
Ren disini.
Hidup itu selalu diakhiri dengan kematian, kenyataan itu membuatku selalu berpikir bahwa manusia diciptakan untuk mati. Beberapa karakter sudah dibunuh oleh penulis cerita ini, jadi jangan terlalu berharap kalau karakter favoritmu akan selalu hidup. Kebetulan aku mendengar rencana jahat keluar dari kepala author cerita ini, harap berhati-hati.
❇❇❇
"Jadi, kenapa makhluk tak dikenal ini kemari?"
Rena bertanya kepada pelayannya sambil menunjuk ke arahku dengan tidak sopan.
"Hey ayolah, aku bukan ALIEN."
"Jin selokan lebih baik diam."
"Maaf, bisa kau ulangi lagi, Nona Rambut Lumut?"
"Ah, jadi kalian berdua sudah akrab ya-"
" "Mustahil!" "
Kami menyela ucapan pelayan itu, namun—
" "Jangan meniruku!" "
Cih, ada apa dengan gadis ini?
Serius, kalau cuma kebetulan sekali tidak apa tapi ... ini sudah kedua kalinya!
Suasana di ruangan mulai terasa sedikit dingin dan sangat menusuk. Meskipun suhu disini masih normal, percayalah ... gadis ini membuatnya sangat dingin. Aku bahkan tidak tahu lagi ingin berkata apa.
Mengingat ini adalah permintaan tolong dari ayahnya, aku harus bersabar karena Darii-tan sangat serius tadi.
❇❇❇
Kembali lagi saat sebelum ibu Ren dan Darius pergi ke urusan mereka.
"Kumohon jadi penjaga Rena saat aku pergi sebentar!"
Darii-tan membungkuk ke arahku dan dari raut wajahnya, keseriusan itu bukan main sampai-sampai membuatku takut.
Ada apa dengan orang ini?
Meskipun aku sering melupakan dia, rasanya tak mungkin orang seperti Darii-tan akan meminta tolong sampai seperti ini. Bahkan menurutku, ini sudah berlebihan dan keluar dari bagaimana karakter Darii-tan digambarkan. Ini sudah seperti ... karakter yang mengalami bug.
Aku mendesah pelan dan berkata, "Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
"Terserah! Asal Ren selalu berada di dekat Rena dan menjaganya itu sudah lebih dari cukup!"
"B-baiklah— lalu bagaimana dengan yang satunya?"
"Hm?"
Mendengar pertanyaanku, Darii-tan mengangkat kepalanya seraya kebingungan.
"Maksudku, Sophie."
Ya, my lovely angel, Sophie!
Itu harus ada, wajib! Tidak boleh dilewatkan! Kesempatan emas jarang ada!
"Ah, dia sedang pergi keluar bersama ibunya."
Sayangnya, jawaban itu bukanlah yang ingin kudengar. Asal tahu saja, menjaga satu singa betina itu adalah hal yang sangat menjengkelkan. Jadi, aku juga perlu sesuatu yang dapat menghibur dan sebagai penyejuk hati.
Tapi, penyejuk hatiku sudah tidak ada di sana.
Dengan berat hati aku menyetujui permintaan Darii-tan.
"Baiklah, cuma menjaga kan?"
"Ya, kalau dia kesulitan tolong bantu juga."
"Dimengerti."
Setelah itu, mereka pamit dan pergi menggunakan mobil pribadi milik Darii-tan.
Dengan begini, "Road to the Hell" akan terjadi pada kehidupanku.
❇❇❇
Kembali ke masa sekarang.
"Aku datang kemari atas permintaan ayahmu, apa itu jelas?"
Dalam kalimat itu, aku menjelaskan semuanya secara singkat. Tanpa disertai keterangan dan menyertakan subjek ayahnya, bukankah sudah terlihat sangat jelas kalau aku kesini juga terpaksa. Jika dia masih belum mengerti, aku rasa baik-baik saja untuk memarahi anak ini.
"Begitukah, tunggu sebentar."
Rena mengambil ponselnya dan mulai menelepon seseorang. Setelah beberapa kali dering, terdengar suara seorang pria yang mengangkat panggilannya. Seperti yang bisa diduga, dia menelepon Darii-tan.
"Kenapa dia?
Eh?
Apa Ayah ingin kami seharian bersama?!"
"Hah?! T-tunggu dul-"
Aku segera bereaksi dengan apa yang diucapkan Rena, namun dia segera menyela.
"Diam! Aku sedang bicara."
"Y-yeah."
Mengerikan! Aku cuma bisa tunduk dalam ketakutan karena tatapan tajamnya yang sangat menusuk.
❇❇❇
"Haaah ... sekarang, apa yang akan kita lakukan?"
Rena sangat lesu setelah memastikan semuanya kepada Darii-tan, dia terdusuk lemas di kursi seberangku.
"B-bagaimana kalau kita membahas tentang topik yang ada di ekskul?"
" ... "
"A-ada yang salah?"
"T-tidak, tidak ada. Aku terkejut kalau ketua kita bisa-bisanya membahas hal ini denganku selama diluar kegiatan ekskul."
"Y-yah ... jujur saja, aku sedikit penasaran dengan bagaimana kau bisa masuk menjadi anggota tanpa sepengetahuan kami."
"Setelah hampir dua minggu kau baru menanyakan ini? Benar-benar ketua yang tak kompeten."
"Yayaya, terima kasih atas pujiannya."
Seperti biasa, lidah yang tak pandang bulu itu selalu mengkritik dan menampar wajahku di titik tersakit.
Tapi, dia ada benarnya juga karena selama dua minggu yang berarti seminggu untuk masa awal dan satunya lagi waktu resmi pelajaran dimulai aku tidak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal se-sepele ini.
Hanya ada kesempatan ini jika aku ingin mengetahui lebih rinci alasannya, adapula ini tentang bisa dipercaya atau tidaknya Rena yang ada di depanku.
Meskipun tidak ada yang menaruh rasa curiga terhadap Rena, bukan berarti kami menerima dia sepenuhnya tanpa memikirkan konsekuensi di masa yang akan datang.
Sama halnya dengan Sophie, dia memang sudah diterima tapi, masih belum bisa dipastikan apa dia benar-benar orang yang murni ingin bergabung dan merahasiakan beberapa fakta tentang ekskul maupun anggota termasuk pembimbingnya? Berbagai spekulasi mulai berdatangan, namun aku tidak punya waktu memikirkan semua itu dan inilah yang terjadi, selain Lee dan Claudi, aku mencurigai semua orang tanpa terkecuali meskipun dia adalah teman sekelas maupun satu ekskul denganku.
Bukannya aku terlalu paranoid atau semacam gejala psikologi lainnya, hanya saja ini adalah kebiasaan yang tak pernah hilang entah kapanpun itu.
Kembali lagi ke topik, aku harus memberikan sedikit dorongan kepada gadis yang ada di depanku ini. Dia bisa saja menjadi duri dalam daging kambing kalau tidak ditindak lanjuti dengan tepat. Bahkan lebih dari itu, bisa saja dia menjadi hambatan terbesar dalam kegiatan kami selanjutnya.
Aku mencoba membujuknya dengan sedikit merubah cara bicara.
"Bisa kau jelaskan?"
"Kenapa juga aku harus memberi tahumu?"
Seperti yang diduga, wajar saja dia curiga karena aku tidak menjelaskan alasannya secara langsung kepadanya tapi menurutku, setelah semua yang kami lalui harusnya dia mengerti seberapa besar tanggung jawab yang diemban oleh anggota ekskul maupun pembina kami.
Aku meringkas semuanya dengan satu kalimat—
"Karena aku ketuanya."
— dia tidak akan bisa membantah maupun berpaling ke topik pembicaraan yang lain.
Aku menatap Rena dengan serius sambil memperhatikan seluruh mimik dari wajah hingga tangannya sejauh mataku bisa memandang.
__ADS_1
Mendengar alasanku, Rena mendesah dan mulai menjelaskan alasan dia bisa bergabung dan ekspresi yang cukup serius sangat terlihat dari wajahnya.
"Bukankah sudah ku jelaskan dari awal kenapa aku bisa bergabung ke organisasi maupun ekskulmu? Mungkin kau sudah melupakannya tapi, aku menjelaskan semua yang diketahui olehku sekali lagi.
Aku dipindahkan ke sekolah dengan syarat harus bergabung menjadi anggota organisasi maupun ekskulmu tapi jangan salah sangka dulu, maksudku ... sejak awal, aku memang ingin bergabung dengan ekskulmu karena ada alasan yang lebih dalam dibandingkan dengan mengikuti syarat pindah sekolah dari seseorang yang tidak aku ketahui-"
Sebelum Rena menyelesaikan penjelasannya, aku segera menyela karena ada fakta yang terdengar cukup aneh.
"Tidak kau ketahui? Apa itu?"
"Sejak awal, aku hanya mengetahui rincian pindah tanpa tahu dimana dan dengan siapa aku harus berurusan untuk doumen hingga perjanjian antara pihak murid dan sekolah.
Semua itu sudah disiapkan hingga disepakati oleh ibuku dan aku hingga saat ini, hanya mengikuti alur tanpa mengetahui apa yang ia rencanakan."
"Hmm ... jadi, ibumu masih hidup?"
"T-tentu saja! Kau tidak tahu kalau pemilik rumah ini bukanlah ayah kandungku?!"
Wajah Rena cukup kesal karena pokok bahasan kami mulai mencakup ruang pribadi yang seharusnya tidak terjamah.
Aku bisa memaklumi ini tapi, khusus sekarang tidak ada yang bisa diabaikan pada kalimatnya.
Maaf saja, aku bukan orang yang ingin mengetahui privasi dari individu lain, hanya saja ini kesempatan yang berharga dan tidak boleh aku sia-siakan entah seberapa kecil informasi yang bisa didapat.
Pertama-tama aku akan meminta maaf dulu kepada dia karena sudah memasuki ranah pribadi dari seorang gadis.
"Maaf karena pembicaraan kita mencapai ruang privasimu tapi, bisa kita lanjutkan?"
"Silahkan, tapi aku peringatkan kali ini saja, jangan terlalu berharap pada informasi yang aku sampaikan."
"Kenapa? Kau ingin bilang kalau ada kebohongan yang terselip di kalimatmu?"
"Sayangnya lebih buruk daripada itu."
"Hm?"
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Kau sedang bercanda?"
"A-aku serius! Ibuku tidak pernah mengajarkanku untuk berbohong, jadi tidak ada gunanya mencoba berbohong dan membuang semua ajaran ibuku."
Usai mengakhiri kalimatnya, Rena terlihat sedikit murung.
".... Dan sifat itu adalah satu-satunya peninggalan Ibu kepadaku."
"M-maaf karena sudah membuatmu mengatakan hal yang tidak kau inginkan."
"Tidak apa, aku sudah terbiasa."
"Terbiasa?"
"Banyak hal yang tidak kau ketahui tentang diriku, masa lalu hingga latar belakang dari gadis yang duduk berhadapan denganmu.
Dulu aku selalu sendiri dan Ibu tidak pernah memperhatikanku sedikitpun, dia juga hanya mengajarkanku cara menjadi manusia yang normal sambil mengikuti prinsip keadilan absolut miliknya."
"Mengerikan."
"Aku cukup setuju pada ucapanmu yang barusan tapi, aku sedikit tidak terima karena kau sudah mengejek ibuku."
"Y-yeah .... "
Sambil tersenyum dengan wajah yang cukup bermasalah, Rena menyandarkan kepalanya pada telapak tangan dan terlihat seperti mengalami migran.
Mencoba mengambil kembali kalimat yang sudah keluar dari mulut tentu saja tidak bisa dilakukan, tapi masih ada cara lain untuk meredakan sedikit rasa sakit kerana tajamnya kalimat yang keluar itu.
Menjadi pendengar yang baik, namun tidak dalam berbicara maupun dalam menanggapi hal yang didengar, begitulah aku.
Jujur dan langsung mengungkapkan pendapat mungkin akan jadi masalah yang rumit apabila kata-kata tajam keluar dari mulut, tapi alangkah baiknya dibiarkan berjalan begitu saja karena cepat atau lambat, suatu saat nanti kata itu akan keluar dari mulut orang lain.
Pada dasarnya, dari yang aku dengar dan pahami sudah jelas kalau ibu Rena memiliki hubungan dengan beberapa kasus lalu.
Tidak mungkin Rena bisa masuk begitu saja tanpa ada faktor dukungan dan sebelum itu, lebih anehnya lagi dia tidak tahu bagaimana proses pemindahan berlangsung hingga saat ini.
Hanya rincian buram seperti nama sekolah dan berbagai macam keperluan saja yang disiapkan, yah ... itu masih bisa diterima.
Namun, orang tua yang mengetahui porsi organisasi maupun ekskul kami— ibu Rena— membuat pihak sekolah mengajukan beberapa persyaratan dan pada akhirnya-
"Siapa nama ibumu?!"
"Aku bilang, siapa nama ibumu?!"
"A-aku tidak tahu."
"Bagaimana bisa kau tidak mengetahuinya??? Apa kau benar-benar anaknya?!"
"K-kasar sekali, dia tidak pernah memberitahuku namanya dan sejak kecil aku selalu memanggil ibuku seperti sekarang."
Meskipun dalam tekanan yang cukup membuatnya sangat terkejut, Rena masih mencoba untuk menjawab pertanyaanku.
Ekspresiku mulai kecewa.
"Cukup disayangkan."
"Kenapa?"
Rena memicingkan matanya.
"Ibumu adalah salah satu petunjuk tentang apa yang sudah terjadi selama belakangan ini."
"T-tunggu dulu, maksudmu ibuku adalah pelaku dari semua kejahatan selama ini?!"
"Bukan begitu, kesimpulanmu hampir mendekati titik yang tepat."
Jika dari sudut pandangku, ibumu adalah orang yang memiliki hubungan erat dengan seseorang yang memiliki kekuasaan lebih dari pihak sekolah."
"Begitukah?"
"Ya begitulah adanya, yang terburuk setelah semua adalah dia bisa saja menjadi-"
"Stop, aku mengerti."
Rena langsung menyelaku.
Dia mulai memikirkan beberapa hal dengan diam, begitu juga denganku.
Dari awal, Rena tidak tahu kalau aku mengenal pihak yang memiliki jabatan tertinggi di sekolah.
Jadi, aku selalu menyamarkannya dan berhati-hati dalam memilih kata agar kesimpulan yang ia miliki tidak menuju ke arah Claudi.
Apabila dia bisa menebak jalur yang mengarah pada Claudi, kemungkinan besar itu akan menjadi bukti bahwa Rena adalah pihak lain yang mencurigakan.
Entah dalam beberapa aspek, dia memang terlihat seperti gadis normal seperti kebanyakan. Namun, semua itu bisa terpatahkan setelah aku mengetahui relasi ibunya maupun tindakan apa yang akan ia ambil nanti. Cuma masalah waktu sampai semuanya akan terbongkar dengan sendiri nanti hingga seluruh dunia tahu, ada beberapa rahasia yang mengengerikan di pulau ini.
Suasana dingin mulai menajalar di seluruh ruangan, kalau terus begini mungkin para pelayan akan merasa kesulitan.
Aku berdeham sekali dan mengalihkan kembali topik pembicaraan kami.
"Bagaimana kalau kita kembali ke topik awal?"
"Huh?"
Masih dalam kondisi bingung, sepertinya Rena tidak menangkap maksud dari ucapanku yang barusan.
"Maksudku, kita kembali pada topik yang berhubung dengan kegiatan ekskul."
"A-ah, ya terserah."
Dia langsung menyetujuinya.
Langkah awal, aku harus mencari topik dulu.
Namun, sebelum aku dapat bicara, Rena sudah memulai duluan membahas topik yang tidak biasa.
"Bagaimana kalau kita membahas tentang Enkidu?"
"Hmmm ... kenapa kau tertarik dengannya?"
"Apa kau cemburu?"
"Serius, jangankan cemburu, menyukai apapun dari dirimu itu sama sekali tidak mungkin bagiku!"
"Pfftt!!!"
Rena tertawa kecil hingga mengeluarkan air mata, selama dia bahagia ya ... ku biarkan saja.
__ADS_1
Kembali lagi ke topik awal.
"Jadi, kenapa kau tertarik pada topik tersebut?"
"Sulit dijelaskan tapi, anggap saja aku sedang mengetes pengetahuanmu."
"Apa hadiah jika aku lulus?"
"Tentu."
"Jangan-jangan!"
"Hm?"
Rena menjadi bingung karena reaksiku yang berlebihan.
Di dalam kepalaku muncul beberapa pertanyaan.
Apa dia memiliki CD album edisi terbatas dari Uesaka Sumire?
B-bukankah dia juga tinggal di tempat yang sama dengan Darii-tan? Pasti dia tahu kan tentang kesukaanku? Kann??!!!
Tidak mungkin!
Pasti ada yang salah!
Ya, tidak mungkin dia tahu kalau aku sangat menginginkan CD tersebut.
Apapun itu, aku sudah menbulatkan tekad untuk lulus tes yang ada di depan mata.
"Jadi, apa tesnya?"
"Jelaskan apa saja yang kau ketahui tentang Enkidu."
"Hanya itu?"
"Ya, hanya itu saja. Apa sangat sulit bagimu?"
"T-tidak, bukan seperti yang kau pikirkan, aku kira kau akan memberikan tes yang sulit."
"Apa ini kurang sulit?"
"Jika kau bertanya seperti itu, jujur saja ini cukup sulit."
"Yah, aku senang kau mengerti."
"Bukan berarti aku mengerti apa yang kau inginkan tapi, topik ini cukup luas jika kau tidak memberikan patokan atau batasan yang memperkecil ruang lingkup pembahasan."
"Kalau begitu, katakan saja apa yang kau ketahui. Setidaknya, pikirkan dulu sebelum kau bicara."
Rena tersenyum hangat sambil menyeruput teh yang ada di meja.
Gadis itu, dia benar-benar meremehkanku!
Serius! Kenapa selalu begini kalau sedang diskusi bersama dia?! Kesalahan apa yang sudah aku perbuat sampai dia terus membully mentalku?!!
Mari berpikir sebentar.
Dia memintaku untuk menjelaskan tentang Enkidu tidak hanya sampai disitu saja, baru saja gadis itu memberikan batas yang seakan-akan meremehkan pengetahuanku.
Tapi, dia juga memberikan sedikit keringanan padaku.
Jika dia ingin menghancurkanku, topik yang akan ia minta pasti lebih detil meliputi waktu, tempat maupun nama-nama tokoh penting yang berhubungan.
Enkidu, tepatnya seorang manusia buatan. Mulai dari jenis kelamin hingga usia tidak diketahui, hanya ada fakta bahwa ia tercipta untuk membunuh Gilgamesh yang masih dikenal sebagai "Raja yang sombong dan ambisium" oleh beberapa orang maupun dewa. Dalam kemampuan bertarung, dia lihai dalam menggunakan senjata tombak dan penurut saat diajarkan berbagai macam taktik tempur oleh Gilgamesh.
Sejarah mencatat ada satu kesalahan fatal yang terjadi diantara mereka berdua, kesalahan itu adalah tentang kedekatan antara kedua insan tersebut.
Detilnya, jika aku mengambil dari kitab yang ada di kamar, hubungan mereka hampir melewati batas persahabatan.
Bukankah sudah kubilang dari awal, mereka saling melengkapi satu sama lain?
Sial, konyol dan cukup mengganggu.
Ada apa dengan perasaan ini?
Kenapa aku menjadi kesal begini?
Bukankah hubungan mereka tidak ada kaitannya dengan masa yang sekarang?
Andai saja itu berkaitan, mungkin saja ada beberapa tulisan dalam kitab tersebut yang akan membawaku ke jalur baru dalam pencarian selama ini.
Meskipun sudah menolaknya beberapa kali, rasa itu masih menggangguku.
Percuma memikirkannya sekarang, lebih baik aku menjawab tes Rena terlebih dahulu.
Aku memanggil Rena untuk menjawab permintaannya.
"Rena."
"Hm?"
"Aku sudah memikirkan jawabannya tapi, apa kau tidak akan keberatan dengan kalimatku?"
"Apa maksudmu?"
Bukannya memberi persetujuan, dia bertanya balik seakan masih belum mencapai maksud dari ucapanku.
Aku mendesah sekali dan melanjutkan pembicaraan kami.
"Kalimat ini cukup singkat, namun mengandung banyak makna yang mungkin akan membuatmu marah jika aku mengatakannya."
"Meskipun dengan jawaban seperti itu, kau masih ingin mengatakannya kepadaku?"
"Ya, tentu saja. Kalau tidak, mungkin saja Enkidu akan protes kepadaku."
"Fuuhh! Y-ya, silahkan."
Rena tertawa kecil karena leluconku yang barusan.
Sebenarnya itu bukan lelucon sih.
Aku melanjutkan ke jawaban yang penting.
"Enkidu adalah orang yang Gilgamesh su- .... "
"Su?"
Rena memiringkan sedikit kepalanya sambil menunggu jawaban.
Sial! Kenapa sulit sekali mengatakannya?! Ada apa dengan mulutku hari ini?!
Meskipun tergagap beberapa kali, aku masih melanjutkan kata yang tadi.
".... Su-su-sukai."
" .... "
Mendengar kata yang terakhir, Rena hanya diam.
Wajah Rena memerah dan matanya mulai berkedip sambil melihat sana sini.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia— Rena— bisa sembuh dari keterkejutan pada jawabanku.
Rena berdiri dan bergegas menarik lenganku.
"Ikuti aku."
"T-tungg-!"
Rena sama sekali tidak mendengarkan ucapanku dan melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
Kami berjalan ke arah sebuah ruangan yang ada di lantai dua rumah Darii-tan.
Ada kemungkinan ini—
Rena membuka pintu ruangan tersebut dan di dalam terdapat berbagai macam barang yang seharusnya ada di kamar milik seorang gadis—
Kamar Rena.
Itulah kesimpulan dari permainan tebak-tebakan sembari dibawa oleh seekor singa betina ke sarangnya.
❇❇❇
Author Note :
__ADS_1
Entah masih ada yang baca cerita ini atau tidak, silahkan dinikmati.