanyaanku. Bagiku, wajar saja karena dia adalah ibuku. Dengan begitu, aku melanjutkan pertanyaannya.


"... Aku mencintai adikku itu, apa yang akan Ibu lakukan?"


"Tentu saja aku akan membunuhmu."


Ibu tersenyum layaknya seorang psikopat yang telah kehilangan akalnya. Jujur saja, aku benar-benar melihat aura membunuh yang sangat besar. Saking besarnya, aku jadi kesulitan untuk bicara.


"Bagaimana kalau kami adalah saudara semarga?"


"Tetap saja aku akan membunuhmu."


Tidak, jawabannya tetap sama. Layaknya Adolf Hitler yang tirani, dia akan membunuhku jika pembicaraan ini terus berlanjut. Lebih baik, aku yang menghentikannya.


"Tapi ... jika itu adalah kemauan Ren yang sebenarnya, aku akan mendukungmu."


Keluar!!! Jawaban seorang ibu, ya dia sudah tidak waras. Seseorang, siapapun, tolong panggilkan ambulan!


Tidak mungkin aku akan melakukan hal itu. Wajar saja, Ibu akan berkata demikian karena aku anaknya. Terakhir, aku memutuskan kembali ke kamar setelah pamit kepada Ibu.


...


Saat berada di kamar.


Aku merebahkan kepalaku pada bantal yang empuk dan memikirkan kembali dengan metode lain.


"Masih ada satu yaitu, metode Claudi."


Hanya itu yang terpikir olehku. Dimana semua orang bingung, metode itu bisa memberikan jawaban yang sangat dicari. Tentu saja caranya adalah dengan membalikkan fakta yang ada dan saat semua berada pada posisi berlawanan, muncullah jawaban yang berbeda.


"Mereka bukan saudara kandung dan bisa saja memiliki marga yang berbeda."


Itu adalah fakta yang aku dapatkan pertama kali. Fakta itu membawaku ke berbagai kemungkinan lain. Dari semua kemungkinan, gambaran yang paling tepat adalah status "anak angkat" yang disembunyikan.


"Semua itu hanya permainan orang dewasa yang menginginkan sesuatu dari hubungan tersebut."


Ya, pasti ada sesuatu yang mereka rahasiakan. Pastinya, hal ini bersangkutan dengan sebuah konspirasi yang akan merepotkanku. Di balik itu semua, ada kemungkinan orang itu mengetahui identitasku yang sebenarnya.


"Apa dia adalah Dalang yang sebenarnya?"


Hanya itu yang ada di dalam pikiranku. Singkat, padat dan jelas sama seperti petunjuk yang diberikan. Semua terhubung, namun di lain sisi ada beberapa hal yang tidak bisa dimengerti.


Aku akan memikirkannya lagi lain kali. Kali ini, semua yang sudah dikumpulkan tetaplah berharga. Aku yakin kalau usahaku ini tidak sia-sia.


Sisanya, lebih baik langsung aku tanyakan kepada Wulan. Kalau perlu, aku akan berpura-pura menculiknya. Tak peduli apapun kesulitan yang menghampiri.


Demi kehidupanku yang tenang, semua ini harus cepat diselesaikan. Semakin ditunda, masalah ini akan menumpuk. Saat menumpuk, dapat dipastikan bahwa aku yang akan merasa repot sendiri.

__ADS_1


Dengan ini, pemikiran situasi Wulan aku tutup hingga menemukan petunjuk terbaru.


__ADS_2