
Di sini Ren.
Aku pikir kalian pasti bingung tentang di mana tempat tinggal kami.
Kali ini aku akan memberikan sedikit gambaran kepada kalian, tapi Author cerita ini memaksaku untuk tetap diam. Apa orang ini sakit? Dia sangat merahasiakan tempat ini dari para pembacanya. Jadi, setelah berdiskusi panjang lebar akhirnya kami memutuskan untuk memberikan sedikit informasi kepada kalian tanpa sepengetahuan Author.
Tempat tinggal kami bukanlah suatu negara, bisa dibilang kami tinggal di sebuah pulau yang awalnya tak berpenghuni. Namun, kemerdekaan kami diakui oleh seluruh anggota PBB hingga akhirnya kamipun mendapatkan julukan bernama "Pulau Asterisk". Kenapa dinamai sedemikian rupa? Karena pulau ini berbentuk asterisk dengan Sekolah Atradika sebagai pusatnya.
Pulau ini menerima seluruh orang, entah darimanapun itu asal mereka. Jadi, di sini kami sudah terbiasa hidup dengan semboyan "Bhineka Tunggal Ika" dari negara Indonesia. Meskipun berasal dari berbagai negara, kami tetap akrab dan saling bekerja sama dalam pembangunan pulau agar menjadi lebih baik entah dalam bidang individual, industri maupun pendidikan.
Sekian, hanya itu saja yang bisa aku sampaikan. Sisanya, tanyakan sendiri kepada Author. Salam hangat, Ren Gill.
...
Setelah meninggalkan ruangan ekskul, aku pergi ke gedung biasa dimana seorang penyendiri sepertiku mencari ketenangan.
Di belakang, Sophie mengikutiku tanpa berbicara sedikitpun.
Aku mulai berbicara kepadanya.
"Kenapa kau mengikutiku?"
Butuh waktu bagi Sophie untuk memikirkan jawabannya.
"Aku hanya ingin meminta pendapat dari Senior, apa boleh?"
"Silahkan."
Sophie mempercepat langkahnya agar dapat berjalan di sampingku.
"Aku mempunyai seorang kakak yang terpisah jauh dariku, menurut Senior apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengannya?"
Merasa ada sesuatu yang sebaiknya tidak aku dengar, aku mencoba untuk memastikannya kembali.
__ADS_1
"Jadi, kau memiliki seorang kakak yang terpisah jauh darimu?"
Sophie mengangguk sekali lalu berkata, "Kami berasal dari ayah dan ibu yang sama, sayangnya orang tua kami berpisah dan seperti yang Senior tahu, beginilah aku .... "
Sophie menambahkan sedikit sarkastik pada kalimat terakhir.
"... Bagai kelinci yang ditinggalkan keluarganya."
Aku segera menyangkal ucapannya.
"Tidak, aku tidak yakin mereka akan berpisah semudah itu."
Mendengar penyangkalanku, Sophie mulai mempertanyakannya.
"Kenapa Senior yakin dengan hal tersebut?"
"Mudah saja, tidak ada orang tua yang akan berpisah dan mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya karena masalah kecil."
Hampir saja aku kelewatan dan memaksanya untuk mengingat masa lalu.
"Lalu, menurutmu ... apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan kakakku?"
Setidaknya, aku akan memberikan bonus kepada kakakmu.
"Bukankah sudah jelas?"
Masih belum mengerti dengan maksudku, Sophie memiringkan sedikit kepalanya.
"Hm?"
"Jadilah adik yang baik untuk kakakmu."
Tiba-tiba Sophie bertanya dengan kecepatan dan suara yang cukup keras.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku menyukai dia?"
Hah? Brocon? Tidak, tidak. Mungkin, dia menyukai kakaknya itu seperti seorang adik. Ya! Seorang adik!
"Lakukanlah sesukamu, selama kau bahagia aku yakin dia juga akan merasakan hal yang sama."
Mata Sophie terbuka lebar.
Aku menggerakkan lenganku di depannya namun tidak ada respons sama sekali.
Apa anak ini pingsan sambil berdiri?
Aku mendekatkan wajahku di depannya.
"Ada yang salah?"
Tersadarkan dari lamunannya, Sophie berteriak sambil melompat ke belakang karena terkejut.
Wajahnya memerah.
Dia mulai bertingkah aneh, hal itu membuatku semakin khawatir dengannya.
"Apa kau baik-baik saja?"
"Y-ya! Aku baik-baik saja! Terima kasih banyak atas sarannya, Senior!"
Setelah mengatakan itu, dia berlari meninggalkanku.
Apa aku sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak boleh dikatakan? Entahlah, apapun itu aku harus berpikir positif.
Akupun melanjutkan perjalananku ke gedung kosong di dekat wilayah markas Netra.
__ADS_1