
Di depan rumah Ren.
Aku mengikuti petunjuk jalan yang diberikan Lee untuk mengantarnya kemari.
Aku mengetuk pintu masuk lalu berkata, "Apa ada orang?"
Tidak lama setelah itu, seorang wanita membuka pintunya.
Dia terkejut dan tidak dapat bicara apa-apa.
Aku segera memintanya membantuku untuk membawa Ren kedalam.
"Sebelum itu, bisakah Anda membantuku terlebih dahulu?"
Tanpa jawaban, wanita itu membantuku membawa Ren ke ruang tamu. Kami merebahkan ia di atas sofa. Setelah urusanku selesai niatnya ingin langsung pergi tapi, wanita itu menahanku.
"T-tunggu sebentar, apa Anda adalah guru di SMA Atradika?" tanya wanita itu.
Aku memperkenalkan diri.
"Ya, perkenalkan namaku Claudi Sarasvati. Aku adalah wali kelasnya Ren sekaligus pembina ekskul yang sedang dia ikuti."
Tidak lupa juga, wanita itu memperkenalkan dirinya setelahku.
"Begitu ya, terima kasih banyak karena sudah membawanya kemari. Ah! Namaku Lina, ibunya Ren."
Setelah itu kami saling berjabat tangan.
Ibu Ren mempersilahkanku untuk duduk.
"Silahkan duduk dulu, aku akan menyiapkan teh untukmu."
Akupun mengikuti keinginannya karena tidak tidak sopan bagiku untuk menolak niat baik dari tuan rumah, begitulah yang diajarkan oleh orang tuaku.
Sambil menunggu Ibu Ren menyiapkan teh, aku memeriksa ponselku.
Terdapat satu pesan masuk dari Lee, isi pesannya cukup membuatku kesal.
"Apa Bu Claudi sudah dipenjara, maaf dan terima kasih untuk selama ini. Salam hangat dari pria yang cukup tampan, Lee Jun."
Hahh?!!! Apa dia sedang mengejekku? Lagipula untuk apa aku masuk ke penjara?
Akupun mulai mengingat kejadian setahun yang lalu, dimana Ren mendapatkan trauma mendalam karenaku.
...
Kembali ke setahun yang lalu.
Saat itu kami menggelar sebuah acara makan bersama untuk anggota ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia yang beranggotakan aku, Lee dan juga Ren. Kami memasak hidangan masing-masing dan setelah selesai dimasak, masing-masing orang akan mencoba seluruh masakan yang dibuat. Aku tidak tahu kenapa, Ren tiba-tiba jatuh terkapar seperti ikan mati setelah mencicipi masakanku.
Lee segera menghampirinya.
"Ren! Kau kenapa?"
Ren mencoba berbicara meskipun dalam keadaan sekarat.
__ADS_1
"Lee, to-tolong bawakan ... aku sebuah cangkir."
"... M-menurut beberapa sumber, de-dengan menggigit cangkir ... ra-racun ditubuhmu akan-"
Sebelum ia menyelesaikan ucapannya, Ren sudah tumbang.
Seperti seorang tentara yang melihat temannya tumbang di medan perang, Lee memberikan kata-kata terbaiknya.
"Terima kasih atas pengorbananmu, Ren."
Aku memukul kepala Lee sambil berteriak, "Bukan waktunya untuk bercanda!"
"Cepat, bawakan aku kotak obat yang ada di ruanganku!"
Mendengar perintahku, Lee segera berlari ke arah ruanganku.
Aku memeriksa detak jantung dan pernafasannya. Semua masih normal dan warna kulit juga tidak mengalami perubahan. Ini hanya seperti serangan mental akibat sesuatu ....
T-tunggu ... apa yang membuatnya sampai bisa menjadi begini?
Tidak lama kemudian, Lee datang membawa sebuah kotak.
Itu-
"Itu bukan kotak obat!" teriakku.
"Bukankah lebih baik untuk mengambilnya sendiri?!"
Aku mendesah lalu pergi meninggalkan mereka untuk mengambil kotak yang benar.
Semenjak hari itu, Ren selalu merasa mual dan tidak tenang ketika aku berbicara tentang makanan maupun hal yang bersifat gore.
[Gore adalah genre film yang berisikan adegan kekerasan maupun saling bunuh antara para tokohnya]
...
(Ren Pov)
Mataku mulai terbuka secara perlahan, akupun mulai mengajukan sebuah pertanyaan yang mungkin akan terdengar konyol.
"Apa aku sudah berada di Surga?"
Wajah seorang wanita mendadak muncul tepat di depanku, ia juga menjawab pertanyaanku yang barusan.
"Ini di rumahmu."
"Rumah?"
"Ya, rumah murid yang bernama Ren Gill."
Memastikan jawabannya, aku melihat benda-benda yang ada di ruangan ini.
Tidak-pasti ini jebakan seorang iblis. Lagipula tidak mungkin ada wanita secantik ini di rumahku, that's impossible!
__ADS_1
Merasa penasaran dengan wanita itu, aku menanyakan identitasnya.
"Siapa kau?"
"Ini aku pembina ekskulmu, Claudi Sarasvati."
Aku segera membantah jawabannya.
"Tidak, tidak, itu tidak mungkin! Maksudku, dia itu selalu terlihat acak-acakkan bahkan aku tidak pernah menganggapnya seperti seorang wanita dewasa!"
Ya, Claudi tidak mungkin sebaik ini!
Dari dapur, Ibu menyapaku.
"Sudah bangun, ya! Ren, jangan lupa berterima kasih kepada bu Claudi karena dia yang membawamu pulang."
Aku menatap wanita yang ada di depanku untuk memastikannya dan Ibu, dia mengangguk beberapa kali.
Sekali lagi, aku menunjuknya dengan jari telunjukku lalu menatap Ibu.
Merasa kesal, Ibu menaikkan suaranya kepadaku.
"Cepat berterima kasih kepadanya!"
Aku segera bersujud di hadapan wanita itu lalu berterima kasih kepadanya.
"Terima kasih banyak, dan siapapun Anda, aku harap Anda tidak berpura-pura menjadi guru yang urak-urakkan itu."
Setelah mengatakan itu, aku memutuskan untuk melihat wajah wanita itu.
Dia tersenyum lebih dari yang tadi.
Sembah dewi yang ada di depanku ini!!!
Dengan lembut ia berkata, "Ren, besok aku akan hadir di kegiatan ekskulmu."
Aku langsung menjawabnya.
"Ya! Dengan senang hati aku akan menyambut kedatanganmu!"
Setelah menyeruput teh buatan Ibu, wanita itu pamit dan pergi meninggalkan rumah.
Siapa dia? Tidak mungkin itu adalah Claudi yang aku kenal, tidak! Itu tidak mungkin!
Jika itu dia, nyawaku akan terancam kembali besok. Mungkin sesekali aku harus protes kepada Tuhan karena sudah memberikanku nasib seperti ini.
Saat makan malam, di depan Ayah, Ibu memarahiku atas kejadian tadi.
__ADS_1