
Ke esokan paginya.
Seperti biasa, Dalia bangun pagi-pagi sekali untuk melaksanakan sholat subuh serta mempersiapkan semua keperluan Shenzi, sebelum dirinya berangkat ke kantor. Dalia sudah memikirkan matang-matang keputusan yang akan Ia ambil hari ini.
Setelah Shenzi diantar ke rumah bu Retno, Dalia langsung melajukan motor maticnya yang sudah lama tidak pernah Ia gunakan untuk ke kantor karena selalu dijemput oleh ajudan Rendra. Namun, kali ini Dia diberi kebebasan untuk menggunakan motor kesayangannya itu.
Seperti biasa, Dalia datang lebih awal dari karyawan-karyawan lainnya karena harus menyiapkan segelas kopi dan kebutuhan-kebutuhan lain dari bos menyebalkannya itu. Ia masih menjalankan tugas itu karena ini menjadi hari terakhirnya bekerja di Federick Corporation jika Dia tidak menarik kembali surat pengunduran dirinya tempo hari.
Ceklek!
Pintu ruangan Direktur Utama terbuka dan memperlihatkan senyum manis yang mengembang dari pria pemilik nama Birendra Federick itu tatakala melihat wanita cantik bernama Dalia sudah berdiri menyambut kedatangannya. Sungguh momen yang sangat Ia rindukan.
" Selamat pagi, tuan Rendra. " Sapa Dalia.
" Pagi juga, Dalia. " Jawab Rendra dengan lembut.
Dalia sudah mempersiapkan dasi yang akan Rendra kenakan hari ini. Melihat dasi itu sudah berada ditangan Dalia, tanpa ragu Rendra langsung mendekat ke arah Dalia dan berdiri dihadapannya seakan-akan mengatakan " Aku sudah siap " .
Dalia cukup terkejut karena tidak biasanya Rendra bersikap seperti itu, tapi tidak Ia hiraukan. Dalia langsung gerak cepat menaikkan kerah baju Rendra dan mulai memasangkan dasi untuknya.
" Dalia, ku mohon bertahanlah! " Ucap Rendra sambil menatap ke arah Dalia yang masih sibuk memasangkan dasi itu untuknya.
" Dalia, apa aku harus berlutut untuk memohon padamu agar mau bertahan di kantor ini? " Ucap Rendra lagi karena merasa tidak mendapatkan respon sama sekali.
Dalia masih diam.
" Ok, baiklah! " Rendra langsung berlutut dihadapan Dalia tanpa memperdulikan statusnya sebagai seorang bos.
" Dalia, ku mohon bertahanlah! " Lanjutnya lagi.
Sontak Dalia dan Rio terkejut akan hal gila yang dilakukan oleh bos yang terkenal sangat angkuh itu.
Astaga! Baru kali ini aku melihat tuan Rendra yang angkuh bisa luluh karena seorang wanita.
" Apa yang tuan Rendra lakukan! Jangan seperti ini tuan, bangunlah! Saya bahkan belum selesai memasangkan dasi Anda. " Dalia langsung refleks membantu Rendra berdiri.
" Jawab aku dulu, kau mau kan bertahan di kantor ini? " Tanya Rendra lagi ketika kini Dalia kembali melanjutkan pekerjaannya memasang dasi.
Dalia tetap diam saja.
" Ok baiklah, kalau kau tidak mau bertahan, maka aku tidak segan-segan mencium bibir sexy mu itu, anggap saja sebagai hadiah perpisahan. " Ancam Rendra yang terdengar konyol itu.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Rendra memanyunkan bibirnya mendekat ke arah bibir Dalia, dan........
" Ok, baiklah! Aku akan bertahan! " Ucap Dalia sambil menahan bibir Rendra dengan tangannya.
Sebenarnya, Dalia sudah mengambil keputusan untuk membatalkan resignnya dari tadi malam. Dalia tidak tega melihat anaknya yang selalu ingin dekat dengan Rendra, itu sebabnya Ia menghubungi Rio pada malam itu juga untuk membatalkan surat pengunduran dirinya. Namun, Ia meminta Rio untuk tidak memberi tahu Rendra akan keputusannya itu.
" Benarkah? " Tanya Rendra begitu bersemangat.
" Iya, tuan Rendra. " Jawab Dalia sambil tersenyum.
" Itu artinya kamu sudah memaafkanku? " Tanya Rendra lagi dan hanya di jawab dengan anggukan kepala saja oleh Dalia.
" Yes! Dia memberiku kesempatan, Rio! " Rendra tampak kegirangan sampai-sampai memeluk tubuh asistennya itu.
" Selamat, tuan Rendra. " Hanya itu yang bisa Rio ucapkan atas ekspresi berlebihan bos nya tersebut.
" Tu.. tuan Rendra, tugas saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi ke ruangan saya , sekarang! "
" Ok, baiklah! "
Emmuaacchh! Kiss itu Ia berikan hanya lewat gerakan bibirnya saja ketika Dalia sudah memunggunginya.
Dasar, ternyata Tuan Rendra buaya juga!
Gumam Rio dalam hatinya ketika melihat tingkah konyol bosnya itu.
Ketika Dalia baru sampai diambang pintu, langkahnya pun terhenti tatkala Rendra memnggil namanya.
" Dalia! " Seketika itu Daliapun menoleh.
" Terima kasih! " Lanjut Rendra lagi dan langsung mendapatkan balasan senyum dari wanita cantik pemilik nama Dalia itu.
*
__ADS_1
*
*
*
*
*
################################
Semenjak keputusan Dalia membatalkan surat resignnya. Hari-harinya terasa sangat berbeda. Bagaimana tidak, hampir setiap hari Rendra selalu memberikan perhatian-perhatian kecil padanya. Bahkan Rendra tidak segan-segan menunjukkan dirinya memang menyukai Dalia melalui sikapnya.
Seperti halnya pada hari ini, Rendra menepati janjinya kepada Shenzi. Ia membawa Shenzi beserta Dalia jalan-jalan ke taman hiburan. Bahkan Ia juga membawa serta Rio dan juga adiknya, Molly. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Shenzi, dan Dalia dapat merasakan itu.
" Om ganteng, Shenzi mau boneka itu! " Tunjuk Shenzi pada salah satu boneka beruang besar didalam sebuah wahana permainan.
" Shenzi, kasian Om gantengnya nanti capek kamu ajak bermain terus. " Sela Dalia.
" Gak apa-apa, Dalia. Hari ini spesial untuknya. "
" Terima kasih, tuan. Tapi........?" Belum sempat Dalia menyelesaikan ucapannya, dengan cepat Rendra memotong ucapannya.
" Tidak ada penolakan! Ayo Shenzi, Om akan memenangkan permainan itu. " Rendra langsung mengeluarkan kata-kata andalannya dan langsung menggendong Shenzi.
" Huft! Selalu saja kata-kata itu! " Rungut Dalia.
" Hay, apa yang sedang kau rungutkan, Dalia? " Tiba-tiba Molly datang mengejutkan Dalia sambil membawa dua cup es krim di tangannya.
" Eh, Molly! Bukan apa-apa kok! " Kilah Dalia.
" Ya udah, dari pada menggerutu tidak jelas begitu, mending nih aku bawakan es krim, makanlah. " Molly kemudian memberikan satu cup es krim kepada Dalia.
" Terima kasih, Molly. "
" Ya, kau terlalu sering berterima kasih, Dalia. "
" Memang seperti itulah diriku. "
" Ha.. ha.. ha.. ha..! " Merekapun tertawa bersama.
" Kak Ren sangat menyukai anak kecil, namun sayangnya Ia masih belum diberi kesempatan untuk menjadi seorang ayah. " Ucap Molly sambil menikmati es krim yang tersisa setengah itu.
" Suatu saat nanti, tuan Rendra akan merasakan rasanya menjadi seorang ayah. " Jawab Dalia tersenyum.
" Yah, aku harap begitu, kak Ren yang sudah di vonis dokter sulit memiliki keturunan, akankah ada wanita yang mau menerimanya, Dalia? " Ucap Molly dengan mata-mata yang berkaca-kaca.
Mendengar perkataan Molly barusan, sontak Dalia langsung menoleh ke arah adik dari bosnya tersebut. Ia tidak menyangka kalau ternyata bos menyebalkannya itu menyimpan sebuah beban yang sangat berat.
" Aku belum pernah melihat kak Ren sebahagia itu, Dalia. Terima kasih, kehadiranmu dan Shenzi mampu memberi semangat untuk kak Ren menjalani hari-harinya dengan begitu indah. " Lanjut Molly lagi sambil tersenyum ke arah Dalia.
Dalia masih diam berusaha mencerna kata-kata dari Molly barusan.
" Ah sudahlah Dalia, jangan terlalu difikirkan kata-kataku barusan, sebaiknya aku pergi menyusul mereka saja. " Ucap Molly yang langsung beranjak pergi menyusul Rendra dan Shenzi serta Rio yang juga berada di dalam wahana bermain.
Apa maksud perkataan Molly, kenapa bisa Dia berfikir aku dan Shenzi sudah membuat kakaknya bahagia?
Gumam Dalia yang masih belum mengerti.
****
" Kak Ren! " Sahut Molly ketika sampai disebuah wahana bermain.
" Ada apa Molly? Kenapa kau malah ke sini? Sana, temenin Dalia. Kasian Dia sendirian. "
" Justru itu, karena kasian sama Dalia sedang sendirian disana, sebaiknya kak Ren yang temenin, biar aku dan Asisten menyebalkanmu itu yang menjaga Shenzi, ok! " Molly mengedip-ngedipkan matanya pada Rendra.
" Kenapa dengan matamu? " Tanya Rendra tidak mengerti akan kode dari adiknya itu.
Astaga! Ternyata mereka sama saja!
Gumam Molly kesal karena melihat Rendra yang tidak mengerti kode darinya.
" Sudahlah! Cepat kak Ren pergi sana! Temani Daliamu itu, mengerti maksudku kan? " Lagi, Molly mengedipkan matanya, kali ini Rendra sudah mengerti maksud dari kedipan mata itu.
__ADS_1
" Oh, ok baiklah! " Tanpa pikir panjang lagi, Rendra langsung berlari menemui Dalia.
" Good Luck, kak Ren! " Teriak Molly yang suaranya masih terdengar di telinga Rendra.
" Huft! Sulit banget ngurusin dua orang dewasa yang sudah mati rasa itu! " Keluh Molly.
****
" Dalia! " Sahut Rendra.
" Tuan Rendra, sejak kapan disini? Mana Shenzi? " Dalia tak menyadari kedatangan Rendra yang secara tiba-tiba itu.
" Shenzi masih bermain ditemani Molly dan juga Rio. "
" Oh.. "
" Dalia, mulai sekarang jangan memanggilku tuan lagi kalau sedang berada diluar seperti ini. "
" Tapi, tuan...? "
" Sssttt! " Rendra meletakkan jari telunjuknya di bibir sexy Dalia, sontak Ia langsung menelan salivanya saat melihat bibir sensual itu.
" Ja.. jangan panggil aku, tuan! Panggilan itu hanya untuk di lingkungan kerja saja! " Rendra langsung menarik jari telunjuknya dari bibir Dalia.
" Ok, ba.. baiklah! "
Hening...
" Ngomong-ngomong, apa kau tak berniat mencarikan ayah untuk Shenzi, Dalia? Ma.. maksudku, menikah lagi ?" Pertanyaannya itu benar-benar membuat dirinya merasa gugup.
" Hmm... bukan tak berniat, jujur aku masih ada keinginan untuk menikah lagi, cuma mungkin belum ketemu jodohnya aja. "
" Jika ada seseorang yang mengajakmu menjalin hubungan yang lebih serius, apa kau mau, Dalia? "
Mendengar pertanyaan itu, Dalia langsung menatap ke arah Rendra. Mata mereka bertemu, hingga membuat jantung Rendra seakan ingin loncat dari tempatnya.
" Entahlah! Buktinya sampai sekarang belum ada kok yang ngajak aku serius. " Jawab Dalia santai.
Ada kok Dalia, dan saat ini sedang gugup setengah mati disampingmu.
Hening...
" Dalia...? " Sahut Rendra lagi.
" Iya. " Jawab Dalia sambil menoleh padanya.
" Jika aku mengajakmu untuk menjalin hubungan serius denganku, apa kau mau? " Tanya Rendra dengan tatapan penuh harap dan cukup membuat Dalia terperangah mendengarnya.
" Emb... a... aku....? " Jawab Dalia terbata.
*
*
*
*
*
*
*
*
*
################################
Maaf yah, harus Author gantung..
soalnya Author lagi sakit, jadi nulis seadanya aja..
Walaupun begitu, masih dapat 1.500 kata Loh...!!
__ADS_1
Janga lupa untuk selalu like, vote, dan komen yah Readers...
Kiss jauh dari Author.... 😘😘😘