
Dengan Ren disini.
Author cerita ini sudah gila.
Itu saja dan ingat baik-baik selama kalian masih hidup!
❇❇❇
Saat Shigurt dan beberapa prajurit kerajaan mengantar raja Gilgamesh— Ren— pergi menuju ke kamarnya.
Aku, Shigurt dan beberapa prajurit kerajaan sedang menuju ke kamar raja Gilgamesh. Aku masih mempertahankan sikap tenangku, namun wajahku tak dapat menyembunyikan perasaan yang saat ini aku rasakan. Wajahku bertambah kaku karena merasa cukup senang dapat melihat peninggalan sejarah kuno secara langsung dan gratis tentunya.
Kami terus berjalan seakan mengikuti arah aliran sungai. Perjalanan kami masih terasa cukup jauh karena aku meminta mereka untuk membawaku berkeliling sebelum menuju ke kamar. Saat ini, kami masih dalam perjalanan seraya aku melihat keadaan yang luar biasa ini.
Melihat wajah raja Gilgamesh— Ren— yang mungkin tidak biasa di matanya, Shigurt mulai merasa khawatir dan bertanya, "Yang Mulia, apa Anda sedang merasa tidak enak badan?" sambil menatap raja Gilgamesh— Ren— dengan tatapan yang sangat khawatir.
"Tidak, justru sebaliknya." Ren menjawabnya secara singkat tanpa menatap sedikitpun kepada Shigurt dan yang lainnya.
__ADS_1
Mendengar jawaban Ren, Shigurt dan beberapa prajurit lainnya entah kenapa mereka terlihat senang dan cukup bersemangat saat berjalan. Saking semangatnya, mereka lupa dengan kecepatan berjalannya hingga membuat raja Gilgamesh— Ren— tertinggal. Begitu juga dengan Ren, dia tidak sadar dan terus melihat-lihat suasana di sekitar istana negara Uruk.
"Woah, ini sangat menakjubkan ... jika aku menceritakan tentang apa yang aku lihat, apa Lee akan mengira aku jadi gila?" Aku bergumam meskipun masih merasa terkesan dengan keadaan yang ada.
Para pekerja yang mengangkat batu bata terus melakukan kegiatannya dan jujur saja, batu bata itu terlihat sangatlah besar dan juga berat tentunya. Mereka seperti tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan terus menerus bekerja. Biasanya, orang-orang seperti ini adalah mereka yang ingin cepat-cepat dalam menyelesaikan pekerjaannya.
"Sedang memantau perkembangan istana lagi?" Disampingku terdengar suara seorang pria yang cukup lembut dan sangat familiar.
Tanpa pikir panjang, aku menatap orang itu. Wajahnya yang pucat, serta senyuman hangat dan rambut putih panjang yang cukup acak-acajan. D-dia ....
"Merlin, ya .... " Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat dingin.
Merasa tatapan yang sangat dingin mengarah padanya, Merlin tidak gentar dan masih mempertahankan senyuman yang hangat itu. Sesekali dia mengetukkan tongkatnya dan melihat ke arah tubuhku. Beberapa saat, dia juga mengangguk beberapa kali sambil menempatkan lengan di bawah dagunya seakan sedang memikirkan sesuatu.
Tak lama setelah itu, akhirnya dia angkat bicara.
"Kau bukan raja Gilgamesh, benarkan?" Merlin mempererat genggaman pada tongkatnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Wajahku terlihat menjadi kesal dan siap untuk menerjangnya kapan saja.
"Dimana aroma wanita dan posisi tubuh seorang gilgolo yang biasanya kau perlihatkan kepadaku setiap kita bertemu?" Merlin mundur beberapa langkah seakan melihat makhluk yang paling hina di muka bumi ini.
"Haahh?! Cuma karena itu kau sebut aku bukan diriku?!" Aku menaikkan nada bicaraku.
"Aroma perjaka ini, mungkinkah?!" Tanpa mempedulikan kata-kata raja Gilgamesh— Ren—, Merlin terhanyut dalam dunianya dan berakhir dalam kondisi terkejut dengan wajah yang agak konyol.
"Hey, apa kau mendengarku?"
"M-maaf, aku harus pergi!"
Merlin segera berlari seakan-akan dia sedang dikejar oleh setan.
Ya, dia kan setan.
Akhirnya aku sadar.
__ADS_1
"Shigurt!!!" Aku berteriak dengan sangat keras hingga suaraku menyebar ke seluruh tempat di dalam istana kerajaan.
Ya, mereka meninggalkanku. Benar-benar pemandu wisata yang tak kompeten. Lain kali akan kuberi pelajaran mereka, hiks.