
Hari ini yang berkunjung ke rumahku ada 3 orang. Claudi, Lee dan juga seorang pria dengan wajah "Aing is here" yang rasanya pernah bertemu denganku sebelumnya. Menyadari tatapanku yang tertuju padanya, pria itu menghampiriku.
Aku bertanya kepada pria itu.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Ya, saat di lingkungan sekolah."
Lee ikut ke dalam percakapan kami.
"Dia adalah orang yang kau ceritakan saat itu."
"Yang mana?" tanyaku.
Lee memperagakan sebuah tendangan, setelah itu ia bertanya kembali padaku.
"Ingat sesuatu?"
"Ah, dia ya."
"Ya, dia."
Aku menanyakan identitas pria itu.
"Siapa?"
"Eh?"
__ADS_1
Lee memasang wajah bodoh karena tidak mengerti dengan ucapanku.
Aku mengulangi lagi pertanyaan tadi dengan jelas.
"Siapa dia?"
Memahami pertanyaanku, pria itu memperkenalkan diri.
"Perkenalkan, aku kakaknya Claudi. Namaku, Marco."
Lee menambahkan beberapa informasi tentangnya.
"Dia juga adalah salah satu Tetua."
"Begitu, ya."
Tidak lupa, Marco berterima kepadaku untuk saat itu.
"Terima kasih telah menyelesaikan masalah yang kemarin dengan pria bernama Felix itu."
"Kau tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku sebagai anggota Netra."
Marco menyangkal ucapanku dan memberikan beberapa fakta.
"Tidak, kau memang pantas mendapatkan rasa terima kasihku. Jika hanya karena kewajiban, tidak mungkin kau juga akan mengorbankan nyawamu pada hari itu. Sebenarnya, untuk apa kau melakukan semua ini?"
Diakhir ia menanyakan alasanku untuk melakukan semua ini.
__ADS_1
Alasan bukanlah sesuatu yang sangat mudah untuk dibicarakan kepada orang lain, apalagi kau baru saja mengenalnya. Memberikan alasan yang tepat juga harus dipikirkan secara matang agar dia tidak bisa memanfaatkanku kedepannya. Tapi, aku tidak tahu ingin berkata apa.
Semua ini aku lakukan hanya karena ingin hidup dengan damai selama hari-hariku bersekolah. Sejak aku bergabung dengan Netra, aku juga tidak sadar kalau akan terlibat hingga sejauh ini. Banyak hal yang terjadi sebelumnya, namun entah kenapa masih bisa diselesaikan dengan aman dan nyaman.
Saat dia ingin mengetahui alasanku, Marco tidak menunjukkan ketertarikan berlebih tentang hal tersebut. Sebaliknya, dia bersikap terlalu santai. Hal ini membuatku terus kepikiran dengan apa yang sebenarnya ingin dia ketahui.
Aku menjelaskan semuanya dengan apa adanya sambil merahasiakan beberapa fakta, entah itu karena orang-orang terdekatku maupun sesuatu yang lain.
"Aku melakukan semua ini hanya karena ingin, kau tidak perlu tahu kelanjutannya."
"Hanya karena ingin, bukankah kau terlalu banyak membaca genre fantasi?"
Cih, ketahuan ya. Dia benar, kata-kata itu sering diucapkan oleh protagonis dari novel fantasi. Diluar dugaanku, orang ini juga gemar membaca ya.
Marco kembali menanyakan alasanku dengan cara yang berbeda.
"Untuk siapa semua ini?"
Itu dia, pertanyaan yang paling tidak aku inginkan keluar dari mulut Marco. Jika aku tidak berhati-hati, kesalahpahaman akan terjadi diantara kami. Buruknya, hubungan ini menjadi rusak dan awalnya berpotensi sebagai teman akhirnya menjadi musuh yang merepotkan.
Aku tidak bisa menjawab orang terdekatku. Tidak untuk dia karena ada kemungkinan suatu saat alasan ini akan menjadi pedang bermata dua bagiku. Setidaknya, aku bisa menjawab pertanyaan itu dengan nama bangunan, lokasi atau sebuah karakter selain nama manusia.
Hanya ada satu jawaban yang tepat.
"Aku melakukan semuanya demi Uesaka Sumire, seiyuu favoritku."
Mendengar jawabanku, mereka semua tercengang dan kehabisan kata.
__ADS_1
Untuk Uesaka Sumire, tolong maafkan aku karena telah meminjam namamu tanpa izin.