
Namaku, Rena Enkira. "Rena" adalah nama favorit dari ayah kandungku, sedangkan "Enkira" berasal dari nama sahabat dari raja Sumeria dan sosok yang melambangkan diriku. Aku tidak tahu kenapa mereka tidak memberikan nama marga kami, namun aku tidak marah pada hal sekecil itu.
Ayahku bernama, Chris G. Han. Memiliki nama keluarga yang tak pernah kudengar, hingga tak ada satupun jejak dari pria itu yang tersisa di dunia ini. Siapa ayahku sebenarnya? Aku juga tidak mengetahui kebenaran tentang Ayah.
Ibuku bernama, Lena. Tidak ada informasi yang lebih lanjut tentang dia, hanya nama itulah peninggalan Ibu kepadaku. Dia menitipkanku pada sahabatnya dan saat ini, aku memanggil pria itu dengan sebutan Ayah.
Ayahku saat ini bernama, Darius Bellia. Dia adalah seorang politikus terpecaya, jujur dan menjunjung tinggi keadilan. Meskipun kaya raya, Ayah tidak bisa memiliki anak dikarenakan trauma atas kematian istrinya.
Jadi, dia merasa sangat beruntung saat menerimaku. Dia juga memperlakukan aku seperti anak kandung sendiri. Tidak lupa juga, akhirnya dia mau membuka hati dan menerima Sophie beserta Ibu kami saat ini.
"Punya adik juga tidak buruk, namun sulit untuk akrab dengannya."
Ya, kami sering memiliki pendapat yang berbeda. Bukan hanya itu, hubungan kami jadi sedikit tegang karena kejadian semalam. Dia marah kepadaku hanya dikarenakan aku menjatuhkan pria itu, Ren Gill.
"Ah, benar juga. Sejak awal kami tidak pernah dekat layaknya kakak-adik sungguhan, hanya saling menghormati satu sama lain."
"... Apa yang harus aku lakukan?"
Terlihat sederhana, namun sangat rumit bila dipikirkan. Rasanya seperti ada yang salah, tapi aku tidak menemukan letak keabnormalan tersebut. Hanya ada satu cara mengetahuinya, sayangnya hal tersebut masih belum muncul.
"Bagaimana caranya agar kami bisa dekat?"
Aku memikirkannya lagi, lagi dan lagi. Tidak ada jawaban yang keluar. Tapi, ada satu petunjuk.
"K-kenapa aku malah terpikirkan pria itu?!"
Kesal, aku menenggelamkan wajah pada bantal yang empuk. Bagaimana tidak kesal rasanya, saat aku benar-benar serius hanya dia yang terpikirkan. Itu bukan lagi sebuah petunjuk, namun peringatan akan kesialan.
"Lebih baik aku memikirkan hal lain."
Begitulah yang aku putuskan.
Masih ada beberapa misteri yang belum aku pecahkan. Sebuah buku harian lama yang ditinggalkan Ibu sebelum pergi ke tempat lain. Pernah sekali Ibu bilang kepadaku untuk menjaga buku tersebut karena hanya itu, petunjuk dalam menemukan siapa jati diriku yang sebenarnya.
Buku itu aku beri judul "Diary of Enkidu's", seperti namanya itu adalah buku harian milik Enkidu. Enkidu adalah sahabat dari seorang raja Sumeria bernama, Gilgamesh. Bukan hanya itu, dia memiliki keahlian dalam menggunakan tombak dan juga merupakan salah satu ciptaan dari Dewa.
Dari seluruh cerita yang dipercaya, Enkidu mati dikarenakan hasil kecemburuan dari seorang Dewi. Dewi itu cemburu dengan kedekatan Enkidu bersama Gilgamesh karena amarah yang sudah menumpuk, dia meminta ayahnya untuk membunuh Enkidu si boneka buatan Dewa. Akhirnya, Enkidu mati dengan sia-sia meninggalkan sahabatnya.
Sebelum peristiwa itu, buku yang aku pegang berisikan catatan tangan asli dari Enkidu sendiri. Dalam buku ini, Enkidu menuangkan seluruh perasaannya dari pertama kali diajarkan menulis oleh sahabatnya hingga firasat akan datang sebuah kematian. Meskipun mati sia-sia, kenangan yang ia tinggalkan bukanlah sampah tak berharga.
"Setidaknya, aku yakin kalau Gilgamesh akan menyimpan rapat kenangan dari Enkidu."
__ADS_1
Ya, aku sangat yakin akan hal tersebut. Lantas, ada sebuah kebetulan yang sangat ingin aku tolak dari dunia ini. Tentu saja kebetulan itu adalah tentang dia, Ren Gill yang merupakan keturunan asli dari raja Sumeria.
"Argh ... lupakan! Lupakan! Lupakan!"
Wajahku mulai merasakan panas yang tak ada sebelumnya.
"Permisi, Nona. Anda kedatangan tamu."
"Ugya!"
Bertepatan dengan suara ketukan pintu, seorang pelayan wanita memberitahu ada tamu.
Lantas, hal tersebut membuatku terkejut dan memekikkan bunyi yang aneh.
Pelayan itu mulai khawatir dan kembali bertanya.
"Anda baik-baik saja, Nona?"
"T-tentu, lupakan suara yang tadi. Bagaimana dengan tamunya?"
"Tuan bilang, sebaiknya Nona melihatnya sendiri."
"Dimengerti."
Langkah dari pelayan itu terdengar menjauh dan akhirnya menghilang.
Aku bergegas mengenakan pakaian sopan sambil memikirkan siapa tamu itu.
"Siapa ya, sampai-sampai Ayah maupun pelayan rumah bisa jadi begini?"
Mungkin, dia bukan orang biasa.
Seperti, orang yang memiliki kedudukan tinggi maupun pengaruh besar terhadap pulau ini.
Akan tidak sopan rasanya kalau menebak-nebak seperti ini, anggap saja itu tidak pernah terjadi sebelumnya.
Menatap cermin, sambil memastikan penampilan.
"Hmm ... Bagus!"
Sesekali aku mencoba untuk memperlihatkan senyum manis di depan cermin kamar, namun-
__ADS_1
"Sepertinya, aku benar-benar tidak cocok menjadi seorang gadis manis."
Rasa percaya diriku mulai hilang setelah melakukannya. Ini sama saja seperti penurunan moral sebelum berperang. B-bukan berarti aku ingin pergi berperang, hanya saja kunjungan ini cukup mencurigakan dari apapun itu.
"Tidak! Aku tidak boleh pesimis! Semangat!"
Sekali lagi, aku menghibur diri.
Setelah merasa nyaman, aku melangkah keluar kamar dan menuju ke ruang tamu rumah kami.
"Lagi-lagi, sesuatu yang tidak mengenakkan terjadi di sini."
Begitulah yang aku katakan saat melihat siapa tamu yang sudah menungguku.
Neraka atau Surga.
Bukan keduanya, ini sudah seperti aku hidup untuk selalu mendapatkan siksaan.
❇❇❇
Halo, dengan Leo Natta disini!
Mulai chapter ini, volume 2 dari "Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia" akan dimulai!
Setelah chapter ini, gaya penulisan Author akan sedikit berubah.
Kenapa? Hanya ingin.
Update cerita akan dilakukan sedikit-sedikit saja karena Author juga ingin membuat sebuah Blog pribadi.
Eh? Tentunya karena ingin menyimpan berbagai macam cerita saja. Bukan cuma original milik Author, melainkan translate beberapa novel juga akan disertakan.
Dan tentunya, blog pribadi Author tidak memiliki iklan satupun dan akan diusahakan fast loading.
Doakan saja semoga Author bisa cepat menyelesaikannya karena ada beberapa novel yang mau Author translate sendiri, pengerjaan novel ini juga mungkin akan menjadi slow progress.
Eittsss— yang penting ada update, ya kan? (Kasihan juga dengan yang lain karena Author mengerti rasanya menunggu rilisan novel itu cukup—)
Meskipun pembaca maupun jumlah list favorit berkurang drastis, semoga kalian tetap menikmati cerita ini!
Salam hangat, penulis "Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia", Leo Natta.
__ADS_1