
Aku sudah sampai di tempat yang Marco bilang.
Di sini hanya ada satu orang pelanggan yaitu, Marco. Wajahnya yang seakan berkata, "Aing is here" menatapku dengan tatapan yang menjijikan. Karena tidak ingin berlama-lama aku segera menanyakan apa yang ingin diketahui kepadanya.
...
"Kenapa kau memanggilku kesini?"
"Aku ingin memberitahukan sebuah kabar buruk untukmu."
"Kabar buruk?"
Marco memperlihatkan sebuah foto pria pada ponselnya ke arahku.
"Lihat itu."
Aku melihat foto tersebut dengan teliti, namun tidak ada hal yang aneh dimataku.
"Ayah akan menjodohkanmu dengan orang itu."
"Apa?!!!"
Tanpa sadar aku berdiri dari posisiku.
Seluruh perhatian tertuju kepada kami, tapi untungnya hanya ada aku dan Marco di sini.
"Tenanglah."
Setelah memintaku untuk berpikir tenang, dia meminta maaf kepada orang-orang yang berada di sekitar kami.
Aku mencoba untuk menenangkan diri lalu bertanya rincian mimpi buruk itu.
"Kenapa Ayah memilihnya?"
"Aku tidak tahu."
"Apa yang kau tahu tentang pria ini?"
"Aku hanya bisa mengatakan bahwa ia adalah orang yang berbahaya."
Informasi itu sangat cukup untuk menggambarkan ketergesaan kakakku tadi, bahkan dia harus tutup mulut karena tidak suka berbicara tentang pria yang membuatnya merasa jijik.
Begitulah dia.
Setelah menyereput teh yang ada di meja, Marco kembali ke topik pembicaraan utama kami.
"Tentang Ren Gill, aku ingin agar kau mau mempertimbangkannya."
Ren lagi?
"Aku tidak ingin dia terlibat ke dalam masalah keluarga kita."
Marco menyangkal pernyataanku dengan memperkirakan suatu keadaan yang tidak dapat aku abaikan.
__ADS_1
"Mau terlibat atau tidak, dia sudah menjadi duri dalam daging Ayah. Pastinya kau juga tahu, bukan? Jika kau dalam masalah, anak itu pasti akan datang."
Aku menyangkal ucapan kakakku.
"Tidak, kau salah. Tidak mungkin dia akan datang."
Tapi, Marco masih bersikeras dengan ucapannya.
"Dia akan datang."
"Kenapa?"
"Karena dia harus terlibat."
Tatapan Marco berubah menjadi sangat dingin.
Aku memperingatkannya untuk tidak menyeret Ren dalam masalah ini.
"Jangan libatkan dia, apapun alasannya."
Dia membalikkan kata-kataku.
"Dia akan terlibat, apapun alasannya."
"K-kau .... "
Marco mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto yang lain. Foto itu adalah saat aku mengantar Ren ke rumahnya. Terlebih lagi, wajah kami terlihat sangat jelas dalam foto itu.
Sebelum aku dapat berbicara, Marco segera menyuarakan pendapatnya.
"Percuma, kau tidak dapat mengelak."
"Tidak, hanya aku."
Aku kehilangan akal sehat dan tanpa sadar berbicara seakan-akan sedang menantang Marco untuk memberitahukan foto itu kepada Ayah.
"Kenapa tidak sekalian saja kau perlihatkan itu kepadanya?"
"Apa kau sangat ingin Ayah melihat ini?"
"Tidak! Kau akan menyesalinya."
Marco menyangkal ucapanku dan berbalik mengancam.
"Justru kau yang akan menyesal nantinya karena foto ini adalah senjata terakhirku untuk menghancurkan segalanya, entah itu hubungan keluarga ini hingga kehidupan anak itu."
"Kenapa?"
Tidak mengerti dengan ucapanku dia hanya mengeluarkan sedikit suara sambil memiringkan kepalanya sedikit.
"Hm?"
"Kenapa kau sangat ingin melibatkan dia?"
"Sudah ku bilang, bukan? Aku tidak akan pernah menyetujui rencana Ayah juga, bukankah aku yang akan membantu rencanamu saat ini?"
__ADS_1
Aku menghiraukan kalimat awalnya dan mempertanyakan apa yang ia katakan diakhir.
"Sejauh mana yang kau tahu?"
"Ren Gill, Netra, kemampuan dua orang melawan satu Pimpinan yang handal dalam seni bela diri juga penggerakkan 'People Power' di seluruh dunia."
Aku terkejut karena dia bisa mengetahui hal tersebut meskipun tanpa diberitahu.
"Darimana kau mendapatkan informasi itu?"
Marco hanya menyebutkan satu nama.
"Lee Jun."
Lee? Kenapa dia mau memberitahukan semua rencana Ren kepada orang ini? Apa mereka membuat sebuah kesepakatan bersama?
Aku mencoba memastikan hal tersebut kepada Marco.
"Kesepakatan apa yang sudah kalian setujui bersama?"
Dengan ringannya, Marco memberitahukan semuanya kepadaku.
"Keamanan kalian berlima, bantuan terhadap seluruh rencana Ren dan ... menggulingkan Ayah."
Aku langsung bertanya setelah mendengar kalimat yang terakhir.
"Kenapa dia ingin melakukan hal tersebut?"
Sayangnya, Marco juga tidak mengetahuinya.
"Aku tidak tahu, dia juga tidak memiliki hubungan khusus terhadap Ayah. Bahkan saat aku menyelidiki latar belakang keluarga Jun, mereka tidak memiliki koneksi apapun terhadap keluarga kita."
Ini benar-benar diluar dugaanku. Aku tidak menyangka Lee akan melakukan hal sejauh itu hingga membuat kesepakatan bersama dengan Marco. Anak itu pasti memiliki banyak informasi yang masih belum kami ketahui dan menyimpan semua itu hanya untuk dirinya sendiri.
Aku menanyakan motif Lee kepada kakakku.
"Menurutmu, kenapa dia sampai ingin berbuat sejauh itu?"
"Kau pernah membaca lembaran akhir jawaban konseling milik Lee?"
Karena tidak mengerti, aku menanyakan hubungannya kepada Lee saat ini.
"Apa hubungannya dengan motifnya saat ini?"
"Di situ tertulis, dia hanya berbuat baik kepada satu orang. Menurutmu, siapa orang itu?"
"Aku tidak tahu."
"Kunci jawaban tentang motif Lee pasti berhubungan dengan orang itu, jadi kau tidak perlu khawatir. Seharusnya kau ikut senang karena kita punya kekuatan tambahan untuk menggulingkan kekuasaan tirani milik Ayah."
Ya, Marco benar. Bukan saatnya untuk memikirkan hal yang tidak akan berpengaruh pada kehidupan semua orang. Sekarang aku hanya perlu fokus pada tujuan utama kami.
Setelah tidak ada lagi hal yang perlu diketahui, kami berpisah di situ juga.
Sebelum Marco pergi, dia masih mengingatkanku tentang sesuatu yang tidak ingin aku dengar sedikitpun darinya.
__ADS_1
"Tentang Ren Gill, pikirkan itu baik-baik."
Tanpa menjawabnya, aku segera meninggalkan tempat tersebut lalu kembali ke ruanganku yang damai.