Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 28 Keputusan Claudi & Felix Memperjelas Kesepakatannya


__ADS_3

Setelah Felix pergi, Marco melanjutkan pembicaraannya bersama dengan Claudi.


...


Ini semua sangat mendadak tapi, dari perjanjian yang kami sepakati ... aku tidak bisa mundur dari kesepakatan diantara kami!


Aku mengambil ponselku lalu menanyakan keadaan Claudi.


"Halo, apa kau mendengarku?"


"Ya, bagaimana tadi?"


Tanpa pikir panjang, aku menceritakan semuanya.


"... Begitulah hingga ada kesepakatan diantara kami, bagaimana denganmu?"


Tidak mengerti dengan pertanyaanku, dia bertanya kembali.


"Apanya yang bagaimana?"


Ternyata, kau masih belum menangkap semua yang aku katakan, huh.


Aku menegaskan kembali apa yang baru saja kami sepakati.


"Apa kau bisa mengikuti alur pernikahan ini hingga Ren menyelamatkanmu?"


Suasana mulai terasa hening, sepertinya Claudi masih tidak yakin dengan rencana tersebut.


Tidak lama, dia menjawab pertanyaanku.


"Entahlah."


Merasa kesal karena mendengar suara adikku yang sangat lemah, aku menaikkan suaraku.


"Lalu, apa yang kau inginkan?! Jangan bilang kau ingin lari dari semua ini?! Pikirkan kembali-"


Sebelum aku selesai bicara, dia menyelaku.


"Kau yang tidak mengerti!"


"A-aku-"


Dengan cepat, Claudi melanjutkan ucapannya.


"Apa kau pikir sebuah pernikahan hanyalah mainan?! Aku ini wanita! Seluruh wanita di dunia pasti menginginkan hal itu dilakukan dengan orang yang dia cintai! Kenapa ... kenapa aku harus melakukan kepura-puraan ini?!!!"


Perlahan, suara Claudi mulai menghilang.


Bersamaan dengan heningnya suasana diantara kami, aku mendengar suara tangisan di ponselku.


Aku sama sekali belum mengerti dengan hal yang seperti ini. Apa susahnya cuma berpura-pura? Kenapa ... kenapa hanya karena ini dia sampai menjadi sangat keras kepala?


Tanpa sengaja aku menggenggam ponselku dengan sangat erat.


Suara Claudi mulai terdengar lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengikuti pernikahan itu."


Aku mendesah lalu bertanya, "Apa maumu?"


"Aku tidak ingin mengikuti kepalsuan itu! Aku masih memiliki harga diri sebagai seorang wanita dan juga, aku akan memperjuangkannya hingga akhir tak peduli siapapun yang menghalangiku."


Anak ini ....


Aku menyindirnya dengan kesal.


"Kau sangat egois."


"Jika keegoisan itu dapat melindungi harga diriku, itu tidak akan menjadi masalah yang besar."


Haaahhh ... dia benar-benar sangat keras kepala.


Menyerah untuk membujuknya, aku bertanya tentang rencana Claudi.


"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"


"Lebih baik aku mati, daripada harus merendahkan harga diriku."


Mendengar ucapannya, spontan aku langsung kehilangan akal.


"Bodoh! Jangan lakukan itu!"


"Itu hanyalah cara terakhir."


Setelah mengatakan itu, dia menutup panggilannya sepihak.


...


[Marco : Aku akan membatalkan kesepakatan kami dan mencari jalan lain, tolong jangan bertindak gegabah!]


Setelah pesan terkirim, aku memanggil nomor ponsel milik Felix.


Hanya sebentar, dia langsung mengangkat panggilannya.


"Ada apa?"


"Kesepakatan kita batal."


"Eh? Kenapa?"


Aku hanya bicara jujur apa adanya.


"Adikku tidak setuju. Jadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa."


"Hahahaha ... Uhuk! Uhuk! Uhuk!!"


Mendengar jawabanku, dia tertawa terbahak-bahak hingga batuk beberapa kali.


Aku menanyakan maksud dari tindakannya.


"Apa kau mencoba untuk menertawakanku?"

__ADS_1


Dia langsung menyangkal.


"Tidak, bukan begitu. Aku sudah menduga kalau adikmu tidak mau, bukankah yang aku inginkan cuma kehadiran Ren?"


Aku masih belum mengerti dengan ucapannya.


"Apa maksudmu?"


"Kau hanya perlu memastikan Ren datang dan untuk mempelai wanitanya, itu tidak diperlukan."


Jadi, dia hanya ingin kedatangan Ren ... ya.


Aku mempertanyakan kembali bagaimana rencananya.


"Lalu, bagaimana dengan acara pernikahannya?"


"Itu tidak diperlukan, acara itu sejak awal tidak akan pernah ada."


Aku berteriak karena sangat terkejut.


"Hahh??!!!"


Dia mulai menjelaskan lagi.


"Awalnya aku berencana untuk membuat adikmu sebagai sanderanya tapi, kita akan membalikkan perannya sekarang."


Aku terdiam sambil memikirkan ucapannya.


"... Artinya, kau yang akan menjadi umpannya."


Cukup lucu, kau pikir ini cerita dalam game homo dimana karakter cinderella berubah menjadi seorang pria?!!!


Merasa ragu dengan rencananya, aku mulai mencari alasan.


"Bukankah Ren tidak akan datang jika aku yang jadi tawanannya?"


Sayangnya, Felix dengan percaya diri berkata dia akan datang.


"Tidak, dia pasti akan datang."


"... Karena tangkapan besar tanpa harus bersusah payah mencari sudah tersedia di depan matanya."


"... Seorang Han pasti akan memangsa tangkapan besar yang mudah meskipun harus jatuh ribuan kali."


Setelah mendengar ucapan terakhirnya, aku merasa pusing dan pandanganku mulai menggelap.


Ah, jadi begitu ya ....


Sejak awal, memang aku yang harus menjadi umpannya.


Aku mencoba berbaring di kasur sebelum kesadaranku hilang.


"Begini juga tidak apa, asalkan adikku tidak menangis lagi."


Ah! Ngomong-ngomong, jika aku masih hidup, akan aku pecat semua pelayan rumah dan pindah ke apartemen saja. Kenapa demikian? Tentu saja karena loyalitas mereka. Maksudku, ada kemungkinan salah satu diantara mereka berkhianat dan menaruh obat tidur pada salah satu hidanganku saat itu.

__ADS_1


Aku tertidur dengan nyenyak di atas kasurku.


__ADS_2