
Setelah meninggalkan ruangan rapat, aku menuju ke sebuah bangunan yang ada di dekat markas.
Sambil berhati-hati dengan harapan tidak ada orang yang mengikutiku, aku mempercepat langkahku.
Emosiku sudah benar-benar berada di puncak.
Setelah masuk ke ruangan yang dipenuhi dengan samsak tinju yang cukup tebal, aku meninju samsak yang ada di dekatku sambil mengeluarkan semua yang ada di dalam kepala.
"Bodoh! Gadis itu ... "
Aku memukul lebih keras dari sebelumnya.
"Percaya diri? Aku juga tahu itu bukanlah hal yang baik! Aku begitu ... karena ... "
Satu samsak tinju mulai robek dan aku beralih ke sisi lain.
"Aku harus membuat semua orang merasa tenang!"
Hanya dengan sekali pukulan, satu lagi telah rusak.
Merasakan ada keberadaan seseorang yang sedang mengamatiku, aku berpaling ke belakang dan menanyakan identitas orang itu.
"Siapa?"
Di balik bayangan yang gelap, seorang gadis pirang mengangkat tangannya sambil ketakutan.
"S-senior, ini aku Sophie."
"Ada apa?"
Merasa tatapanku yang semakin dingin terhadapnya, Sophie menjadi lebih takut untuk bicara.
" ... "
"Jika tidak ada keperluan, pergilah. Terus-terusan berada di sini hanya akan membuatmu merasa lebih buruk."
Sebenarnya, aku hanya ingin memintanya untuk meninggalkan tempat ini dengan damai. Aku tidak ingin dia merasa lebih tidak nyaman karena melihatku seperti ini. Sayangnya, aku tidak yakin dia mengerti apa yang kuharapkan.
Sophie mengepalkan tangannya dengan erat sambil gemetar, ia juga masih memberanikan diri untuk berbicara denganku.
"Kenapa? Kenapa aku harus meninggalkan tempat ini?"
Aku menjawabnya dengan dingin sambil berharap ia mengerti dengan kemauanku.
__ADS_1
"Pergilah."
Mendengar ucapan yang dingin mengarah padanya, Sophie mulai menangis dan tidak bergerak dari tempatnya.
Aku mendesah dalam dan saat aku ingin menenangkannya-
Dari jauh, ada seseorang yang berlari ke arahku seakan-akan ingin menerjangku.
"Kau ... apa yang kau lakukan?!"
Setelah mencapaiku, dia menamparku dengan keras hingga aku tak sadarkan diri.
Sialan, aku bukanlah samsak tinju yang memiliki ketahanan tebal terhadap pukulan.
Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya, aku hanya dapat berbaring lalu pingsan di tempat.
...
(Rena POV)
Tanpa sadar, aku memukulnya karena terbawa emosi.
Di sebelahku, Sophie memegang tanganku dan dia terlihat sangat marah sambil berlinang air mata di wajahnya.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu ... Apa yang Kakak lakukan?!"
Aku juga membalasnya dengan keras.
"Bukankah sudah jelas aku sedang membelamu!"
"Apa yang kau sebut membela adalah memukul Senior sampai ia seperti ini?!"
Aku tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.
"I-itu ... "
Sebelum aku melanjutkan pembelaan, Sophie menyelaku.
"Cukup! Kakak terlalu dibutakan dengan sudut pandangmu yang berlebihan itu!"
"... Tidak perlu dilanjutkan lagi, aku akan memanggil guru yang ada di markas untuk membawanya ke UKS."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Sophie pergi meninggalkan kami.
Kenapa?
"... Apa yang kau lakukan kepada adikku?"
Aku menatap wajahnya dengan kesal. Dia masih tertidur dan tidak akan bisa menjawab pertanyaanku. Kali ini, kau akan aku lepaskan.
Aku mendesah dalam dan berjalan ke luar.
Di depan pintu masuk, aku bertemu Lee yang sedang bersandar di dinding.
Tanpa menyapa maupun menatapku, dia langsung berbicara seakan-akan sedang melakukan sebuah monolog.
"Kau sudah salah paham."
"... Dia tidak akan pernah melukai orang lain, apalagi rekan kerjanya."
Mataku tertuju ke tatapan dingin Lee.
Keringat dingin mulai membasahi pundakku.
Dari matanya, Lee seperti sedang menungguku untuk menjawab ucapannya.
Akupun mengumpulkan keberanian lalu mencoba untuk berbicara dengan Lee.
"Lalu, apa kau bisa menjelaskan mengapa adikku menangis?"
Mendengar pertanyaanku, Lee yang sedari tadi menatap ke arah lain pun mengalihkan pandangannya kepadaku.
"... Kasihan, itulah yang adikmu rasakan saat pertama kali melihatnya."
"Aku tidak mengerti."
"Kau akan mengerti saat melihatnya."
Setelah mengatakan itu, Lee berjalan menjauh ke arah yang berlawanan.
Dari jauh, aku melihat Sophie dan beberapa guru yang berlari menuju ke sini.
Sebelum mereka melihatku, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat ini secepat mungkin.
__ADS_1