
Ren, disini.
"Aku ingin pergi ke Valhalla!"
Begitulah yang diucapkan Author saat ia mendapatkan inspirasi dalam pembicaraan kami. Dia akan lupa diri dan berlarian sambil teriak "Banzai!", "I love kucing poi!", "Besok main Er*g lagi!", dsb. sampai membuatku ingin menendangnya. Pernah sekali, aku menghancurkan kebahagiaan tersebut.
"Kau gila?"
Mendengar pertanyaanku, dia hanya tersenyum.
Kalian tahu apa yang dia lakukan keesokan harinya? Dia menolakku untuk datang ke mimpinya selama beberapa hari.
Dasar Author yang tidak kompeten!
❇❇❇
Saat jam pelajaran PMS berlangsung.
Apa itu PMS?
PMS atau Pembelajaran Masa Depan adalah suatu pelajaran yang memperkirakan maupun mencari sesuatu tentang teknologi yang ada pada masa depan. Terdengar bodoh, namun pelajaran ini sangat menarik dan banyak diminati oleh para murid SMA Atradika. Bukan dari segi bahan yang akan dibahas tapi, letak menariknya ada pada bagian diskusi yang akan sebentar lagi terjadi.
Semua kelompok sudah dibentuk. Kelas terdiri dari 31 siswa yang berarti, terdapat 4 kelompok beranggotakan 6 orang dan sisanya memiliki 7 anggota. Sebentar lagi, akan terjadi PD III dari para profesor sakit jiwa di kelas ini.
Sebelum itu-
"Ah, kebetulan itu memang mengerikan."
Begitulah yang diucapkan Rena setelah mengetahui anggota kelompok kami. Ya, kami bertiga ada dalam satu kelompok dan tiga orang lainnya tidak perlu dipedulikan. Bukan hanya itu, soalnya pemimpin kelompok ini adalah Lee.
"Fufufu ... santai saja. Toh kita akan memenangkan perang ini."
Lee tersenyum licik, seperti yang diharapkan dari Iblis tak pandang bulu itu. Pasti dia sudah memiliki rencana sebelum ini, aku hanya bisa ikutan saja karena dia adalah ketua. Lee mulai menjelaskan strateginya kepada kami.
"3 orang pembicara adalah aku, Rena dan Ren. Kalian tinggal bantu kami dari belakang."
"" "Dimengerti!" ""
Mereka menjawabnya secara bersamaan dengan wajah yang sangat bahagia.
Dimengerti jidatmu! Biasanya, dari dulu aku yang sering di belakang. Sekarang kalau iblis itu yang memimpin, ah ... jangan ditanya lagi.
Lee melanjutkan penjelasan strategi kelompok kami.
"Ini akan sulit karena lawan kita adalah para otaku yang memiliki imajinasi tinggi."
"... Aku pikir kita harus sedikit mengalah dan tepat di saat terakhir, barulah menusuk jantung mereka secara langsung."
"Kau ini ingin pergi berperang sungguhan?"
Rena yang tidak mengerti maksud Lee, menatapnya seperti melihat pasien rumah sakit jiwa yang baru saja kabur.
"Kasar sekali, ini namanya sarkastik."
"Maksud Lee, kita akan membiarkan mereka lebih unggul terlebih dahulu."
Karena tidak tahan melihat situasinya, aku menjelaskan secara singkat agar mudah dipahami.
"Aku mengerti."
Akhirnya, Rena mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Lee.
Sisanya-
"Jadi, tugas mereka bertiga?"
Aku menunjuk ke arah anggota yang tersisa.
"Mereka akan membantu kita dari belakang."
"Seperti?"
"Bukankah kita semua butuh orang yang mencatat berbagai macam poin penjelasan selama diskusi?"
__ADS_1
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Itulah tugas mereka."
"Apa kalian menerimanya begitu saja?"
Aku menatap mereka dengan ragu.
"" "Ya, tentu saja." ""
Mereka segera menjawab pertanyaanku dengan serempak.
"Bagaimana denganku?"
Rena mencoba untuk memastikan tugasnya sebagai regu penyerang bersama aku dan Lee.
"Kau membantu kami saat sedang terdesak. Sebagai ujung tombak, kau harus memperhatikan semua detil ucapan mereka."
"Lee, bukankah itu cukup berle-"
"Baiklah."
Sebelum aku selesai bicara, Rena menyetujuinya. Karena dia sudah setuju, tidak ada alasan bagiku untuk protes lagi. Sebenarnya, akulah yang sangat menginginkan posisi itu.
Aku mendesah lalu berkata, "Sepertinya aku harus bekerja keras."
"Tentu! Mohon kerja samanya!"
Lee sangat senang menjawab ucapanku.
"Modar sana."
"Jangan terlalu dibuat susah, santai saja! Benar, kan?"
Lee menatap sisa anggota kelompok kami.
Mereka mengangguk beberapa kali, sebagai tanda setuju. Aku tahu kenapa mereka begitu penurut. Tentu saja karena murid populer seperti Lee ada di kelompok mereka.
...
Topik kali ini adalah teknologi terbaik. Bukan hanya itu, siswa dilarang keras mengikuti penjelasan yang pernah ada sebelumnya. Maksudku, saat Profesor mendengar kata yang sama, dia akan menganggap kau kalah.
Cara berpikir yang inovatif dan keberuntungan sangat dibutuhkan disini. Meskipun kau memiliki banyak penjelasan yang bagus, semua itu akan percuma saat dianggap tidak lolos oleh Profesor. Hanya ada satu cara untuk memenangkannya, jangan terlalu banyak bicara kecuali kau yakin bahwa topik itu belum ada yang menjamahnya.
Begitulah strategi milik Lee yang sebenarnya. Pada pelajaran ini, siswa dipaksa untuk mengerti kalau lidah itu bisa jadi harimaumu. Layaknya pedang bermata dua, lidah juga bisa menyakiti pemiliknya sendiri.
Cara berpikir seperti ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang sudah hidup bermasyarakat. Aku tahu banyak orang yang masih tidak bisa menjaga lisannya, namun percayalah dalam perang kata mungkin mereka akan langsung mati ditangan Jigsaw sebelum menemukan kuncinya. Jadi, pikirkan dulu sebelum berucap itulah inti dari perdebatan ini.
"Mulai."
Layaknya lonceng di acara gulat, ucapan Profesor menandakan dimulainya pertempuran debat antara kelompok kami.
"Kami akan memulai duluan."
Ketua tim lawan mulai menjelaskan apa yang ia pikirkan di depan semua orang.
"Di masa depan, wanita 2D dapat berpindah dimensi dan menjadi istrimu!"
Semua orang tercengang dengan pendapat tersebut, tanpa terkecuali Profesor yang mengawasi kami. Seperti yang diharapkan dari otakronis ini, mereka hanya memikirkan hasrat terhadap karakter 2D pada dimensi yang berbeda. Meskipun terdengar konyol, ide milik mereka memang sangat tepat untuk digunakan sebagai bahan pada debat kali ini.
"... Dengan begini, kita tidak membutuhkan gadis 3D lagi. Persetan dengan 3D!"
Aku mengerti dengan kengenesan hidupmu, Nak. Tapi, tolong jangan membawanya kemari. Apalagi di depan seorang profesor.
Si ketua mengakhiri penjelesannya dengan ekspresi bangga dan kembali duduk. Sementara itu, tepuk tangan mulai membanjiri kelas. Tentu saja sumber tepuk tangan itu berasal dari pasien sakit jiwa.
"Penjelasan tadi sungguh menakjubkan. Kelompok selanjutnya, silahkan."
Menakjubkan apanya?!!! Tidak, aku mengerti dengan tekanan batin yang kau tanggung. Ternyata pekerjaanmu cukup sulit juga, turut berduka untukmu Profesor.
Setelah dipersilahkan, Lee berdiri dengan senyum kemenangan.
"Fufufu ... penjelasan kalian memang bagus. Tapi! Kami punya sesuatu yang jauh lebih baik."
__ADS_1
Semua orang dan Profesor tercengang dengan ucapan Lee. Aku bisa menebak apa yang ada di kepala Profesor saat ini. Pasti dia bilang, "Ah pasti ini ide yang lebih gila dan tidak waras lagi." dengan rasa lelah yang memuncak akibat mendengar penjelasan para otakronis tadi.
"Penjelasan itu, tentu saja akan membuahkan banyak hasil positif. Sisanya akan kuserahkan pada 'Harem King' kami, Ren Gill."
Dengan bangganya Lee menunjuk kearahku sambil melempar tanggung jawab. Seluruh perhatian tertuju kearahku. Aku tidak dapat mundur jika sudah ditunjuk.
Peraturan dari diskusi adalah ketika tugas diserahkan kepadamu, kau tidak dapat mengembalikan tanggung jawab tersebut kepada orang sebelumnya. Aku mulai mengerti alur rencana licik dari Lee, dia mencoba untuk mengerjaiku. Saat aku melihat kearah Rena, dia sudah mengepalkan lengannya sebagai tanda "Jangan mengalihkannya padaku!" begitulah yang aku pikirkan.
Harem King itu apa?!!!
Mau bagaimana lagi, aku harus melakukannya. Jadi, yang kami butuhkan adalah sebuah topik yang merupakan teknologi canggih. Tidak lupa juga dari ucapan Lee, dia memberikanku sedikit petunjuk.
Banyak hasil positif, artinya teknologi ini akan membawa manusia ke peradaban baru. Tidak memiliki banyak kekurangan dan sangat mudah digunakan. Hanya ada satu yang terpikir olehku.
Jalur yang bergerak sendiri, seperti elevator. Kau hanya perlu berdiri di atas, sisanya biarkan jalur tersebut membawamu kemanapun yang kau mau. Asalkan tahu tempat yang ingin dituju, kau tinggal mengikuti petunjuk arah yang tertera.
Aku mulai tertawa sendiri didalam hati.
"Haaahhh ... hanya ada satu yang cocok dengan kondisi yang sudah diucapkan oleh Lee. Itu adalah 'Jalur yang berjalan sendiri'!"
Semua tatapan tajam seakan meminta penjelasan lebih lanjut dariku.
"... Dengan jalur itu, kita tidak perlu lagi yang namanya transportasi. Tidak ada lagi yang namanya kecelakaan lalu lintas, pertambahan angka global warming dan polusi udara juga akan berkurang secara drastis!"
"... Bukan hanya itu! Pengeluaran kalian akan berkurang! Hidup di masa depan akan menjadi lebih mudah untuk para pengangguran dan freelancer! Ah ... tentunya, ada satu lagi keuntungan tidak ada mobil."
Aku tersenyum menunggu respons dari para reseptor sakit jiwa.
"Apa itu?"
"Tolong jelaskan kepada kami, Harem King!"
"Berikan kami pencerahan, Tuan Harem King!"
Ugh, sebutan itu sangat menggangguku. Tapi, mulai sekarang kalian tidak akan memanggilku seperti itu lagi. Karena-
"Aku akan menjelaskannya, asalkan kalian tidak memanggilku seperti itu lagi."
""" "Kami berjanji!" """
Bagus! Para domba sudah memakan umpan! Sisanya adalah ... mengusir serigalanya.
"Bukankah sudah jelas? Tanpa mobil mereka tidak akan bisa melakukan hal apapun dengan gadis 3D secara tertutup di pinggir jalan! Tidak peduli 2D maupun 3D, kesenjangan itu akan hilang setelah berkurangnya destinasi melakukan hal kotor dengan gadis 3D! Dan kalian pasti tahu bukan sisanya .... "
Semua tatapan penasaran tertuju kepadaku.
"... Jika tidak bisa melakukan pengambilan video di tempat tertutup, lakukan saja di tempat terbuka!"
Sorakan dari para pasien sakit jiwa dan juga Profesor mulai membanjiri kelas. Bahkan, beberapa orang bersujud kearahku. Jujur saja, kepalaku ingin meledak melihat situasi ini.
"Hidup Harem King!!!"
"Harem King memang yang terbaik!!!"
"Kami akan terus mengikuti Harem King!!!"
Sementara rentetan sorakan membanjiri kelas, Lee diam-diam tertawa. Sialan, aku akan membalasnya nanti. Juga, jangan panggil aku Harem King!
"Ren, kau memang bodoh."
"Terima kasih pujiannya."
Rena memberikan pendapat yang benar saat ini. Aku sangat bodoh, hingga ingin mati saja. Semoga saja ini tidak berlangsung lama.
❇❇❇
Halo, Leo Natta disini!
Maaf ya untuk jadwal update yang tidak menentu. Apalagi setelah ini, Author tidak yakin akan update banyak chapter karena memasuki arc yang rumit (butuh ketelitian untuk menghubungkan berbagai chapter dari awal up hingga terakhir). Bukan hanya itu, Author memutuskan untuk melakukan peregangan dulu terhadap otak ini.
Tidak lupa juga, dengan chapter ini berakhir sudah "Arc Ren Kembali Hadir Ke Sekolah" & Volume 1 "Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia", nantikan terus update selanjutnya ya!
...
__ADS_1