
(Ren POV)
Mari kita pikirkan dulu situasi saat ini ....
Banyak hal yang sudah terjadi. Waktu di pulau Asterisk menjadi tak bergerak. Dan juga, pulau Asterisk bergerak dengan kecepatan konstan mengikuti rotasi bumi untuk mempertahankan waktu yang sama.
Setelah berdiskusi beberapa kali, kami memutuskan untuk pergi kemari.
Dalam perjalanan menuju ke tempat yang seharusnya memiliki petunjuk tentang semua hal aneh yang terjadi di pulau Asterisk, aku menginjak sebuah jebakan dan berakhir tragis.
Kau tahu kan yang aku maksud? Bertemu zomblo—ah, maksudku zombie lalu sekarang, aku malah bertemu dengan sisi Wulan yang cukup sadis.
Aku menatap Wulan yang masih tak sadarkan diri tergeletak di depanku.
"Banyak hal yang sudah terjadi, huh." Aku berjalan ke arah Wulan lalu menggendongnya di belakangku.
"Hei, bisakah kau ceritakan suatu dongeng yang bagus sebagai pengantar tidurku?" Dari samping, suara lemah Wulan terdengar di telingaku.
"Cerita apa yang kau inginkan?"
"Sebuah cerita yang memiliki ending yang bahagia."
Ending bahagia? Cukup ironis ....
Apa kau tahu kenapa aku menyebutnya demikian? Tentu saja karena aku ... tidak memiliki kemampuan untuk mengarang sebuah cerita.
Seraya berjalan menyusuri lorong, untuk pertama kalinya ... aku mencoba bercerita sesuai keinginan orang lain.
"Pada suatu masa, hiduplah seorang raja yang multi-talenta.
Meskipun memiliki kemampuan yang banyak, dia memiliki sebuah kelemahan yang sangat tidak terduga oleh orang lain bahkan orang tuanya sendiri.
Kelemahannya adalah ... hati yang mudah rapuh—"
"Kenapa dia memiliki hati yang rapuh?" Wulan segera menyelaku saat bercerita.
"Karena tidak ada manusia sempurna di dunia ini."
"Kenapa manusia tidak sempurna? Bukankah kita memiliki akal dan organ tubuh yang lengkap?" Rentetan pertanyaan mulai membanjiri keingintahuan Wulan.
"Mudah saja ... " Aku menghembuskan nafas sejenak untuk menghangatkan organ dalam tubuhku lalu berkata, "... Manusia bukanlah Tuhan maupun Dewa."
__ADS_1
"Dewa?" Dari suaranya, Wulan menjadi semakin ingin tahu lebih banyak tentang apa yang kami bicarakan.
"Lupakan, kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Bisakah aku lanjut bercerita?" Merasa pertanyaan itu tidak akan ada habisnya, aku segera mengalihkan topik pembicaraan kami.
"Um, silahkan." Wulan segera menyetujui usulku.
"Suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis biasa.
Berlawanan dari dirinya yang serba bisa, gadis yang ada di depan Raja bukanlah seseorang yang bisa melakukan banyak hal.
Meskipun terlihat biasa, Raja sangat merasa penasaran dengan gadis itu—"
"Apa dia akan langsung menikahi si gadis biasa?"
Lagi-lagi Wulan menyelaku.
Hei, bisakakah kau tidak menyela ceritaku dulu? Tolong perhatikan perasaan orang yang sedang bersusah payah membuat cerita untukmu! Serius, apa sesulit ini membuat cerita pendek yang berakhir dengan bahagia? Mungkin, bukan bakatku untuk menjadi seorang penulis novel.
"Ya, lalu mereka hidup bahagia." Merasa kesal, aku langsung mengakhiri ceritanya.
Meskipun tidak terdengar suara protes, aku yakin Wulan pasti sedang marah.
Kami terus berjalan menyusuri lorong yang ada dan akhirnya, ujung lorong sudah kami temukan!
"A-ada yang salah?"
Wulan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
Tanpa pikir panjang, aku segera membuka pintu yang ada di depan kami dan—
"I-ini bohong, kan?"
Seluruh tubuhku melemah, bahkan untuk saat ini kakiku cukup kesulitan dalam menjaga keseimbangannya.
Rasa benciku kepada Dalang yang ada dibalik semua ini ... benar-benar sangat-sangat-sangat bertambah besar.
"**** .... " Aku hanya bisa tetunduk kebawah.
Suasana di tempat ini sangatlah buruk, dipenuhi dengan bau darah dan juga ....
Bangkai manusia yang tidak sempurna.
__ADS_1
"Selamat datang di laboratorium—!!!"
"Mati kau!!!"
Dari jauh, terdengar suara pria sedang menyambut kami, namun aku langsung menerjangnya.
Menggunakan teknik yang aku pelajari dari Lee, aku menyerang secara rapi dan meningkatkan setiap gerakan menggunakan instingku.
Meskipun begitu ....
"He-heyy ... bisakah Anda tenang sedikit, Tuan Besar?" Pria itu dengan mudahnya menghindari setiap seranganku.
Tanpa mempedulikan apa yang dia katakan, aku terus menyerangnya.
"Kena kau, Tuan Besar!"
"Aakhhrrkk!"
Sembari menunggu waktu yang tepat, pria itu mencekik leherku dengan keras.
"Apa Anda sudah bisa tenang, Tuan Besar?"
"Mmmrrrgghhhhh!"
Aku masih memberontak agar bisa melepaskan diri.
Tapi, cengkraman tangannya begitu kuat!
Ugh ... sial, aku hampir kehabisan nafas!
Sekujur tubuhku mulai terasa menegang.
Saat kesadaranku hampir hilang, tiba-tiba terdengar suara hantaman keras dan akhirnya, aku dapat terlepas dari cengkraman pria itu.
"K-kau!!!" Pria itu menatap ke arah seseorang yang sudah aku kenal.
❇❇❇
Dengan Leo Natta disini.
Cukup sampai di sini dulu, karena Author masih belum mendapat wahyu dan juga, dikarenakan cukup lama tidak menulis novel lagi Author harus menyusun ulang semuanya.
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti seri ini hingga sekarang!