
Hari kedua minggu pertama masuk sekolah.
Hari ini aku akan melanjutkan rencanaku yang kemarin yaitu, Penertiban OSIS.
Sebelum menjalankan rencana utama, aku harus mencari tahu siapa Dalang di balik semua ini. Seperti yang pernah Rena bilang, bagaimana jikalau ada seseorang yang memiliki jabatan lebih tinggi daripada kami terlibat. Rencananya cukup mudah, aku hanya perlu mencari bukti untuk menekannya.
Menekan lebih baik dibandingkan mengancam, ingatlah itu.
Aku menunggu seseorang di depan gerbang sekolah.
Ponselku bergetar, tanda pesan masuk.
"Temui aku di markas."
"Dimengerti."
Aku bergegas pergi menuju markas utama Netra, tepat di dekat latar kuburan palsu.
Sambil berjalan, aku berbicara sendiri.
"Sebenarnya ada beberapa hal yang terlihat jelas di sini ... "
"... Orang itu pasti sangat penting hingga menekan yang lain menggunakan sebuah tradisi."
Itulah kenyataan yang harus kami hadapi sebisanya.
...
Saat jarakku sudah dekat dengan wilayah markas.
Merasakan keberadaan seseorang, aku mencoba untuk berpura-pura bodoh sambil menuju ke gedung yang ada di dekatku.
Setelah sampai di gedung itu, aku menaiki lantai atas melalui pintu masuk dan menunggu Si Penguntit yang kurang ajar itu.
Seperti dugaanku, dia ikut masuk ke gedung dan akhirnya kebingungan mencari keberadaanku.
"Dimana orang itu .... "
Aku melompat dari atas untuk menerjangnya.
"Aku di sini."
Sambil mengatakan itu, aku mengunci bagian leher dan tubuhnya agar tidak dapat menyerang balik ke arahku.
Aku mulai menginterogasinya.
"Apa tujuanmu mengikutiku?"
"Kau salah orang."
Merasa jengkel dengan jawabannya, aku mematahkan satu lengannya.
Pria itu berteriak kesakitan.
Aku mulai menginterogasinya lagi.
"Apa tujuanmu?"
Masih terlihat enggan menjawab, aku mulai menarik sendi lengan yang satunya.
Karena tidak tahan lagi, akhirnya dia buka mulut.
"A-aku mengerti! Tolong jangan patahkan lenganku!"
Aku menatapnya dengan dingin sambil memperhatikan sekeliling menggunakan indera pendengaranku.
"Aku adalah pesuruh ket-"
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba orang itu kejang dan akhirnya mati dengan mengenaskan.
Sial! Padahal tinggal sedikit lagi, tapi itu tadi cukup aneh. Apa yang dia lakukan sehingga dapat kejang seperti itu? Tidak mungkin dia menyembunyikan sesuatu di mulutnya karena aku sudah memastikan hal tersebut dari teriakkan pria itu sebelumnya. Hanya perkiraan yang mungkin bisa terjadi saat ini, di bagian tubuhnya sudah terpasang alat bunuh diri dengan kendali jarak jauh.
Sepertinya aku terlambat satu langkah dari orang yang mengincar kami atau dia hanya menginginkanku? Tidak, tidak, itu tidak mungkin! Aku tidak boleh berpikir seperti itu karena mungkin saja, hal itu akan menjadi kenyataan apabila aku memikirkannya secara terus menerus.
Dari jauh, aku melihat Lee berlari kemari.
Melihat mayat itu, Lee mulai bertanya rincian kejadian tadi kepadaku.
"Apa yang terjadi?"
"Dia mengikutiku hingga kemari, menurutmu apa motifnya?"
"Orang bayaran yang bodoh, mungkin?"
"Mungkin, huh. Setidaknya orang ini tidak memiliki pengalaman apapun berbasis militer maupun mata-mata amatir dan yang lebih penting lagi, kenapa dia hanya mengejarku."
Lee memeriksa mayat itu lalu berkata, "Orang ini bukanlah warga sekolah, ada kemungkinan dia hanya sebuah boneka yang bodoh."
Aku setuju dengan ucapannya tapi, aku sedikit mengkritik cara berbicara Lee.
"Ya, kau benar. Ngomong-ngomong, bukankah kau terlalu kejam terhadap mayat karena mengatai dia bodoh beberapa kali."
Dengan santai Lee menjawab kritikanku.
"Aku tidak peduli. Sekali sampah, dia akan tetap menjadi sampah yang akan menyatu dengan tanah nantinya."
Aku hanya bisa mendesah lelah karena pandangan sadis dari temanku yang satu ini.
Lee melanjutkan pertanyaannya kepadaku.
"Lalu, bagaimana dia bisa mati?"
"Dia mati karena kejang, tapi untuk penyebab kejangnya aku tidak tahu. Mungkin, ada alat kendali ja-!!!"
Sebelum aku menyelesaikan ucapanku, Lee bergegas melompat ke arahku untuk menghindari ledakan yang akan datang dari mayat itu.
Kami berdua terpental bersama, namun orang yang menderita banyak luka adalah Lee karena dia membiarkan tubuhnya untuk melindungiku.
Meskipun merasa sakit yang cukup parah, Lee masih menanyakan keadaanku.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Aku baik-baik saja, dimana yang sakit?"
Aku segera memeriksa tubuh Lee.
"Tidak ada, cukup bantu aku ke markas."
Saat aku memeriksanya, tubuh Lee hanya menderita memar akibat benturan yang keras pada lantai bangunan.
__ADS_1
Merasa cukup yakin dengan pemeriksaanku, aku menggendong Lee di punggungku lalu membawanya ke ruang pengobatan yang ada di markas.
...
Setelah proses pengobatan selesai, kami membuat sebuah laporan rahasia tertulis atas penyerang tadi.
Di balik suasana meriah dari anak-anak yang menikmati masa mudanya, kami sebagai rekan menghabiskan waktu untuk melindungi sekolah ini. Begitulah tugas yang sebenarnya dari organisasi Netra, tidak heran kalau beberapa orang menganggap kami adalah halangan untuk menghancurkan reputasi sekolah ini. Terlebih lagi, ada orang dalam yang ingin bermain di belakang kami.
Aku meminta maaf kepada Lee karena dia sudah bersusah payah melindungiku.
"Maaf, aku sudah membuatmu menanggung semua luka."
Dengan ringan, Lee menyangkal pernyataanku.
"Apa yang kau katakan, bukankah kita rekan? Seharusnya ini juga salahku karena sudah membiarkanmu sendirian."
Lee tersenyum seperti biasa seakan-akan itu adalah hal yang normal baginya untuk ditanggung sendiri.
Berhenti tersenyum seperti itu! Jujur saja, senyummu itu membuat rasa bersalahku semakin menumpuk!
Selesai membuat laporan, Lee menanyakan rencanaku yang selanjutnya.
"Bagaimana dengan rencana POnya?"
"Sepertinya harus ditunda, kita bisa melakukannya lain waktu."
(Harus dipercepat, kita harus menghimpun semua kekuatan maupun kekuasaan secepatnya)
"Aku mengerti, kalau begitu kita hanya perlu menunggu beberapa hari lagi."
(Aku mengerti, berarti rencana kita akan dijalankan hari ini)
Aku mengangguk ke arah Lee dan kami berdiri di beberapa titik sudut ruangan yang bebas dari rekaman CCTV lalu mencari kabel penghubung tersebut dan memutuskannya, kami melakukan itu seakan-akan semuanya adalah kecelakaan agar tidak ada pihak lain yang curiga.
Setelah selesai, kami menyiramkan air ke beberapa dinding di setiap ruangan.
Dengan ini persiapan kami sudah selesai.
Hal yang paling pertama kami lakukan adalah tindakan pencegahan yaitu, menghapus bukti kegiatan kami dari data CCTV agar pihak lawan tidak dapat mengajukan tuntutan balik.
...
Setelah langkah pencegahan pertama selesai, kami menuju ke sebuah ruangan yang menyimpan alat operasional. Alat operasional berbasis perlengkapan militer dengan teknologi canggih, merupakan sebuah baju tempur yang hanya kami dan beberapa guru pengawas saja yang tahu akan letaknya. Kami mengambil semuanya lalu merusak dan mengubur alat-alat itu bersama dengan sebuah alat penyadap video yang dikembangkan oleh perusahaan keluarga Jun, tepatnya milik keluarga Lee.
Setelah selesai, kami menuju ke fase persiapan terakhir.
Tahap negosiasi untuk "PEMILU Ketua OSIS" secara merata di seluruh sekolah menengah tingkat akhir. Aku butuh orang yang memiliki koneksi dengan para petinggi dibidang pendidikan di seluruh dunia, kali ini aku berani memastikan proposal kami akan langsung disetujui. Kenapa? Karena aku akan menggunakan apa yang sebenarnya disebut gerakan "People Power" ke seluruh dunia, pastinya bukan aku yang akan memimpinnya di depan layar.
Saat aku jatuh ke dalam lamunanku, kami dikepung beberapa anggota Netra termasuk guru pengawas yang dipimpin langsung oleh Aaron.
Lee dengan tenang mengatakan pendapatnya sambil menatap ke sebuah lorong.
"Sepertinya kita sudah masuk ke perangkap yang sangat mudah benarkan, Ketua Umum Pimpinan Manajemen Sekolah, James Wallters?"
Dari lorong yang gelap itu, seorang pria botak bertubuh besar keluar dari bayangan.
"Sungguh disayangkan, padahal aku ingin memberikan kesempatan kedua pada organisasi Netra agar tidak menghalangi rencanaku."
Lee bertanya langsung tentang tujuan sebenarnya dari James.
"Apa tujuanmu melakukan ini?"
"... Tunggu, tunggu, biar aku tebak. Apa kau ingin menguasai seluruh keuangan sekolah? Maksudku, pekerjaanmu itu adalah yang paling dekat dengan keuangan sekolah selain divisi pimpinan BKS (Badan Keuangan Sekolah)."
"... Ini bukanlah sekolah lagi! Sekolah itu seharusnya tempat dimana semua orang bisa merasa nyaman untuk melaksanakan kegiatan belajar-mengajar, bukan seperti ini! Ini ... seperti di Neraka!"
Dari cara bicaranya, aku yakin James memiliki dendam terhadap sistem sekolah ini.
Lee masih mencoba untuk mengkonfirmasi beberapa hal.
"Bukankah itu hanya terdengar seperti, seseorang sedang balas dendam terhadap sekolah karena sudah menendang orang yang tidak berkompeten?"
Terpancing ucapan Lee, James mengarahkan sebuah pistol kepadanya.
"K-kau!!!"
"Apa?! Ingin menembak? Lakukan saja dan rencanamu akan gagal berantakan akibat kecerobohanmu sendiri."
Tidak, dari awal James sudah terperangkap dalam jebakan Lee.
Lee berani melawan karena pistol itu palsu, jika itu asli sudah pasti dia akan berpikir lagi.
Lee masih melanjutkan provokasinya terhadap James.
"Kenapa tidak menembak? Apa kau takut?"
Aku mencoba untuk menambah amarah James.
"Sudahlah, Lee. Dia hanya seorang pengecut yang bisanya mengancam orang lain."
Aku tersenyum seakan menatap makhluk yang sangat menjijikan kepada James.
Semakin tersulut amarah, James mulai menerjang kami sendirian tanpa peduli dengan anggota pengepung dari Netra.
Salah satu regu pengepung, memberikan kode "V" terhadap kami. Artinya, kami harus bertahan hingga petugas sekolah datang. Kami melawan James, pertarungan ini akan terasa cukup sulit karena tubuhnya yang sangat kekar dan besar.
Semua anggota regu pengepung memberi jalan kepada James yang sudah tidak dapat menahan amarahnya.
Lee berbisik kepadaku.
"Ren, kita akan menggunakan taktik pukul mundur dan serang terus bagian otot lengan kirinya."
Aku mengangguk sebagai tanda mengerti.
Tanpa pikir panjang, James menerjang kami berdua dengan gerakan yang cukup cepat.
Kami menghindari berbagai pukulan yang dikerahkan oleh James sambil menyerang otot lengan kirinya.
Saat ada celah, Lee melempar sebuah petasan kearah mata James.
James menangkap petasan itu sambil merendahkan strategi kami.
"Apa hanya segini kekuatan kalian?"
Lee tersenyum sambil menjawab hinaannya.
"Untuk bayi besar sepertimu, kau masih kurang baik untuk menghadapi kombinasi kami berdua."
Setelah Lee mengatakan itu, kami mulai menuju gerakan akhir.
__ADS_1
Dalam pertarungan, durasi adalah musuh yang sangat kuat bagi seseorang bertubuh besar seperti James. Kami sudah mengulur waktu dan memperlemah pukulannya, jadi sudah saatnya bagi kami untuk tidak menahan diri. Setidaknya, serangan ini akan membuatnya cacat untuk sementara waktu.
Kami menyerangnya dari depan dan belakang.
Lee yang berada di depan menghadapi James secara langsung sambil beradu pukulan dengannya, sedangkan aku menyerang titik buta James tanpa harus khawatir dengan serangan balik darinya karena dia sudah cukup kewalahan menghadapi Lee yang berada di depan.
Pertarungan kami akhirnya berakhir dalam 10 menit.
James pingsan sambil berdiri akibat pukulan terakhirku yang menyebabkan kepalanya menderita geger otak tingkat sedang. Sedangkan kami berdua, kami sudah kelelahan dan beristirahat sambil menunggu petugas sekolah datang. Tidak lama setelah itu, para petugas datang dan kami menyerahkan beberapa barang bukti berupa video dan hasil penyadap rekaman selama pembicaraan tadi.
Dengan ini, kami sudah selangkah untuk menuju tujuan utama.
Aaron menghampiri kami dengan cemas.
"Apa kalian tidak apa?"
Lee dengan santai menjawab pertanyaan Aaron.
"Itu bukanlah apa-apa, apa sekarang kau bisa percaya kepada kami?"
"Idiot, bukankah sejak awal aku sudah mempercayakan hal ini kepada kalian berdua."
Setelah mengatakan itu, Aaron kembali ke petugas sekolah untuk membantu penyelidikan.
Lee bertanya kepadaku.
"Kira-kira, tuduhan apa yang akan dijatuhkan kepada James?"
"Penghancuran aset sekolah, kekerasan terhadap murid, dugaan kasus korupsi, tindakan percobaan pembunuhan terhadap kita dan masih banyak lagi."
"Lalu bagaimana dengan hukumannya?"
"Setidaknya, 30 tahun lebih adalah angka minimalnya. Apabila ia bisa menemukan barang bukti sebagai pembelaan, setidaknya hukumannya minimal menjadi 25 tahun penjara."
Lee merasa ngeri dengan hasil rencanaku dan masih bertanya tentang hal lain.
"Tentang Dalang di balik semua ini, bagaimana menurutmu dengan dia?"
"Dia tidak akan bisa bergerak karena James menjadi tawanan di pihak kita terlebih lagi, sebentar lagi ia akan dikejutkan dengan gerakan utama kita yang akan menyangkut pihak di seluruh dunia."
Lee mulai memuji rencanaku dengan cara yang menjengkelkan.
"Seperti biasa, kau memang pantas menjadi seorang pemimpin bayangan. Bahkan, saat ini tidak ada anggota Netra yang protes dengan hal tersebut."
Aku menyangkal ucapan Lee dengan mengajukan satu nama siswa yang mungkin, suatu saat nanti akan menjadi duri dalam daging bagiku.
"Rena Enkira, dia mungkin akan terus menentangku apabila ia hanya menatap lurus dengan prinsip keadilan miliknya."
"Apa aku perlu menyingkirkan dia?"
"Tentu saja hal itu tidak diperlukan, Idiot. Dengan adanya seseorang seperti dia, suatu hari nanti kita akan tertolong dari masalah yang besar."
Lee menyerah berdebat denganku.
"Aku harap demikian."
...
Kami menyerahkan laporan rahasia tertulis ke berbagai pihak dengan isi yang sedikit berbeda. Ini hanya dilakukan sebagai jaminan keamanan kami di sekolah, tentu saja seluruh siswa juga termasuk. Setelah semua proses selesai, kami bertujuan untuk melanjutkan proses ke tahap utama.
Tahap menggunakan "People Power" di seluruh dunia.
Kami masih membutuhkan satu pion yang dapat menggerakkan semua orang di depan umum untuk mewakili siswa dan sudah pasti, orang yang tepat adalah ketua OSIS saat ini.
...
Kembali lagi di saat kemarin setelah mengantar Sophie.
Kami mengadakan pertemuan secara rahasia terhadap beberapa anggota Netra dan kehadiran yang paling utama di sini adalah Aaron, sebagai anggota Netra yang akan memegang peranan penting dalam beberapa tahap pada rencanaku.
Aaron mulai bertanya kepada kami.
"Jadi, apa yang ingin kalian sampaikan kepada kami?"
Aku langsung menjawabnya.
"Ada kemungkinan musuh akan bergerak menggunakan kalian, aku ingin kalian mengikuti perintahnya sambil membawa alat penyadap ini."
Lee mulai membagikan berbagai macam jenis alat penyadap kepada mereka.
Aku melanjutkan penjelasan rencanaku kepada mereka.
"Bawalah terus alat itu sebagai jaminan keamanan kalian, jangan bertindak ceroboh saat musuh memerintah kalian. Kalian mengerti?"
Semua orang menjawab instruksiku secara bersamaan dengan tegas.
""" "Dimengerti!" """
Setelah selesai dengan instruksi tersebut, kami bubar dan kembali ke rumah masing-masing.
Tidak lupa juga aku memberikan sebuah catatan kecil kepada Aaron saat kami berapapasan.
...
Kembali ke saat ini, di sebuah gedung kosong.
Saat ini kami sedang menunggu kehadiran Ketua OSIS sekarang yaitu, Kakak Aaron.
Dari jauh seorang gadis menghampiri kami.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu."
"... Jadi, apa rencana kalian selanjutnya?"
Aku memberikan sebuah kertas dan memintanya untuk mengikuti apa yang tertulis di situ.
"Hanya ini?"
"Ya, kau boleh pergi."
Setelah itu, gadis itu berpamitan kepada kami lalu pergi.
Lee menanyakan rencanaku selanjutnya.
"Apa yang akan kita lakukan saat ini?"
Bukankah sudah jelas?
"Kita akan melakukan kegiatan ekskul Riset Legenda Pahlawan Dunia."
__ADS_1
"Okeee!!!"
Kamipun pergi menuju ruang ekskul.