Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 52 Tugas Menjaga - 3


__ADS_3

Dengan, Ren disini.


Apa kalian pernah terpikir kenapa sudut pandang cerita ini sering berubah?


Jawabannya cukup singkat.


Karena penulis cerita ingin kalian mengerti seperti apa perilaku tokoh-tokoh yang ada di cerita—Dalam sudut pandang orang pertama— lalu nantinya dengan sudut pandang orang ketiga kalian bisa memikirkan berbagai macam monolog sendiri karena sudah tahu seperti apa pemikiran masing-masing tokoh saat bermonolog.


Ada satu sudut pandang lagi— sudut pandang orang kedua— yang juga dikenal sebagai sudut pandang dari orang sekitar pada tempat yang sama, namun menggunakan pendapat mereka sendiri a.k.a berbeda dari sudut pandang orang ketiga yang menjelaskan secara langsung tentang situasinya kepada pembaca.


Setidaknya penulis sering menggunakan sudut pandang orang pertama agar para pembaca bebas berimajinasi tentang situasi cerita saat ini melalui cara berpikir dari satu tokoh, satu saran dariku "Jangan terlalu percaya dengan monolog dari seorang tokoh yang ada di dalam cerita!".


Sayang sekali, pada saat ini jumlah pembaca terlihat menjadi "0" karena lama ditinggal. Meskipun tidak ada like maupun komentar yang masuk, penulis bilang dia akan tetap update chapter terbaru. Setidaknya, dia sudah mencoba yang terbaik untuk melanjutkan alur cerita ini.


Sekian dariku, jangan terlalu berharap update banyak karena penulis ini memiliki beberapa kesibukan dengan nama lain.


❇❇❇


Di dalam sarang singa betina a.k.a kamar Rena, aku melihat berbagai macam benda kecewek-cewekan.


Yah ... bukankah itu sudah wajar?


M-maksudku dia itu kan perempuan— meskipun rata— jadi wajar saja memiliki benda-benda seperti itu.


Mengabaikan Rena yang sedang mencari sesuatu pada lemari belajarnya, aku mencoba untuk mengamati seluruh sisi kamar sambil berhati-hati agar tidak ketahuan.


"Ternyata dia masih punya sifat feminis yang normal huh." Aku bergumam dengan suara kecil agar tidak didengar oleh Rena.


Boneka beruang, alat kecantikan— meskipun terlihat seperti tidak tersentuh sama sekali— hingga akhirnya aku menemukan sesuatu yang menarik rasa keingin tahuan.


Benda itu tergantung dengan posisi yang rapi dan letaknya cukup bagus karena jauh dari berbagai macam faktor yang akan menurunkan keindahannya, itu adalah sebuah lukisan seorang wanita dewasa atau mungkin beberapa tahun lebih tua dariku dengan rambut hijau mint dan senyum yang cukup menawan.


Dilihat dari sisi manapun tidak ada celah untuk mengkritiknya, apalagi melihat sisi jelek dari lukisan tersebut.


Kalau aku pikir-pikir lagi, sangat disayangkan jika lukisan ini hanya ditempatkan pada sebuah ruangan yang cukup—


"Sedang lihat apa?"


"Bukan urusanmu."


"Ah, lukisan itu?"


"Entahlah, jangan mencoba untuk menerka apa yang aku lihat!" Aku komplain dengan sedikit menaikkan suara.


Mendesah, Rena berjalan ke arahku sambil membawa sebuah buku— atau sebuah kitab?— sambil berkata, "Lukisan itu dibuat sendiri oleh seorang raja."


"Raja yang bisa melukis huh, sepertinya dia adalah raja pengangguran yang sedang kurang kerjaan."


"Ku harap kau tidak menarik kata-katamu setelah membaca ini." Rena mengarahkan buku itu kepadaku.


Aku mengambilnya dan mulai memperhatikan bagian luar dari buku tersebut.


"Buku ini cukup tebal, apa ini sebuah Alkitab?"


"Bukan, baca saja dulu, nanti juga kau akan mengerti apa dalamnya."


"As your command, Madam." Aku menirukan cara bicara orang barat sambil membuka buku tersebut.


"Dasar pria konyol." Rena bergumam sambil memperhatikanku, sayangnya aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


Di halaman pertama, hanya ada satu kata yaitu—


"Kehidupan?"


Aku merasa sedikit bingung dan ada beberapa hal yang membuatku merasakan sebuah nostalgia juga, tapi jujur saja aku tidak tahu apa itu.


Mengesampingkan perasaan yang tak nyaman itu, aku membalik halaman ke lembar berikutnya.


'Awalnya aku tak mengerti hidup itu apa ....


Setelah bertemu dia, aku cuma bisa merasa harus menuntaskan tugas yang diberikan kepadaku yaitu—


membunuhnya.'


Awal penulisan ini seakan mengatakan kalau aku sedang membaca sebuah novel bertag "DarkCom" lalu memintaku agar terus melihatnya dari awal hingga beberapa bagian— aku hanya merasa kalau akhir dari tulisan ini tidak perlu dibaca— saja.


Sebelum melanjutkan ke halaman berikutnya, aku memutuskan untuk membuka percakapan diantara kami terlebih dahulu.


"Apa ini sebuah buku harian?"


Meskipun baru saja membaca bagian awal, aku memutuskan untuk tidak gegabah dalam membacanya.


Mendengar pertanyaanku, Rena duduk di sebelahku dan berkata, "Itu benar, ini adalah buku harian dari seseorang yang dekat denganmu."


Dari samping, aku sedikit melihat pupil mata Rena yang seakan berkata kalau dia sedang merasakan sebuah nostalgia berat.


"Jadi, kenapa kau memintaku untuk membaca tulisan pribadi milik orang lain?"


"Karena sudah tugasmu untuk mengetahuinya."


"Tugasku?"


"Di situ ada pesan rahasia yang tertulis dari berbagai campuran peristiwa hingga pertengahan halaman, coba lihat halaman akhir terlebih dahulu."


"B-baiklah."


Sesuai saran yang diberikan Rena, aku membuka halaman akhir dan ternyata isinya ....


"Kosong huh."


"Tepat, aku tidak tahu apa yang diharapkan si penulis, namun ada kemungkinan besar kalau isi halaman terakhir ini ada hubungannya dengan pesan rahasia tersebut."


"Darimana ada hubungannya?!"


"Entahlah, cari tahu saja sendiri."


G-gadis ini ....


Dia benar-benar ingin mempermainkanku, huh.


Kalau begitu ....


"Lo jual murah, gue beli."


Tanpa mempedulikan apa yang akan Rena jawab, aku memfokuskan diri untuk mencari pesan tersebut.


Beberapa halaman aku lewati dan mencari suatu kata maupun kejadian yang menarik.


Dalam literatur kuno, sudah biasa kalau suatu kejadian akan digambarkan dengan sedemikian rupa seperti apa yang mereka pikirkan, namun belum tentu semua itu terhubung dengan kenyataan maupun fakta yang sebenarnya.


Anggap saja seperti mereka tidak sengaja melihat petir, lalu saat di tuliskan akan berbunyi seperti "Dewa Petir marah dan menurunkan penghakiman kepada manusia yang ada di bumi melalui suara petir yang menggelegar dan amukannya yang bisa membakar hutan maupun membuat manusia mati dalam sekejap." dan sejenisnya, namun kenyataannya malah terbalik dan dapat dijabarkan dengan ilmu pengetahuan zaman sekarang.


Jadi, mengambil sebutir garam dari tulisan yang sedang aku baca adalah cara terbaik dalam mencari berbagai jenis petunjuk.


Halaman 52, 'Aku kalah darinya dan kami menjadi rekan.'


Halaman 74, 'Dia mengajarkanku bagaimana caranya menjadi seorang manusia.'


Halaman 86, 'Kami sering bertengkar seperti anak kecil saat memiliki pendapat yang berbeda, namun akan berbaikan lagi dalam waktu yang singkat sambil mencari tahu kebenarannya dari berbagai macam sudut pandang lain.'


Halaman 89, 'Dia itu raja yang angkuh meskipun punya banyak kelemahan, tapi dia tetap berjuang untuk menyembunyikan kelemahannya agar musuh tidak dapat berbuat curang.'

__ADS_1


Halaman 91, 'Harusnya aku membunuhnya, tapi apa gunanya menuruti perintah yang tak manusiawi itu, bahkan menurutku mereka— Sang Pencipta diriku— adalah manusia yang lebih angkuh dari dia dan melakukan apapun sesuka mereka hanya karena kebahagiaan yang tak menyenangkan sama sekali.'


Setelah membaca bagian tersebut, aku kembali bertanya.


"Apa maksudnya dengan kata 'mereka' pada bagian ini?" Aku menunjuk halaman yang tadi.


Di sebelah, Rena mendekatkan kepalanya pada bahuku sambil mencoba untuk membaca halaman tersebut.


Ugh ... Baunya cukup wangi seperti biasa, huh.


T-tidak tidak, aku tidak bermaksud untuk melakukan pelecehan seksual! Ini hanyalah kejadian yang tidak disengaja! Jadi, jangan mencoba untuk berpikir macam-macam terhadapku!


Meskipun aku berteriak seperti itu dengan wajah yang cukup meyakinkan, polisi mungkin tidak akan percaya dan kecurigaannya akan bertambah.


Cukup lucu, setelah mengingat sedikit kejadian yang ada di kelas saat kami berdiskusi.


Menyingkirkan pikiran yang merepotkan itu, kesadaranku terfokuskan lagi pada keadaan yang sekarang.


"Bagaimana?"


"Mereka yang dia maksud adalah orang yang menciptakannya."


"Buku ini terlihat sangat antik kalau dari sudut pandangku, pada dasarnya ini tidak mungkin ditemukan pada zaman masehi dan cara perawatan yang baik juga terlihat pada setiap sudut lembarannya. Jadi, diamana kau mencurinya?"


Ah, mulutku tidak sengaja menanyakannya.


Rena mendesah dengan ekspresi yang cukup lelah dan berkata, "Sejak buku ini ditulis, aku sudah ditakdirkan untuk memilikinya."


Bukannya menjawab pertanyaanku, dia malah mencoba untuk melakukan sarkastik.


Memangnya ada yang seperti ... itu?


Eh, erhm, ah, jadi begitu ya ....


Dia ini sama sepertiku.


Begitulah hasil yang keluar dari otakku dan aku tidak ingin melebih-lebihkannya, untuk saat ini aku masih perlu fokus pada yang ada di depan mata.


Serius, buku ini cuma berisikan apa yang ingin dikatakan oleh Si Penulis. Tidak tahu apa pokok dari yang ingin dia ungkapkan, namun jelasnya lebih baik untuk tidak berpikir kalau tulisan ini memiliki pokok utama. Hanya dengan berpikiran seperti itu, aku masih berharap dapat menemukan petunjuk lain pada lembar berikutnya.


Aku membuka lembaran lain dan yang satu ini, isinya lumayan mengejutkan.


Halaman 103, 'Mereka hanyalah manusia biasa yang dipanggil 'Dewa' karena memiliki ilmu pengetahuan jauh diatas lainnya.'


"Huh?" Mulutku tak sengaja mengeluarkan suara aneh.


"Ada yang salah?" Rena terlihat khawatir.


"T-tidak ada, hanya saja aku menemukan sesuatu yang menarik."


"Menarik?"


"Apa yang dikatakannya pada halaman 103, hal itu akan menjadi teori yang setara dengan 'Big Bang' dalam keadaan tertentu."


"Apa maksudmu?" Rena masih belum mengerti dengan ucapanku.


Sekali meneguk air liur pada mulutku, dalam ekspresi yang cukup bermasalah sambil menatap Rena aku berkata, "Konspirasi tentang 'perjalanan waktu' oleh 'suatu koloni' secara acak dan meninggalkan beberapa misteri yang akan membuat orang yang ada di zaman sekarang merasa deja vu."


"Bagian mananya yang akan terasa seperti deja vu?"


"Apa kau benar-benar tidak menyadarinya?!" Aku menaikkan sedikit nada bicaraku pada saat kata terakhir.


"Tidak, tidak sama sekali."


Ugh ... kadang dia yang seperti ini jauh lebih baik dibanding dengan menjadi singa betina, namun apesnya aku yang harus merasa sedikit kesulitan untuk mencari kalimat dalam menjelaskan semuanya.


Tapi pada situasi ini, bagaimana caranya menjelaskan kepada Rena agar dia mengerti?


Pertama, lebih baik aku merangkum hal-hal yang sederhana terlebih dahulu.


Manusia biasa, teknologi dengan peradaban yang lebih maju, dewa dan yang terkahir adalah keterangan waktu kejadian saat itu.


Buku yang sedang aku pegang ini sangat berbeda dari apa yang terpampang dalam beberapa sejarah dan tidak mungkin ini ditemukan pada tahun Masehi.


Awal tahun Masehi, dalam bidang teknologi bisa diartikan kalau kertas bisa dibuat tanpa harus menggunakan sebuah kulit. Buku ini— yang sedang aku pegang— dirawat sedemikian rupa dengan cara yang unik seperti memanfaatkan proses pengawetan kulit— entah dikhususkan bagi hewan maupun manusia— agar bisa menjadi seperti ini. Tulisan maupun kertasnya tidak akan sobek seperti kertas pada umumnya dan yang lebih mengerikan lagi, tulisan yang ada pada kulit itu ... tidak bisa memudar walaupun sudah ditelan oleh waktu.


Cukup mengejutkan karena faktanya, banyak kata yang sudah dituliskan pada setiap halaman dan tidak memungkinkan bagi kami— manusia zaman sekarang— menulisnya hanya dengan kekuatan tangan sendiri.


Meskipun ada cara yang lebih efisien dengan memanfaatkan teknologi di zaman sekarang, tetap saja hal ini sangat membingungkan karena orang yang sudah hidup jauh lebih lama dari kami bisa menulis pada lembar tersebut dengan tangannya sendiri. Ini sama saja seperti, kami sudah ketinggalan jauh dari saat mereka hidup.


Cukup disesalkan, namun aku juga tidak boleh mengambil kesimpulan begitu saja tanpa mencari tahu lebih banyak lagi tentang mereka.


Ah, hampir lupa!


Sebaiknya aku segera menjelaskan yang tadi kepada gadis itu.


Saat aku ingin berbicara, bahuku terasa cukup berat.


Melihat sisi bahuku yang berat, Rena tertidur nyenyak sambil menyandarkan kepalanya.


"Tertidur di jam segini .... "


Saat aku melihat jam dinding yang ada di kamar Rena, semuanya sudah terlambat.


"Jam dua malam?"


Mendesah sekali, aku mengangkat tubuh Rena dengan hati-hati dan memindahkannya di atas kasur.


"Apa saja yang sudah aku lakukan sampai larut begini?" Aku masih bergumam seakan tadi itu hanya berlangsung sebentar.


Aku berjalan keluar dari kamar Rena sambil merasakan sedikit pusing karena tidak tidur pada waktunya.


"Ugh ... tadi itu sangat melelahkan."


Perlahan aku berjalan ke ruang tamu karena tugas yang diberikan oleh Darii-tan masih belum selesai.


Ya, mereka masih belum kembali.


❇❇❇


Duduk di atas sofa ruang tamu sendirian, aku kembali berpikir tentang hal tadi .


"Permisi, apa Tuan tidak pulang?"


Dari samping, suara seorang wanita terdengar di telingaku.


"Tugas menjaganya masih berlangsung, jadi aku tidak bisa pulang ke rumah."


Aku menatap sumber suara tersebut, di situ terdapat seorang pelayan wanita yang sedang tersenyum kepadaku.


"Begitu ya, ada sesuatu yang Anda butuhkan sekarang?"


"Tidak ada, terima kasih untuk perhatiannya."


"Sudah jadi kewajibanku sebagai pelayan rumah ini." Pelayan itu menundukkan kepalanya dengan sopan.


Aku hanya mengangguk sebagai balasan.


"Ngomong-ngomong, bagaimana menurut Anda dengan rumah ini?"


"Hm?"

__ADS_1


"Bukankah dulu Anda sering datang kesini, bagaimana kesan Anda terhadap rumah ini?"


Nih orang kenapa ya?


Hmm ... kalau ditanya seperti ini biasanya dia sedang mencari apresiasi terhadap pekerjaannya, jadi aku tidak dapat bicara sembarangan.


Sesekali, aku melirik dekorasi ruang tamu sebisa mata memandang. Dari tampilannya, ruangan ini menunjukkan bahwa kau bisa santai sepuasnya dengan melihat berbagai macam benda antik hingga tempat peletakkannya yang tepat. Apalagi untuk kebersihannya, tidak perlu diragukan lagi kalau membersihkan tempat ini sangat sulit karena luas cukup besar dan benda-benda yang membutuhkan perawatan dengan cara khusus.


Yah ... wajar saja kalau dia ingin diapresiasi, tapi seharusnya orang ini meminta hal tersebut kepada tuannya dan bukan aku.


Mendesah sekali, aku menatap kearahnya dan berkata, "Pekerjaanmu memang baik, jika aku jadi dirimu, aku lebih suka untuk tidur lebih dari 12 jam per hari dibandingkan melakukan pekerjaan ini, ah- tidak perlu dipikirkan, ini hanya pendapatku secara pribadi."


Mendengar ucapanku, ekspresi wanita itu mulai kebingungan.


"Ada yang salah?" Aku merasa sedikit terganggu dengan ekspresi yang seperti itu belakangan ini.


"Tidak, sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali dengan apa yang Anda maksud."


"Kebetulan, aku juga tidak mengerti."


"Eh?"


"Eh?"


Entah kenapa aku juga mengikuti pekikannya karena refleks.


Suasana di ruangan ini mulai terasa sedikit canggung karena pembicaraan tadi.


Aku ingin mati saja, begitulah pikiran yang terus menghantuiku.


Jika aku berteriak 'Uoooohhh aku ingin kabur dari sini!', apa mereka akan melepaskanku dari siksaan batin ini?


Bahkan para penjelajah yang menyeberangi samudera pasifikpun mungkin akan menertawai mentalku yang tersakiti ini.


Sekali lagi, wanita itu membuka pembicaraan diantara kami.


"Lalu, bagaimana dengan hari-harimu? Apa terasa cukup tenang?"


Huh? Maaf, apa aku tidak salah dengar?


Kenapa kau tiba-tiba bersikap seperti ibuku?


Serius, kau cuma mengingatkan telingaku pada kesakitan Neraka yang berujung!


Karena tidak sopan kalau tidak dijawab, jadi aku menggunakan balasan yang normal layaknya basa basi saat bertemu seseorang yang sedang melakukan jogging di pagi hari.


"Seperti biasa, lancar dan tenang ... kuharap demikian." Aku mengakhiri ucapanku dengan sedikit bergumam.


"Apa Anda tidak berdo'a kepada Tuhan untuk hari yang tenang?"


"Tidak perlu." Aku langsung menjawabnya tanpa penundaan.


"Kenapa?"


"Do'a itu hanyalah penambah persentase keberhasilanmu, ujung-ujungnya dirimu sendirilah yang harus bekerja keras hingga akhir dan kurasa itu sangat merepotkan daripada mengikuti alur lingkungan di sekitar."


"Mengikuti alur lingkungan di sekitar?"


Wajah wanita itu menunjukkan sebuah ketertarikan yang sangat kuat pada ucapanku yang barusan.


"Ya, anggap saja seperti orang di sekitarmu banyak yang menggunakan smartphone dan pada akhirnya, kau juga mengikuti tren mereka dengan membeli ponsel tersebut."


"Bukankah itu yang dibilang saling mempengaruhi?"


"Saling mempengaruhi, huh ... kalimat yang bagus, aku akan mengingatnya jika bisa."


Wanita itu memiringkan sedikit kepalanya dengan wajah yang cukup lucu karena ekspresi bingungnya.


Memecahkan keheningan sementara ini, wanita itu kembali bertanya.


"Menurutmu, apa hal ini memang harus terjadi dalam kehidupan bermasyarakat?"


"Setidaknya kita tahu kalau ada definisi manusia adalah makhluk sosial, jadi hal seperti itu tidak dapat dihindari."


"Bagaimana kalau sebaliknya?"


"Sebaliknya?"


Posisi kami sekarang terbalik, aku tidak mengerti apa yang dia katakan.


"Manusia itu saling mempengaruhi diubah menjadi ... " Wanita itu mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berkata, "Hanya ada satu orang yang mempengaruhi individu lainnya."


Hmm, begitu ya.


Itu bukan konsep dalam berinteraksi pada struktur lingkungan sosial masyarakat, namun lebih tepatnya seperti antara pemimpin dan pengikutnya.


Kenapa aku bilang seperti itu?


Mudah saja, jika diteliti lebih dalam lagi, dia menyampaikannya secara ambigu dan memiliki berbagai macam artian, namun aku menyesuaikannya pada kondisi yang sekarang.


Maksudku, bagaimana seorang pelayan bisa membicarakan hal yang lebih tinggi dibandingkan cara bersosialisasi masyarakat biasa? Tentu saja jawabannya adalah tidak memungkinkan, dalam artian sangat jarang dan topik ini seharusnya tidak dibicarakan dengan orang yang masih belum punya banyak pengalaman sepertiku.


Jadi, aku memberikan komentar yang seadanya.


"Sesuatu seperti itu bisa saja terjadi, namun tidak semua tempat bisa menerimanya.


Meskipun ada beberapa tempat yang menerimanya, belum tentu akan ada banyak individu yang akan menjadi penurut dalam hal yang kau sebutkan tadi.


Ini cuma pendapatku saja, tolong jangan terlalu dipikirkan."


Mengeksekusinya dengan kalimat akhir yang menandakan kalau aku tidak mau bertanggung jawab atas jawabanku secara halus terdengar cukup kasar, tapi aku sudah mengatakannya sedemikian rupa agar ia tidak salah paham.


Jika ada kesalahpahaman terjadi padanya, mungkin saja orang ini akan bergabung dengan kelompok teroris dan berencana melakukan sebuah revolusi.


Semoga saja itu tidak terjadi karena aku akan dibunuh oleh seseorang jika ia tahu bahwa hal tersebut disebabkan oleh ucapanku yang main lepas tangan begitu saja.


"Bagaimana kalau semua orang menerima konsep tersebut?"


Diluar dugaan, dia malah melemparkan ribuan ranjau lagi ke arahku.


Serius, tolong beri aku waktu untuk istirahat dulu!


Jika ada ... berarti sama saja dengan kejadian yang tidak diinginkan semua orang akan terwujud.


"Kalau saat itu tiba, maka perang dunia mungkin sudah mencapai puncaknya."


"Perang dunia? Apa itu ada kaitannya dengan topik kita saat ini?"


"Ada, dengan menguasai segalanya berarti kau bebas menetapkan apapun selama berada di atas semua orang yang ada di muka bumi ini."


"Cara berpikir Anda cukup luas." Dia tersenyum seakan mendapatkan jawaban yang tepat.


"Terima kasih."


Aku hanya berterima kasih agar tidak ada ranjau yang baru lagi.


Setelah itu, wanita itu pergi untuk melakukan tugasnya dan aku hanya duduk sambil terlelap.


Malam ini berakhir dengan tenang dan untungnya besok adalah hari libur, tidak lupa juga lusa adalah waktu yang tepat untuk memulai itu.


Aku yakin semua murid akan mempersiapkan diri mereka besok secara penuh, berlaku juga untukku.

__ADS_1


Karena lusa ada kemungkinan besar akan menjadi hari "Ujian Khusus" dari sekolah.


__ADS_2