Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 55 Penyerangan Ruang Kendali Utama Pulau Asterisk - 2


__ADS_3

Ren, di sini.


Terkadang saat aku dan Author membicarakan tentang Halloween, kami pernah ingin mengangkat chapter bertema zomblo—ah, maaf, maksudku adalah zombie. Akhirnya setelah perdebatan yang cukup panjang, kami telah sepakat untuk memasukkannya pada cerita ini.


❇❇❇


Beberapa puluh menit sudah berlalu semenjak Ren terpisah dari Lee.


Dengan penampilan seadanya— tanpa perlengkapan tempur keluarga Jun maupun perlindungan— dan kehilangan rekan yang saling menjaga bokongnya satu sama lain, hal ini sangat merugikanku. Siapa tahu saja mungkin nanti ada musuh yang akan datang, apesnya aku ini lemah, sekali serang saja mungkin sudah terpental ke dunia lain apabila musuh itu sangat kuat. Kali ini, aku tidak boleh bertindak gegabah, satu kesalahan saja akan membuat bendera kematianku naik menjulang tinggi ke angkasa.


"Tapi ... bukankah ini labirin bawah tanah?" Aku bicara sendiri sambil meraba-raba sekitar.


Dinding, lantai, atap maupun udara yang ada di sekitarku. Semuanya terasa normal seakan-akan tempat ini memiliki alat khusus agar lingkungan di sekitarnya sama seperti di atas. Jika tebakanku benar, kami sedang dipermainkan.


"Haaah ... menyebalkan."


Meskipun tidak senang dengan keadaan yang sekarang, aku harus terus berjalan.


Tak lama kemudian, akhirnya terlihat cahaya di depan mataku. Aku terus mengikuti cahaya tersebut sambil menaikkan kewaspadaan hingga tingkat akhir. Setiap ada cahaya, musuh akan terus mengejarmu, itulah yang aku pelajari dari kitab tersebut.


Saat berada di ujung jalan, aku melihat bayangan seseorang lewat. Aku segera menyatu dengan kegelapan yang ada di dinding lorong sambil menunggu orang itu lewat. Jika dia masuk ke lorong ini, tindakan yang aku ambil hanya satu yaitu, menidurkannya.


Suara langkah kaki yang berat itu semakin dekat begitu juga dengan bayangannya. Semakin mendekat, bayangan itu berbentuk aneh, maksudku bentuknya tidak mirip dengan manusia. Cara berjalannyapun cukup aneh, jika kau meminta pendapatku, gerakan itu seperti zombie yang akan lewat dan mencoba untuk memangsa siapapun yang ia temui.


Semakin dekat dan suara yang cukup mengejutkan terdengar di telingaku.


Raungan ....


Erangan ....

__ADS_1


H-hey, i-ini bukan zombie sungguhan bukan?


Saat dia berada tepat di depanku, ternyata itu adalah ....


"Grrrwwaaarrr!"


"Sial, itu zombie sungguhan!"


Entah bagaimana, dia menyadari keberadaanku dan berlari kesini dengan kecepatan yang luar biasa.


"Oi oi ... ini bukan cerita bergenrw zombie, sialannn!!!"


"Aarrrggghhhhh!!!"


Aku berlari ke arah asal, namun zombie itu masih mengikutiku sambil meraung.


Apa yang harus kulakukan???


Aku terus berlari, namun sialnya nafasku mulai tak karuan.


Aku sedikit menyesal karena tidak terbiasa berolahraga dan mengatur pernafasan, ini benar-benar buruk.


"Haaah ... dia terus haaahh ... mengejarku!"


"Aawwrrrhhhh!!!"


Zombie itu tak pernah lelah mengejarku.


"Hey aku ini bukan calon pengantinmu, siaalaaannn!!!" teriakku frustasi.

__ADS_1


Jarak kami semakin memendek dan staminaku sudah hampir berada diambang.


"Hanya terus lari tidak akan mengakhiri masalah ini!"


Aku mencoba untuk meraba dinding sekitar sambil berharap ada jebakan yang akan aktif.


Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya aku menemukan sebuah tombol pada dinding tersebut.


"Haaaah... Apapun itu, GO!"


Aku menekan tombol itu tanpa ragu.


Hasilnya, tiba-tiba dinding yang ada tombolnya hancur berlubang. Tanpa pikir panjang, aku bergegas masuk kedalam. Namun, ternyata tidak ada satupun ruangan dan hanya ada nasib sial yang menunggu—


"Aku terjatuuuuuuhhhhhh!!!"


Meskipun begitu, zombie sialan itu tidak mengikutiku dan lanjut berjalan seakan tak terjadi apa-apa sebelumnya.


Setidaknya, aku mati karena jebakan bukan zombie maupun berubah jadi sejenisnya.


Semuanya .... sampai jumpa di dunia lain.


Saat pikiranku masih mengucapkan kata-kata terakhirnya, tubuhku yang terus jatuh ke bawah, tiba-tiba terangkat dikarenakan angin kencang yang berhembus dari bawah.


"A-aku masih hi ... dup .... "


Kesadaranku mulai menghilang dan sebelum aku tidur sepenuhnya, sebuah asap terlihat pada sudut pandang mataku.


Ah, jadi begitu ya, asap itu ....

__ADS_1


Sialan, ini memang lubang jebakan.


Pandanganku menjadi semakin gelap dan juga, kesadaranku hilang sepenuhnya ....


__ADS_2