Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 56 Penyerangan Ruang Kendali Utama Pulau Asterisk - 3


__ADS_3

Ren disini.


Terkadang cukup menyebalkan saat kau dipaksa untuk mengingat sesuatu yang benar-benar sudah terlupakan. Bukan berarti aku benar-benar ingin melupakannya! Hanya saja ... mereka hilang begitu saja dan aku tidak dapat menemukannya kembali.


Kenangan maupun masa laluku, semuanya bagaikan debu yang tertiup angin.


Artinya, tidak ada.


— Ren Gill.


❇❇❇


Kembali lagi ke masa sekarang.


Disinilah aku, duduk terikat di atas sebuah kursi kayu yang sangat kokoh dan tidak dapat sedikitpun bergerak. Tepat di depanku, ada seorang gadis yang sangat aku kenal dan baru-baru ini kami sering bicara satu sama lain di sekolah. Dia adalah "Diva sekolah" maupun Ketua OSIS, Wulan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Aku menatap kebawah untuk menyembunyikan ekspresi wajahku yang sedang bercampur aduk.


Meskipun sudah ditanya, Wulan tetap diam dan berdiri di depanku.


Apa sekarang adalah hari diam sedunia? Serius, tiba-tiba semua orang menjadi bisu begini membuatku jadi kebingungan sendiri.


Tak lama, Wulan menggerakkan kepalaku agar terarah ke wajahnya. Sepertinya, dia ingin agar aku melihat wajahnya. Wajah yang datar itu, terlihat sangat serius dan dari matanya, dia melihat jauh kedalam jurang melalui mataku.


Dengan wajah seriusnya, Wulan berkata, "Apa Ren mengingatku?"


"Kau Wulan, kan?" Aku langsung menjawabnya dengan pertanyaan untuk memastikan identitas lawan bicara.

__ADS_1


Dia— Wulan— menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi yang cukup kecewa. Meskipun begitu, dia tetap menguatkan diri untuk menatap kembali mataku dan memastikan kebenaran dari setiap ucapan yang aku katakan kepadanya. Dan terakhir, hal yang paling sangat tidak ingin aku lihat dari Wulan yang kukenal, air mata mengalir perlahan dari kedua mata Wulan.


Meskipun aku tidak tahu kenapa, menurut intuisiku ini semua adalah salah seseorang yang berada di depannya yaitu, aku.


Tidak ingin membuang waktu, aku memutuskan untuk berbicara meskipun nyawa sebagai taruhannya.


"Kenapa—!!!"


Plak!!!


Dia menampar wajahku dengan sangat keras.


Setelah itu, Wulan menangkap kerah bajuku dengan sangat erat dan berkata, "Kembalikan dia."


"Dia? Siapa yang kau maksud?—!!!"


Sekali lagi dia menampar wajahku, kali ini lebih keras dari sebelumnya.


Kau tahu, aku ini bukan samsak tinju! Serius, berhenti memukul wajahku! Aku ingin meneriakinya, namun kondisi saat ini masih tidak tepat untuk melakukan hal tersebut.


Sekarang aku harus fokus pada setiap kata maupun tindakan yang ia perbuat. Salah sedikit, nyawaku akan jadi taruhannya. Terlebih lagi, ini adalah kenyataan bukan sebuah game visual novel maupun sejenisnya.


Aku bukan seorang protagonis yang ada di seluruh novel, dimana ia akan berbicara lalu lawannya akan mendengarkan "khotbah no jutsu" hingga bertobat dengan sendirinya. Dia— Wulan yang saat ini berada di depanku— bukanlah orang yang akan mau mendengarkan setiap ucapan dari diriku yang sekarang. Soalnya, aku tidak tahu apa dulunya kami pernah bertemu di suatu tempat.


Wulan kembali berbicara, namun dengan cara yang bukan seperti dirinya.


"Kembalikan di ... a .... "

__ADS_1


Percuma, dia terus seperti ini hingga aku benar-benar tidak tahan lagi ingin berkata kasar. Jika kau menginginkan sesuatu dariku, cobalah untuk membuatku mengerti terlebih dahulu! Bahkan, aku juga tidak akan mengerti walaupun dia menjelaskan semuanya karena masalah itu.


Ada beberapa perasaan yang aku rasakan dari Wulan sejak ia berubah menjadi sekarang.


Amarah, bingung, penyesalan dan juga ... kesepian.


Terdengar aneh dan cukup sok tahu, tapi jujur saja itulah yang ku rasakan darinya. Kau boleh memanggilku seorang ESPER gadungan, akan ku terima gelar itu tanpa beban dan penyesalan. Aku mencoba untuk memahami, bukan mengingat masa lalu seperti yang dia inginkan.


"Dia sudah tidak ada, orang yang kau cari ... tidak ada padaku." Suaraku cukup lemah untuk mengatakan kebenaran pahit tersebut.


Mendengarnya, Wulan hanya bisa tetunduk sepi. Meskipun tidak melihat secara langsung wajahnya, aku rasa dia sudah menelan pil yang amat sangat pahit dariku. Wulan hanya terdiam dan tidak bergerak sedikitpun dari posisinya.


"Kenapa bisa ... jadi begini .... " Lirih, kesadaran Wulan nampak cukup buruk.


"Berhenti mengulang kata yang sama, kau harus menerima kenyataan dan sekarang, aku yang ada di depanmu ... bukanlah orang yang kau cari selama ini." Tanpa mengurangi tekanan dari kalimat pahit yang keluar dari mulutku, aku terus menyerang mental Wulan.


"Tapi ... dia sangat ra—!!!"


"Sadarkan dirimu, sialan!" Aku berteriak sembari menabrakkan kepalaku ke kepala Wulan.


Dia langsung terhempas ke bawah dan tak sadarkan diri.


"Ugh, apa aku cukup keterlaluan?" Sambil mengeluh, aku melepaskan ikatan yang telah membelengguku.


Akhirnya, aku bisa terbebas dari keinginan Wulan yang cukup menyebalkan.


Bukan berarti aku membencinya, hanya saja aku tidak suka dengan cara yang ia lakukan.

__ADS_1


Mungkinkah dia hanya salah orang? Entahlah ....


__ADS_2