
Aku, Lina Jun, saat ini sedang dalam perjalanan menuju ke sebuah tempat terpencil bersama dengan pelayan setia kami, Darius. Mobil pribadi yang seharusnya atas namaku, sekarang sudah diatas namakan kepada Darius untuk jaga-jaga agar tidak ada orang jahat yang tahu siapa identitasku sebenarnya. Bersamaan dengan itu, properti hingga kekayaanku, aku serahkan kepada Darius untuk mempermudah pekerjaannya dan menambah peluang dalam mengelabui musuh yang tak terlihat.
Sekarang, mobil yang disetir oleh Darius melaju sesuai dengan batas kecepatan yang sudah ditentukan. Meskipun kami bisa saja melanggar peraturan tersebut, ada baiknya untuk tidak cari masalah dengan aparat hukum manapun. Di sisi lain, posisi kami sudah berganti dari tetangga menjadi pelayan dan tuannya.
"By the way, Nyonya ... kenapa Anda membiarkan mereka berbuat sesuka hati?"
Darius yang sedari tadi fokus berkendara mulai membuka pembicaraan diantara kami.
"Karena kami bersaudara, mungkin."
"Menurutku ada alasan lain, bukan? Tidak mungkin Nyonya yang dikenal sebagai "Otak dari tiga bersaudari" melalui semua ini tanpa ada persiapan."
"Pandanganmu terhadapku itu sangat berlebihan, Darii. Terlebih lagi, semua bidak petinggi sudah terkumpul, namun pion milik kita juga semakin berkurang. Entah apa yang mereka pikirkan, aku sudah muak dengan semua ini sampai-sampai ingin rasanya ku ledakan nuklir ke arah mereka secara langsung."
"A-anda terlalu berlebihan, Nyonya."
"Begitukah? Padahal mereka tidak bisa mati, itu juga kalau otaknya masih utuh."
"Ny-nyonya, sisi gelap Anda membuatku sedikit takut."
Darius mengingatkan kalau aku sudah kelewat batas karena berbeda dari karakterku yang sebelumnya, ini sudah bagaikan air berubah jadi minyak.
"Apa Darii ingin mengingatkanku tentang menjadi seorang ibu yang baik?"
Aku mencoba untuk mengintimidasi Darius.
"T-tidak bu-bukan begitu, Nyonya! Hanya saja, sudah lama rasanya tidak melihat sisi Anda yang satu ini." Suara Darius seakan bernostalgia.
Sudah lama ya.
Rasanya waktu sudah berlalu begitu cepat hingga akhirnya aku juga tidak sadar kalau apa yang disebut lama itu, benar-benar merupakan perjalanan yang panjang. Bagi manusia sepertiku, waktu yang hanya beberapa puluh tahun saja masih belum cukup untuk dikatakan lama, apalagi kalau beberapa tahun. Bukannya aku ingin sombong tapi, kami adalah manusia yang spesial.
"Bukankah baru beberapa tahun yang lalu? Kalau tidak salah, itu saat aku mencari tahu siapa yang sudah mencoba untuk membunuh anakku dan juga hmmm ... ah, saat aku menyapu bersih para sampah itu."
Darius mendesah lalu berkata, "Sebaiknya Nyonya tidak mengatakan itu tepat di depan tuan Ren, takutnya dia akan terjangkit sikapmu yang tak kenal kata sadis."
"Eeh? Serius?! Bukannya tadi aku mengatakannya dengan cara yang biasa-biasa aja?!!!" Tanpa sengaja aku menaikkan suaraku.
"Apa perlu aku memutar rekaman yang baru saja Anda katakan?"
"Darii memang Iblis."
"Tolong sadar diri dan jangan mengatakan orang lain itu Iblis jika Anda masih belum sadar diri!" Darius tiba-tiba histeris.
"Darii, terima kasih atas kesetiaanmu."
Aku menatap ke arah luar di balik cermin kaca.
"Nyonya .... " Darius tak bisa berkata apa-apa dan memilih untuk berdiam diri.
Selama perjalanan yang membosankan ini, aku harus fokus pada tujuan kami yang sebenarnya. Pertemuan antara para saudari, itulah yang akan terjadi secara normal di mata orang lain. Namun, sebenarnya pertemuan ini lebih dari itu dan jika ada sedikit kesalahan, kemungkinan besar Ren akan terancam dalam bahaya.
Kami adalah tiga dewi bersaudari, begitulah yang dikenal oleh kebanyakan orang. Bukan sedarah, namun dari sejarah yang panjang kami semua terhubung dengan erat dan sangat dekat. Dengan penampilan berbeda namun memiliki satu kesamaan, itulah kami.
Nama dua orang sisanya adalah Lena dan Luna. Masing-masing dari mereka punya kelebihan dan kekurangan yang berbeda, termasuk diriku sendiri. Jadi, bisa dibilang kalau kami bertiga saling melengkapi satu sama lain.
Merasa kantuk yang semakin meningkat, aku terlelap sementara hingga akhirnya kami sampai di tujuan.
❇❇❇
Di depan kami, sebuah bar tua bernama "DuuNyanNyan" dan beberapa orang yang terlihat sangat pro dalam penyambutan tamu VIP sudah menunggu.
Mengesampingkan tampilannya—
"Apa mereka sedang mempermainkan kita?"
— aku menunjuk ke arah mereka dengan ekspresi yang tidak senang.
"T-tidak, Nyonya. Tempat ini dipilih sendiri oleh-"
Sebelum Darius selesai bicara, aku segera menyela.
"Lena?"
Darius hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Begitu ya, selain mengasingkan diri sendiri, dia juga sudah benar-benar tidak ingin berhubungan dengan dunia luar lagi huh." Aku menambahkan sedikit nada kesal pada intonasiku saat membicarakan tentang wanita itu.
"Seperti yang Anda katakan, Ny. Lena bertindak seadil mungkin dengan menyerahkan Rena kepadaku."
"Lalu?"
" .... "
Darius hanya terdiam seakan tak mengerti dengan apa yang ingin aku ketahui.
Aku Memperjelasnya sedikit dengan menyebutkan nama satu orang yang tersisa.
"Luna."
"Nyonya Luna, dia ... sudah tiada." Darius merendahkan suaranya.
"Begitukah, sangat disayangkan."
Tidak ku sangka Luna akan memilih untuk dihilangkan atau mungkin, apa dia memalsukan informasi tentang dirinya?
Setelah dipikir-pikir, Darius adalah pelayan kami bertiga, namun kami sepakat kalau dia harus memprioritaskan dalam mengikuti rencanaku dan menjaga Ren saat berada di rumah. Namun, tak menutup kemungkinan Luna juga meminta Darius untuk mengatakan bahwa ia sudah tiada kepadaku. Lagipula, Darius harus bersikap adil dan menuruti setiap perintah dari kami, dalam artian perintah kami adalah mutlak baginya.
Untuk sekarang, aku akan membiarkan hal ini dulu sampai kami bertemu dan saling mencari informasi satu sama lain.
"Ayo kesana."
"Baik, Nyonya."
Aku berjalan lurus ke depan dan Darius mengikuti dari belakang.
Saat aku melewati orang-orang yang ada di halaman, mereka membungkuk tanpa suara.
"Jadi, mereka sudah terlatih huh."
Aku bergumam dengan suara kecil yang hanya bisa didengar oleh diriku sendiri.
Melewati pintu masuk, tepat di depan mataku, seseorang yang sudah sangat aku kenal menunggu kami.
"Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri." Dia memberikan isyarat untuk mendatanginya tanpa sungkan.
Aku langsung menghampiri wanita itu tanpa menurunkan kewaspadaan dan antisipasi dari berbagai macam kejadian buruk yang akan datang melalui dirinya.
Setelah duduk pada tempat yang sudah disediakan, aku menajamkan tatapanku kepada wanita itu dan berkata, "Dimana Lena?"
Dia hanya tersenyum ke arahku.
Sekali lagi aku menanyakan hal yang sama.
__ADS_1
"Dimana wanita itu?"
Tidak menjawab sama sekali, wanita itu hanya memejamkan kelopak matanya tanpa suara.
Dari samping ada suara lain datang ke telingaku, "Sepertinya Kak Lina masih—ghuukk!!!"
Menyadari sumber suara itu, aku bergegas mencekik leher wanita itu tanpa melihat ke arahnya secara langsung.
Melihat situasi ini, Darius berlari ke arah kami sambil mencoba untuk melerai disertai dengan perasaan takut terhadapku.
"Nyo-nyonya Lina, bu-bukankah ini sudah berlebihan?" Darius kesulitan untuk berbicara karena terintimidasi oleh tatapanku.
"D-dia benar Kakak! Ce-cepat lepask—ghaaakkk!!!"
"Ternyata cengkramanku masih kurang bertenaga huh."
Sambil bergumam, aku menambahkan beberapa kekuatan pada cengkramanku di leher wanita itu.
Selang beberapa saat, gadis yang tadi diam sudah hilang dari jarak pandangku.
"Lepaskan Ny. Lena."
Suara dingin itu berasal dari punggungku.
Saat aku melirik sedikit ke bagian leherku, di sana sudah ada sebuah jarum yang mengarah secara langsung.
Mendesah, aku melepaskan cengkramanku dan berkata, "Jadi, kenapa kau melakukannya hingga sejauh ini?"
"Ugghhh ... i-itu gara-gara Luna yang mengirimkan pesan disertai bom waktu kepadaku sebelumnya."
Wanita itu— Lena— menjawab pertanyaanku dengan suara yang cukup lemah sambil memberikan isyarat kepada wanita yang ada di belakangku untuk menghentikan tindakannya.
Melihat tuannya memberikan isyarat untuk berhenti, wanita itu mematuhinya tanpa protes.
Sementara itu, Darius yang mencoba untuk melerai kami sudah kembali ke posisi semula.
"Jadi, Luna sama sekali tidak berubah huh."
"Tepat sekali! Dia selalu menyertai kematian saat melakukan sesuatu! Aku benar-benar membenci sifatnya yang gila itu, serius!" Lena menyuarakan komplainnya seperti anak kecil yang belum mencapai masa puber.
Melihat sikapnya aku mendesah lalu berkata, "Luna masih hidup, benar kan?"
Mendengar pertanyaanku, Lena menggerakkan tubuhnya seakan sedang berpikir.
Mungkin orang lain akan melihat kalau dia sedang berpikir untuk berbohong, namun jika kau mengenalnya sudah pasti itu bukanlah yang ia maksud. Lena bergerak seperti itu hanya untuk mengetes orang yang ingin mencari informasi kepadanya dan tentu saja dikarenakan sifat wanita ini menjunjung tinggi keadilan, dia harus bersikap adil dalam memilih hingga bertindak di depan semua orang. Memikirkan tentang sifatnya, aku hanya bisa menunggu sambil tidak menunjukkan sebuah kekeliruan yang akan berujung pada kegagalan dalam pertukaran informasi diantara kami bertiga.
Selesai berpikir, Lena menjawab pertanyaanku.
"Ya, Luna masih hidup dalam keadaan sehat wal'afiat."
Maaf, jujur saja aku ingin mencekiknya sekali lagi.
Kau tahu, aku paling benci dengan orang yang saat kita sedang bicara serius, dia malah menambahkan sedikit lelucon di dalam pembicaraan kami.
Tapi, aku harus sabar, anggap saja dia itu monyet yang sedang bicara.
Ya, dia itu MONYET!
Aku mendesah lalu berkata, "Apa rencana Luna ke depannya?"
"Hmm ... bukankah Kak Lina terlalu serius? Setidaknya, cobalah sedikit berbasa-basi sebelum Kakak menuju ke topik utama kita."
Haaah ... sabar, monyet ini hanya mengetes kesabaranku saja.
"Ping pong! Ping pong! Bingo! Kak Lina memang peka terhadap sesuatu yang beginian, hehehe .... "
"Jadi, apa itu?"
Lena membisikkan kalimat yang sangat aneh di dekat telingaku.
"Dewa baru yang akan dikenal seluruh dunia."
Dewa baru huh.
Jangan terkecoh dengan kata "Dewa baru", selain itu pasti ada petunjuk dari kata tersebut yang akan membawaku ke fakta menarik dan mungkin saja hal itu terhubung dengan semua ini.
Memikirkan dari cara penyampaiannya, Lena cukup serius meskipun terlihat sebaliknya.
Namun, ada hal lain yang lebih menggangguku dibandingkan kata tersebut.
"Bisakah kita mulai dari 'akan dikenal' terlebih dahulu?"
Wajah Lena cukup terkejut seakan apa yang ia sembunyikan dengan cukup baik telah aku bongkar dengan mudahnya.
Lena berdeham beberapa kali lalu berkata, "Bukankah semua ini sudah terhubung? 'Para Bidak Atasan' sudah terkumpul dan pion dipihak kita mulai hilang satu persatu terlebih lagi, dia masih belum terbangun dari tidurnya yang nyenyak bukan?"
Lena membalikkan keadaan kami dan mulai menginterogasiku.
"Dia tidak akan terbangun seperti sedia kala, semua sudah berakhir dan kegelapan yang ada di masa lalu .... "
Kebingungan, perlahan suaraku mulai hilang.
Membaca situasi psikologisku, Lena tersenyum dan berkata, "Maaf jika aku menyinggungmu tapi, apa yang Kakak harapkan darinya? Padahal semua ini sudah berakhir, kan?"
"Tidak ada, aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku."
Aku langsung menjawab pertanyaan Lina tanpa ragu sedikitpun, namun ia juga segera menjawab ucapanku dengan cepat.
"Itu dia! Bukankah dia errmm ... Ren? Atau mungkin Chris kecil? Arrghh ... mereka itu orang yang sama jadi, apa sebaiknya ku panggil Gilga-"
"Cukup, lanjutkan saja apa yang ingin kau ucapkan."
Aku langsung menyela dan mendesak Lena untuk melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
"Isshh, tidak sabaran sekali! Baiklah, baiklah ... apa dia belum mengalami fase 'Demensia'?"
"Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi."
"Bukankah dia itu bukan anak Kakak dan Chris, melainkan hanya manusia buatan sukses nomor dua setelah pria itu?!"
"Itu bukanlah kesuksesan, melainkan kegagalan yang aku buat sendiri."
"Eeehh?! Apa maksudmu, Kak Lina?!!!" Lena tak dapat menyembunyikan keterkejutannya.
"Saat itu, tepat setelah kami berhasil menghadapi krisis global— dikarenakan keluarga Han— dan tubuh Chris sudah mencapai batasnya, kami memutuskan untuk melanjutkan keturunan dalam artian membuat yang baru lagi tapi dengan satu tujuan ... " Aku memandang dekorasi bangunan yang ada di sampingku lalu kembali menatap langsung ke arah Lena dan berkata, "Kami tidak membuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhan keluarga Han, melainkan seorang anak yang tak berdosa dan bisa dikatakan sebagai keturunan kami berdua."
Aku mengakhiri penjelasanku dengan sedikit rasa malu.
Wa-wajar saja kan? Benar kann???
T-tidak mungkin bagiku dengan tidak tahu malunya, aku mengumbar privasiku kepada orang lain selain diri sendiri.
Setelah mengetahui kebenarannya, Lena mengangguk beberapa kali sambil berkata, "Begitu ya, berarti informasi yang diberikan Luna memang benar."
__ADS_1
Akhirnya dia mau sedikit menyindir tentang Luna.
Tidak ingin membuang kesempatan yang berharga aku langsung menyambarnya.
"Jadi, apa saja informasi yang Luna berikan kepadamu?"
Lena menempatkan lengannya ke dagu sambil berkata, "Ada beberapa seperti kejadian tentang masa lalu kita dan kekacauan yang akan datang nantinya."
"Kekacauan?"
Tanpa sengaja mulutku langsung bertanya akan hal itu.
"Bukankah sudah ku bilang sebelumnya? 'Para Bidak Atasan' sudah terkumpul semua, tidak menutup kemungkinan akan terjadi beberapa kekacauan yang berasal dari keluarga Han atau mungkin, apa aku harus menyebut mereka kumpulan 'manusia buatan' yang dungu?"
"Jadi, keluarga Han sudah tidak sabar menyambut Dewa mereka yang baru huh."
"Tepat sekali! Apalagi setelah kita berhasil dalam menggagalkan rencana mereka. Yahhh ... Kakak tahu, tidak terpikir olehku kalau manusia buatan memang bisa berpikir dan memiliki perasaan tersendiri." Lena tersenyum lebar seperti orang bodoh yang baru saja mengerti rumus perkalian.
"Jangan berkata begitu, bukankah kita juga sama seperti mereka?" Aku sedikit merasa terganggu dengan pernyataan yang dikatakan Lena barusan.
"Tidak tidak Kak Lina salah, kita ini lebih baik dari mereka, bukankah kita adalah yang terbaik dari sekian banyak rongsokan?" Lena tampak sangat percaya diri mengatakan hal tersebut.
Aku mendesah lalu berkata, "Simpulkan saja sesukamu, aku tidak akan peduli."
"Ya, seperti yang Kak Lina katakan~"
Seperti sikapnya, Lena itu terlalu jujur— bahkan, dia itu selalu berkata jujur tanpa ada kebohongan yang terselip dalam setiap kalimat yang ia ucapkan—dan suka blak-blakan dalam berbicara. Jika ada tipe anjing dan kucing, aku yakin dia ini pasti tipe anjing. Berkata dulu sebelum memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan, Lena sekali.
❇❇❇
Banyak menit yang sudah berlalu, namun aku masih belum bisa menemukan titik terang dari semua ini.
Terkadang aku melihat sekeliling bangunan ini seakan merasa ada yang aneh, rasanya seperti ada yang ganjil tapi disembunyikan secara sempurna oleh Lena.
Selain itu, bangunan yang memiliki dua lantai ini ternyata cukup kuat.
Berdasarkan penjelasan Lena, bangunan ini dengan mudahnya bisa menahan ledakan bom dari dalam. Tidak sampai disitu saja, wanita itu— orang yang menyambut kami pertama kali sebelum Lena muncul— masih setia kepadanya. Secara keseluruhan kekuatan fraksi Lena benar-benar tak tergoyahkan dan sementara di sisiku, aku punya beberapa rahasia yang masih tertutup rapat dan tidak akan dengan mudah dicari tahu oleh orang lain.
Yah, meskipun sebenarnya sudah aku beri tahu ke Lena agar dia mau tutup mulut.
Saat ini, kami sedang duduk berseberangan dan saling menatap satu sama lain. Mencari kelemahan dalam informasi melalui psikologis, itulah yang sedang terjadi saat ini. Sayangnya, aku sudah ahli dalam mengganti ekspresi dan bentuk wajah secara alami, jadi tidak ada yang bisa Lena harapkan dari proses seperti ini jika lawan bicaranya adalah aku.
Lena mendesah seakan bosan lalu berkata, "Kenapa Kak Lina biasa saja dengan dua anak itu?"
Dia— Lena— tersenyum sambil memainkan sebuah jarum di tangannya.
"Mereka cuma anak-anak, apa juga yang harus dikhawatirkan, tapi ... " Aku melirik ke tangan Lena sambil berkata, "Jujur saja, aku lebih khawatir terhadap nasib mereka."
Mendengar jawabanku, Lena sempat menahan nafasnya dalam beberapa detik lalu tersenyum kecil dan berkata, "Fufufu ... Kak Lina ternyata orang yang baik."
"Apa kau mencoba sarkastik padaku?"
"Tidak, tidak! Aku serius! Terlebih lagi, kenapa Kak Lina berharap mereka semua menjalin hubungan satu sama lain?"
Wanita itu, seberapa banyak yang dia tahu ....
Memang benar aku menginginkan hal tersebut, namun aku juga tidak memaksakan kehendak pribadi kepada mereka. Bisa dibilang, mereka bebas menentukan hubungan diantara mereka dan aku tidak ingin anak-anak terpaksa menerima sesuatu yang secara pribadi tidak mereka inginkan. Hanya karena mereka adalah manusia buatan, mereka tidak wajib mengikuti tradisi lama kami dan harus menanggung beban yang ditinggalkan pada masa lalu keluarga Han.
Meskipun sebagai manusia aku tidak bisa melakukan reproduksi dan jelas secara kenyataannya, aku juga tidak melahirkan Ren dari organ tubuhku, aku masih menganggap bahwa dia adalah anakku tak peduli apapun yang orang lain katakan tentang hal tersebut. Tidak seperti "Ibu" yang dikenal kebanyakan orang, meskipun tak terikat darah maupun daging, kami tetap akan menjadi keluarga karena sikap dan ajaran yang aku berikan sudah melekat pada anakku. Seperti kata orang, kau tidak perlu melahirkan seorang anak untuk dipanggil "Ibu", begitu juga situasi yang aku hadapi saat ini.
Mengesampingkan semua itu, aku melirik ke arah Darius yang berdiri tegak tidak jauh dari kami.
Lena yang menyadari poin tatapanku berkata, "Itu benar, bukankah anakmu juga adalah anakku?"
"Menjijikan." Aku langsung membalas ucapannya dengan dingin.
"Kakak selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dan selalu mengungguli kami semua tanpa harus berusaha keras, jadi tidak apa kan sesekali aku merasa lebih unggul darimu?"
"Lakukan saja sesukamu asalkan tidak berhubungan dengan keselamatan Ren."
"Ah iya! Sehubungan dengan itu, 'Demensia' milik Rena mungkin akan terpicu karena ditinggal berdua saja dengan Ren." Tanpa sengaja Lena menaikkan suaranya sambil merasa kebahagiaan yang tak terbatas.
Demensia milik Rena, huh.
Aku tidak pernah berpikir kalau mereka berhasil membuat yang sempurna di waktu sesingkat itu, namun ada banyak hal yang perlu aku pastikan kepada Lena.
"Jadi, siapa identitas Rena yang sebenarnya?"
"Mau tau, apa ... mau tau bang— ahhrrrkkk!"
Aku mencekiknya lagi karena kesabaranku sudah diambang batas.
"A-aku mengerti! T-tolong lepaskan aku-fwahhh!"
Aku melepaskan Lena dan berkata, "Apa kau membuatnya persis seperti dirimu sendiri?"
"Benar, uhukk-uhuukk! ... bisa dibilang, kalau dia adalah ... haaah ... darah dagingku dengan sedikit ... huffft ... proses yang cukup merepotkan."
Mendengar Lena mengatakan itu, membuatku ingin memukulnya beberapa kali karena secara tidak langsung ia sudah mengatai anaknya sendiri sebagai hal yang merepotkan.
Jadi, wajar saja bukan kalau perasaan seorang ibu yang ada pada diriku mulai marah? Benarkan?
Kembali ke topik, Lena melanjutkan penjelasannya.
"Proses awal hanya seperti biasa yaitu mengambil sampel darahku dan yang terakhir, bagian ini yang cukup sulit karena harus mengambil bagian sel otakku yang sangat penting, Kak Lina tahu kan apa yang ku maksud?~"
Jadi, begitu ya. Lena sudah mengorbankan bagian kecil dari otaknya untuk membuat keturunan yang sama persis. Bisa dibilang, Jika Lena mati, dia tidak akan bisa lagi kembali ke dunia ini.
"Ternyata itu keputusan yang cukup sulit." Aku menunjukkan sedikit rasa prihatin kepadanya.
"Tidak tidak, malahan sebaliknya, bukankah akhirnya ada cara bagi kita untuk benar-benar mati selamanya?"
"Terserah, aku turut bahagia jika kau merasa seperti itu."
"Yups~" Lena tersenyum bahagia.
Setelah itu, kami membahas beberapa hal lain untuk meringankan suasana.
❇❇❇
Halo, dengan Author Leo Natta disini!
Author sedikit menambahkan kata yang mungkin masih banyak orang yang belum tahu.
Sedikit penjelasan, sebenarnya "Demensia" adalah gejala penurunan fungsi sel otak bagi para lansia.
Namun, di sini Author memfiktifkannya sedikit dan mengubah gejalanya— pengembalian ingatan terhadap sel otak yang ditampung oleh manusia buatan— tapi tidak mengkategorikannya secara rinci karena ini bukan Sci-Fi.
Sekian, silahkan dinikmati bagi yang masih baca di sini.
__ADS_1