Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia

Ren & Rena : Legenda Pahlawan Dunia
Chapter 17 Memikirkan Motif Pihak Sekolah


__ADS_3

Meskipun jam bimbingan sudah selesai, berita buruk itu masih terngiang di benak para murid. Bagaikan tertusuk ribuan duri, beberapa orang mulai merasa cukup depresi. Sama seperti dugaanku, kemungkinan dalam penerunan kualitas murid akan segera terjadi.


Aku menatap kedaan menyedihkan ini dengan rasa yang bercampur aduk, antara kesal dan kasihan. Aku kesal karena tidak dapat berbuat semaunya, bahkan aku juga sudah tidak bisa merasakan waktu bebas lagi. Selanjutnya, aku merasa kasihan kepada beberapa orang yang mulai merasakan depresi karena hal ini memungkinakan mereka untuk melakukan tindakan bunuh diri.


Berbagai macam pertanyaan mulai muncul di kepalaku.


Kenapa baru dimulai tahun ini?


Aku masih memerlukan banyak informasi karena hal ini seharusnya tidak terjadi sekarang. Bahkan seorang manager amatir juga tahu bahwa, perubahan besar yang dilaksanakan dalam waktu singkat akan membuat bawahannya menjadi sangat depresi. Setidaknya, mereka masih memerlukan beberapa tahun lagi agar dapat menerapkan perubahan sebesar ini.


Jika ada sesuatu yang kurang, pasti ada hubungannya dengan Dalang itu. Meskipun tidak ada bukti nyata, perubahan kebijakan ini adalah salah satu bukti bahwa dia merasa terancam. Di lain sisi, aku juga merasa terancam karena identitas kami sudah diketahui oleh musuh.


Saat aku keluar kelas, di samping pintu masuk Claudi sudah menungguku.


“Kenapa lama?”


Aku langsung menjawabnya tanpa penundaan.


“Aku sedang kepikiran banyak hal.”


Aku menanyakan perihal Claudi menungguku.


“Ada urusan apa sampai-sampai menungguku seperti ini?”


“Sebelum aku menjelaskan semuanya, ikuti aku ke ruang ekskul. Kita akan berbicara di sana.”


Aku mengikuti Claudi ke ruang ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia.


...


Di dalam ruangan.


Tiga orang anggota sudah berkumpul terlebih dahulu sebelum kami tiba.


Claudi memperkenalkan dirinya di depan semua anggota.


“Perkenalkan, namaku Claudi Sarasvati. Aku adalah pembina ekskul ini dan mohon kerjasamanya.”


Setelah selesai memperkenalkan diri, Claudi melanjutkan urusannya denganku.


Kami berdua duduk di pojok ruangan, sementara yang lain dengan diam mendengarkan pembicaraan diantara kami.


“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”


“Ini tentang kebijakan yang baru saja ditetapkan oleh pihak sekolah, aku hanya ingin tahu ... apa kau sudah mendapatkan jawabannya?”


Jawaban, ya. Aku mengerti sekarang, ada kemungkinan dia juga memikirkan misteri yang sama denganku. Memahami maksudnya, aku mulai memberikan beberapa tebakan secara untung-untungan.


“Apa mereka sudah menganggap kita sebagai ancaman?”


Bukannya menjawab, Claudi mempertanyakan lebih lanjut tentang pernyataanku yang asal tebak.


“Kenapa kau berpikir demikian?”


“Hanya mengira saja tapi, jika demikian ... bukankah dia terlalu meremehkan kita? Maksudku, bisa saja kita mengetahui siapa yang sedang memantau seluruh kegiatan para siswa sambil memperbarui kebijakan sekolah lagi.”


Tunggu.


“Tidak mungkin dia akan membiarkan kita mengetahui wajahnya semudah itu, pasti ada alasannya.”


Aku mulai berpikir lagi.


“Pada sudut pandang lain ... memberikan keringanan dalam melacaknya ... sebuah jebakan, itu dia! Kebijakan ini adalah sebuah perangkap bagi kita.”


Mendengar penjelasanku, Claudi bertanya.


“Kenapa lagi itu bisa menjadi sebuah jebakan?”


“Mudah saja, sebelum perang habis-habisan bukankah kau perlu mengukur kekuatan musuhmu? Sama seperti pertarungan dalam bidang politik, kau perlu mencari tahu kelebihan dari lawanmu sebelum menggali kelemahannya.”


Claudi yang belum mengerti, memintaku untuk menggunakan bahasa yang lebih mudah untuk dipahami.


“Bisakah kau menjelaskannya lagi? Tolong gunakan bahasa yang mudah dipahami.”

__ADS_1


Aku mendesah dalam lalu berkata, “Dia ingin tahu apa yang bisa kita lakukan sekaligus, orang itu juga ingin melacak balik siapa yang berani menentangnya.”


Claudi mencoba untuk menyimpulkan penjelasanku dengan kalimatnya sendiri.


“Jadi, dia ingin mengetahui siapa yang memberontak dan semua keahlian mereka. Apa benar begitu?”


“Ya, 100 poin untukmu.”


"Yeey!"


Dia mulai kegirangan seperti anak kecil yang diberi sebuah permen manis.


Setelah itu, Claudi kembali bertanya.


“Lalu, bagaimana penanggulangan masalah ini?”


Karena cukup sulit untuk menjawabnya, aku meminta waktu berpikir.


“Berikan aku waktu untuk berpikir.”


Mengerti dengan situasiku, Claudi mengangguk dan pergi menyapa anggota lainnya.


Aku mulai memejamkan mataku dan berpikir.


Semua ini mulai terhubung, seperti sebuah kasus yang akan membawaku pada kenyataan yang tidak terduga. Membayangkan adanya pengkhianat diantara para Tetua saja sudah sangat rumit, apalagi mencari cara untuk lepas dari kendalinya. Paling tidak yang bisa aku pikirkan adalah bagaimana caranya untuk menghindari pertikaian secara langsung dan juga, menghapus bukti tentang keberadaanku sebagai musuh mereka.


Bukti dari saksi hidup yang bisa dia dapatkan adalah James Wallters, bagaikan pedang bermata dua, James juga bisa melukai pihaknya. Untuk saat ini, aku bisa mencoret James dari daftar yang perlu diwaspadai. Sisanya adalah beberapa kemungkinan seperti, saat kami melawan James apa masih ada alat penyadap yang masih berfungsi?


Meskipun Lee sudah yakin bahwa ia telah mengacaukan alat penyadap milik musuh, ada kemungkinan beberapa alat masih bekerja dengan baik meskipun menerima gelombang gangguang dari penyadap yang Lee berikan kepada masing-masing anggota Netra. Saat ini keluarga Lee juga sedang memeriksa hasil yang kami dapatkan dan sekarang, kami masih menunggu kabar baik dari mereka. Untuk penghancuran yang sudah kami perbuat, anggota Netra lain sudah membereskannya.


Pertahanan kami masih belum ada celah. Bagaimana dengan pihak lain? Mungkin mereka akan memikirkan cara yang lain apabila kebijakan ini tidak berhasil. Aku harap mereka masih melakukan sesuatu yang dibawah hukum kemanusiaan, akan sulit bagiku untuk melawan jika mereka sudah keluar dari jalur kemanusiaan.


Lagipula apa yang sebenarnya ingin mereka capai?


Kekayaan? Popularitas? Kekuasaan? Hak politik?


Tidak, bukan itu.


Dendam.


Semua itu tidaklah lain karena sebuah dendam lama, seberapa lamapun itu sekali api dendam menyala tetap saja kau membutuhkan air untuk memadamkannya. Bagaimana kalau orang itu takut dengan para pendendam tersebut lalu, dia mencoba untuk menenangkan mereka dengan cara menghancurkan reputasi sekolah hingga tempat ini menjadi timbunan sampah. Cukup masuk akal, namun aku tidak yakin orang lain akan menerima kemungkinan ini.


Para Tetua juga cukup misterius karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajah maupun bertemu secara langsung dengan mereka. Ada beberapa rumor mengatakan bahwa mereka bisa saja menyamar sebagai guru, ada juga yang mengatakan mereka hanyalah sekumpulan mitos sekolah ini. Aku tidak bisa mengambil kesimpulan apapun tentang mereka, hanya saja aku yakin bahwa mereka itu benar-benar ada dan sekarang sedang mengawasi kami semua.


Merasakan sesuatu yang dingin di atas kepalaku, aku membuka mata.


Aku melihat Rena yang menatapku dengan khawatir.


“Ada apa?” tanyaku.


Rena memegang lenganku lalu ia mengarahkannya ke sesuatu yang dingin di atas kepalaku.


“Jangan terlalu banyak berpikir, sesekali beristirahatlah dulu.”


Aku mengambil minuman dingin yang berada di atas kepalaku lalu berterima kasih kepada Rena.


“Terima kasih, berapa harganya?”


Dia menolakku untuk mengembalikan uangnya.


“Tidak perlu, anggap saja itu sebagai permintaan maaf dan terima kasihku.”


Tidak ingin berdebat, aku langsung menerima minuman itu lalu meneguknya hingga habis.


Rena kembali menanyakan keadaanku.


“Bagaimana keadaanmu sekarang?”


“Cukup baik.”


Setelah mendengar jawabanku, ia menepuk pundakku lalu pergi berkumpul dengan anggota lainnya.


Tidak lama kemudian, Claudi kembali menghampiriku.

__ADS_1


“Menemukan sebuah petunjuk?”


“Tidak ada tapi, aku menemukan sesuatu yang menarik.”


Mendengar kata menarik, tombol Claudi mulai ditekan menyala.


Dengan wajah yang cukup kegirangan layaknya seekor anjing, dia bertanya kepadaku.


“Apa itu?”


“Ada kemungkinan, seluruh tindakan mereka didasarkan pada dendam lama.”


Wajah Claudi mulai berbentuk aneh, ini menandakan bahwa dia sedang berpikir dan mencoba memproses berbagai macam kejadian yang akan terjadi di dalam otaknya. Dari sini, aku sudah bisa melihat kepalanya yang mulai berasap. Melihatnya dengan penampilan baru dan di saat ia sedang berpikir, dimataku ia terlihat lucu.


Mulutku tidak sengaja mengeluarkan kalimat itu.


“Pantas saja aku tidak akan pernah bisa menganggapmu sebagai wanita dewasa.”


Gawat! Semoga dia tidak mendengarkan ucapanku!


Sesuai harapan, dia masih dalam proses berpikir dan tidak akan menghiraukan apapun yang ada di dekatnya.


Melihat kondisi Claudi seperti itu, Sophie bertanya kepadaku.


“Apa dia baik-baik saja?”


“Tenanglah, orang aneh ini memiliki kebiasaan apabila sedang berpikir ia tidak akan peduli dengan apapun yang ada di sekitarnya.”


“Eh? Bukankah kita harus menyadarkannya?”


Lee mengikuti pembicaraan kami.


“Itu tidak diperlukan karena ... “ Lee mengambil foto Claudi dengan ponselnya lalu berkata, “Kita bisa melakukan ini sepuasnya.”


Lalu ia mengarahkan pose “V” kepada kami.


Rena mulai mengomentari tindakan konyolnya itu.


“Idiot.”


Aku juga setuju dengan Rena.


“Kau benar, dia memang bodoh.”


Setelah mendengar komentar kami, Lee menjadi diam tanpa bersuara lagi. Sementara itu, Claudi kembali dari dunianya.


“Akhirnya aku mendapatkan sebuah kesimpulan!”


Semua perhatian tertuju kepadanya.


Dengan diam kami menunggunya untuk melanjutkan.


Penuh rasa bangga, Claudi melanjutkan penjelasannya.


“Jika semua itu didasarkan pada dendam, bukankah lebih baik untuk mendata beberapa guru yang memiliki latar belakang buruk? Karena itu mustahil, aku memikirkan lagi cara lain. Akhirnya aku menemukan satu cara yaitu, menghapus sumber dendam tersebut.”


Satu lagi Idiot yang memberikan saran aneh.


Aku menatap Claudi dengan kasihan.


Merasa aneh, dia bertanya kepadaku.


“Ada yang salah?”


“Saranmu tidaklah sepenuhnya salah tapi, bagaimana kalau itu adalah hal yang dipikirkan oleh orang itu juga?”


“Bukankah artinya kita sudah menemukan motifnya?”


Perkataan itu, dengan sangat ringan dia mengatakannya. Bahkan, aku sendiri tidak terpikir menggunakan perkiraan seperti itu saat mendengarkan komentar dari orang lain, pada saat itu juga kau hanya perlu membaliknya. Hari ini akhirnya aku belajar sesuatu, jenius dan gila itu hanya beda tipis.


Aku akan menggaris bawahi “Seorang Tetua mencoba untuk menghilangkan sumber dendam” di dalam ingatanku.


Dan satu lagi, ternyata Claudi memang orang yang jenius.

__ADS_1


__ADS_2