Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 49 Tugas Menjaga - 1


__ADS_3

Kembali sedikit ke beberapa jam yang lalu.


Seorang anak lelaki berambut pirang yang ditata rapi akhirnya dapat pulang ke rumah disertai dengan ekspresi yang sangat bahagia.


"Selamat datang."


"Y-ya."


Melihat Ren yang sudah tiba dari sekolah, ibunya menyapa dengan cara yang agak aneh dari hari-hari biasa.


Ren menatap Lina dengan sedikit mengerutkan dahinya, namun tidak ada apapun yang terjadi diantara mereka.


Penasaran, Ren mulai mencari tahu apa yang akan terjadi nanti.


"Tidak biasanya Ibu menyapaku begini, apa ada sesuatu yang terjadi?"


"Tidak, tidak ada yang perlu Ren khawatirkan. Kebetulan hari ini Ibu ada pertemuan penting dengan beberapa kenalan lama."


"Jadi, bagaimana dengan makan malamnya?"


"Umm ... sepertinya, Ibu akan pulang besok."


"Hah?! Jangan-jangan ... apa Ibu-"


"Bukan! Itu bukan seperti yang Ren pikirkan!!!"


Lina segera menyela Ren yang ingin mengatakan sesuatu.


Merasakan ada yang aneh, sekali lagi Ren menginterogasi Lina.


"Ibu, ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dariku?"


"T-tidak, tidak ada sama sekali!"


"Bersumpahlah atas nama Ayah yang sudah tiada."


"!!!"


Usai mendengar ucapan Ren, wajah Lina menjadi pucat layaknya mayat hidup.


Mendesah, Lina mencoba untuk menjelaskan situasinya.


"Haaah ... aku tidak tahu apa yang Ren bicarakan, namun bukankah tidak baik mengikutsertakan ayahmu yang sudah tiada?"


"Aku tahu tapi, bukankah tidak baik menyembunyikan sesuatu dari anakmu?"

__ADS_1


Saling menyanggah satu sama lain bagaikan kutub magnet yang berbeda, ibu dan anak ini sama sekali tidak ingin mengalah satu sama lain.


Menyampingkan masalah ayah Ren yang sebenarnya sudah ia ketahui kondisinya, hal yang paling dititikberatkan Ren kepada ibunya adalah sesuatu yang ia sembunyikan.


Lina yang sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi kepada anaknya, mencoba untuk memimikirkan sesuatu yang lain sebagai alasan.


"Jangan membuat alasan lain seakan aku langsung percaya semuanya."


"Uhh .... "


Mengetahui tingkah laku ibunya, Ren segera menyudutkan Lina.


"Sebaiknya Ibu berkata jujur kepadaku, serius ini bukannya aku mencoba untuk membatasi pergerakanmu hanya saja ... aku mengkhawatirkanmu."


"Hmm~ Ren sudah dewasa rupanya~"


Bukannya menjawab kegelisahan anaknya, Lina malah memujinya dan mengalihkan topik.


"Jadi, apa yang Ibu rencanakan?"


"Jika aku memberi tahu Ren, apa Ren akan menuruti satu permintaan tolong dari kami?"


"Tergantung, jika permintaannya diluar batasan, tentu saja aku akan menolaknya."


"Baiklah~ dengan ini Ibu akan mempercayakan semuanya pada Ren."


"Ara ara~ tenanglah, permintaan ini sesuai batasan yang bisa Ren lakukan."


"Aku mengerti."


Merasa negosiasi sudah berhasil, Ren mengendurkan sedikit suasana tegang diantara mereka.


Berjalan dengan santai, ia duduk di atas sofa empuk yang ada pada ruang tamu.


Menutup mata dan menunggu penjelasan dari Lina.


Terlihat kurang ajar tapi, tidak ada sesuatu yang buruk dalam sikapnya. Wajar saja bagi Ren yang sudah kelelahan setelah pulang berjalan kaki untuk duduk tanpa mempedulikan situasinya. Dengan tatapan penuh kasih, Lina melihat anaknya seakan mirip dengan seseorang yang sudah lama tinggal bersamanya.


Lina memulai penjelasannya sambil berhati-hati memilih kata agar Ren tidak khawatir maupun salah paham.


"Hari ini Ibu akan pergi sebentar bersama Darius, tetangga kita.


Seperti biasa, kami memiliki suatu bisnis yang harus dikerjakan dan Ren juga sudah terbiasa kan dengan keadaan ini?


Eh? Kenapa Ren menatap Ibu seperti itu?

__ADS_1


Tidak, tidak. Ini bukan masalah yang serius, hanya saja kami harus menyelesaikannya secepat mungkin agar tidak menumpuk dan menimbulkan beban pikiran bagi masing-masing pihak.


Hmm~ kenalan yang Ibu maksud adalah saudariku. Banyak hal yang terjadi beberapa tahun belakangan ini-"


"Ya, aku mengerti. Silahkan saja pergi tapi, tolong jangan menyusahkan Darii-tan seperti yang dulu-dulu. Ibu juga tahu kan, Darii-tan sudah memiliki seorang istri."


"Eh?"


"Ada apa?"


"Bukankah terlalu cepat menyetujuinya?"


"Jika itu Darii-tan, kurasa dia bisa dipercaya."


Lina merasa bingung dengan respons yang diberikan Ren.


Meskipun tahu bahwa ibunya akan pergi bersama suami orang lain karena urusan penting, dia masih bisa santai dan tidak berpikiran macam-macam tentangnya.


Banyak hal yang sudah terjadi antara Ren dan Darius, jadi wajar saja ia mempercainya.


Ini bukan hanya sekedar kepercayaan antara lelaki, ini sudah seperti ayah dan anak yang saling mengerti.


Bukan berarti Lina salah paham dengan hal tersebut, kadang dia harus mempertegas bahwa Darius dan dirinya tidak ada hal lain selain bisnis diantara mereka kepada Ren.


Beberapa kali mereka sudah saling tegur sapa, namun sayangnya Ren memiliki komplikasi yang rumit dan membuat Darius sedikit kesusahan agar ia bisa mengingatnya.


Karena interaksi mereka yang sering, muncullah persahabatan yang cukup kuat. Bukan bagaikan ayah dan anak tapi, sesama otaku. Berkat Darius lah, Ren selalu menyukai seseorang bernama Uesaka Sumire.


Beberapa kali Lina merasa cemburu karena sikap Ren yang mengidolakan seorang wanita atau mungkin seiyuu? Dengan cara yang cukup berlebihan tapi, dia masih bertahan secara batin agar terus bersabar.


Tanpa berkata lagi, Ren hanya diam sambil menutup mata.


"Sebentar lagi Darius akan datang, Ren harus mendengarkan permintaan tolong dari dia dengan baik."


"D-darii-tan akan datang?"


"Y-yeah, ada masalah?"


"A-aku lupa dimana meletakkan sebuah rekaman konser yang aku pinjam dari dia dan juga, aahh!"


Sebelum Ren selesai, Lina menarik telinganya dengan keras.


Meskipun terlihat kasar, bentuk kecemburuan seorang ibu terlihat di wajah Lina yang memerah karena kesal.


"M-maafkan aku! A-aku akan segera mencarinyaaa!!!"

__ADS_1


Meskipun Ren sudah berteriak dengan sungguh-sungguh, suaranya tidak bisa mencapai hati Lina. Wajar saja karena Lina bukan marah disebabkan hal itu. Dia marah karena anaknya yang ia sayangi, lebih memikirkan wanita lain dari Lina.


Jeweran yang sangat menyakitkan itu berlangsung lama hingga telinga Ren berwarna merah.


__ADS_2