
" Siapa Faiz? Kenapa kau menjawabku seperti itu? " Desak Dalia.
" Itu...emb..! Yang sudah menyelamatkanmu dan membawamu ke sini adalah.... tuan Rendra! " Faiz akhirnya terpaksa jujur karena walau bagaimanapun Dia tetap tidak bisa berbohong di depan Dalia.
Maafkan aku, tuan Rendra! Aku tak sanggup berbohong.
Gumam Faiz.
" Tuan Rendra? " Ulang Dalia tidak percaya.
" Iya, tuan Rendra yang sudah menyelamatkanmu, Dalia. Tuan Rendra pula yang telah menjagamu selama di rumah sakit ini. Bahkan tuan Rendra juga yang sudah mendonorkan darahnya untukmu. "
Dalia terdiam mendengar kenyataan yang tak Ia inginkan. Tapi, itulah yang terjadi. Disaat Dia benar-benar membenci Rendra dan ingin menjuhinya, kenapa pula saat ini Ia harus berhutang budi padanya.
" Bos kejam itu masih memiliki hati juga? " Ucap Dalia dan kening Faizan mengkerut mendengar perkataan Dalia barusan.
" Bos kejam? " Ulang Faizan.
" Tidak, lupakan saja kata-kata ku barusan. Aku ingin bertemu dokter sekarang! Aku harus segera pulang, aku sangat menghawatirkan keadaan anakku. " Ucap Dalia sambil beranjak dari tempat tidurnya dan ingin berdiri.
" Tunggu Dalia, kau mau kemana? " Tahan Faizan.
" Aku mau menemui dokter. "
" Jangan banyak bergerak, kesehatanmu belum pulih sempurna, Dalia. "
" Aku tidak perduli !" Ucap Dalia memaksa.
" Kenapa kau keras kepala sekali? "
" Iya, aku memang keras kepala! Aku tak ingin berlama-lama di rumah sakit ini. Aku tak ingin bertemu dengan bos tak punya hati itu. "
" Hmm... Dalia, dengarkan aku dulu! Anakmu baik-baik saja, kau jangan khawatir, tuan Rendra sudah mengerahkan anak buahnya untuk menjaga anakmu, dan hari ini rencanya anakmu akan dijemput untuk menemuimu di sini. "
Lagi-lagi bos tak punya hati itu, maunya Dia apa sih? Sudah menghinaku, menganggapku murahan, sekarang malah sok baik kepadaku.
Gerutu Dalia dalam hati.
Dalia akhirnya luluh juga, Ia pun mengurungkan niatnya. Dalia kini kembali duduk bersandar di atas kasurnya.
" Aku tak butuh kebaikan darinya. " Celetuk Dalia dengan wajah datarnya.
Sepertinya Dalia benar-benar marah pada tuan Rendra.
Faizan memilih tidak meladeni Dalia, Ia hanya berkata di dalam hatinya saja.
****
Sementara itu di tempat lain, Rendra dan Rio tampak sibuk mengurus berkas untuk membuat laporan kepolisian. Rendra berencana akan menuntut Abigail di pengadilan. Bukan hanya itu, Rendra juga berencana mengadakan rapat tertutup antara dirinya dan para investor asing terkait proyek yang sedang Ia jalankan itu. Rendra bertekat akan membongkar semua rencana busuk dari Abigail kepada para investor asing tersebut.
" Rio, kita harus cepat selesaikan ini, sebelum Abigail kabur dari masalah ini. " Ucap Rendra.
" Baik, tuan! "
" Segera atur jadwal meeting kita dengan para investor asing tersebut. "
" Siap, Tuan! "
" Abigail, kali ini kau takkan bisa lolos dariku! " Ucap Rendra sambil tersenyum penuh kemenangan.
****
Kembali ke rumah sakit.
Dalia dan Faiz tampak sibuk dengan ponsel mereka masing-masing. Faiz tak ingin banyak bertanya masalah pribadi antara Dalia dan Rendra. Ia tak ingin membuat Dalia marah akan pertanyaannya. Tidak berapa lama kemudian, tiba-tiba saja terdengar suara pintu ruangan itu terbuka.
Ceklek!
Dalia dan Faizanpun kompak menghentikan aktivitas mereka dengan ponsel mereka masing-masing. Mereka kemudian menoleh ke arah pintu ruangannya yang terbuka.
" Ibu!! " Teriak Shenzi yang terlihat datang bersama bu Retno dan juga pak Imran.
__ADS_1
" Anaknya ibu..., sini peluk ibu! " Sambut Dalia dengan sangat bahagia.
Shenzi kemudian berlari menghampiri ibunya dengan di bantu Faizan untuk naik ke atas tempat tidur Dalia.
" Ibu kangen banget sama anak ibu! " Dalia langsung memeluk putri semata wayangnya tersebut.
" Shenzi juga kangen sama ibu! " Balas Shenzi.
Bu Retno terlihat menghampiri Dalia.
" Neng Dalia, gimana keadaanya? " Tanya bu Retno lembut.
" Alhamdulillah sudah mendingan, bu Retno. Tadi dokter kesini dan bilang kalau besok saya sudah bisa pulang. "
" Syukurlah, alhamdulillah! "
" Yeay! Besok ibu pulang, besok ibu pulang, horee!! " Shenzi tampak sangat bersemangat.
" Ibu harus pulang, karena ibu udah kangen banget sama anak ibu yang cantik ini. " Ucap Dalia sambil mencubit pipi cubby anaknya itu, namun tak membuat Shenzi merasa sakit.
" Shenzi juga kangen sama ibu Shenzi yang sangat cantik ini. " Shenzi membalas mencubit pipi ibunya dan kali ini Shenzi benar-benar memberikan cubitan kepada ibunya itu hingga membuat ibunya merasa sakit.
" Awh! Anak ibu nakal yah! " Dalia kemudian menggelitik tubuh kecil anaknya itu dengan gemas.
" Ha.. ha.. ha.. geli bu..! " Shenzi tertawa menahan geli.
Sungguh pemandangan indah bagi siapapun yang melihatnya. Ibu dan anak itu terus bersendu gurau tanpa melihat banyak pasang mata yang memperhatikan mereka sambil tersenyum. Hingga akhirnya pintu ruangan itu kembali terbuka.
Ceklek!
Semua perhatian yang tadinya tertuju pada kegemasan ibu dan anak tersebut, kini teralihkan kepada dua orang laki-laki yang sudah berdiri di depan pintu ruangan itu.
" Om ganteng? " Teriak Shenzi.
Sontak semua yang berada di ruangan itu pun terkejut mendengar Shenzi berteriak seolah-olah mengenali dua orang laki-laki di hadapannya saat ini.
Ingatan anak kecil memang kuat, contohnya Shenzi yang masih dapat mengingat wajah Rendra saat pertama kali mereka bertemu di depan toko boneka di sebuah mall terbesar yang ada di Jakarta.
" Ayo, Om masih ingat gak sama aku? " Tanya Shenzi lagi.
" Emb... Shenzi, bukan? "
" Benar! 100 buat Om! " Ucap gadis kecil itu sehingga membuat ruangan itu dipenuhi gelak tawa mereka yang menyaksikan momen tersebut.
" Ternyata oh ternyata! " Ucap Rio yang juga baru menyadari ternyata anak kecil yang sempat mereka temui di mall waktu itu adalah anaknya Dalia.
Shenzi kemudian beranjak turun dari kasur ibunya dengan dibantu oleh bu Retno. Ia lalu berjalan mendekat ke arah Rendra.
" Ayo Om, ikut Shenzi! Shenzi mau kenalin Om sama ibu Shenzi. " Ucap Shenzi polos sambil menarik tangan Rendra untuk berjalan mendekat ke arah Dalia.
Rendra pasrah, begitupun Dalia. Kecanggungan diantara keduanya mendadak harus mereka redam manakala seorang anak kecil yang tidak mengerti apa-apa memaksa keduanya untuk lebih dekat.
" Bantu Shenzi naik, Om! " Pintanya.
" Eh iya, sini Om bantu! " Rendra lalu menggendong tubuh kecil Shenzi naik ke atas kasur ibunya.
" Sungguh keluarga yang sempurna! " Ucap Rio hingga mendapatkan sorotan tajam dari Dalia, begitupun yang lainnya hanya dapat mengulum senyum mereka.
" Ibu, kenalin ini Om ganteng yang waktu dulu pernah Shenzi ceritain ke ibu. Om ganteng yang udah belikan Shenzi boneka beruang yang lucu. "
" Oh..! " Jawab Dalia tersenyum saja.
" Kok ibu jawabnya gitu? Salim donk bu, kan lagi Shenzi kenalin. " Protes Shenzi.
Sontak keduanya saling beradu pandang, mata Dalia malah menatap tajam ke arah Rendra, namun sebaliknya, sebuah lengkungan senyum berhasil tercipta dari bibir Rendra.
" Sini tangan Om ganteng dan siniin tangan ibu! " Shenzi menarik tangan Rendra dan tangan Dalia untuk disatukan olehnya dan mukai berjabatan tangan.
" Om ganteng! " Ucap Rendra memperkenalkan diri sambil tersenyum.
Hisss! Om ganteng? Uwek!
__ADS_1
Gerutu Dalia dalam hatinya.
" Ibunya Shenzi. " Balas Dalia datar.
" Nah gitu donk! Ibu juga harus bilang terima kasih pada Om ganteng, karena waktu itu Ibu pengen bilang makasih tapi Om gantengnya udah pergi. " Ucap Shenzi mencoba mengingatkan ibunya kejadian di mall waktu itu.
" Terima kasih! " Lagi-lagi Dalia menjawab datar.
" Kok cuma makasih doank bu, Om gantengnya mana? " Protes Shenzi.
Shenzi, untung saja kamu itu anak ibu!
Gerutu Dalia dalam hati. Sedangkan Rendra tampak mengulum senyumnya melihat Dalia yang tampak menahan kesal di depan anaknya.
" Terima kasih, Om ganteng! " Ucap Dalia sekali lagi dengan menekan kata-katanya saat mengatakan " Om Ganteng ".
" Sama-sama, tante cantik! " Jawab Rendra sambil tersenyum.
" Ha.. ha.. ha.. ha...! " Rio dan Faizan tak mampu lagi membendung tawanya saat melihat dua orang dewasa menjadi penurut ketika di perintahkan seorang anak kecil.
Sontak Rendra langsung menoleh ke arah mereka dengan menajamkan matanya untuk menyuruh mereka diam. Seketika itu juga mereka berdua terdiam.
" Ibuku cantikkan, Om? " Tanya Shenzi polos hingga membuat mata Dalia membulat sempurna mendengar pertanyaan konyol dari anaknya itu.
" Iya, ibumu saaangaatt cantik. " Jawab Rendra tersenyum lebar.
" Asalkan Om tau, kecantikan Shenzi turun dari ibunya Shenzi. " Ucap Shenzi penuh percaya diri.
" Owh... pantes Shenzi juga cantik banget sama kayak ibunya. " Lagi, Rendra menatap Dalia sambil tersenyum sedangkan Dalia hanya mendengus kesal.
" Kalau tuan Rendra ingin mendapatkan anak yang cantik, maka ibunya juga harus cantik seperti nona Dalia. " Celetuk Faizan.
" Iya, betul.. betul.. betul..! " Sambung Rio menirukan gaya bicara Ipin dalam serial Upin dan Ipin.
" Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..! " Terdengar gelak tawa yang sudah tak mampu dibendung lagi oleh Bu Retno, Pak Imran, Faizan, maupun Rio.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Hai..hai.. hai...!
Ketemu lagi sama Author..
Gimana, udah terjawab belum rasa penasarannya?
Udah pada taukan siapa yang bakal dijawab oleh Faizan?
Ternyata jawabannya adalah b. Tuan Rendra.
hehe.. 😁😁😁
Jangan lupa like, vote, dan komennya yah..
__ADS_1
Kiss jauh dari Author... 😘😘😘