
Ini aku, Wulan. Entah kenapa ada orang gila yang menyuruhku untuk mencium Ren Gill secara tiba-tiba dan akhirnya, dia menyakiti kepalaku. Mungkin dia menganggap ini sebagai hiburan, namun ini bukanlah hiburan melainkan perasaan yang sejati.
❇❇❇
Apa dia menolakku?
Bukan, dia tidak menolakku. Hanya saja, dia bilang kalau ini bukan saat yang tepat. Baginya ini adalah hal yang penting, mana bisa aku memaksakan keegoisan ini padanya.
Aku ingin menunggu, namun terus sambil bergerak agar dapat lebih dekat dengannya. Tentu saja karena itu adalah cita-citaku untuk menjadi istri dari orang itu. Bukan berarti aku menyukainya tanpa alasan.
Aku tidak tahu apa dia masih mengingat apa yang terjadi diantara kami. Beberapa orang bilang kalau dia memiliki ingatan yang sangat buruk, namun aku tidak percaya sebelum mencobanya. Akhirnya, aku merasakan sebuah penolakan total akibat keegoisanku.
Apa sekarang dia akan membenciku?
Apa dia akan melihatku sebagai wanita yang murahan?
Aku takut menghadapi kenyataan itu. Sementara masalahku sendiri belum selesai, aku tidak ingin dia juga akan menjadi salah satunya. Aku tidak akan membiarkan kebanggaanku hancur karena penolakan itu.
Eh? Bukankah dia bilang, tidak menolakku?
Ah! Sepertinya aku saja yang salah paham.
Tapi, aku masih tidak yakin apa dia bisa mengingat kembali peristiwa itu.
Ya, saat kami masih SMP dan belum sempat mengenal satu sama lain. Saat itu, dia selalu menyelamatkanku meskipun dalam kesusahan. Karenaku juga, dia harus pindah sekolah beberapa kali.
Perlahan, aku mulai mengingat kejadian diantara kami.
Itu menyangkut 5 tahun yang lalu, tepatnya saat kami kelas 8 SMP.
...
Aku adalah anak yang pendiam, jarang bergaul dan selalu diisolasi oleh lingkunganku. Hari-hariku terasa seperti monoton dan tidak ada kesan apapun setiap waktu berjalan. Namun, semua berubah ketika dia pindah ke sekolah yang sama dan menyapaku saat itu.
"Namaku Ren Gill, panggil saja Ren. Aku harap kita bisa akrab, ini untukmu!"
Seorang murid pindahan menyapaku dengan akrab. Dia terlihat bisa bergaul dengan siapapun, namun memilihku sebagai orang yang pertama kali ia sapa. Tidak lupa juga dia memberikanku sebuah kalung, sebenarnya waktu itu aku tidak pernah menganggap itu kalung maupun sebuah hadiah.
Aku hanya menerimanya tanpa mengatakan apapun.
Setelah melihatku menerima pemberiannya, Ren duduk tepat di sebelahku. Aku hanya beranggapan karena hanya disitu tempat yang kosong, tidak pernah berharap kalau dia benar-benar ingin mengenalku. Bahkan saat ini dia hanyalah angin lalu bagiku.
...
Saat jam pelajaran pertama dimulai.
Mata pelajaran pertama adalah sejarah. Sebelum memulai pelajaran, tidak lupa Pak Guru meminta Ren untuk memperkenalkan diri. Renpun memperkenalkan dirinya kedepan semua orang.
"Untuk siswa baru, silahkan perkenalkan dirimu terlebih dahulu."
"Perkenalkan, namaku Ren Gill. Panggil saja Ren, senang bertemu dengan kalian."
Tepuk tangan dari semua siswa kecuali aku mulai membanjiri kelas. Dia benar-benar terlihat sempurna dimata kaum sosialita. Jika para gadis itu mendapatkan hatinya, aku yakin mereka akan naik tahta ke puncak teratas kasta di sekolah ini.
B-bukan berarti aku menilainya secara berlebihan. Wajahnya yang tampan dan mudah bergaul saja menjadi poin plus. Apalagi kalau dia pintar dan atletis, aku yakin semua gadis akan langsung mengejar sosok kekasih yang sesempurna itu.
Selesai memperkenalkan diri, dia kembali duduk. Pelajaranpun dimulai dan kami mengikuti arahan Pak Guru dengan santai. Hingga akhirnya, pak guru memberikan sebuah pertanyaan kepada seluruh murid yang ada di kelas.
"Menurut kalian, penemuan apa yang paling hebat di dunia ini?"
Semua orang diam sambil menunggu Pak Guru meminta salah satu diantara kami untuk menjawab, Ren yang tidak sabaran terlihat ingin sekali mengangkat tangannya. Dalam poin ini, aku tidak ingin menjadi orang yang dipilih. Namun, sayangnya nasib sial mulai menghampiriku.
"Wulan, tolong jawab dan berikan penjelasanmu."
Itu dia, sebuah kesialan bagi siswa yang tidak pandai bicara sepertiku. Ya sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi. Aku memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan tersebut.
"I-internet, tanpa internet semua orang tidak akan bisa terhubung entah dalam bidang sosialisasi maupun pendidikan."
Setelah aku menjawab, semua orang hanya diam dan tidak peduli. Ya, seperti biasanya. Aku kan cuma siswa tambahan yang tak dianggap.
Namun, Ren memberikan sebuah tepuk tangan kepadaku. Melihatnya melakukan itu, semua orang juga ikut. Perlahan suara tepuk tangan mulai bertambah keras hingga akhirnya, kelas menjadi damai kembali.
"Ada yang lain?"
__ADS_1
Pak Guru mulai mencari lagi pendapat siswa yang lain. Setidaknya, dia tidak akan berhenti sampai ia merasa puas melihat wajah para murid menjadi ketakutan. Dengan percaya diri, Ren mengangkat tangannya.
"Silahkan."
Pak Guru mempersilahkannya untuk menjawab.
Diapun berdiri dan terlihat sangat bersemangat.
"Alat tulis dan kertas."
Mendengar jawabannya, rentetan pendapat mulai keluar dari beberapa siswa.
"Eh? Alat tulis? Bukankah itu lebih kuno dari yang sebelumnya?"
"Ya, tidak mungkin kan itu bisa menjadi penemuan tercanggih?"
"Apa dia asal jawab?"
"Harap tenang!"
Begitulah sampai Pak Guru menghentikan lautan pendapat dari para siswa.
"Bisakah kau menjelaskan jawabanmu?"
"Tentu."
Pak Guru dengan santai seakan menganggap jawaban Ren hanyalah sebuah candaan, meminta dia menjelaskan jawaban tersebut dan Ren menerimanya dengan senang hati.
"Alat tulis dan kertas adalah hal yang penting. Aku tahu alat tersebut tidak secanggih yang kalian ingin dengar, namun berkat alat tersebutlah semua peralatan yang kalian anggap tercanggih di dunia ada."
"... Tanpa sebuah laporan penelitian yang ditulis, ilmuwan lain tidak akan bisa mengembangkannya sampai tahap yang kita anggap canggih hingga sekarang."
Semua orang hanya bisa diam karena jawaban yang ia berikan memiliki sudut pandang luas. Bukan hanya itu, aku yakin kalau dia ini adalah siswa yang cerdas. Tidak salah lagi, calon raja akan lahir di kelas ini.
...
Saat istirahat makan siang.
Ren mengajakku makan siang bersama, namun aku mengabaikannya. Aku langsung pergi tanpa memberikan alasan. Toh, dia juga sedang diajak oleh beberapa kelompok kasta teratas yang ada di sekolah ini.
Aku pergi ke atap gedung sekolah untuk memakan bekal milikku. Dikira akan menikmati bekal ini sendiri, pintu menuju atap dibuka oleh seseorang. Siswa yang muncul di balik pintu itu adalah kelompok gadis yang sering meminta bekalku.
Lagi-lagi ... apa mereka tidak bisa berhenti menggangguku?
Aku hanya diam sambil memperhatikan gerak gerik mereka. Yang benar saja, mereka menghampiriku dengan tatapan kesal. Seperti hewan buas yang sudah menemukan mangsa, begitulah mereka dimataku.
"Apa hubunganmu dengan Ren?"
"T-tidak ada."
"Jangan bohong!"
Pemimpin mereka mulai menyudutkanku dengan kata-katanya.
"Aku tidak berbohong."
"Sepertinya dia tidak akan mengaku."
"Beri saja dia pelajaran!"
Pengikut gadis itu mulai memberikan saran untuk menyiksaku. Biasanya mereka hanya ingin menghabiskan bekalku tapi, kali ini berbeda. Ketua kelompok itu mengeluarkan sebuah gunting dari sakunya.
"Tahan dia."
Hanya dengan perintah itu, anggota kelompoknya menahanku di dinding.
"A-apa yang ingin kalian lakukan padaku?"
"Bukankah sudah jelas?"
Meskipun sudah memberanikan diri bertanya, jawaban yang ia berikan sangat tidak mengenakkan bagiku.
"Ngomong-ngomong, rambutmu cukup panjang ya."
__ADS_1
Sambil mengatakan itu, si ketua mengambil rambutku lalu memotong seperempatnya dengan sangat lambat.
"H-hentikan."
"... Kumohon!"
Beberapa kali aku memohon, dia tetap melanjutkannya hingga seperempat lebar rambutku sudah dipotong.
Mendadak pintu menutuju atap terbuka dengan keras dan sosok yang datang adalah pria itu, Ren Gill.
"Hentikan!"
Dia berteriak dengan keras.
"R-ren i-ini tidak seperti yang kau lihat."
Tanpa mempedulikan mereka, Ren segera menghampiriku.
"Kau baik-baik saja?"
Apa menurutmu aku baik-baik saja? Bukankah semua ini karenamu?
Merasa sudah tidak tahan lagi, aku menampar wajahnya dengan sangat keras. Sambil menangis, aku pergi menjauh dari mereka. Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi berbicara dengannya meskipun ia selalu menyapaku.
Awalnya aku merasa puas, namun titik balik hubungan diantara kami mulai berubah sejak saat itu.
...
Saat pulang sekolah.
"Awas!"
Ren dari sisi lain mendorongku dan akhirnya, ia tertabrak sebuah truk dengan keras. Dia masih bisa mempertahankan sedikit kesadarannya, aku juga tidak tahu kenapa dia sampai bersikeras seperti itu. Meskipun begitu, dia sempat mengarahkan pose "V" kepadaku sambil tersenyum lebar layaknya kali pertama kami bertemu.
Akhirnya, kami berdua dibawa ke rumah sakit terdekat. Meskipun sudah menyelamatkanku, wali Ren tidak mengizinkan siapapun untuk menjenguknya. Saat aku beberapa kali mencoba dan akhirnya mendapat persetujuan, sesuatu yang menyakitkan terjadi kepadaku.
"Siapa?"
Pertanyaan menyakitkan itu selalu terngiang di kepalaku.
"I-ini aku, Wulan."
"Maaf aku tidak mengenalmu."
Aku hanya bisa terdiam.
"... Tapi, terima kasih sudah mau menjengukku."
Ren tersenyum hangat kepadaku.
Namun, itu bukan senyum miliknya. Dia bukanlah Ren yang aku suka! I-ini ....
Aku berlari keluar setelah berpamitan.
Setelah itu aku sadar bahwa, dia tidak pernah mengucapkan namaku. Baginya, aku hanya orang asing. Aku juga baru ingat, kalau sejak awal dia tidak pernah tahu namaku saat pertama kali bertemu.
Keesokan harinya, aku menitipkan sebuah hadiah dan surat. Hadiah itu sama seperti yang ia berikan, sebuah mata kalung yang dikaitkan dengan seutas tali. Itu adalah hadiah perpisahan terakhir dari diriku yang lama dan hubungan diantara kami.
Aku mulai belajar dengan tekun agar menjadi siswa yang cerdas. Tidak lupa juga, aku sudah mempelajari cara hidup seorang gadis zaman sekarang. Sisanya, aku tinggal menyapanya saja.
"Siapa itu Ren?"
"Ren Gill? Aku tidak pernah mendengar nama siswa itu?"
"Mungkin yang kau maksud adalah Ren Kimochi, si komedian itu?"
Sayangnya, dia tidak pernah lagi datang ke sekolah. Saat aku menanyakan tentang Ren, semua guru meragukan apa dia pernah sekolah di sini. Diakhir perjuangan, akhirnya ada seseorang yang memberiku sebuah dokumen sebagai bukti Ren itu ada dan dia juga mengatakan bahwa Ren sudah pindah sekolah.
Terlambat untuk menyesali semua yang sudah terjadi. Aku hanya bisa maju dan terus berkembang. Begitulah akhir masa lalu kami.
Aku bukan orang yang menyukai dia karena ia sudah menolongku. Sudah lama perasaan ini kupendam dan akhirnya, kami dipertemukan kembali. Mulai saat itu, aku sudah memutuskan kalau cita-citaku adalah menjadi istri yang baik untuk Ren.
Tidak peduli apapun itu, bagiku dia adalah kebanggaanku. Takkan kubiarkan seorangpun merebutnya dariku, walaupun akan ada rintangan yang sangat menyebalkan. Sekali lagi, aku ingin dekat dengannya.
__ADS_1