Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 45 Ren Menyatakan Perasaannya


__ADS_3

Dengan Ren, disini. Kadang Author memberitahuku untuk tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang, namun aku sedikit merasa peduli dengan "SiapaXSiapa". Maksudku, kalian terlalu memikirkan siapa pasangan yang cocok untukku.


Setidaknya, perhatikan juga beban batinku ini. Kalau terus begini, bisa-bisa aku malah menjadi penjahat kelamin. Kalian tahu sendiri kan dengan Author cerita ini, dia tidak punya hati dan "TIDAK KOMPETEN" dalam menulis ceritaku.


Kenapa?


Aku akan memberitahukan ini ke kalian, sekali saja.


Saat itu aku bertanya kepadanya karena penasaran, hanya itu saja dan tidak ada yang penting.


"Thor, kenapa kau masih sendiri?"


Dia hanya menatapku dengan mata kosong dan ekspresi yang sangat dingin. Setelah itu, dia balas dendam dengan memberikan nasib sial kepadaku selama 5 chapter. Kekanak-kanakan sekali, bukan?


Siapapun! Tolong kencani dia, sebelum aku dibunuh setelah beberapa chapter!


"Tenanglah, Nak. Mati itu terlalu mudah untukmu, ribuan kali sakit dari siksaan dulu yahhh .... "


"Kau memang iblis, Author!"


Ren telah meninggalkan obrolan.


❇❇❇


Setelah urusanku dengan Wulan selesai, aku kembali menuju kelas.


"Ah, sial."


Satu hal yang paling aku benci dari kekurangan kepala ini, memori yang rusak dan tak pandai mengingat. Gara-gara ini, aku jadi buta jalan dan tidak tahu lagi harus pergi kemana. Aku melihat lingkungan sekitar, namun aku tidak tahu jalan kembali ke kelas.


Tidak jauh dari posisiku, aku melihat satu dewi-seseorang yang tidak asing. Berambut pirang dan dikepang dua. My Angel-maksudku, adik kelasku, Sophie.


"Ugh ... entah kenapa, efek samping itu masih melekat dijiwaku."


Merasa sedikit resah, namun aku masih memberanikan diri. Aku berjalan kearah Sophie dan saat setengah jalan, aku berhenti. Dia sepertinya sedang bersama dengan teman prianya karena tidak mau mengganggu, aku mengurungkan niat untuk menghampirinya.


"Bukankah itu ... Senior Ren?"


Abaikan! Aku tidak mau jadi obat nyamuk!


"Seniooorrr!!!"


Dia memanggilku dengan keras. Sayangnya, aku tidak akan pernah menjadi obat nyamuk bagi kalian. Saat aku tidak peduli, dia malah mengejarku dan meninggalkan pria itu.


"Kena!"


Sophie menangkap tanganku dan memeluknya. Seperti sepasang kekasih, ah ... bagai di Surga. Tidak-maksudku, tidak baik jika kami terus begini.


"Ada apa?"


Aku melepaskan pelukannya sambil menanyakan keperluan Sophie.


"Kenapa Senior tidak memanggilku saat kesulitan?"


"Kesulitan?"


"Bukankah Senior sedang tersesat?"


"Guh!"

__ADS_1


Entah kenapa, aku merasa dipukul K.O dengan sekali hantam. Pukulan kritikal itu benar-benar meruntuhkan derajatku sebagai kakak kelas. Mau bagaimana lagi, aku harus jujur dan melamarnya-tidak maksudku, meminta bantuannya.


"Ya, aku sedang tersesat. Tapi, kau tidak perlu repot sampai harus meninggalkan kekasihmu. Aku bisa jalan-"


"Dia bukan kekasihku."


Dengan cepat Sophie menyelaku.


"Tidak, tidak ... kau tidak perlu berbohong seperti itu. Jika kau ingin aku merahasiakannya, tentu akan kulakukan."


"Tidak, tidak. Senior sudah salah paham, dia itu cuma pria murah-orang yang numpang lewat."


Jelas sekali itu bohong. Bagaimanapun juga, aku bisa tahu itu karena kalian sudah bersama sejak tadi. Bahkan, kau sempat mengabaikanku.


Tidak, bukan begitu. Dia tidak mengabaikanku, hanya saja aku yang bersembunyi agar tidak mengganggu mereka. Tapi, saat dia melihatku, ia langsung datang menghampiri.


Mencurigakan.


"Kalau begitu, dia siapa?"


"Sudah kubilang kan cuma ... " Sophie mendekatkan mulutnya pada telingaku lalu berkata, "Urusan Netra."


"Begitu ya-!"


Mendadak Sophie menggigit telingaku. Daripada menggigit, ini seperti yang pernah aku lakukan padanya saat itu. Aku bergegas menjentikkan jariku ke bagian dahinya.


"Aduh!"


"Apa itu tadi?"


Ah senangnya! Tidak, aku bukan masokis ataupun pecinta hal yang sejenisnya! Aku menatap datar kearah mata Sophie.


"Hou ... sebaiknya kau mencari cara lain."


"Itu ... ah! Bukankah Senior sedang tersesat? Jadi, mau kemana?"


Mengalihkan topik, dia langsung bertindak sebagai pemandu arah.


"Ke kelasku."


"Dimengerti!"


Dia berjalan di depanku dan seperti biasa, aku mengikuti dari belakang. Kekurangan otakku ini sangatlah minus, namun tidak untuk berpikir dan mencari kemungkinan. Gara-gara kekuranganku, aku tidak dapat mengingat siapapun di masa lalu entah itu nama dan juga lokasi.


...


Dalam perjalanan menuju kelas 12-A.


Aku mengingat kembali beberapa masalah yang sudah terkumpul. Efek samping obat laknat, kesalahpahaman para pasien sakit jiwa kelas 12-A, Wulan yang sedang didesak oleh seseorang dan sekarang aku merasa cemburu karena adik kelasku dekat bersama orang lain. Gilanya aku, tidak mungkin aku menyukai dia.


Ya, itu bukan perasaan suka! Hanya saja, aku tidak akan membiarkan serangga busuk mendekatinya! Itu adalah kewajiban seorang kakak kelas!


"Tidak, tidak. Sama saja seperti aku .... "


"Ada apa, Senior?"


"Sepertinya, aku menyukaimu."


"E-ee-eehhh?!!!"

__ADS_1


"... D-di depan, Senior tinggal lurus saja. A-aku ... pergi dulu!"


Sophie berlari secepat kilat meninggalkanku. Sepertinya, bercandaku memiliki efek yang sangat buruk pada Sophie. Nanti aku akan meminta maaf kepadanya.


Aku harap dia tidak salah paham dengan yang tadi. Jika dia salah paham, mau bagaimana lagi-tidak maksudku, aku harus meluruskannya. Semoga saja dia tidak menganggapku sebagai pria murahan yang menyatakan cinta kepada adik kelas.


"Haahhh ... efek samping obat itu sudah memasuki jiwaku."


...


Di dalam kelas.


"Yo! Tuan Playboy!"


Melihatku kembali, Lee menyapa dengan kata yang sangat tidak enak didengar. Bukan berarti aku marah dan juga, tidak mungkin untuk menyalahkan persepsinya padaku. Dimata orang lain beginilah aku, seorang pria yang mengais dua gadis secara bersamaan dan merahasiakannya dari banyak orang.


Tanpa menjawab, aku langsung duduk di kursi. Aku sudah kehilangan muka gara-gara mereka berdua, jadi untuk sekarang tidak ada yang dapat aku lakukan dalam pembersihan nama baik dan polosku ini. Wajahku menjadi terlihat lesu seperti ikan mati, ah ... bukan berarti aku sudah mati.


"Ada apa dengan telingamu?"


"!!!"


Rena yang ada di sebelah langsung menanyakan keadaan telingaku yang dia rasa cukup berbeda, tentu saja karena itu adalah bagian yang digigit oleh Sophie barusan. Aku merasa cukup terkejut dia bisa tahu hanya dengan melihat, rasa ingin tahupun mulai menghampiri. Ya, bagaimana bisa dia tahu perbedaan tersebut sedangkan aku tidak memperlihatkan keanehan apapun pada bagian telinga.


"... Tidak ada."


"Oh! Pasti kena cu-agghh!!!"


Aku bergegas memberikan satu pukulan telak ke dasar perut Lee. Maaf Lee, ini semua demi nama baikku yang mungkin masih terlihat bersih. Tidak akan aku biarkan ada orang lain lagi yang menambah keburukan persepsi mereka terhadapku.


"Ada sesuatu yang terjadi saat kau pergi bersama Wulan?"


Rena menatap tajam kearahku.


"Tidak, tidak ada sama sekali. Kau terlalu berlebihan, sampai mencurigaiku seperti ini."


"Mencurigakan."


"Jangan samakan aku dengan para gigolo pemula."


"Ah, benar juga kau itu cuma bajingan yang ingin jadi seorang gigolo. Jangankan amatir, terlihat seperti gigolopun tidak."


Rentetan hinaan mulai keluar dari mulut yang tak berperasaan itu. Aku tahu kalau lidah tidak memiliki tulang tapi, Bisakah kau mengkondisikan perasaan pada setiap kata yang diucapkan lidahmu itu? Meskipun dia tak berperasaan, perhatikanlah apa yang dirasakan oleh si reseptor ucapanmu, serius!


"Ah, benar juga. Aku bukan gigolo tapi, Gilgolo."


"Apa kau sakit jiwa?"


"Tidak, hanya saja hatiku merasa sakit."


"Lebih baik kau ke dokter, siapa tahu besok adalah tanggal kematianmu."


"Ha-ha-ha! Lucu sekali, mendengar itu dari dataran rat-guhh!"


"Entah kenapa aku jadi ingin menamparmu sekali, tidak apa kan?"


Sebelum aku sempat bicara lebih lanjut, dia memukulku. Sesudah memukul dengan sangat keras, barulah dia meminta izin. Apa dia gila? Yang benar saja, mana ada pukul dulu baru minta izin? Aku ini bukan samsak tinjumu, kau tahu?!!!


Bel berdering tanda pelajaran dimulai.

__ADS_1


Terima kasih untuk belnya. Siapapun yang menyalakan itu, kau telah menyelamatkan nyawaku. Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih banyak.


__ADS_2