Rendra Dan Dalia

Rendra Dan Dalia
Memasangkan Dasi


__ADS_3

Ke esokan paginya di rumah Dalia.


Dalia bangun pagi-pagi sekali untuk mempersiapkan pakaian kerjanya juga mempersiapkan semua kebutuhan Shenzi, anaknya. Seperti biasa, setelah selesai shalat subuh, Dalia terlebih dahulu menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Shenzi.


Setelah kewajiban sebagai umat muslim Ia jalankan, juga pekerjaan dapur yang sudah rampung. Dalia lalu merapikan dirinya sendiri serta berdandan secantik mungkin seperti isi dari salah satu pasal yang ada di dalam catatan kerjanya.


" Aku harus tampil cantik agar tidak merusak mata tuan Rendra. " Ucapnya setelah memoles lipstik di bibir ranum miliknya itu.


" Hiih! Aku kok jadi geli sendiri saat mengatakan itu. Aku kan bukan perempuan centil. Haddeuuhh..! "


" Apa Dia punya kelainan ya? "


" Apa Dia seperti bos-bos di film-film yang menjadikan sekretarisnya sebagai pelampiasan? "


Dalia terus berceloteh dengan pikiran negatifnya sendiri.


" Iihh... jangan sampai deh! Kalau sampai Dia seperti itu, aku akan resigne dari kantor itu, gak perduli gajinya segede apapun. "


Fikiran-fikiran negatif akan Rendra terus menjajah otaknya. Ia masih belum bisa memahami betul watak dan karakter dari bos barunya tersebut.


*


*


*


*


*


*


*


################################


Sementara itu di kediaman keluarga Federick.


Rendra baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Namun, kali ini Ia tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia duduk di tepi ranjang sambil melamunkan sesuatu.


" Kenapa aku memimpikannya? " Ucapnya.


" Kenapa Dia bisa masuk dalam mimpiku? " Ucapnya lagi.


" Selama ini tidak ada wanita yang berani masuk dalam kehidupanku, apalagi mimpiku. Tapi, kenapa berani-beraninya Dia masuk ke dalam mimpiku. " Lanjut Rendra lagi dengan ego yang Ia miliki.


" Aarrgghh..! " Rendra meremas rambutnya sendiri yang masih tampak berantakan itu.


Tok.. tok.. tok..!


Suara ketukan pintu kamar memecah lamunannya.


" Masuk! " Titahnya.


Ceklek!


Pintupun terbuka lebar dan memperlihatkan wajah Rio yang tampak cerah secerah mentari pagi.


Sudah menjadi kebiasaan Rio ketika sampai di rumah Rendra. Ia akan memastikan keadaan bosnya tersebut terlebih dahulu sambil membantu keperluan yang kiranya bosnya itu butuhkan.


" Pagi, tuan? " Sapanya.


" Hmm...! Saya belum mandi! " Ucap Rendra.


" Kau tunggu saja di bawah, aku mau mandi dulu! " Lanjut Rendra lagi.


" Baiklah, tuan! "


Setelah mendapat perintah, Rio pun langsung menutup rapat kembali pintu kamar Rendra dan menunggunya di ruang tamu. Sedangkan Rendra, Ia langsung bergegas menuju kamar mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower sambil membayangkan wajah Dalia.


Wanita itu sepertinya berbahaya, Dia seperti penyihir. Aku harus berhati-hati dengannya.


Gumam Rendra dalam hati.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


################################


Di gedung Federick Corporation.


Mobil mewah milik Direktur Utama Federick Corporation sudah memasuki ke area gedung. Semua karyawan sudah mengenal betul pemilik mobil mewah tersebut. Yah, siapa lagi kalau bukan Birendra Federick.


Melihat mobil tersebut, para karyawan tampak tergesa-gesa masuk ke dalam gedung. Ada yang berlari melewati pintu samping dan ada yang memilih bersembunyi karena masih sibuk dengan makanannya. Semua itu mereka lakukan demi menghindari berpas-pasan dengan Direktur menyeramkan itu.


Setelah sampai di ruang kerjanya, Rendra langsung berjalan menuju meja kerjanya. Namun, ada sesuatu hal yang sedikit mengusik matanya. Ia melihat Dalia yang sudah berdiri di samping meja kerjanya sambil menundukkan kepalanya serta segelas kopi yang sudah tersedia di atas meja kerjanya.


Kerja yang bagus.


Ucap Rendra dalam benaknya hingga menarik garis pipinya karena sebuah senyuman berhasil lolos dari bibirnya.


" Selamat pagi, tuan Rendra? " Sapa Dalia.


" Hmm.. " Seperti tidak memiliki jawaban lain selain berdehem.


" Selamat pagi, pak Rio? " Sapa Dalia juga kepada Rio.


" Pagi. " Jawab Rio sambil tersenyum.


" Tidak untuknya! " Bentak Rendra tiba-tiba, hingga membuat Dalia dan Rio tersentak mendengarnya.


" Ucapan selamat pagi, hanya di ucapkan untukku saja! Tidak untuk yang lain di kantor ini! Paham! " Lanjut Rendra lagi dengan penuh penekanan.


" Paham, tuan! Maafkan saya! " Jawab Dalia.


" Bagus! "


Gila! Emang letak salahnya dimana?


Benak Rio.


Memilih untuk tidak berlarut-larut, Rio langsung berjalan menuju ke sebuah ruangan yang terlihat seperti kamar, dimana di dalamnya berisi lemari pakaian juga tempat tidur untuk Rendra beristirahat.


" Mau kemana kau? " Tanya Rendra saat melihat Rio berjalan menjauhinya.


" Mau mengambilkan dasi untuk tuan muda, seperti yang saya lakukan di setiap pagi di ruangan ini. "


" Cih! Siapa juga yang menyuruhmu? Lagi pula aku tak ingin di pasangkan dasi olehmu lagi, aku merasa geli saat menatap wajahmu! "


Dalia mengulum senyumnya saat mendengar perkataan Rendra yang sedikit menggelitik hatinya. Ingin rasanya Ia tertawa, namun Ia tahan. Sedangkan Rio hanya bisa bungkam akan perkataan bos kesayangannya itu.


" Mulai hari ini, itu sudah menjadi tugasnya! Tunjukkan padanya dimana lemariku! " Ucap Rendra lagi.


" Baik, tuan! " Jawab Rio.


" Dalia, ikut dengan ku! " Sahut Rio lagi.


Dalia pun kemudian mengikuti Rio dari belakang, hingga masuk ke dalam kamar yang terdapat di dalam ruang kerja Rendra tersebut. Melihat kamar itu, lagi-lagi fikiran negatif Dalia akan Rendra kembali memenuhi isi kepalanya.


Kenapa ada kamar dalam ruangan tuan Rendra? Apa kamar ini di gunakan untuk....?


" Dalia! " Sahut Rio yang membuat Dalia tersadar dari lamunan negatifnya.


" Kamu kenapa melamun? " Lanjut Rio lagi.


" Emm... saya cuma terkejut melihat ruang kerja tuan Rendra sangat besar, hingga terdapat kamar di dalamnya. " Jawab Dalia memaksakan senyumnya agar terlihat Dia baik-baik saja.


" Oh...aku mengerti! Tenang saja, tuan Rendra tidak seperti apa yang kamu fikirkan. " Ucap Rio seakan tau apa yang sedang di fikirkan oleh Dalia.


Apa? Kok pak Rio bisa tau apa yang aku fikirkan? Gumam Dalia dalam hati yang membuatnya sedikit malu.


Rio kemudian menunjukkan lemari tempat penyimpanan pakaian serta jaz-jaz yang bergantung rapi di ruangan tersebut. Di bawahnya terdapat laci untuk menyimpan dasi. Rio pun lalu meminta Dalia untuk memilih salah satu dasi yang cocok untuk di kenakan oleh Rendra hari ini.


" Dari sekian banyak dasi disini, sebagai sekretaris tuan Rendra, kamu harus tau dasi apa yang cocok di kenakan oleh tuan Rendra untuk menyesuaikan penampilannya. " Rio menjelaskan.


" Hmm... sebelum saya memilih dasi, apa boleh saya bertanya? " Tanya Dalia sedikit ragu.


" Boleh. "


" Apakah tuan Rendra memang tidak tau cara memasang dasi? "


" Iya, tuan Rendra tidak tau cara memasang dasi. "


" Jadi, selama ini pekerjaan memasang dasi di kerjakan oleh sekretarisnya? "


" Tidak! " Jawab Rio yang cukup membuat Dalia terheran-heran.


" La...lu? "


" Dulu, sewaktu tuan Rendra masih memiliki istri, urusan memasang dasi s'lalu di kerjakan oleh istrinya. Namun, semenjak bercerai, tugas itu berpindah kepada saya. Itu sebabnya ruangan ini di berikan lemari khusus untuk menyimpan barang-barang keperluan milik tuan Rendra untuk memudahkan saya membantu beliau. Karena tuan Rendra tidak suka di sentuh oleh sembarang orang. "


Dalia cukup terkesiap mendengar hal itu.


" Lalu, kenapa harus saya? " Tanya Dalia lagi karena merasa heran dengan keputusan tuan Rendra yang menyuruhnya memasangkan dasi.


" Hmm.. entahlah, mungkin kamu wanita yang berbeda di mata tuan Rendra. " Ucap Rio santai, tapi tidak dengan wanita pemilik nama Dalia itu. Ia masih gagal paham untuk mengartikan kata-kata Rio.


" Kalau begitu, sepertinya dasi ini cocok untuk tuan Rendra kenakan hari ini! " Ucap Dalia yang langsung memilih dasi karena tak ingin berlama-lama memikirkan kata-kata Rio.


" Terserah kamu saja, karena sekarang ini sudah menjadi tugasmu! Nanti aku akan memasukkan tugas ini ke dalam catatan kerja yang kau miliki. "

__ADS_1


" Baiklah, pak Rio! "


Mereka berduapun langsung keluar dari kamar tersebut setelah mendapatkan dasi yang cocok untuk Rendra kenakan.


" Kenapa lama sekali? Apa kalian bercinta di dalam kamarku, hah! " Decak Rendra kesal.


" Maafkan kami karena telah membuat anda lama menunggu, tuan. " Jawab Rio.


" Ah, sudahlah! Cepat pasangkan dasiku! " Titahnya pada Dalia.


Dengan perasaan antara gugup dan takut, Dalia memberanikan diri untuk mendekat ke arah Rendra. Ia kemudian melakukan apa yang memang harus Ia kerjakan sejak tadi, yaitu memasangkan dasi.


Dengan cekatan, Dalia menaikkan kerah kemeja Rendra dan mulai mengalungkan dasi tersebut ke leher Rendra dengan tetap menundukkan pandangannya terhadap Rendra. Tapi tidak dengan Rendra, posisi mereka yang saling berhadapan membuat mata Rendra leluasa melihat dengan jelas wajah cantik Dalia.


Mata Rendra tak berkedip memperhatikan mata dan bibir ranum milik Dalia. Ada getaran yang mengusik hatinya, yang Ia sendiri tidak mengerti getaran apakah itu. Detak jantungnya berdetak lebih cepat dari semestinya saat mata Dalia menatapnya setelah selesai memasangkan dasi.


Tatapan merekapun bertemu.


Kenapa Dia cantik sekali? Matanya.... bibirnya....?


Gumam Rendra dalam hati sambil menelan salivanya.


" Sudah selesai, tuan. " Ucap Dalia yang memecah lamunan Rendra, hingga membuat Rendra tersadar dan memundurkan langkahnya untuk sedikit lebih jauh dari Dalia.


Bukk!


Punggung Rendra membentur meja kerjanya.


" Awwh! " Rintihnya.


Melihat hal itu, Dalia mencoba mendekati Rendra.


" Apa anda baik-baik saja, tuan? "


Belum sempat mendekat, lambaian tangan Rendra menghentikan langkahnya.


" Jangan mendekat! " Ucap Rendra sambil memegang punggungnya.


" Rio! " Sahutnya lagi.


" Iya, tuan! "


" Kenapa kau berdiri saja di situ, cepat bantu aku! "


" Baik, tuan! " Rio segera menghampiri Rendra dan membantunya duduk.


Dalia masih berdiri mematung karena tidak mengerti kenapa Rendra tak ingin Ia tolong.


" Suruh wanita itu keluar dari ruangan ini! " Titahnya lagi dan Rio pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


" Dalia, kamu boleh kembali ke ruanganmu! " Ucap Rio pada Dalia.


" Baiklah, pak! Saya permisi. "


Dalia pun melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan angker tersebut. Pikirannya masih di penuhi dengan tanda tanya akan sikap Rendra padanya tadi. Ia tak bisa memahami karakter sebenarnya dari bos barunya tersebut.


Tuan Rendra kenapa ya? Apa wajahku sejelek itu, hingga membuatnya ketakutan seperti tadi?


Benak Dalia.


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


*


################################


Owh... kasian Dalia!!


Menurut Readers, tuan Rendra kenapa?


Hayo, ada yang tau..

__ADS_1


Jangan lupa untuk like, vote, dan komennya yah...


Kiss jauh dari Author.. 😘😘😘


__ADS_2