Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 58 Penyerangan Ruang Kendali Utama Pulau Asterisk - 5


__ADS_3

Dengan Ren disini.


Kau tahu, kemarin kami pernah berdiskusi tentang permasalahan apa yang Author cerita ini ingin tambahkan. Dia kehabisan ide dan aku sudah muak memberikan saran untuknya, yah ... itu sangat menyebalkan. Saking menyebalkannya, aku harap dia segera menemukan berbagai macam ide baru.


Asal kalian tahu saja, saat ini dia bertambah cukup gila! Jadi, siapapun! Beri dia ide yang bagus!!!


❇❇❇


(Ren POV)


Tepat saat Lee Jun datang untuk membantu Ren agar dia terlepas dari cengkraman seorang pria yang tidak diketahui.


"Apa aku telat?" Lee dengan wajah percaya dirinya yang sangat membuatku kesal muncul bak seorang pahlawan.


Permisi, bisakah kau berhenti memasang wajah seperti itu?


Kau tahu, aku sangat ingin mendaratkan satu pukulan ke wajahmu yang sangat menyebalkan itu!!!


Aku hanya terdiam karena fokus dengan gerakan pria misterius yang ada di depan kami.


Meskipun tidak mendapatkan luka yang serius dari hantaman Lee sebelumnya, pria itu terlihat sangat kesal dan bisa saja kapanpun menerjang hingga membunuh kami berdua disini.


Lee yang merupakan iblis tampan yang oportunis tidak melewatkan kesempatan untuk memprovokasinya.


"Hei ... hei ... pria tua yang disana, apa kau tidak tahu malu menyerang anak yang lebih muda darimu? Apa urat malumu itu sudah putus? Ah, maaf ... maaf ... aku baru ingat, biasanya saat bau tanah tercium dari seseorang, bukankah mereka akan menjadi pikun pada kondisi mentalnya?" Lee tersenyum mengejek saat mengakhiri kalimatnya.


Meskipun mendapat provokasi dari Lee, dia tetap tak bergerak sedikitpun dari posisinya.


Namun, yang pasti dia tetap mendaratkan tatapan mengerikan kepada Lee!


Lee maju beberapa langkah dari posisinya dan masih mendaratkan beberapa kalimat sindiran kepada pria itu.


"Tidak menyerang? Apa kau takut? Bukankah tadi kau menyerang temanku?" Lee sangat percaya diri saat mengucapkan itu.


"Ah, sebenarnya—"


Ketika aku ingin menjelaskan situasi yang tadi, Lee segera menyelaku.


"Tidak, tidak, jangan terlalu baik terhadap lawan, Ren. Bukankah pria bau tanah ini yang menyerangmu duluan?"


"Tidak, aku yang duluan." Aku segera menjawab ucapan Lee.


Tiba-tiba wajah Lee berubah seperti zombie yang aku temui.


"Serius? Kau yang duluan?" tanya Lee yang masih berwajah zomblo—ah, maksudku zombie yang waktu itu aku temui.


"Ya, serius." Aku menjawabnya dengan datar sambil menjaga kewaspadaanku terhadap pria yang ada di depan kami.


"Serius?" Lagi-lagi Lee menanyakan hal yang sama seperti kaset rusak.


"Dua rius." Aku mengagungkan simbol "V" kepada Lee.


Wajahnya bertambah pucat karena terlalu malu.


Terlalu percaya diri ada batasnya juga, inilah kenapa aku tidak akan seperti dia— Lee Jun— saat kondisinya belum kupastikan.


Pria itu masih berdiam di tempat sebelumnya.


Dia cukup heran melihat kami berdua, namun masih memasang tatapan tidak senang kepada Lee.

__ADS_1


Lee mendekati mulutnya pada telinga kananku lalu berbisik, "Sepertinya dia orang yang cukup tegar."


Ya, dia cukup tegar untuk menghadapi semua tingkah laku konyolmu itu, Lee sialan!


Aku hanya diam karena tidak ingin ambil pusing.


Terlalu lama diam, akhirnya pria itu bicara kepada kami.


"Bisakah kita membuat kesepakatan?"


" "Tidak." " Kami berdua menjawabnya serentak.


"Kenapa?" Pria itu mengernyitkan kedua matanya.


Sebelum Lee menjawab, aku bergegas menjawab pertanyaan pria itu. Tapi, lebih tepatnya, hanya denganku dia tidak mengarahkan tatapan tidak senang meskipun aku sudah berbuat lancang.


"Tidak ada untungnya, terlebih lagi kau adalah musuh kami."


"Apa Anda yakin dengan itu, Tuan Besar?"


"Apa maksudmu?"


"Tanyakan itu semua kepada gadis yang Anda bawa saja." Pria itu mengakhiri kalimatnya sambil duduk di atas meja yang ada tumpukan mayat tak jauh dari posisinya.


*Gadis yang aku bawa?


Siapa*?


Menyadari siapa yang pria itu maksud, aku segera mengalihkan pandanganku ke belakang.


Begitu, ya ....


"Apa kau yakin dengan semua ini, Wulan?" Lee yang ada di belakangku, memandang Wulan dengan sikap yang cukup dingin.


Meskipun Lee sudah mengarahkan niat membunuh yang cukup kuat kepadanya, sikap Wulan masih datar seperti biasa.


"Sangat yakin."


"Apa yang sebenarnya ingin kau dapatkan dari semua ini?" tanya Lee yang siap kapanpun menerjang kearah Wulan.


"Seseorang yang aku cari, ada pada Ren."


"Ada padaku?" Terkejut, aku tak dapat mengatur nada bicaraku.


Mengangguk, Wulan melanjutkan kalimatnya.


"Um, Ren yang dulu ... bukanlah seperti ini."


"Aku yang du—"


"Jangan dengarkan dia, Ren!" Lee segera menyelaku.


"Kenapa?" Aku menatap Lee dengan ekspresi bingung.


Lee hanya tertunduk diam tak bersuara.


H-hei ... a-apa yang sebenarnya terjadi disini?


Siapa sebenarnya musuh kami?

__ADS_1


Perlahan, atmosfer di ruangan ini berubah tajam. Rasanya seperti, hanya aku saja yang tidak tahu apa-apa. Aku mulai menatap mereka secara bergantian, namun tak ada yang menjawab kebingunganku.


Dari belakang, pria itu terlihat cukup bosan menunggu dan mendesak Wulan agar dia menekan tombol pada remote tersebut.


"Tunggu apa lagi, tekan tombolnya!"


"Jangan!" Lee berteriak dengan keras.


Dari suaranya, Lee terdengar seperti sedang ketakutan.


Apa ini?


Kenapa Lee yang ku kenal sebagai pria kuat bisa jadi takut begini?


Tubuh Lee menegang, lengannya bergetar tak karuan.


Sedangkan Wulan, dia nampak ragu untuk menekan tombolnya.


"Tekan tombolnya!" Pria itu terus mendesak Wulan dan menaikkan suaranya.


Tanpa bicara lagi, Lee berlari kearah Wulan untuk merebut remotenya.


Dibalik bayangan yang ada di belakang Wulan, muncul seorang wanita yang dengan cepat menghadang Lee.


"Minggir!" Lee memancarkan serangan kepada wanita itu.


Namun—


"!!!"


Dengan mudahnya wanita itu membanting Lee kebelakang.


Lee terpental hingga kebelakangku.


Satu lagi, masalah muncul ....


Meskipun sudah memukul mundur Lee, wanita itu tetap terlihat santai dan cukup bermartabat.


Saat melihat kearahku, dia tersenyum ramah dan menundukkan sedikit kepalanya seakan memberikan hormat.


"Tunggu apa lagi, cepat tekan tombolnya!" Pria itu terus mendesak Wulan.


Namun, Wulan masih ragu dan masih belum menekan tombolnya.


"Terlalu lama." Wanita tadi langsung memaksa jari Wulan untuk menekannya.


*Beep*


Setelah suara itu, kesadaranku hilang dan pandanganku pun menjadi gelap.


Ughh ... Bisakah kalian tidak melibatkanku?


Serius, kenapa ujung-ujungnya aku terus yang terlibat?!


Tolong berikan aku waktu ... ber ... isti ... ra-hat ....


❇❇❇


Dengan Leo Natta disini.

__ADS_1


Kehabisan ide memang sering terjadi dan kali ini Author akan mengajak kalian ke arc baru.


__ADS_2