
Saat malam hari.
Efek samping obat itu akhirnya sudah hilang. Meskipun begitu, panas di tubuhku masih belum menurun. Lee bilang panas itu normal, besoknya suhu tubuhku pasti akan kembali ke keadaan normal.
Walau ucapannya hanya bisa diambil sebesar butiran garam, orang itu tidak akan pernah bercanda menyangkut fungsi hingga efek obat dari yang ia berikan. Namun, dia sudah merahasiakan efek samping obat laknat itu dariku. Dia pasti sudah tahu kalau aku akan menolaknya apabila ia memberitahuku terlebih dahulu tentang efek sampingnya.
Aku mendesah dalam sambil menghangatkan tubuhku di balik selimut. Sayangnya aku tidak bisa berkeringat meskipun sudah merasa panas. Andai saja keringatku bisa keluar, sudah pasti aku akan membutuhkan orang lain untuk mengambilkan segelas air.
"Saat ini, mungkin nasibku sedang sial."
Begitulah pikiranku.
"Bagaimana mereka mengurus yang sudah aku tinggalkan beberapa hari ini? Apa mereka dapat mengurusnya sesuai dengan apa yang aku harapkan?"
Aku mulai bertanya-tanya sendiri karena merasa sedikit khawatir.
"Tidak, tidak. Aku tidak boleh terlalu berlebihan memikirkan itu, sebaiknya fokus pada pemulihan tubuhku saja."
Ya, aku harus selalu tenang dan menjauhi yang namanya depresi. Tidak lupa juga, aku selalu mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh seiyuu favoritku. Siapa lagi kalau bukan dia, Uesaka Sumire.
"Mendengar suaranya benar-benar menenangkan pikiranku."
Ketukan terdengar dari pintu masuk kamarku. Pintu langsung dibuka sebelum mendapatkan izinku. Di balik pintu itu terdapat tamu terakhir yang sangat tidak diharapkan untuk datang kesini, Rena Enkira.
Aku segera melepaskan earphone yang terpasang di telingaku lalu menguburkan diri di dalam selimut, tempat perlindungan terakhirku sebagai umat manusia dari Sang Ratu Iblis.
Dia menghampiriku sambil berkata, "Bibi meminta bantuanku sebentar untuk menjagamu, dia sedang tidak ada di rumah. Katanya, kemungkinan dia akan kembali besok pagi."
"B-begitu ya."
Melihat aku yang seperti ini, Rena bertanya tentang keadaanku.
"Ada apa denganmu?"
Mengingat semua yang sudah terjadi maupun pelajaran yang aku dapatkan, semua itu membuatku merasa terancam dengan sempurna. Bukan hanya mengatakan bahwa bidang datarnya membantuku dengan keras, aku juga sudah berbuat tidak senonoh kepada adiknya. Aku tidak akan mengungkit nama Sophie agar dia tidak curiga.
Kenapa demikian? Karena dari reaksinya saat ini, sepertinya Rena tidak tahu apa yang terjadi saat itu diantara aku dalam keadaan terpengaruh efek samping obat laknat dan Sophie sebagai korbannya.
Aku hanya bisa berharap dia melupakan apa yang terjadi tadi. Meskipun aku dapat menjelaskannya dengan baik dan benar, tidak yakin dia masih bisa berinteraksi kepadaku dengan normal. Setidaknya, nanti aku akan meminta maaf kepada Sophie.
Rena hanya diam sambil mengawasiku sesuai permintaan Ibu.
Aku penasaran kenapa dia mau melakukan hal tersebut dan bertanya kepada Rena.
"Kenapa kau mau melakukan ini?"
Dia langsung menjawabnya.
"Karena kau ketua ekskul, kehadiranmu diperlukan sebagai pemimpin kami. B-bukan berarti aku mengkhawatirkanmu sampai mau seperti ini, hmph!"
__ADS_1
Dia mengakhiri ucapannya sambil mengalihkan pandangan kearah lain.
Baguslah kalau begitu. Berarti, dia benar-benar tidak tahu dengan apa yang terjadi tadi. Akupun memberanikan diri berbicara kepadanya lagi.
"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi di sekolah saat aku tidak ada?"
"Murid laki-laki selain Lee cukup menderita karena melihat Claudi yang selalu mengkhawatirkanmu."
"Heeh ... apa kau tidak mengkhawatirkanku?"
Dia menjawab ucapanku dengan tak sengaja menaikkan suaranya.
"Tentu saja! ... tidak."
"O-oh."
Setelah itu, aku tidak tahu ingin berkata apa.
Rena melanjutkan pembicaraan kami.
"Tentang, Sophie-"
"!!!"
Tubuhku tak sengaja bergerak seperti terkena gelombang kejut yang mematikan.
Khawatir, Rena menanyakan kondisiku.
"Y-ya, aku ba-baik-baik saja!"
Rena terlihat meragukan ucapanku.
"Benarkah?"
"T-tentu saja!"
Dia kembali memasang tampang tak peduli.
Apa yang ingin dia bicarakan tentang Sophie? Apa dia ingin membalas yang tadi? Apa kau sengaja mempermainkan kondisi mentalku saat ini sebagai tanda balas dendammu?
Memikirkan semu itu membuat seluruh bulu tubuhku merinding. Keringatku mulai bercucuran hingga membasahi seluruh tubuh. Melihatku yang berkeringat, Rena keluar seperti sedang mengambil sesuatu.
"Apa dia sudah mempersiapkan alat penyiksa atau mungkin-cambuk?!"
"Tidak, tidak. Itu tidak mungkin, kan?!"
Tidak lama kemudian, dia membawa sebuah ember berisikan air dan handuk kecil.
Aku bertanya untuk apa dia membawa semua itu kesini.
__ADS_1
"Untuk apa kau membawanya kesini?"
"Bukankah sudah jelas?"
"K-kau ingin mencekikku lalu menenggelamkan kepalaku?"
Wajah Rena menjadi datar sama seperti miliknya, dia membalas ucapanku dengan sangat dingin.
"Jika kau ingin mempraktikan cara terbunuhnya Rasputin, dengan senang hati akan kukabulkan."
Rasputinnn!!!
Aku menutup mataku.
"Setidaknya lakukan ini tanpa sakit hingga aku memasuki dunia mimpi agar dapat bertemu dengan seiyuu favoritku, Uesaka Sumire."
Sambil membantuku duduk ia berkata, "Apa yang kau bicarakan?"
Aku hanya diam dan tidak menjawab sedikitpun. Tidak lama setelah itu, aku merasakan sebuah handuk yang menyentuh leherku. Merasa aneh, aku membuka mata dan melihat bagian bawah.
"Ah, ternyata benar-benar ... "
Rata.
" Hm?"
"Tidak bukan apa-apa."
Saat aku menghadap kedepan, wajah kami saling berdekatan satu sama lain. Dua tatapan yang saling bertemu mulai merasa bingung satu sama lain. Kami terdiam dan tak dapat bergerak.
Apaan dengan situasi ini?!!! Bergeraklah, diriku!!! Aku masih ingin hidup dan bertemu dengan Uesaka Sumire!!!
Tidak ada yang bergerak.
Akhirnya, momen ini berakhir setelah seseorang membuka pintu kamarku.
"Ibu pulang!"
Sambil berteriak dengan keras.
Rena segera menjauh dariku, tapi dia terpeleset karena kasurku yang licin dan basah. Akupun menangkap lengannya, namun sialnya aku juga ikut-ikutan jatuh. Untungnya, aku bisa memindahkan posisi jatuh kami agar tidak kebawah kasur.
Naas, posisi kami sangat tidak baik dalam pandangan orang lain. Aku terlihat seperti sedang menerjang dan memegang lengan Rena di atasnya. Sialnya, Ibu juga melihat kejadian ini.
Setelah kejadian ini, Ibu meragukan kesucianku.
❇❇❇
Pesan Author :
__ADS_1
Dengan ini berakhirlah "Arc Tamu", ikuti terus ceritanya ya!
Leo Natta