
Saat panggilan Claudi masih berlangsung.
Mendengar suara langkah kaki dari luar kamar, aku segera meredam bunyi ponselku dan menyembunyikannya di tempat yang bisa merekam pembicaraan kami.
Suara langkah kaki itu mulai mendekat dan saat orang itu sampai di depan pintu kamarku, dengan sopan dia menyapaku.
"Salam hangat, Kakak Ipar."
Karena aku tidak bisa menahan amarah yang menggebu ini, secara tidak sengaja mulutku telah menghina pria yang tidaklah lain pilihan Ayah untuk Claudi.
"Enyahlah."
Meskipun menerima kata kasar dariku, dia masih bisa tersenyum dengan santai. Seperti yang diharapkan, orang ini bukanlah pria biasa. Dia pasti pintar menggunakan poker face dan mengelabui orang lain.
"Bukankah kau cukup kejam padaku? Apa kita tidak bisa menyelesaikan masalah ini secara baik-baik? Maksudku, ada beberapa penawaran untuk kalian."
Aku berpura-pura tidak tahu menahu dengan apa yang dia katakan.
"Kalian?"
Mendengar pertanyaanku, pria itu terkejut.
"Eh? Apa aku salah? Aku pikir kau pasti sedang menelepon seseorang disaat begini."
Tidak, kau tidak salah. Hanya saja, aku tidak akan membiarkanmu mengetahui apa yang disembunyikan olehku. Aku mencoba untuk mengelabui pria itu dan menuntun pembicaraan kami kembali ke topik yang dia bawa.
"Ya, itu hanya perasaanmu saja. Jadi, ada perlu apa kau datang kemari?"
Tanpa pikir panjang, pria itu langsung menjelaskan maksud kedatangannya.
"Aku ingin kau menggagalkan pernikahan ini."
"Kenapa?"
Tatapan dinginku mulai mengarah langsung kepadanya.
Meskipun begitu, dia tetap santai dan melanjutkan pembicaraan kami.
"Kita memiliki tujuan yang sama."
"Apa maksudmu?"
"Aku ingin menghancurkan ayahmu, apa kau mengerti?"
Langsung, tegas dan singkat. Dia mengatakan itu dengan sangat percaya diri di hadapanku secara langsung. Aku tidak tahu apa dia berbohong atau tidak tapi, tidak ada salahnya untuk mendengarkan tawaran yang lebih lanjut.
"Kenapa kau berkata begitu sementara, orang yang merencanakan pernikahan ini adalah kalian berdua?"
__ADS_1
"Jika aku bilang semua ini karena dendam lama, apa kau akan percaya?"
"Konyol dan tak berdasar, itulah pernyataanmu."
Dia tertawa lalu berkata, "Begitulah, tapi aku serius dengan hal itu."
Tatapannya mulai berubah, seperti pemburu yang sedang mengejar mangsanya.
"Tidak, kau bahkan tidak memberikan informasi apapun mengenai dirimu kepadaku. Bukankah perkenalan merupakan sebuah jaminan dalam membuat kesepakatan bersama dengan orang lain?"
Mendengar sindiranku, diapun memperkenalkan dirinya.
"Maaf atas ketidaksopananku. Kalau begitu, perkenalkan namaku Felix D. Hertz. Aku adalah adik dari ayah kandung Ren Gill, aku yakin adikmu pasti mengenal baik keponakanku."
Adik dari ayah kandung Ren? Sudah terlambat untuk mencari tahu segalanya tapi, aku tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan. Maksudku, aku tidak pernah menemukan informasi silsilah keluarga Ren saat menyelidikinya.
Bisa dibilang, ada orang yang mengacak-acakan seluruh informasi pribadi miliknya. Itulah kenapa, dia membuatku jadi sangat tertarik kepadanya. Apapun itu, aku selalu yakin bahwa anak itu memiliki banyak rahasia di masa lalunya.
Aku masih mencoba memastikan identitasnya.
"Kalau begitu, dimana ayah kandung Ren?"
Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan cukup erat.
Seiring dengan hembusan angin yang kuat, pukulan pria itu berhenti tepat di depan wajahku.
"Kenapa kau sangat yakin dengan hal tersebut?"
Tanpa menjawab pikiranku, dia menyerahkan sebuah kamera perekam disertai sebuah earphone yang sudah terpasang.
"Tonton video rekaman itu."
Aku menontonnya hingga akhir.
Saat mendengar isi pembicaraan tersebut, entah kenapa aku merasa tidak nyaman. Seperti, ada sebuah konspirasi besar yang terkandung dalam pembicaraan mereka. Namun, semua itu dihalangi oleh satu orang yaitu, ayah Ren.
Orang-orang yang ada di dalam video tersebut adalah pimpinan 6 dari 7 keluarga besar di pulau Asterisk. Isi konferensi mereka adalah tentang memonopoli seluruh negara hingga pemerintahan mereka. Bahkan, mereka juga berencana untuk membantai habis seluruh anggota keluarga Ren.
Tapi, ada satu hal yang menggangguku.
"Kenapa ayahku menerima lamaranmu?"
"Dia itu hanyalah seorang pria yang dibutakan oleh kekuasaan. Sangat mudah bagiku menggunakan informasi palsu lalu menipunya."
"Anggap saja, aku mempercayaimu lalu ... apa jaminan yang akan kau tawarkan kepadaku?"
Pria itu berpikir sebentar lalu memberikan tawaran yang menarik.
__ADS_1
"Masalah keamanan kalian, cara penggagalan pernikahan ini maupun menghancurkan ayahmu ... aku akan membantu semuanya. Asalkan kau bisa membujuk keponakanku agar dia ikut campur dalam masalah ini."
"Kenapa dia harus terlibat?"
"Aku tidak ingin dia menggunakan "People Power" seluruh dunia hanya untuk menjatuhkan seorang bawahan seperti ayahmu."
Meskipun dia menghina ayahku, jujur saja aku tidak merasakan apa-apa.
Tapi, apa yang dia maksud dengan bawahan?
Bukankah posisi 7 keluarga besar itu setara?
Melihatku diam saja, pria itu berbicara kembali.
"Tujuh keluarga besar hanyalah bawahan dari seorang pemimpin tirani, dia berasal dari keluarga Han. Ingat itu baik-baik, jika kau melupakannya mungkin mayatmu sudah membusuk sebelum acara pernikahan dimulai."
Pemastian terakhir dariku.
"Apa alasanmu melakukan semua ini?"
Dia langsung menjawab pertanyaanku.
"Aku berhutang kepada kakakku dan juga keluarga Jun."
Apa?!
Nama keluarga yang sering kudengar akhirnya disebutkan juga.
"Apa hubunganmu dengan keluarga Jun?"
"Tunanganku berasal dari keluarga Jun, apa kau sudah puas?"
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
Berarti, Lee sudah merencanakan semua ini dengan sangat matang. Bahkan, dia bisa menggali sebuah informasi yang rumit ini. Sebenarnya, seberapa jauh rencana milik Lee jun?
Itu sudah diluar kemampuan berpikirku.
Pria itu melanjutkan pembicaraan kami.
"Aku sudah tahu tentang semua situasi saat ini, kau hanya perlu melakukan apa yang tertulis di memo ini."
Dia memberikan secarik kertas berisi sebuah kode barcode.
Setelah kepentingannya selesai, dia pamit untuk pulang.
Ada satu hal yang menggangguku, kertas yang dia berikan memiliki permukaan yang aneh.
__ADS_1