Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 42 Ren Kembali Hadir Ke Sekolah - 2


__ADS_3

Setelah balas dendamku selesai, kami lanjut berjalan ke kelas 12-A.


"Ren, Kau harus mempersiapkan diri."


"Kenapa?"


"Akan ada kejutan-"


"Berarti, itu adalah death flag bagiku. Maaf saja, akan aku skip."


"Eits, chotto matte kudahh ... saiiii!"


(Eits, tunggu dulu!)


Aku berjalan kearah lain setelah mendengar tanda naiknya death flag. Namun, Lee menghentikanku sambil mengatakan kalimat yang tidak aku pahami. Dia menggendongku di bahunya lalu pergi ke kelas, sialnya aku tidak bisa melawan karena Lee lebih kuat.


Pasrah, hanya itu yang bisa aku lakukan. Seperti barang bawaan siap pinjam, dia membawaku dengan santai tanpa ada beban. Hal itu membuatku kepikiran, seberapa ringannya tubuh ini sampai-sampai dia bisa dengan tenang membawaku tanpa kesulitan.


Jreng! Jreng!


"Welcome back! Ren Gill!!!"


"Selamat datang kembali, Ren!"


"Kau penyelamat kami, Ren!!!"


"Sang penyelamat telah kembali!"


Sesampainya kami di depan kelas, entah kenapa ini malah berubah menjadi pesta penyambutan. Daripada dibilang acara penyambutan kembalinya diriku, ini lebih seperti para domba tersesat yang telah menemukan juru selamat mereka. Saat-saat begini, aku harus mengatakan itu dengan dialek orang Roma.


"Messiah!"


""" "Meeesssiiiiaaahhhhhhh!!!" """


Aku mengucapkannya persis seperti dialek orang Roma tanpa editan dan operasi ganti suara. Dengan bodohnya, mereka juga mengikutiku dan bersorak setelahnya. Saat ini aku merasa seperti orang bodoh yang sedang diarak dan untuk teman sekelasku, mereka sudah seperti pasien rumah sakit jiwa yang baru saja kabur dari kamarnya.


...



Saat penyambutannya selesai, aku bertanya keadaan situasi kelas.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


"Gara-gara kau tidak masuk, Claudi versi kulit baru selalu lesu. Melihatnya lesu, semua murid lelaki di kelas juga ikut-ikutan down."


"Claudi versi kulit baru memang terbaik sebagai wali kelas."


"Tentu saja, Dia kan sumber daya manusia yang sangat berharga dan mudah dimanfaatkan bagi kita."


Lee memperagakan pose "V" sambil tersenyum lebar seperti biasa. Entah kenapa, kupikir cara bicaramu itu cukup melenceng. Apanya yang SDM mudah dimanfaatkan? Kau pikir dia adalah barang bawaan sepertiku ini, hah?! Akan sangat baik kalau aku bisa menghindari Lee pagi ini tapi, nasib buruk sudah mengintaiku lebih cepat.


Dari samping, Rena menyapaku dengan senyum hangatnya.


"Selamat datang kembali."


"Y-ya, maaf untuk yang kemarin."

__ADS_1


"Tidak, tidak. Itu salahku dan kalau bisa, kuharap kau melupakannya sebelum aku memukul kepalamu."


"Bagaimana aku bisa melu-"


"Lupakan."


"Masalahnya-"


"Lupakan."


Percuma saja, aku tidak bisa melupakannya. Bagaimana bisa saat itu pertahananmu terbuka dan juga, itu bukan salah siapapun. Ya, itu cuma kecelakaan.


Aku mencoba menjelaskan itu, namun Rena selalu mengulang kata yang sama beberapa kali. "Lupakan" itulah yang dia bilang dan bagiku, itu sama saja sebagai ancaman. Semakin kami berdebat, senyumnya akan lebih terang dari yang tadi.


Apa Tuhan benar-benar ingin menjahili diriku yang polos ini? Ayolah, jangankan meniduri wanita-ah ... lupakan. Benar, lupakan saja apa yang aku pikirkan barusan.


Bel berbunyi tanda dimulainya jam bimbingan pertama wali kelas.


"Selamat pagi, semuanya."


""" "Selamat pagi!!!" """


Datangnya Claudi dengan senyum yang secerah mentari, seluruh lelaki di kelas menyambutnya dengan semangat yang menggebu-gebu. Melihat teman sekelasku berbuat bodoh seperti ini, membuatku lupa kalau ada janji diantara kami. Dikarenakan aku menggunakan ponselnya saat itu, dia memintaku untuk pergi jalan-jalan bersamanya.


Andai saja beberapa siswa di kelas mengetahui kabar ini, apa yang akan mereka lakukan kepadaku? Ini pasti sangat buruk, dalam skenario terburuk sudah pasti mereka akan memanggangku. Bukan hanya itu, kelas akan berada dalam kekacauan.


"Ren Gill."


Masih tenggelam dalam lautan pemikiranku, aku tidak mempedulikan suara yang mirip dengan memanggil nama calon gigolo profesional yang tampan.


Suara itu semakin jelas, namun aku masih tidak mempedulikannya.


"Jangan abaikan aku."


Plak!


Bagian atas kepalaku dipukul dengan beberapa lapisan kertas yang digulung. Saat aku melihat sumbernya, itu berasal dari seorang gadis yang pastinya tidak akan disangka menghampiriku di saat begini. Dia adalah Wulan, ketua OSIS SMA Atradika.


"Salah orang?"


"Tidak, aku mencarimu."


"Bukankah saat ini jam pelajaran sedang berlangsung?"


"Aku membutuhkanmu."


" """WHAT DE NANIIII?!!!" """


Seluruh siswa di kelas mulai tercengang dengan ucapan Wulan, begitu juga denganku. Kalimat itu dapat memberikan pukulan yang sangat besar pada hati lelaki di kelas, tentunya akan ada kesalahpahaman setelah ini. Sebelum itu terjadi, aku harus membenarkan semua kesalahpahaman terlebih dahulu.


"Ah! Tentang bantuan yang kemarin, benar kan?"


Wulan mengangguk beberapa kali sebagai jawaban dengan ekspresi wajahnya yang datar.


"Claudi, sepertinya aku akan melewatkan jam pertama."


" """D-DIA MEMANGGIL BU CLAUDI HANYA DENGAN NAMANYA SAJAAA!!!" """

__ADS_1


Lagi-lagi, kesalahpahaman pasien-pasien sakit jiwa mulai bertambah. Aku juga sudah lupa karena terlalu sering memanggilnya dengan nama saja, sialnya kelupaan itu membawaku pada nasib buruk. Wulan yang tidak peduli dengan situasi saat ini, menarik lenganku.


"Berarti sudah diputuskan."


Jangan membawaku seperti barang siap pinjam.


"Tidak, tidak bisa begitu."


"Kenapa?"


"Ren itu mi-milikku! Ya, saat jam pelajaranku berlangsung dia harus mengikutinya!"


Kau juga, jangan menambah kesalahpahaman diantara aku dan para pasien sakit jiwa di kelas 12-A.


"Bukankah guru tidak wajib menahan siswanya?"


"Jangan salah, Ferguso. Aku ini wali kelas dan sekarang adalah waktuku untuk membimbing para domba tersesat ini."


""" " Yaaa! Tolong bimbing kami para domba tersesat ini, bu Claudiii!!!" """


"Lihat?"


Claudi tersenyum seakan memenangkan sebuah pertempuran. Jujur saja, aku menjadi kasihan dengan mereka berdua. Dikira mengalah, Wulan masih melanjutkan.


"Kalau begitu, dia akan menghadiri kelasmu setengah jam. Setelah itu, dia harus pergi membantuku."


Sudah kubilang, jangan memperlakukan aku seperti barang siap pinjam!


"Ditolak."


"Jika kau menolak, terpaksa aku harus menggunakan otoritasku sebagai ketua OSIS."


"Houuu ... "


Merasa tidak nyaman, aku mencoba untuk melerai mereka berdua.


"B-bisakah kita-"


"Kau pikir ini salah siapa, hah?!"


Sebelum aku selesai bicara, mereka langsung menyela. Mengerikan, aku langsung menciut dan kembali duduk. Dari sebelahku, Rena mulai melontarkan satu hinaan.


"Ren, kau memang gigolo profesional."


"Terima kasih pujiannya."


"Itu bukan pujian, Idiot! Hmph!"


Setelah mengatakan itu, Rena mengalihkan pandangannya. Orang yang paling bingung di sini adalah aku, kenapa juga aku harus berurusan dengan gadis-gadis yang merepotkan ini. Merasa tidak tahan lagi, aku mengirimkan sebuah pesan ke ponsel Claudi.


[Ren : Setujui setengah jam pelajaran. Jika tidak, kencan kita batal]


Melihat ponselnya bergetar, Claudi menyempatkan diri untuk melihatnya. Wajahnya mulai pucat dan menatapku seakan meminta keringanan. Akhirnya, dengan berat hati dan kelesuan yang luar biasa ia menyetujui saran fifty-fifty milik Wulan.


Setelah ini, aku harus memikirkan bagaimana caranya agar tidak ada kecemburuan mengarah padaku. Dalam situasi terburuk, kelas akan terpecah. Di saat itu, mungkin aku harus mengorbankan Lee sebagai tumbal kambing hitam.


Maaf Lee, anggap saja ini sebagai balasan yang setimpal karena aku masih belum memaafkanmu tentang anuku yang kemarin mati rasa sementara.

__ADS_1


__ADS_2