Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 22 Rena Masih Mempermasalahkan Ekor Rambut Kemarin


__ADS_3

Setelah Lee meninggalkan kelas.


Rena yang posisi kursi duduknya berada di sebelahku, meminta waktu sebentar.


"Apa kau sedang sibuk?"


"Tidak, ada apa?"


"Boleh aku meminta waktumu sebentar, ada yang ingin aku diskusikan."


Wajah Rena terlihat malu saat menanyakan hal tersebut padaku.


Aku menerima undangannya.


"Ya, tentu."


Setelah itu, dia memindahkan posisinya kursinya hingga berdekatan denganku.


Aku memulai pembicaraan kami secara langsung tanpa basa basi.


"Jadi, apa yang ingin kau diskusikan?"


Jika kau bertanya bagaimana caranya menyembuhkan bidang datarmu, maaf saja aku tidak tahu jawaban yang tepat untuk itu.


Ternyata dia masih mempermasalahkan ekor rambut Lee yang mereka perdebatkan kemarin, tepatnya saat aku kabur dan tidak sengaja bertemu dengan Claudi di sebuah gedung kosong dekat wilayah markas Netra.


"Menurutmu kenapa ekor rambut itu bisa menjadi bukti bahwa Lee merupakan keturunan asli dari Merlin?"


Aku ingin menjawab karena sudah takdirnya, tapi dia tidak akan percaya tanpa penjelas yang logis.


Akupun menjawab pertanyaan Rena dengan jawaban yang seadanya.


"Apa kau pernah mendengar kalimat seperti, demi jenggot Merlin?"


Tidak mengerti, Rena bertanya balik padaku.


"Kenapa kau bertanya balik padaku?"


Aku memaksanya untuk menjawab tanpa mempedulikan keluhan tersebut.

__ADS_1


"Jawab saja."


Renapun menjawab pertanyaanku.


"Ya, aku pernah mendengarnya dalam beberapa literatur tentang legenda penyihir Merlin."


Aku menghubungkan kembali antara kalimat itu dengan apa yang sudah dijelaskan oleh Lee dalam kegiatan kami kemarin.


"Menurut penjelasan Lee, Merlin tidaklah abadi. Melainkan, ia hanya memiliki umur yang panjang. Dari penjelasan tersebut, apa yang bisa kau petik?"


Rena berpikir sejenak lalu menjawab pertanyaanku.


"Penampilan awet muda?"


"Tepat sekali."


Rena menanyakan hubungan antara kedua hal tersebut.


"Lalu, apa hubungannya dengan ekor rambut itu?"


Aku menjawabnya berdasarkan apa yang sudah diterangkan dan terpapar dengan sangat jelas di depan mata.


Mendengar penjelasanku, Rena membantahnya.


"Itu tidak masuk akal."


Aku menguatkan argumen milikku.


"Karena penampilannya yang masih awet muda, tentu saja dia butuh penyamaran. Bayangkan saja, apabila kau berumur panjang dan orang yang ada di sekitar menganggapmu sebagai setan berkehidupan abadi. Apa yang akan kau lakukan?"


Rena langsung menjawab pertanyaanku.


"Tentu saja aku akan berpura-pura menua dengan mengubah penampilanku."


Aku segera meneruskan ucapannya.


"Begitu juga dengan yang dilakukan oleh Merlin."


Meskipun wajahnya menandakan bahwa ia sedang berpikir keras, tetap saja penjelasanku masih ditolak.

__ADS_1


"Aku masih tidak percaya dengan penjelasanmu."


Melihat rambutnya yang panjang membuatku kepikiran sesuatu.


Aku mengambil rambut panjang Rena yang terurai lalu menempatkannya pada wajahku, sekarang aku terlihat memiliki kumis lumut yang berwarna hijau begitulah yang ada didalam pikiranku.


Melihat tingkahku, bukannya marah dia tertawa kecil. Wajahnya terlihat cukup manis saat tertawa. Sayangnya, kekurangan fatal miliknya adalah bidang datar itu.


Mulutku berbicara sendiri.


"Sangat disayangkan."


Mendengar ucapanku, dia berhenti tertawa lalu menatap curiga padaku.


"Ada apa?" tanyaku.


Dia malah bertanya balik kepadaku.


"Apa kau memikirkan sesuatu yang tidak senonoh lagi padaku?"


Ya, aku memikirkan bidang datarmu yang tidak dapat diobati itu! Puas?!


Sebenarnya aku ingin berteriak seperti itu, tapi tentu saja aku tidak akan berani mengatakan itu kepadanya.


Aku hanya diam dan tanpa sadar masih memasang kumis lumut di wajahku.


Saat aku menarik nafas, aku merasakan betapa wanginya rambut Rena.


Tanpa sadar aku memujinya.


"Rambutmu sangat wangi."


Mendengar pujianku, wajahnya memerah dan segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Dengan suara kecil nan malu-malu, dia berterima kasih kepadaku.


"... T-terima kasih."


"Sama-sama."

__ADS_1


Hingga saat ini, aku masih tidak sadar bahwa kumis lumut itu masih menempel di bawah hidungku.


__ADS_2