Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 43 Ren Kembali Hadir Ke Sekolah - 3


__ADS_3

Setengah jam berlalu, akupun langsung pergi keluar. Di samping pintu kelas, sudah ada seseorang yang menunggu dengan sabar. Dia adalah ketua OSIS SMA Atradika, Wulan.


"Apa kau dari tadi menunggu di sini?"


"Tidak, aku baru saja sampai."


Ah, malunya aku. Semoga saja dia tidak kepikiran dengan pertanyaan tadi. Jika tidak, aku akan dicap sebagai lelaki yang tak tahu diri.


"B-begitu, kita akan kemana?"


"Ikuti aku."


Wulan memimpin jalan, sedangkan aku mengikutinya dari belakang. Situasi ini sangat bagus karena dalam sudut pandang orang lain, kami hanya seperti bos dan cecungutnya yang sedang melakukan tugas. Tidak kurang dan tidak lebih, aku hanyalah pesuruh disini.


Dari caranya berjalan, Wulan terlihat sedikit kesulitan. Maksudku, kaki Wulan terlihat sangat lelah hingga sulit bergerak. Saat aku menaikkan sedikit pandangan keatas, aku melihat pemandangan yang hanya bisa dinikmati olehku.


Terkesan aneh, namun begitulah yang sebenarnya terjadi. Aku segera mengalihkan pandanganku dari bagian bawah itu ke lingkungan sekitar kami, tanpa sadar ini seakan familiar dimataku. Tentu saja, aku baru sadar kalau ini adalah jalan menuju ke atap sekolah.


Jalan ini merupakan jalur yamg sakral, dimana beberapa kekasih pergi ke atap hanya untuk berduaan. Pada jalan ini, terdapat banyak kaca bagaikan cermin. Wajar saja, banyak tanaman indah dan dilestarikan dengan rumah kaca versi terbaru atau semi-rumah kaca.


Pernah dengar semi-rumah kaca? Tidak kan? Semi-rumah kaca itu seperti sebuah taman di balik kaca. Konsepnya sama dengan rumah kaca tapi, semi-rumah kaca memiliki beberapa kelebihan. Misalnya, tidak menambah nilai global warming dan dibuat dari bahan kaca yang diolah para ahli sehingga tidak merugikan lingkungan sekitar.


"Umm ... Apa Ren memandangi bagian bawahku?"


"Haahhh?!!"


Aku tak sengaja berteriak karena terkejut dengan pertanyaan yang barusan. Tidak, tidak mungkin dia tahu kalau aku sempat menatap itu. Pasti dia hanya asal tebak saja, ya asal tebak!


"Apa itu benar?"


" ... "


Sekali lagi dia bertanya. Aku hanya diam tanpa menjawab. Bukan berarti aku ini mesum dan ingin menang sendiri, hal ini aku lakukan untuk menjaga kehormatannya.


"Mesum."


Dia menoleh sedikit kepadaku sambil tersenyum manis, tidak lupa juga dengan kedua sisi pipinya yang memerah seperti buah ceri. Maaf kalau boleh aku beri saran, tolong jangan mengatakan itu sambil tersenyum manis. Jika bukan aku, mungkin kau akan diculik lalu dijadikan sebagai istri seseorang diluar sana, kau tahu.


Sebelum hal ini menjadi masalah, aku meluruskan sedikit.


"Sebentar .... "


"Hm?"


"Tadi aku tidak sengaja melihatnya sebentar."


"Um, tidak apa."


Wulan menjawabnya dengan santai dan seakan tidak peduli. Bukan hanya itu, perilakunya kepadaku juga tidak berubah sama sekali. Meskipun kami baru saja kenal, cukup aneh rasanya karena aku pernah mengenal seseorang layaknya dia.


...


Tidak lama kemudian, kami sampai di atap gedung sekolah.


"Apa Ren sudah menemukan jawabannya?"


"Tidak, masih belum."


Tanpa basa basi, dia langsung menuju poin utama. Sebenarnya aku sudah menemukan beberapa kemungkinan tapi, saat ini lebih baik aku sedikit menyembunyikannya. Setidaknya, aku akan menjawab secara biasa tanpa disertai kemungkinan yang akan terjadi.


"... Maksudku, belum semua."


"Jadi, apa jawabannya?"


"Perjodohan antara sesama marga?"


"Itu adalah setengah dari jawaban yang benar."

__ADS_1


Wulan menyetujui jawaban yang aku temukan saat di rumah. Padahal aku belum menyebutkan beberapa kemungkinan tentang hal yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Namun, Wulan juga tidak ingin meminta penjelasan lebih lanjut.


"Apa yang akan Ren lakukan jika perannya terbalik?"


"Tentu saja aku akan menolaknya."


"Kenapa?"


"Jika terpaksa, harus ditolak. Namun, kalau dia adalah cintamu lebih baik kau terima saja."


"Sayangnya aku tidak menyukainya."


"Tolak saja, kalau tidak bisa tinggal kabur dari rumah."


Mendengar saranku, mata Wulan menjadi lebar. Pandangannya seakan memberitahukan bahwa dia sedang melihat sesuatu yang sangat luar biasa. Kalau begini, bisa-bisa aku bertanya apa dia sudah melihat Sun Wu Kong atau semacamnya yang sudah mencapai level tertinggi dari pencerahan.


Karena dia hanya diam, aku mencoba untuk bertanya.


"Apa kau baik-baik saja?"


Tidak ada jawaban.


"Wu-!"


Kepala Wulan condong kearahku, sesaat sebelum bibir kami bersentuhan ....


"Sundulan Mad Gondrong!"


"Aduh."


Aku menyundul dahinya dengan sedikit keras. Meskipun merasa sakit, dia tetap bersuara datar. Merasa tidak enak, aku mulai bertanya maksud dari tindakannya.


"Kenapa kau melakukan itu?"


"Apa tidak boleh?"


Dia malah bertanya balik dengan wajah yang polos itu.


"Apa itu sangat penting?"


"Saking pentingnya, aku tidak mau membuatnya jadi sia-sia."


"Kenapa?"


" ... "


Aku kehabisan kata-kata karena tidak tahu lagi ingin bilang apa. Jika mencari alasan lebih banyak lagi, rentetan pertanyaan datar layaknya milik Rena akan selalu datang. Ada kalanya diam sebagai jawaban, jadi aku biarkan saja Wulan sendiri yang menjawabnya.


Padahal, jawabannya sangat mudah. Karena terlalu mudahnya, sampai-sampai dilupakan kebanyakan orang. Ya, berikan itu kepada orang yang benar-benar kau cintai.


Aku tidak tahu apa dia menyukaiku atau hanya sekedar coba-coba. Semua kesalahan kadang berawal dari mencoba tanpa sebab, itulah yang ia lakukan sekarang. Sudah jadi tugasku untuk mengingatkannya karena sebagai pria, aku menghormati sesuatu yang penting itu.


Tentu saja aku akan menolaknya karena itu hanya akan terbuang sia-sia jika diberikan kepadaku. Jika dia memiliki alasan yang tepat, aku akan memikirkannya lagi. Tapi, saat ini dia bukanlah Wulan yang aku tahu.


Wulan memulai kembali pembicaraan diantara kami.


"Apa Ren membeciku?"


"Kenapa?"


"Bukankah Ren sudah menolakku?"


"A-ah itu ... " Aku melihat kearah lain beberapa kali lalu kembali lagi menatapnya dan berkata, "Aku tidak menolakmu, hanya saja ... bukankah masih belum saatnya melakukan itu?"


"Aku tidak mengerti."


Wulan menjawab ucapanku dengan sangat jujur. Wajar kalau dia tidak mengerti karena ini sudah diluar batasan kami. Aku harus memperjelas semuanya, sebelum ini berakhir dengan sebuah tragedi untuk kami.

__ADS_1


"Apa kau menyukaiku?"


Apa yang kukatakan?!!! Bodoh! Aku ingin mati saja! Serius!!! Bukan itu seharusnya yang aku katakan di saat begini!


"Entahlah."


"Jika dirimu sendiri saja tidak mengetahui jawabannya, bagaimana bisa aku mengetahuinya."


"... Dengar, menyukai seseorang itu adalah ... errr ... anggap saja seperti kau sudah merasa nyaman dan selalu ingin bersama dengannya."


"... Saat kau merasakan hal itu, ungkapkanlah agar orang yang kau sukai mengerti."


"... Terkadang, laki-laki itu terlalu bodoh dalam masalah perasaan."


"Um, begitu juga dengan Ren."


"Benar sekali."


Eh?


Wulan menjawabnya dengan santai layaknya seorang murid yang sedang diajari oleh gurunya. Sebagai guru aku memberikan contoh, namun dia juga sudah mencapku sebagai orang yang bodoh dalam hal tersebut. Akhirnya, kami berakhir dengan dia mengerti dan tahu betapa bodohnya diriku ini.


Ini lebih baik dibandingkan apa yang harus aku lakukan jika tidak bertindak tadi. B-bukan berarti aku menyesali seluruh tindakanku karena sudah menolak. Hanya saja, aku tidak ingin menerima beban tersebut dan harus mengikuti sesuatu yang belum diketahui jawabannya olehku.


Saatnya kembali ke topik pembicaraan kami yang sangat utama.


"Jika peran terbalik, apa kau yang menjadi Zhao Yun?"


Dia hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Apa orang yang kau maksud adalah Zhao Fan?"


"Bukan, dia adalah Liu Bei."


"Aku mengerti."


"Ren memang pandai."


"Kau terlalu berlebihan menilaiku, tapi terima kasih atas pujiannya."


"Um, sama-sama."


Wulan menenggelamkan wajah pada kedua lengannya. Aku hanya menatap langit sambil memikirkan sesuatu yang mungkin saja terjadi. Ini lebih rumit daripada peristiwa tipu muslihat Zhao Fan.


Apa kau pikir perjodohan politik zaman tiga negara masih ada di dunia ini? Tentu saja ada, bahkan masih dilakukan oleh beberapa orang dalam menjaga kekuasaan mereka. Manusia seperti kata seorang iblis, memiliki semuanya karena itulah mereka sempurna namun takkan pernah mencapai "kesempurnaan" sekeras apapun usahanya. Semua itu terbukti karena manusia memiliki akal sehat hingga seperti apa yang kau lihat sekarang, namun mereka juga memiliki kekurangan dalam menjaga nafsu duniawi.


Sungguh disayangkan tapi, begitulah kenyataannya. Kau juga membutuhkan nafsu agar menjadi sumber semangat dalam memenuhi kebutuhan hidupmu. Tanpa nafsu, manusia tidak akan bekerja hingga makan dan minum.


Sekarang aku masih belum mengerti situasinya, namun ada beberapa petunjuk yang sudah didapat. Aku menatap kearah Wulan yang sedari tadi diam. Merasa penasaran, aku mengelus kepalanya dengan lembut.


Anggap saja ini untung-untungan supaya aku tahu apa dia masih bangun atau tertidur. Beberapa kali dielus, dia masih diam dan tak berbicara sepatah katapun. Aku menghentikan tindakanku karena mungkin saja orang lain akan salah paham saat melihat kami.


Suara kecil terdengar dari Wulan.


"Kenapa Ren berhenti?"


"Eh?!"


"Lanjutkan."


"B-baiklah."


Merasa bersalah, aku mengikuti kemauannya. I-ini bukan berarti aku ingin, ya. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena sudah menyentuh kepalanya tanpa izin dari si pemilik, Wulan.


❇❇❇


Ren Note : "Author sempat menggila setelah mengetik chapter ini, harap berhati-hatilah!"

__ADS_1


Author : "Selamat menikmati siksaan pada beberapa chapter yang akan datang."


Ren meninggalkan obrolan.


__ADS_2