Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 23 Grigori Yefimovic Rasputin


__ADS_3

Masih tidak sadar dengan kumis lumut yang ada di bawah hidungku, aku mengambil alih topik diskusi diantara kami berdua.


"Ngomong-ngomong, soal hal-hal yang berbau mistis ... apa kau tahu tentang Rasputin?"


Rena yang masih tidak sadar atau mungkin hanya membiarkan kumis lumut yang ada di bawah hidungku, memastikan tokoh yang aku maksud.


"Grigori Yefimovic Rasputin yang berasal dari Rusia?"


Aku mengangguk sebagai jawaban.


Rena mulai bertanya kepadaku.


"Kenapa dengan dia?"


"Tidakkah kau penasaran dengan hal-hal misterius yang terkait dengannya."


Rena sedikit menunjukkan ketertarikan melalui ucapannya.


"Yah ... sebenarnya, aku sedikit tertarik. Apa kau tahu sesuatu tentangnya?"


"Sedikit."


Mendengar jawabanku, dia menatapku seakan-akan ada sampah rongsokan di depannya.


Ayolah, aku ini punya memori yang sangat buruk. Tolong jangan memaksa kepalaku untuk mengingat berbagai macam informasi! Jika terus dipaksa, kepalaku mungkin bisa meledak nantinya.


Aku mulai menjelaskan apa yang kuingat kepadanya.


"Grigori Yefimovic Rasputin, dikenal sebagai 'The Mad Monk', juga merupakan orang penting dalam masa pemerintahan monarki, Tsar Nicholas II."


Mendengar penjelasanku, mata Rena mulai bersinar terang.


Cih, bukankah tadi kau memandang rendah diriku? Dasar labil.


Aku menghentikan penjelasanku dengan jeda yang cukup lama.


Merasa tidak tahan menunggu, Rena bertanya kepadaku.


"Kenapa kau berhenti?"


"Aku bukan seorang pendongeng yang akan bercerita hingga kau tertidur nyenyak."


Dia langsung menyindirku.


"Dasar pelit."


Pelit? Aku? Harus! Karena Orang pelit itu cepat kaya, kau tahu?!


Aku menjawab sindirannya.


"Bagaimana kalau kau lanjutkan penjelasanku."

__ADS_1


Seakan-akan menantangnya, aku menatap Rena dengan penuh percaya diri agar dia terpancing.


Bukannya menolak lalu lari, Rena dengan cepat menerima tantanganku.


"B-baiklah, aku akan melanjutkannya."


Aku mempersilahkannya.


"Silahkan."


Setelah sekali berdeham untuk membersihkan tenggorokannya, Renapun melanjutkan penjelasanku tentang Rasputin yang tadi.


"... Periode hidup Rasputin adalah tahun 1869-1916 atau lebih tepatnya, 47 tahun. Hal yang paling mencolok dalam kehidupannya adalah sering kali gagalnya percobaan pembunuhan terhadap Rasputin. Tidak lupa juga tentang misteri kematiannya yang ditembak dan ditenggelamkan hingga mati."


Semua penjelasannya memang benar tapi, masih ada beberapa poin yang kurang.


Aku menambahkan poin tersebut setelah dia selesai menjelaskan.


"Dan yang terakhir, runtuhnya monarki setelah kematiannya akibat para bangsawan."


Wajah Rena terlihat tidak senang.


"Ada yang salah?"


"Kau memotong penjelasanku."


"Bagian mana yang kurang?"


Bahkan hal itu juga ingin kau bahas?! Seberapa jauh kecintaanmu terhadap Rasputin? Kenapa kau tidak menikah dengan batu nisannya saja sekalian, serius!


Aku memberikan pendapatku padanya.


"Mungkin lebih baik untuk tidak membicarakan hal tersebut."


"Apa kau takut?"


Dia menatapku seakan-akan meniru apa yang aku lakukan tadi.


Aku mendesah dalam lalu berkata, "Satu saja."


Dia langsung bersemangat dan mengajukan satu kasus kepadaku, sambil mencondongkan wajahnya di hadapanku.


"Bagaimana dengan kasus akhir yang membuatnya terbunuh?"


Wajah kami begitu dekat bahkan jaraknya kurang dari 10 senti, namun aku tidak merasakan apapun kepadanya.


Aku menjauhkan wajahnya dengan tanganku lalu berkata, "Kau terlalu bersemangat. Tentang hal itu, apa yang ingin kau diskusikan?"


"Tertembak dan kasus tenggelamnya Rasputin."


Tentu saja itu yang akan dia katakan, kedua hal tersebut saling berhubungan namun tidak dengan penyebab kematian Rasputin. Maksudku, hasil autopsi dari mayat Rasputin adalah ia mati karena kehabisan oksigen dan bukan dikarenakan tertembak. Tapi, ada juga rumor yang mengatakan bahwa ia sudah mati terlebih dahulu karena tertembak pada bagian kepala.

__ADS_1


Hal yang paling aneh dari semua itu adalah jika kau mengikuti rumor kedua, bagaimana bisa Rasputin dapat mengejar si penembak apabila ia tertembak di kepala?


Sebelum menyuarakan pendapatku, aku menanyakan pendapat Rena.


"Bagaimana pendapatmu tentang dua hal tersebut?"


"Tidak berhubungan."


Dia benar, dalam kasus kematian itu tidak ada hubungannya.


Jika ia tertembak, tidak mungkin dia masih bisa mengejar si penembak. Akan lebih wajar kalau bunyi ceritanya seperti, ia tertembak di bagian tubuh lalu ditenggelamkan. Namun, itu juga bukanlah jawabannya karena hasil autopsi hanya mengatakan bahwa ia kehabisan oksigen.


Aku meminta Rena melanjutkan ucapannya.


"Lalu?"


"Aku pikir kematiannya bukanlah hal yang sederhana seperti, dia sudah menjadi kambing hitam dan dijebak oleh para bangsawan hingga mati."


Aku menjadi tertarik pada pendapatnya, ini bahkan diluar teori kebanyakan orang.


Jadi, aku mencoba untuk menebak apa yang gadis itu pikirkan.


"Jadi, kau ingin bilang bahwa terdapat konspirasi pada kematiannya."


Rena mengangguk terhadap ucapanku lalu melanjutkan pendapatnya.


"Mungkin saja seperti, mereka membuat kematiannya sebagai lonceng dimulainya penghancuran sistem pemerintahan monarki."


Artinya, Rena berasumsi bahwa kematiannya bukanlah disebabkan karena jebakan maupun tanpa sebab. Kematian itu diperlihatkan seolah-olah ia sedang dijebak oleh para bangsawan dan menciptakan berbagai macam misteri dimasa mendatang. Teori konspirasi milik Rena sebenarnya dapat mematahkan beberapa misteri.


Beredarnya rumor mistis tentang Rasputin.


Kegagalan dalam percobaan pembunuhan terhadapnya.


Terakhir, runtuhnya pemerintahan monarki setelah kematiannya dan diceritakan ada sebuah surat yang ia tinggalkan kepada kaisar saat itu.


Pertama, rumor mistis yang sengaja dibuat-buat lalu mulai menyebar. Kedua, kegagalan yang disengaja terhadap kasus percobaan pembunuhan. Terakhir, kematiannya dijadikan misteri untuk masa depan padahal di balik semua itu ada sebuah konspirasi besar terhadap harus runtuhnya sistem pemerintahan monarki pada masa itu.


Akupun menjelaskan itu kepada Rena.


Wajah Rena menjadi pucat seperti ikan mati.


Merasa khawatir, aku memutuskan untuk bertanya kepada Rena.


"Apa kau merasa sakit?"


"Ya, sedikit."


Setelah itu, kami berhenti membahas tentang Rasputin.


Hingga akhir, aku masih belum sadar dengan kumis lumut yang masih menempel di bawah hidungku.

__ADS_1


__ADS_2