
Beberapa hari berlalu setelah insiden konfrontasi antara Ren dan Felix.
Aku terkapar di kasur selama beberapa hari dan kesulitan untuk bergerak. Saat Lee mengantarku pulang, Ibu bilang dia sudah mengerti dengan situasi kami dan meminta izin kepada Claudi agar aku bisa beristirahat. Jika saat itu aku sudah sadar, mungkin Ibu tidak akan membuatku berdiam diri di kamar.
Jangankan mengambil ponsel untuk mendengarkan lagu dari seiyuu favoritku Uesaka Sumire, menggerakkan lenganku saja sudah terasa cukup berat. Aku rasa hal ini memang wajar karena sudah memaksa batasan tubuhku sambil menggunakan perlengkapan tempur keluarga Jun. Tapi, terakhir kali rasa sakitnya bukan seperti ini.
Saat aku masih jatuh dalam lamunanku, pintu kamar terbuka. Beberapa orang yang aku kenal mulai memasuki kamar. Si idiot Lee juga mulai melakukan sesuatu yang menyebalkan dengan wajahnya itu.
Lee menyapaku dengan cara yang konyol.
"Hello my puurreeennn, haww arrr yaaa?!!"
Lee membentangkan kedua lengannya seperti ingin memeluk sesuatu sambil berjalan ke arahku.
Aku menjawabnya dengan rasa kesal yang sudah menumpuk.
"Setelah melihat tingkahmu yang menjijikan, tubuhku jadi mati rasa."
"Benarkah? Padahal saat kau tak sadarkan diri, aku sudah menyuntikkan obat penyembuh dengan efek samping bius."
Lee mengatakan hal tersebut sambil tersenyum bahagia.
Jadi kau ya pelakunya!!! Pantas saja rasanya teman kesayanganku juga tidak terasa saat masih berdiri! Sialan kau, Lee!
Aku mulai bergumam dengan lirih.
"Kembalikan ... keadaan keturunanku."
"Huh?"
Lee memeringkan sedikit kepalanya sambil menatapku dengan bingung.
"Kembalikan kondisi anukuuu!!!!"
Aku berteriak dengan keras sampai semua orang terkejut dengan ucapanku, begitu juga dengan Lee.
"Anumu juga kelelahan, ya? Fufufu ... sebaiknya kau biarkan saja obat itu menyembuhkannya."
Lee tersenyum kegirangan.
Gila! Kau benar-benar gila! Mana mungkin aku bisa bertahan saat milikku sedang mati rasa, serius!
"Tidak, tidak, tidak. Sebagai pria kau harusnya mengerti kenapa aku tidak menginginkan ini, bukan?"
Lee langsung menjawab semua ucapanku dengan santai.
"Sebagai pria, aku mengerti apa yang kau rasakan. Karena kau juga temanku, sebaiknya terima saja efek samping itu sampai kau sembuh."
"K-kauuu!!!"
Sebelum kamar ini menjadi medan perang antara fraksi anu yang tersakiti, Claudi segera menghentikan perdebatan kami.
"Sudah, sudah ... daripada mengurus itu-"
Sebelum Claudi menyelesaikan ucapannya, aku segera menyela.
"Tidak, ini penting."
Mendengar ucapanku, dia mengambil beberapa kertas dan melipatnya secara bersamaan sambil tersenyum.
Merasa ada yang tidak beres, aku bertanya sambil merasa takut.
"A-apa yang ingin kau lakukan?"
__ADS_1
Masih tersenyum, dia menjawab pertanyaanku dengan santai.
"Bukankah kau ingin milikmu tidak mati rasa lagi?"
Claudi mencoba memukulkan kertas itu di telapak tangannya dan saat benda yang terlihat laknat itu menyentuh kulitnya, aku mendengar suara cambukan seperti yang ada di sebuah pertunjukan "S&M" saat laki-laki menerima siksaan dari seorang wanita yang menggunakan topeng aneh di wajahnya.
Plakk!!!
"Anakkuuuuuuuuuu!!!!!!!"
Aku berteriak dengan sangat keras.
...
Setelah kejadian itu, Claudi menanyakan keadaanku.
"Sudah tenang?"
Senyumnya masih belum hilang. Meskipun terlihat manis, aku tidak akan tertipu. Dia itu cuma malaikat Zabaniyah yang mengganti kulitnya lalu pergi ke bumi untuk menyiksaku seperti ini!
Aku mengangguk sambil ketakutan sebagai jawaban.
Claudi melanjutkan pembicaraan kami.
"Bagus, mengingat semua rencanamu tidak perlu dilakukan ... apa yang akan kau lakukan pada rencana itu?"
Lupa dengan apa yang ia maksud, aku bertanya kembali.
"Rencana apa?"
Sekali lagi terdengar bunyi "Plak!" dari benda laknat yang ada di tangan Claudi.
Aku segera berbicara meskipun terbata-bata.
"A-aaku benar-benar tidak mengingatnya! Bbb-bu-bukan kk-kau juga tahu kalau ingatanku ini sa-sangat buruk?"
Mendengar ucapanku, Claudi mendesah lalu mengulang kembali apa yang sudah aku rencanakan.
"Ini tentang "People Power" seluruh dunia, apa yang selanjutnya akan kau lakukan pada rencana itu?"
"Bukankah sudah jelas?"
Tidak mengerti dengan ucapanku, Claudi bertanya kembali.
"Apa makdudmu?"
"Aku akan menyimpannya sebagai bentuk pencegahan."
"Begitukah, lalu bagaimana dengan OSIS?"
Benar juga! Karena terlalu fokus pada perlindungan sekolah, aku hampir melupakan janji penting itu.
Dari sisi lain, Lee menjawab pertanyaan Claudi sebelum aku.
"Itu tidak perlu, bukankah kursi Tetua juga sudah diatur?"
"Kursi Tetua diatur?" tanyaku.
"Ya, saat ini sekolah hanya memiliki dua Tetua dan orang yang memiliki jabatan tertinggi adalah Claudi dengan kepemilikan saham 66,9% hasil pemberian ayahnya."
66,9%??? Aku tidak dapat membayangkan sebesar apa tanggung jawab yang akan dipikul oleh malaikat Zabaniyah itu.
Meskipun Lee sudah menjelaskannya, aku memutuskan untuk memastikannya sendiri kepada Claudi.
__ADS_1
"Apa itu benar?"
Dengan wajah yang malu-malu kucing, Claudi menjawab pertanyaanku.
"U-um, itu benar."
Mendengar jawabannya, aku memberikan tanggapan yang sangat jujur kepada Claudi.
"Aku harap sekolah tidak akan hancur dalam satu bulan kedepan."
Kesal, Claudi membalas ucapanku.
"Apa kau ingin merasakan Neraka yang sebenarnya?"
Aku segera menolak tawaran yang menggiurkan itu dengan cepat.
"T-tidak, aku sudah cukup menderita. Jadi, skip! Skip!! S-skip!!!"
Begitu, ya. Jadi, kursi Tetua sudah diperbarui. Berarti sistem sekolah juga akan kembali seperti dulu dan mendapatkan pembaruan yang sesuai dengan kondisi kami saat ini.
Meskipun begitu, tetap saja aku harus melakukan sesuatu pada OSIS. Meskipun dari dalam mereka sudah tidak terikat dengan tradisi lama, dari luar mereka masih tetap sama. Jadi, aku harus memikirkan cara agar memperbaiki pandangan publik terhadap mereka.
Pada sudut pandang orang luar, mungkin ini tidak penting. Tapi saat kau menilainya dari segala sudut pandang, hal ini akan menjadi sebuah dorongan pada suasana sekolah. Jika kami membersihkan nama baik OSIS, keraguan para murid kepada mereka pasti akan hilang dan akan terciptanya kondisi dimana seluruh murid bisa percaya secara penuh kepada anggota OSIS yang melakukan tugas mereka.
Bukan hanya itu, situasi tersebut juga akan berdampak pada anggota OSIS. Selain mendapatkan motivasi, mereka juga akan melakukan pekerjaan dengan lebih baik lagi dari sebelumnya. Dengan begitu, akan tercipta suasana yang harmonis dalam hubungan antar murid di SMA Atradika.
Selesai dengan pemikiranku, aku meminta Claudi melakukan sesuatu.
"Claudi, bisakah kau melakukan sesuatu untukku? Anggap saja ini sebagai balasan atas apa yang terjadi padaku."
Claudi langsung menanyakan keinginanku.
"Apa itu?"
"Bersihkanlah nama OSIS agar seluruh siswa memberikan kepercayaan mereka kembali, lakukan dengan cara mengganti nama generasi OSIS yang sekarang dan membiarkan Wulan menjelaskan semuanya di depan seluruh warga sekolah."
Tanpa protes, Claudi menyetujui permintaanku.
"Tapi, sebelum itu ... " Claudi memperlihatkan layar ponselnya kepadaku lalu berkata, "Bagaimana kau akan mempertanggung jawabkan hal ini padaku?"
"Geh!"
Itu adalah hasil back up pesan yang aku kirim dari ponsel Claudi kemarin. Padahal aku sudah menghapus pesan yang aku kirim. Sayangnya, aku lupa menghapus back upnya juga.
"Aku akan bertanggung jawab."
Mau tidak mau, harus dilakukan.
"Kalau begitu ... " Claudi berbisik ke telingaku, "Saat kau sudah sehat, kencanlah denganku."
Dug! Dug! Dug!
Detakan jantungku mulai terasa lebih cepat dari sebelumnya. I-ini sudah keterlaluan. Mana ada murid yang mau berken-tidak anggap saja dia sedang menghukumku.
Aku menyetujui keinginannya.
"Baiklah, aku mengerti."
Senyum yang lebih manis terlihat pada wajah Claudi. Sementara itu, aku harus menanggung semua siksaan batin ini secara diam-diam. Meskipun begitu, aku harus melakukannya karena sudah terlalu sombong dengan mengatakan akan bertanggung jawab kepadanya.
Mendesah dalam hati dan hanya bisa pasrah.
Di dekatku, Lee bergumam dengan suara kecil sambil menutupi mulutnya.
__ADS_1
"Fufufu ... sepertinya ada yang mau kencan nanti."
Dia menatapku dengan pandangan yang sangat menjijikan. Biasanya dia pasti akan melakukan itu saat menemukan bahan agar bisa membullyku. Apapun itu, pasti sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi nanti.