Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 6 Netra : Penertiban OSIS - 2


__ADS_3

Sebelum rapat dimulai.


Di depan seluruh peserta, gadis yang baru saja kami temui mulai memperkenalkan dirinya.


"Perkenalkan, namaku Rena Enkira. Aku baru pindah kesini dengan syarat harus bergabung menjadi anggota organisasi dan lagi ... aku harap kita bisa membentuk hubungan yang baik."


Semua orang terkesan dengan cara perkenalannya.


Sikap, pemilihan kalimat dan juga ... postur tubuh yang mirip dengan seorang bangsawan.


Menyadari kehadiranku, dia menundukkan sedikit kepalanya.


Aku mengangguk sebagai balasan.


Lee mendekatkan mulutnya pada telingaku.


"Ternyata yang namanya kebetulan memang tak pandang bulu. Benarkan, Ren?"


"Ya, kau benar. Kebetulan adalah sesuatu yang sangat mengerikan."


"Lalu, apa rencanamu?"


"Tidak ada."


Lee membenarkan posisinya setelah mendengar jawabanku.


Karena mereka sudah saling berkenalan, kamipun memulai rapatnya.


...


Lee berdiri dari posisinya dan memulai rapat.


"Sekali lagi, aku umumkan rapatnya dimulai. Pertama-tama, aku ucapkan selamat bergabung kepada Sophie dan Rena. jika ada yang tidak kalian mengerti, kalian bisa bertanya kepadaku maupun anggota yang lainnya ... " Lee melihat wajah kami satu per satu lalu berkata, "Topik rapat kita hari ini adalah ... tujuan organisasi dan penertiban rumor OSIS."


Semua orang kecuali aku tercengang karena OSIS masuk dalam daftar penertiban.


Aaron mulai mempertanyakan tentang penertiban tersebut.


"Apa maksudmu OSIS ingin memberontak?" Wajah Aaron terlihat tidak senang dengan hal tersebut.


"Ya, meskipun hanya sekedar dugaanku. Ada baiknya kita melakukan pencegahan sebelum terlambat, apa ada masalah?" Lee tetap tenang menanggapi respons Aaron yang cukup berlebihan.


"T-tidak, hanya saja ... "


Sebelum Aaron menyelesaikan ucapannya, aku menyelanya.


"Kakakmu adalah ketua OSIS, bukan?" Aku menatap matanya dengan dingin.


"T-tidak! Bukan itu masalahnya!" Aaron menyangkal kecurigaanku.


Sayangnya, dia tidak pandai berbohong saat tersudut oleh lawan bicaranya. Aku tahu karena dia merupakan salah satu kandidat yang harus diwaspadai dan juga, aku tidak pernah memberikan kepercayaanku kepadanya. Dia adalah tipe orang yang akan membuang segalanya hanya untuk melindungi satu orang yaitu, kakaknya.


Aku terus menyudutkannya.


"Aku mengerti dengan apa yang kau rasakan saat ini tapi, ketua sudah memutuskan untuk menetapkan mereka sebagai ancaman."


"T-tapi ... "


"Jika kakakmu tidak bersalah, untuk apa kau harus merasa takut? Atau mungkin ... " Aku menatapnya dari atas ke bawah lalu berkata, "Kau sudah tahu tentang kebenaran di balik rumor yang sudah beredar?"


Merasa dipukul dengan keras, Aaron kehabisan tenaga dan tidak menyangkal ucapanku.


Tubuhnya gemetar, namun ia memberanikan diri untuk bicara.


"Kakakku ... dia ... dia tidak bersalah."


Aaron sangat terguncang dengan tindakanku.


Meskipun terdengar kejam, aku harus tetap menyudutkannya hingga akhir. Bisa dibilang, itu adalah salahnya sendiri karena menunjukkan respons yang terlalu berlebihan. Jadi, bukan salahku karena sudah menetapkannya sebagai tersangka hingga akhir.

__ADS_1


Aaron mulai melanjutkan ucapannya.


"Kakakku, dia ... terpaksa melakukannya."


Meskipun dia mau bicara, aku tidak akan meringankan tekanan yang diberikan olehku.


"Kenapa?"


"Karena itu adalah tradisi yang diturunkan."


Meskipun tidak menyeluruh, penjelasan yang ia katakan sudah lebih dari cukup untuk mengetahui titik permasalahannya.


Tradisi yang berarti rencana tersebut sudah ada sejak lama, jauh sebelum kakaknya menjabat sebagai ketua. Generasi sekarang dipaksa untuk melanjutkan keinginan yang lama, layaknya sistem tirani. Aku tahu ini sudah keterlaluan tapi, hal ini bukanlah urusanku.


Aku mengendurkan tekanan yang diberikan kepada Aaron dan akhirnya, ia dapat bernafas dengan lega.


"Aku mengerti, jadi bagaimana menurut kalian?"


Lee menatap seluruh peserta rapat.


Salah satu anggota baru mengangkat tangannya, orang itu adalah Sophie.


Lee mempersilahkannya untuk mengutarakan pendapat maupun saran.


"Silahkan."


Sophie berdiri dari posisinya lalu berkata, "Bukankah lebih baik untuk mebghiraukannya saja? Menurutku, tidak mungkin mereka akan marah karena sudah lulus." Dengan wajah polosnya, Sophie mengutarakan pendapatnya yang cukup bagus.


Tapi, sayangnya mereka tidak bisa melakukan hal tersebut. Maksudku, letak masalah yang sebenarnya ada di titik itu. Agar semua orang tidak membuat kesimpulan dengan cepat, aku meminta Lee untuk bergegas menyangkal pendapatnya.


Memahami niatku, Lee mulai berbicara.


"Pendapat yang bagus tapi, di situlah letak masalahnya. Menurutmu, jika mereka bisa melakukannya, kenapa tidak dilakukan dari dulu?"


"Dimengerti, terima kasih untuk penjelasannya."


Dikira akan berkecil hati karena pendapatnya disanggah, Sophie menerimanya sambil memikirkan hal lain dengan serius.


Seperti yang diharapkan, tidak ada yang dapat memberikan saran lagi.


Lee menatapku dengan penuh harapan.


Aku mendesah dalam lalu berdiri dari posisi dudukku.


"Untuk menanggulangi masalah tersebut, aku sudah menyiapkan beberapa pilihan."


Aaron segera bertanya untuk kelanjutannya.


"Apa itu?"


Wajah Aaron terlihat sangat putus asa sambil berharap keajaiban yang akan datang.


"Hancurkan organisasi OSIS hingga akarnya, dirikan yang baru."


"Bukankah itu jelas tidak mungkin?!!" Aaron terlihat kesal dengan usulanku.


"Lalu, apa kau punya saran yang lebih baik?" Tatapan semua orang mulai mengarah pada Aaron.


"I-itu .... "


Aaron tidak dapat melanjutkan ucapannya.


Tanpa mempedulikan situasinya, aku memotong jeda lama tersebut.


"Berarti sudah semuanya sudah sepakat."


"Tunggu!"


Rena mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Ada apa?" tanyaku.


"Bukankah seharusnya kau menjelaskan rincian tentang rencanamu?"


"Tidak perlu, aku yakin kalian akan memahaminya."


Wajah Rena tampak bermasalah.


"Aku tidak mengerti! Apa maksudmu dengan menghancurkan?! Bukankah ... itu hanya akan membuat struktur organisasi sekolah menjadi kacau?!"


Perempuan ini ... di saat begini, seharusnya kau tahu dimana posisimu!


Aku mencoba untuk menahan amarahku sambil memberikan sedikit penjelasan kepada mereka.


"Hal itu tidak akan menghancurkan struktur organisasi sekolah, aku berani menjaminnya. Ini hanya seperti ... kau hanya butuh untuk menghancurkan rumah yang sudah tua lalu membangunnya lagi dari awal."


Sebelum semua orang sempat merespons penjelasanku, Lee segera berbicara.


"Susulan ini, aku sangat mendukungnya! Jika kalian masih keberatan, aku juga akan menjadi jaminan dalam rencana ini!"


Mira yang sedari tadi hanya mengikuti alur pembicaraan akhirnya bicara.


"Aku juga mendukung rencana ini."


Dengan ini sudah ada tiga suara, setidaknya sisa satu lagi.


Setelah berpikir sejenak, Sophie juga menyetujui rencanaku.


"Aku juga setuju dengan rencana tersebut!"


Meskipun aku sudah menang dalam pemungutan suara, aku mencoba untuk menanyakan keadaan Aaron.


"Bagaimana denganmu, Aaron?"


"Aku ... " Mendadak Aaron bersujud di hadapanku. "Aku setuju! Jadi, kumohon ... tolong jaga kehormatan yang dijunjung tinggi oleh kakakku."


Aku meraih pundaknya lalu berkata, "Dimengerti."


Aku menatap Rena lalu menanyakan pendapatnya.


"Bagaimana menurutmu?"


"Aku ... masih belum bisa menyetujuinya."


Tatapan semua orang mulai tertuju kepadanya.


Gadis ini ... kau terlalu keras kepala!


"Kenapa?"


"Kau terlalu percaya diri, bagaimana jika ada pihak lain yang terlibat?"


Bodoh! Kau sangat bodoh! Berpikirlah terlebih dahulu sebelum mengatakan hal yang bersifat sangat sensitif!


Aku mendesah lalu berkata, "Apa kau bodoh?"


Terkejut dengan ucapanku, dia mulai kehilangan kendali.


"Hah?! Cuma orang bodoh yang menyebut orang lain bodoh! Jadi, kau itu yang bodoh! Dasar bodoh!"


Aku menatapnya dengan kasihan.


Rena menjadi bingung.


"A-apa?"


"Berarti kau memang bodoh."


Setelah mengatakan itu, aku memutuskan untuk meninggalkan ruangan sebelum rapatnya selesai.

__ADS_1


Jika kami terus berdebat, banyak waktu hanya akan terbuang sia-sia. Terlebih lagi, kesabaranku sudah mencapai batasnya. Apabila kesabaranku sudah habis, mungkin aku akan menamparnya secara tidak sengaja.


Jadi, untuk saat ini aku perlu waktu agar dapat menenangkan diri dan hatiku.


__ADS_2