Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 29 Rencana Felix yang Sebenarnya


__ADS_3

Setelah Felix menutup panggilan dari Marco, kakak Claudi Sarasvati Atradika.


...


Haahhh ... sudah kuduga akan jadi seperti ini. Yah, tidak apa juga. Lagipula aku juga tidak berniat sedikitpun untuk mengadakan acara pernikahan dengan adiknya.


Aku mulai mengeluh sendirian.


"Apa dia seorang Siscon?"


Pfftt!!!


"Ahahaha!"


Aku tertawa dengan keras tanpa memikirkan hal lain yang ada di sekitarku. Semua perhatian mulai mengabaikanku yang sedang seperti ini. Tentu saja, itu dikarenakan mereka akan kehilangan kepala jika membuatku tersinggung.


Apa aku adalah seorang tirani? Tentu saja! Ya, aku ini memang seorang tirani dari keluarga Han!


Semua orang yang memiliki darah keluarga Han pasti akan menjadi seorang tirani! Sudah pasti! Tapi, nyatanya masih ada yang lepas dari rasa haus akan ketiranian.


Dia, ya dia!


Kakakku, Chris G. Han.


Persetan dengan pria itu! Aku sangat membencinya! Ya, dia adalah pria yang busuk hingga kedalam dagingnya!


Seharusnya, aku yang menikahi Lina! Bukan dia! Dia itu adalah pencuri!

__ADS_1


Aku bergumam kesal.


"Seorang pencuri harus merasakan juga bagaimana rasanya sesuatu yang berharga darinya dirampas oleh orang lain, begitu juga dengan keturunan si pencuri itu."


Meskipun terasa menjijikan, mulutku membentuk lengkungan yang sangat indah seperti seorang psikopat.


Aku kembali tertawa karena merasa geli pada perutku.


Tapi, Ren Gill! Ren Gillll!!! Anak Lina dan kakakku, keponakanku yang imut, kau harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh orang tuamu kepadaku.


"Ya! Kau harus menderita! Merasakan sakit yang sama sepertiku! Ahahahaha!"


Begitu teringat dengan Ren Gill, seluruh sarafku terus menerus menjerit dengan keras.


BUNUH! BUNUH! BUNUH! HANCURKAN! HANCURKAN! HANCURKAN!


Apa dia akan membenci diriku ini yang sudah memanipulasi seluruh anggota keluarga Han untuk membunuh ayahnya?


"Apa dia akan sangat membenciku?"


"... Hehehe ... ini sangat menarik!"


Getaran tubuhku tak kunjung berhenti.


Semakin aku menantikan pertemuan kami, getaran itu terus menggelitik. Semakin geli, terus menerus mengingatkan tentang sesuatu. Sebuah tujuan akhir dari hidupku.


Ya ... aku akan mati dengan caraku sendiri.

__ADS_1


"Setidaknya, aku ingin merasakan sebuah adegan kematian yang elegan."


Bisakah keponakanku mewujudkannya?


"Hmmm ... bagaimana, ya."


Aku mulai bingung karena Lee memintaku agar pada konfrontasi pertama kami tidak ada pertumpahan darah secara habis-habisan. Bukankah itu artinya kami masih bisa menumpahkan sedikit darah? Ya, sedikit saja dalam duel kami nanti.


Apa dia bisa menjadi seorang monster seperti kakakku?


Atau mungkin, aku sudah terlalu banyak berharap kepadanya.


"Cih, semua ini tidak akan ada habisnya jika dipikirkan terus."


Sekarang aku akan mengikuti kesepakatanku bersama dengan Lee.


Menjaga, memelihara sekaligus mengawasi dulu anak yang belum matang itu bersama dengan aset terdekatnya.


Apabila saatnya sudah tiba, aku akan membuatkan sebuah arena pertarungan khusus hanya untuk kami.


Ya, hanya untuk kami berdua dimana aku akan mati secara elegan sebagai penjahat di mata orang lain.


Yahhh ... karena aku memang seorang penjahat, itu bukanlah masalah.


Entah dicap sebagai penjahat atau apapun itu, selama bisa mengakhiri kisah hidupku dengan elegan ... semua itu ... bukan apa-apa bagiku.


Ren Gill, keponakanku, cepatlah berkembang.

__ADS_1


Aku akan menunggumu, terus menunggu, hingga kita bisa berduel sampai titik darah penghabisan.


__ADS_2