Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 30 Pertama Kalinya Claudi Menginap Di Rumah Ren


__ADS_3

Setelah selesai berbicara dengan Marco, Claudi termenung melihat pesisir pantai yang ada di pinggir jalan.


Angin dingin mulai berhembus semakin kencang dari sebelumnya. Rambutku terus menerus dihempas angin malam yang dingin ini. Dan tak lama setelah menatap ke arah pesisir, ponselku berbunyi tanda ada pesan.


Sebenarnya sekarang aku sangat malas untuk melihatnya, namun aku memaksakan diri mengecek pesan yang masuk ke ponselku.


Terdapat 2 pesan masuk, pengirimnya adalah Marco dan Ren.


Mengabaikan pesan dari Marco, aku membuka pesan dari Ren.


[Ren : Aku sudah melakukan tugasku, kau bisa menanyakan semuanya kepada Rena Enkira]


Begitulah isi pesan tersebut. Padahal aku yang ingin mengajak dia untuk pulang bersama denganku, tapi dia malah memilih bersama Rena. Tidak, itu hanya kebetulan saja.


Mulutku bergumam sendiri.


"Tapi ... jika kenyataannya berkata lain, apa yang harus-tidak!"


Tidak, tidak! Aku ini hanyalah seorang pembina dan wali kelasnya. Tidak mungkin aku-lupakan!


Sekarang, aku sangat kebingungan karena tidak tahu harus pergi kemana. Apalagi uangku ketinggalan di ruang khusus, tidak mungkin aku bisa menyewa penginapan. Bahkan, Perutku juga sudah keroncongan.


Apa aku harus mengikuti saran kakakku?


Tidak! Apa yang aku pikirkan, sih?!!! T-tidak mungkin-


Perutku berbunyi lebih keras dari sebelumnya.


Ugh! Kali ini saja. Kali ini saja aku akan membuang rasa maluku!!!


Aku memanggil nomor Ren dari ponsel.


...


(Ren POV)


Angin malam yang begitu dingin ini mungkin, akan lebih dingin saat malam mulai larut.


Ketika aku ingin pergi tidur, ponselku berbunyi.


Sebuah panggilan dari- Claudi?!!


Sambil mengeluh, aku mengangkat panggilan dari Claudi.


"Ugh, kenapa malam-malam begini memanggilku?"


"R-ren sebenarnya ... itu ... "


Karena tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, aku memberikan sedikit guyonan agar dia lebih santai saat bicara denganku.


"Kau ingin menginap karena tidak bisa pulang ke rumah?"


Suasana sunyi mulai menyelimuti panggilan suara diantara kami.


Merasa bingung, aku bertanya kepada Claudi.

__ADS_1


"Ada yang salah?"


Bukannya menjawab, Claudi malah melontarkan pertanyaan yang tak masuk akal.


"Apa kau seorang ESPER?"


"T-tunggu dulu! J-jadi kau benar-benar ingin menginap?!!!"


Aku sangat terkejut dengan keinginannya yang tiba-tiba.


"Y-ya, begitulah. Bolehkah aku menginap di rumahmu?"


Aku langsung menolaknya.


"Tidak."


Claudi terkejut mendengar jawabanku.


"Eehh?!!! Kenapa?! Ayolah, aku sedang kesusahan!!!"


Dia memohon seperti seorang remaja yang baru saja kabur dari rumah kepadaku tapi, tetap saja aku tidak bisa membantu.


"Tidak, tidak bisa."


"Tapi, aku sudah masuk ke rumahmu."


"Haahhh!!!"


Aku bergegas lari ke ruang tamu dan yang benar saja, aku hanya melihat Ibu yang sedang bersantai di sofa.


"Kau berbohong kepadaku?"


Mendadak dari belakangku, ada seseorang yang menepuk pundakku.


"Tidak, aku sungguhan."


Seperti robot rusak, aku memutar sedikit leherku ke belakang.


Yang benar saja, dia sudah berada di rumahku!


Aku mendesah dalam lalu berkata, "Apa ibuku yang menyetujuinya?"


Claudi hanya mengangguk.


Aku menatap tajam kearah Ibu.


"Ibu, apa itu benar?"


Wajah ibuku terlihat ketakutan sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ibu .... "


Tidak tahan dengan tekanan yang aku berikan, Ibu mengaku dengan cepat.


"Ya, Ibu yang menerimanya. Tolong jangan marah! Bukankah tidak baik membiarkan seorang wanita tidur di luar?" Ibu mengucapkannya dengan sangat cepat.

__ADS_1


Meskipun tidak jelas mendengar apa yang Ibu katakan, aku masih bisa memahami poin utamanya.


Masalah utamanya adalah-


"Dimana dia akan tidur?" tanyaku sambil menunjuk kearah Claudi.


"A-ah, itu ... "


Ah ... ternyata ibuku tidak berpikir dengan panjang.


Mengerti dengan situasinya, aku meminta Claudi untuk tidur di kamarku.


"Kalau begitu, kau bisa tidur di kamarku."


"Apa tidak apa? Bagaimana denganmu?"


Ternyata Claudi juga bisa merasakan khawatir, ya.


"Aku akan tidur di ruang tamu."


"T-tapi ... " Claudi mendekatkan mulutnya ke telingaku lalu berkata, "Aku tidak nyaman tidur di tempat orang lain jika tidak ditemani."


Hahh?!!! Apa kau ingin aku melecehkanmu saat tidur?!!! Tidak! M-maksudku, apa gadis ini ingin melecehkanku saat aku tidur dengan pulas?!


Aku mengalihkan pandanganku kepada Ibu tapi, dia sudah tidak ada!


Ibu! Where are yaaa???!!!


Cih, terpaksa aku harus menerimanya. Sebagai tuan rumah, tamu adalah raja. Begitulah konsep di rumah ini, sampai-sampai menjadi senjata makan tuan untukku.


"Baiklah."


Akupun tidur di bawah, sementara Claudi akan tidur di atas kasurku.


...


Saat aku memejamkan mataku, Claudi membuka pembicaraan diantara kami dengan suara kecil.


"Ren, jika aku dalam masalah ... apa kau akan menolongku?"


Saat mengantuk begini, kenapa kau malah bermain kuis denganku?!!!


Akupun menjawabnya asal-asalan sesuai dengan apa yang bisa dikatakan oleh mulutku.


"Tidak, Claudi adalah wanita yang kuat mana mungkin kau akan membutuhkan bantuan dari orang lemah sepertiku."


"Sudah ku-"


Meskipun hanya mendengar sedikit ucapannya, aku masih melanjutkan kalimatku.


"... Tapi ... jika Claudi memang butuh bantuanku, aku akan membantumu. Jika kau tanya kenapa, tentu saja karena aku harus bertanggung jawab kepada wali kelas maupun pembina kami agar dia tidak merasakan kesulitan sendiri. Mungkin aku tidak bisa menghapus semua kesulitanmu tapi, setidaknya kita bisa membagi kesulitannya sambil melalui hal itu bersama hingga selesai."


Setelah mengatakan itu, kesadaranku secara perlahan mulai hilang.


Selamat malam.

__ADS_1


__ADS_2